Surah Ad-Dukhan Ayat 9-16; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Ad-Dukhan Ayat 9-16

Pecihitam.org – Kandungan Surah Ad-Dukhan Ayat 9-16 ini, menerangkan bahwa seandainya Dia melenyapkan sebagian azab itu dari mereka sesuai dengan permintaannya agar mereka berbuat baik dan tidak lagi melanggar larangan-larangan Allah, mereka akan tetap saja dalam keadaan semula yaitu kafir dan mendustakan Muhammad saw.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah menerangkan bahwa di hari Kiamat nanti Dia akan memberikan balasan siksa yang amat pedih kepada orang kafir Mekah. Pada hari itu mereka tidak akan mendapat pembela, penolong dan penyelamat yang akan dapat menghalangi siksaan Allah yang dijatuhkan kepada mereka, dan pada waktu itu timbullah penyesalan mereka yang sangat.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Ad-Dukhan Ayat 9-16

Surah Ad-Dukhan Ayat 9
بَلۡ هُمۡ فِى شَكٍّ يَلۡعَبُونَ

Terjemahan: “Tetapi mereka bermain-main dalam keragu-raguan.

Tafsir Jalalain: بَلۡ هُمۡ فِى شَكٍّ (Tetapi mereka dalam keragu-raguan) tentang adanya hari berbangkit يَلۡعَبُونَ (adalah orang-orang yang bermain-main) dengan maksud mengejek kamu, hai Muhammad. Maka Nabi berdoa, “Ya Allah! Bantulah aku untuk menghadapi mereka, timpakanlah kepada mereka paceklik selama tujuh tahun sebagaimana paceklik yang diminta oleh Nabi Yusuf.”.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: “Tetapi orang-orang musyrik itu berada dalam keraguan dan bermain-main.” Artinya telah datang kebenaran yang meyakinkan kepada mereka, namun mereka ragu terhadapnya serta tidak membenarkannya.

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan bahwa orang musyrik itu tetap saja ragu tentang ke-Esaan Allah dan adanya hari kebangkitan, pengakuan mereka bahwa Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi dan semua yang ada di muka bumi ini adalah pengakuan yang tidak didasarkan atas keyakinan, tetapi hanya karena mengikuti jejak nenek moyang mereka tanpa pengetahuan.

Tafsir Quraish Shihab: Namun demikian, orang-orang kafir selalu dalam keadaan ragu dengan kebenaran ini. Mereka mengikuti hawa nafsunya. Begitulah keadaan orang yang bermain-main, bukan orang yang mempunyai ilmu (ahl al-‘ilm) dan keyakinan (ahl al-yaqîn).

Surah Ad-Dukhan Ayat 10
فَٱرۡتَقِبۡ يَوۡمَ تَأۡتِى ٱلسَّمَآءُ بِدُخَانٍ مُّبِينٍ

Terjemahan: “Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata,

Tafsir Jalalain: فَٱرۡتَقِبۡ يَوۡمَ تَأۡتِى ٱلسَّمَآءُ بِدُخَانٍ مُّبِينٍ (Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata) maka kala itu bumi menjadi tandus kelaparan serta paceklik makin menjadi-jadi, sehingga karena memuncaknya keadaan, akhirnya mereka melihat seolah-olah ada sesuatu yang berupa kabut di antara langit dan bumi.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah Yang Mahamulia lagi Mahaperkasa berfirman serta mengancam mereka: fartaqib yauma ta’tis samaa-u bidukhaanim mubiin (“Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata.”) aku (Muhammad) akan kabarkan kepada kalian tentang hal itu.

Ketika kaum Quraisy enggan memeluk Islam dan menentang Rasul Allah, maka beliau mendoakan keburukan kepada mereka, yaitu masa paceklik bertahun-tahun seperti yang tejadi pada zaman Yusuf. Maka merekapun merasakan penderitaan dan kelaparan, sehingga mereka memakan tulang dan bangkai. Kemudian mereka memandang ke langit, maka mereka tidak melihat sesuatu pun kecuali kabut.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw supaya bersabar menanti orang-orang kafir Mekah itu ditimpa kelaparan. Pada saat itu pula mereka bila memandang ke atas, akan melihat di langit kabut tebal memenuhi angkasa.

Menurut kajian ilmiah mengenai peristiwa adanya Dukhan (kabut). Nampaknya pada hari Kiamat nanti akan diawali dengan adanya benturan dahsyat antara bumi dengan benda-benda langit (planet atau asteroida lainnya).

Benturan ini diperkirakan akan menyebabkan berhamburannya material bumi maupun benda langit tadi dalam jumlah yang sangat-sangat besar. Material tersebut berhamburan ke angkasa seperti awan debu (ad dukhan) dalam jumlah yang sangat besar.

Awan debu inilah yang kemungkinan akan meyelimuti atmosfer bumi sehingga sinar matahari tidak lagi menembus bumi, suhu akan turun drastis, akan terjadi kematian semua makhluk hidup.

Para ahli palaentologi (ahli masalah-masalah kepurbaan), termasuk para ahli paleogeologi (geologi-purba) maupun paleobiologi (biologi purba), mengemukakan teori punahnya spesies dinosaurus 66,4 juta tahun yang lalu, dengan mengemukakan suatu hipotesis yang dikenal dengan nama Asteroid Theory (Teori Asteroida).

Teori ini muncul setelah Walter Alvarez menemukan adanya konsentrasi iridium yang sangat tinggi dan tidak biasa (anomaly high concentration of iridium) pada rangkaian stratigrafik masa Cretaceous-Tertiary di Gubbio, Italia. Konsentrasi iridium yang tidak normal ini, menimbulkan dugaan, bahwa iridium itu berasal dari benda-benda langit.

Baca Juga:  Surah Fatir Ayat 1; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Punahnya spesies dinosaurus menurut Asteroid Theory ini terjadi oleh adanya benturan bumi dengan asteroida, yang mengakibatkan munculnya awan debu luar biasa yang menyelimuti bumi, sehingga menghalangi sinar matahari masuk, menurunkan suhu dan mematikan spesies hayati purba.

Teori ini didukung oleh tingginya kadar iridium di lokasi ditemukannya dinosaur. Apakah ad-Dukhan pada ayat 10 ini juga disebabkan adanya benturan bumi dengan benda-benda langit, menjelang kiamat.

Tafsir Quraish Shihab: Maka tunggulah, hai Muhammad, ketika kabut turun menimpa mereka hingga mereka menjadi kurus dan lemah penglihatan. Ketika itu, orang menyaksikan kabut yang amat tebal dan jelas di antara langit dan bumi. Yang terdengar suaranya tanpa dapat dilihat.

Surah Ad-Dukhan Ayat 11
يَغۡشَى ٱلنَّاسَ هَٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ

Terjemahan: “yang meliputi manusia. Inilah azab yang pedih.

Tafsir Jalalain: يَغۡشَى ٱلنَّاسَ (Yang meliputi manusia) lalu mereka berkata, هَٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (“Inilah azab yang pedih.).

Tafsir Ibnu Katsir: Dalam sebuah riwayat disebutkan, ada seseorang yang melihat ke langit, maka ia melihat antara langit dan dirinya itu terdapat semacam kabut. Allah berfirman: يَغۡشَى ٱلنَّاسَ هَٰذَا عَذَابٌ أَلِيمٌ (“Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata, yang meliputi manusia. Inilah adzab yang pedih.”)

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan bahwa ketika kabut tebal itu meliputi mereka, mereka berkata, “Ini adalah siksaan yang amat menggelisahkan sehingga kami tidak bisa tidur dan apabila siksaan ini berlangsung terus-menerus, tentu kami akan mati.

Tafsir Quraish Shihab: Kabut itu menyelimuti orang-orang pendusta yang tertimpa kekeringan. Karena begitu dahsyatnya bencana itu, mereka berkata, “Ini benar-benar merupakan azab yang amat pedih.”

Surah Ad-Dukhan Ayat 12
رَّبَّنَا ٱكۡشِفۡ عَنَّا ٱلۡعَذَابَ إِنَّا مُؤۡمِنُونَ

Terjemahan: “(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, lenyapkanlah dari kami azab itu. Sesungguhnya kami akan beriman”.

Tafsir Jalalain: رَّبَّنَا ٱكۡشِفۡ عَنَّا ٱلۡعَذَابَ إِنَّا مُؤۡمِنُون (‘Ya Rabb kami! Lenyapkanlah dari kami azab ini, Sesungguhnya kami akan beriman”) atau percaya kepada nabi-Mu.

Tafsir Ibnu Katsir: (‘Ya Rabb kami! Lenyapkanlah dari kami azab ini, Sesungguhnya kami akan beriman”) atau percaya kepada nabi-Mu.

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan bahwa pada malam “Lailatul Qadar”, dijelaskan segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk, hidup, mati, rezeki, nasib baik, nasib buruk dan sebagainya. Semuanya itu merupakan ketentuan dari Allah yang penuh hikmah sesuai dengan kebijaksanaan-Nya.

Ayat 5 ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa Allah telah mengutus Rasul-Nya kepada manusia dari golongan mereka sendiri, membersihkan jiwa mereka, mengajarkan kepada mereka al-kitab, al-hikmah; agar menjadi hujah bagi Allah atas hamba-Nya dan menjadi alasan untuk menghukum mereka apabila mereka berbuat dosa, menentang rasul yang diutus kepada mereka, menolak petunjuk yang dibawa oleh rasul itu dari Allah dan tidak ada alasan bagi mereka untuk membantah dan tidak menerima siksaan Allah, sebagaimana firman-Nya:

Tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al-Isra’/17: 15) Dan firman-Nya: Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. (an-Nisa’/4: 165).

Tafsir Quraish Shihab: Mereka juga berkata sambil memohon pertolongan Allah, “Kami sungguh akan beriman jika Engkau melepaskan kami dari derita kelaparan dan kesempitan rezeki ini.”

Surah Ad-Dukhan Ayat 13
أَنَّىٰ لَهُمُ ٱلذِّكۡرَىٰ وَقَدۡ

Terjemahan: “Bagaimanakah mereka dapat menerima peringatan, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan,

Tafsir Jalalain: أَنَّىٰ لَهُمُ ٱلذِّكۡرَىٰ وَقَدۡ (“Bagaimana mereka dapat menerima peringatan) maksudnya, iman tidak akan bermanfaat buat mereka bila azab diturunkan جَآءَهُمۡ رَسُولٌ مُّبِينٌ (padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan) artinya yang jelas risalahnya.

Tafsir Ibnu Katsir:”Bagaimana mereka dapat menerima peringatan) maksudnya, iman tidak akan bermanfaat buat mereka bila azab diturunkan (padahal telah datang kepada mereka seorang rasul yang memberi penjelasan) artinya yang jelas risalahnya.

Baca Juga:  Surah An-Nisa Ayat 144-147; Seri Tadabbur Al Qur'an

Tasir Kemenag: Allah menerangkan bagaimana mereka itu berjanji akan beriman apabila azab mereka dihilangkan. Telah diutus kepada mereka seorang rasul yang memberikan peringatan dan penjelasan tentang kebenaran kenabian Muhammad saw dan Al-Qur’an itu dari Allah.

Semua itu seharusnya cukup untuk menyadarkan mereka dan mengembalikan mereka kepada kebenaran, tetapi mereka tetap membangkang dan berpaling daripadanya, bahkan mereka itu menuduh bahwa ajaran yang disebarkan Muhammad saw itu diterima dari seorang Romawi, budak dari suku saqif bernama Addaz yang beragama Kristen. Ada juga di antara mereka menuduh Muhammad saw seorang gila dan ajaran yang dibawanya itu adalah berasal dari jin ketika Muhammad saw dalam keadaan tidak sadar.

Tafsir Quraish Shihab: Bagaimana mereka dapat mengambil pelajaran dan menepati janji untuk beriman setelah siksaan itu dilepaskan, padahal telah datang kepada mereka seorang rasul dengan membawa misi yang jelas disertai dengan mukjizat-mukjizat yang membuktikan kebenarannya. Dan semua itu merupakan pelajaran yang besar.

Surah Ad-Dukhan Ayat 14
ثُمَّ تَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ وَقَالُواْ مُعَلَّمٌ مَّجۡنُونٌ

Terjemahan: “kemudian mereka berpaling daripadanya dan berkata: “Dia adalah seorang yang menerima ajaran (dari orang lain) lagi pula seorang yang gila”.

Tafsir Jalalain: ثُمَّ تَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ وَقَالُواْ مُعَلَّمٌ (Kemudian mereka berpaling darinya dan berkata, “Dia adalah seorang yang menerima ajaran) maksudnya dia diajari Alquran oleh orang lain مُنتَقِمُونَ (lagi pula dia seorang yang gila.”).

Tafsir Ibnu Katsir: ثُمَّ تَوَلَّوۡاْ عَنۡهُ وَقَالُواْ مُعَلَّمٌ مَّجۡنُونٌ “kemudian mereka berpaling daripadanya dan berkata: “Dia adalah seorang yang menerima ajaran (dari orang lain) lagi pula seorang yang gila”.

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan bagaimana mereka itu berjanji akan beriman apabila azab mereka dihilangkan. Telah diutus kepada mereka seorang rasul yang memberikan peringatan dan penjelasan tentang kebenaran kenabian Muhammad saw dan Al-Qur’an itu dari Allah.

Semua itu seharusnya cukup untuk menyadarkan mereka dan mengembalikan mereka kepada kebenaran, tetapi mereka tetap membangkang dan berpaling daripadanya, bahkan mereka itu menuduh bahwa ajaran yang disebarkan Muhammad saw itu diterima dari seorang Romawi, budak dari suku saqif bernama Addaz yang beragama Kristen. Ada juga di antara mereka menuduh Muhammad saw seorang gila dan ajaran yang dibawanya itu adalah berasal dari jin ketika Muhammad saw dalam keadaan tidak sadar.

Tafsir Quraish Shihab: Kemudian mereka enggan mempercayai rasul yang diperkuat dengan mukjizat-mukjizat yang jelas itu. Mereka bahkan kadang-kadang berkata, secara bohong dan mengada-ada, “Muhammad mendapatkan pelajaran dari manusia biasa,” dan pada kesempatan lain berkata, “Muhammad adalah orang yang tidak waras.”

Surah Ad-Dukhan Ayat 15
إِنَّا كَاشِفُواْ ٱلۡعَذَابِ قَلِيلًا إِنَّكُمۡ عَآئِدُونَ

Terjemahan: “Sesungguhnya (kalau) Kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit sesungguhnya kamu akan kembali (ingkar).

Tafsir Jalalain: إِنَّا كَاشِفُواْ ٱلۡعَذَابِ (Sesungguhnya kalau Kami lenyapkan siksaan itu) kelaparan dan paceklik itu dari mereka selama beberapa waktu قَلِيلًا (dalam waktu yang tidak lama) lalu Allah melenyapkan azab itu dari mereka إِنَّكُمۡ عَآئِدُونَ (sesungguhnya kalian akan kembali) kepada kekafiran, dan memang mereka kembali lagi kepada kekafirannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Setelah itu Rasulullah saw. datang, lalu dikatakan: “Ya Rasulallah, mintalah siraman air kepada Allah bagi [siapa] yang tertimpa bencana, karena mereka telah binasa.” Maka, Rasulullah pun memohon diberi siraman air, kemudian mereka pun diberi siraman air, lalu turunlah ayat:

إِنَّا كَاشِفُواْ ٱلۡعَذَابِ قَلِيلًا إِنَّكُمۡ عَآئِدُونَ (“Sesungguhnya [kalau] Kami akan melenyapkan siksaan itu agak sedikit, sesungguhnya kamu akan kembali [ingkar]”). Ibnu Mas’ud berkata: “Maka, dihilangkanlah siksaan itu dari mereka pada hari kiamat.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa seandainya Dia melenyapkan sebagian azab itu dari mereka sesuai dengan permintaannya agar mereka berbuat baik dan tidak lagi melanggar larangan-larangan Allah, mereka akan tetap saja dalam keadaan semula yaitu kafir dan mendustakan Muhammad saw sebagaimana firman Allah:

Dan seandainya mereka Kami kasihani, dan Kami lenyapkan malapetaka yang menimpa mereka, pasti mereka akan terus-menerus terombang-ambing dalam kesesatan mereka. (al-Mu’minun/23: 75) Dan firman-Nya: Seandainya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya. Mereka itu sungguh pendusta. (al-An’am/6: 28).

Baca Juga:  Inilah Makna Surat Al-Alaq, Surat yang Menjadi Wahyu Pertama Nabi Muhammad

Tafsir Quraish Shihab: Maka, Allah pun menjawab mereka, “Kami akan membebaskan kalian dari siksa itu di dunia. Dan itu amat sedikit. Kelak kalian pasti akan kembali merasakan siksaan lagi.”

Surah Ad-Dukhan Ayat 16
يَوۡمَ نَبۡطِشُ ٱلۡبَطۡشَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ إِنَّا مُنتَقِمُونَ

Terjemahan: “(Ingatlah) hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan.

Tafsir Jalalain: Ingatlah يَوۡمَ نَبۡطِشُ ٱلۡبَطۡشَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ (hari ketika Kami menghantam dengan hantaman yang keras) yaitu pada perang Badar. إِنَّا مُنتَقِمُونَ (Sesungguhnya Kami Pemberi balasan) kepada orang-orang yang kafir itu. Lafal Al-Bathsyu artinya menghantam dengan keras.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan ketika mereka mendapatkan kemewahan, mereka pun kembali lagi kepada keadaan mereka itu, sehingga Allah Yang Mahamulia lagi Mahaperkasa menurunkan firman-Nya: يَوۡمَ نَبۡطِشُ ٱلۡبَطۡشَةَ ٱلۡكُبۡرَىٰٓ إِنَّا مُنتَقِمُونَ (“[ingatlah] hari [ketika] Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras. Sesungguhnya Kami adalah Pemberi balasan.”)

Lebih lanjut Ibnu Mas’ud mengemukakan: “Yaitu pada hari terjadinya perang Badar.” Ia juga menyebutkan: “Lima hal yang telah berlalu, yaitu kabut, bangsa Romawi, [pecahnya] bulan, hantaman, dan lizam.”

Hadits di atas terdapat di dalam kitab ash-Shahihain, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnadnya, serta terdapat pada at-Tirmidzi dan an-Nasa-i dalam Tafsir keduanya. riwayat Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim melalui beberapa jalan yang beraneka ragam, dari al-A’masy.

Dan penafsiran Ibnu Mas’ud terhadap ayat tersebut seperti itu, yaitu bahwa kabut itu telah berlalu, dan juga telah disepakati oleh sekelompok ulama salaf, seperti Mujahid, Abul ‘Aliyah, Ibrahim an-Nakha’i, adl-Dlahhak, ‘Athiyyah al-‘Aufi, dan itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Sebagian ulama lainnya menyatakan bahwa asap itu belum berlalu, tetapi ia merupakan salah satu tanda datangnya kiamat. Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya pada hadits Abu Suraihah, Hudzaifah bin Usaid al-Ghifari, ia bercerita: Rasulullah saw. pernah mendapati kami dari ‘Arafah ketika kami sedang membicarakan tentang kiamat. Maka beliau pun bersabda:

“Tidaklah kiamat itu sekali-sekali terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tanda-tanda sebelumnya, yaitu terbitnya matahari dari sebelah barat, asap, binatang melata, keluarnya Ya-juj dan Ma-juj, keluarnya ‘Isa putera Maryam, dan Dajjal, serta tiga gerhana; gerhana yang terjadi di timur, gerhana yang terjadi di barat, dan satu gerhana di semenanjung Arab, dan keluarnya api dari dalam perut bumi yang akan menggiring manusia yang tinggal bersama mereka pada waktu malam, dan pada waktu siang ketika mereka tidur.” Hadits tersebut diriwayatkan sendiri oleh Muslim dalam kitabnya, Shahih Muslim.

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa di hari Kiamat nanti Dia akan memberikan balasan siksa yang amat pedih kepada orang kafir Mekah. Pada hari itu mereka tidak akan mendapat pembela, penolong dan penyelamat yang akan dapat menghalangi siksaan Allah yang dijatuhkan kepada mereka, dan pada waktu itu timbullah penyesalan mereka yang sangat.

Firman Allah: Mereka menyatakan penyesalan ketika mereka melihat azab. Dan Kami pasangkan belenggu di leher orang-orang yang kafir. Mereka tidak dibalas melainkan sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (Saba’/34: 33).

Tafsir Quraish Shihab: Ingatlah, wahai Rasulullah, hari ketika Kami menghantam mereka dengan hantaman yang amat keras dan kuat. Dengan hantaman amat keras itu, Kami sungguh-sungguh membalas dendam kepada mereka.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Ad-Dukhan Ayat 9-16 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S