Soal Isi Ceramah Gus Muwafiq, Umat Islam Perlu Mengetahui Sifat-Sifat Manusiawi Rasulullah

Soal Isi Ceramah Gus Muwafiq, Umat Islam Perlu Mengetahui Sifat-Sifat Manusiawi Rasulullah

Pecihitam.org – Belum lama ini ada sekelompok umat Islam yang ramai-ramai mengecam Gus Muwafiq atas isi materi ceramahnya di Purwodadi yang dianggap telah menghina dan merendahkan Nabi Muhammad Saw.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Meski begitu, tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengulas konten ceramah beliau karena beliau sendiri sudah melakukan klarifikasi secara bernas dan jelas, sehingga tidak perlu terlalu banyak komentar soal itu.

Yang ingin penulis kaji di sini lebih pada persoalan yang lebih luas, yakni sifat manusiawi atau sisi-sisi kemanusiaan Rasulullah dan sampai batas mana kita memahami kepribadian Nabi secara manusiawi yang sama dengan manusia pada umumnya.

Karenanya, sebagai umat Islam, kita perlu mengenal sifat-sifat manusiawi (basyariyah) Rasulullah agar kita lebih mengenal junjungan kita bukan semata-mata hanya sebagai rasul, tapi juga sebagai manusia biasa pada umumnya.

Dalam melihat sosok Nabi Muhammad, kita perlu membedakan posisi beliau sebagai Nabi dan juga sekaligus sebagai manusia biasa yang secara umum disebut dengan sisi basyariah Nabi Muhammad (manusiawi).

Juga, yang harus diperhatikan bahwa sifat basyariyah Nabi itu ada banyak macamnya, sehingga perlu kiranya bagi umat Islam mengenali sisi-sisi manusiawi Rasulullah.

Seluruh umat Islam meyakini bahwa Nabi merupakan seorang rasul, tapi kita juga tidak boleh menafikkan sisi lain yang ada pada Nabi, yakni sisi kemanusiaannya atau yang disebut sebagai basyariyah. Sisi basyariyah ini merupakan sifat manusiawi yang melekat pada diri rasulullah berupa karakter kepribadian dan kebiasaan manusia pada umumnya.

Baca Juga:  Ketika Allah Menciptakan Wanita, Ia Diharuskan Menjadi Orang yang Istimewa

Misalnya, Nabi juga memiliki sifat pemalu, dermawan, setia, dan tahu balas budi. Nabi juga memiliki sifat pemaaf, sabar, dan satu hal yang mungkin juga dimiliki oleh setiap orang bahwa beliau adalah pribadi yang sangat humoris atau suka dengan bercandaan.

Di antara dampak dari sifat kemanusiaan Nabi ini adalah beliau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang juga umumnya dilakukan oleh manusia, yang disebut dengan sifat basyariyah-amaliyah. Sifat ini berasal dari tabiat yang umum dimiliki oleh semua orang dan dapat dilihat langsung oleh mata.

Selain itu, ada perbuatan-perbuatan Nabi yang berciri khas manusia, seperti makan, minum, buang air besar dan kecil, berjalan, duduk, tidur, dan menikah. Ini persis sebagaimana semua orang melakukannya dan tidak ada perbedaan sama sekali.

Ada pula sifat Nabi yang disebut dengan jibillatul basyariyah yang berupa potensi pekerjaan, misalnya ketika kecil Nabi mengembala domba. Dalam kitab Fathul Bari dikatakan bahwa Nabi memelihata domba dengan tujuan agar beliau terlatih dengan sikap rendah hati, agar hatinya terbiasa mengatur suatu urusan, lebih-lebih meningkat dari mengatur domba ke mengatur umat.

Ada pula sifat yang disebut dengan sifat jibilatul basyariyah jasadiyah yang merupakan keterangan dalam bentuk fisik mengenai anggota tubuh Nabi. Diceritakan, beliau memiliki bentuk bahu yang bidang, rambut panjang sampai pucuk telinga, dan rambutnya bergelombang. Nabi juga memiliki wajah yang bulat, ukuran kepalanya besar dan matanya hitam, dahinya lebar dan alisnya tebal.

Di samping itu, ada sisi basyariah dalam bentuk sikap hidup, ini biasanya berupa ekspresi timbal balik terhadap suatu keadaan, seperti lupa, marah, acuh, sedih, sakit, takut, kecewa, benci, cinta dan masih banyak lagi. Artinya, sifat-sifat semacam ini tidak ada bedanya dengan manusia pada umumnya, bahwa Nabi juga manusia biasa yang memiliki karakterisik sifat tertentu.

Baca Juga:  Inilah Pengertian HAM dan Prinsip Fundamental dari Suatu Keadilan dalam Islam

Kita pun tidak boleh lupa bahwa sebagai manusia biasanya, Nabi Muhammad juga sesekali bisa keliru dalam perkara-perkara duniawi.

Diceritakan suatu ketika Nabi melewati perkebunan kurma di mana para petani sedang mengawinkan serbuk (kurma pejantan) ke putik (kurma betina), lalu Nabi mengatakan, “Sekiranya kalian tidak melakukan itu maka kurmamu baik”.

Mendengar komentar dari Nabi, para petani seketika itu juga tidak mengawinkan kurma milik mereka. Namun beberapa waktu kemudian, Nabi kembali melewati kebun kurma itu dan menegur para petani, “Mengapa pohon kurmamu itu?” para petani menjelaskan bahwa pohon kurma mereka tidak sedang baik, ini disebabkan karena mereka tidak melakukan penyerbukan lagi lantaran mengikuti anjuran Nabi sebelumnya.

Mengenar ucapan dari petani, Nabi lantas berkata, “Aku adalah manusia biasa, apabila aku perintahkan kalian sesuatu mengenai agama maka ambillah, dan bila aku perintahkan kalian sesuatu dari pendapatku, maka aku hanyalah manusia”. Dalam riwayat lain, Nabi mengatakan “Kalian lebih mengerti urusan dunia kalian”.

Dari riwayat di atas kita betul-betul dapat mengetahui bahwa dalam kehidupan sehari-hari, beliau mewujud sebagai manusia biasa sebagaimana yang lainnya, yang bisa keliru dan boleh-boleh saja tidak diikuti bila itu hanya perkara duniawi belaka yang tak ada kaitannya dengan agama.

Baca Juga:  Inilah Alasan Kota Madinah Diberi Gelar Al Munawarah

Hemat saya, apa yang disampaikan oleh Gus Muwafiq dalam sesi ceramahnya beberapa waktu yang lalu adalah dalam rangka menjalaskan posisi Nabi Muhammad sebagai manusia biasa sebagaimana kita semua. Artinya, kalau menyebut Nabi “rembes” yang artinya “umbelen-ingusan”, maka maksud beliau adalah menjelaskan keadaan Nabi ketika kecil dalam kehidupan sehari-hari yang diasuh oleh seorang kakek.

Menurut Gus Muwafiq, banyak Nabi yang dilahirkan dan dibesarkan secara biasa-biasa saja sebagaimana umumnya manusia. Ini menjadi hikmah yang luar biasanya agar tidak banyak yang tahu bahwa kelak beliau akan menjadi Nabi, terutama bagi orang-orang yang akan merasa dirugikan. Seperti kelahiran Nabi Musa di tengah Fir’aun, Nabi Isa di tengah orang-orang Yahudi, dan Nabi Muhammad di tengah kafir Quraisy.

Jadi sangat wajar bila penjelasan Gus Muwafiq itu terkesan bahwa Nabi itu biasa-biasa saja di masa kecilnya. Memang ada kelebihan-kelebihan khusus, tapi toh umumnya banyak orang tidak tahu.

Sehingga, dari penjelasan singkat ini, kita sepatutnya bisa membedakan posisi Muhammad sebagai Nabi sekaligus sebagai manusia biasa. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara garis besar posisi Nabi Muhammad di bumi ini berstatus sebagai manusia yang secara wujud sama dengan manusia pada umumnya, walaupun beliau memiliki derajat yang sungguh agung sebagai seorang utusan-Nya.

Rohmatul Izad