Sunnah Muakkad dan Ghairu Muakkad, Apa Bedanya?

Sunnah Muakkad dan Ghairu Muakkad, Apa Bedanya?

PeciHitam.org – Sesungguhnya ibadah-ibadah sunnah itu memiliki tingkatan-tingkatan dalam penekanan pelaksanannya. Beberapa ibadah sunnah memiliki tingkatan yang lebih tinggi dibandingkan ibadah sunnah yang lainnya salah satunya ibadah yang dihukumi sunnah muakkad.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Misalnya, tingkatan ibadah dalam shalat sunnah. Dua raka’at shalat qabliyah subuh (dua raka’at fajar) dan shalat witir itu sangat ditekankan dibandingkan shalat rawatib lainnya.

Untuk dua shalat sunnah tersebut, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga pelaksanaannya, baik beliau dalam kondisi safar ataupun tidak safar (dalam kondisi muqim).

Sedangkan untuk shalat rawatib yang lain, beliau menjaga pelaksanaannya ketika beliau tidak dalam kondisi safar, dan beliau meninggalkannya ketika beliau dalam kondisi safar.

Ibnul Qayyim rahimahullahu Ta’ala berkata,

“Di antara petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika safar adalah meng-qashar (meringkas) shalat, dan tidak terdapat riwayat yang menunjukkan bahwa Nabi mengerjakan shalat sunnah sebelum atau sesudah shalat wajib, kecuali shalat sunnah witir dan shalat sunnah fajar. Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan keduanya, baik dalam kondisi safar atau pun tidak safar (muqim).” (Zaadul Ma’aad, 1: 473)

Setelah itu, tingkatan berikutnya ada shalat dhuha, kemudian shalat yang memiliki sebab (dzawaatul asbaab), seperti shalat tahiyyatul masjid dan shalat dua raka’at thawaf.

Baca Juga:  Sabar Dalam Islam Menurut al-Quran dan Ahli Tafsir

Demikian pula puasa, seperti puasa Daud (sehari puasa, sehari tidak puasa), kemudian puasa hari ‘Arafah, kemudian puasa hari ‘Asyura, kemudian puasa tiga hari setiap bulan (hijriyah), kemudian puasa Senin-Kamis, dan seterusnya untuk ibadah puasa sunnah lainnya.

Sehingga secara general, ibadah sunnah dibagi dalam dua tingkatan:

Pertama, sunnah muakkad.

Yaitu ibadah yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara rutin dan kontinyu, dan diiringi dengan adanya motivasi langsung dari lisan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Misalnya, shalat sunnah muakkad dua raka’at qabliyah subuh. Diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

لَمْ يَكُنْ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْ النَّوَافِلِ أَشَدَّ مِنْهُ تَعَاهُدًا عَلَى رَكْعَتَيْ الْفَجْرِ

“Tidak ada shalat sunnah yang lebih Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tekuni daripada dua raka’at fajar (shalat sunnah qabliyah subuh).” (HR. Bukhari no. 1163 dan Muslim no. 724)

Juga diriwayatkan dari ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

Baca Juga:  Empat Terminologi Ruh Menurut Imam Ghazali

“Dua raka’at fajar itu lebih baik dari dunia seisinya.” (HR. Muslim no. 725)

Kedua, sunnah ghairu mu’akkad.

Yaitu ibadah sunnah yang tidak dirutinkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, misalnya shalat empat raka’at sebelum shalat ashar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memotivasi untuk mengerjakannya, namun beliau tidak merutinkannya.

Termasuk dalam ibadah sunnah ghairu mu’akkad adalah semua ibadah yang terdapat motivasi secara lisan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak dinukil dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau merutinkannya.

Misalnya, hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

“Lakukanlah haji dan umrah dalam waktu yang berdekatan, karena keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan menghapus dosa, sebagaimana al-kiir (alat yang dipakai oleh pandai besi) menghilangkan karat besi, emas, dan perak. Tidak ada balasan bagi haji yang mabrur kecuali surga.” (HR. Tirmidzi no. 810, An-Nasa’i no. 2630, Ibnu Majah no. 2887, Ahmad no. 3660, dinilai shahih oleh Al-Albani)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memotivasi untuk umrah di bulan Ramadhan Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada salah seorang wanita Anshar:

Baca Juga:  Bolehkah Menggabungkan Aqiqah dan Haul Secara Bersamaan?

فَإِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فَاعْتَمِرِي ، فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً مَعِي

“Jika datang bulan Ramadhan, lakukanlah umrah. Karena umrah di bulan Ramadhan itu senilai dengan haji bersamaku.” (HR. Bukhari no. 1782 dan Muslim no. 1256).

Meskipun demikian, beliau tidaklah melaksanakan umrah sepanjang hidup beliau kecuali empat kali umrah saja, dan satu kali melaksanakan ibadah haji (lihat Ghayatul Ma’muul fi Syarhi Al-Bidaayah fil Ushuul, penerbit Daar Ibnu Rajab, cetakan pertama tahun 1433, hal. 84-86).

Mohammad Mufid Muwaffaq

Leave a Reply

Your email address will not be published.