Surah Al-Ahzab Ayat 35; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Ahzab Ayat 35; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Ahzab Ayat 35 ini, menerangkan kaum lelaki dan wanita yang tunduk, percaya pada Allah dan Rasul-Nya, melakukan ketaatan, jujur dalam perkataan, perbuatan dan niat, tabah dalam menghadapi cobaan dalam berjuang di jalan Allah, merendahkan diri, menyedekahkan sebagian harta bagi orang yang membutuhkan, melakukan puasa wajib dan sunnah, menjaga kemaluan dari hal-hal yang dilarang, serta berzikir pada Allah dengan hati dan lisan, niscaya Allah akan memberikan pengampunan bagi segala dosa dan pahala yang besar atas perbuatan baik mereka.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Ahzab Ayat 35

Surah Al-Ahzab Ayat 35
إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ وَٱلۡمُتَصَدِّقِينَ وَٱلۡمُتَصَدِّقَٰتِ وَٱلصَّٰٓئِمِينَ وَٱلصَّٰٓئِمَٰتِ وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةً وَأَجۡرًا عَظِيمًا

Terjemahan: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.

Tafsir Jalalain: إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ (Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya) وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ (laki-laki dan perempuan yang benar) dalam keimanannya وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ (laki-laki dan perempuan yang sabar) di dalam menjalankan ketaatan وَٱلۡخَٰشِعِينَ (laki-laki yang khusyuk) yang merendahkan diri,

وَٱلۡحَٰفِظِينَ فُرُوجَهُمۡ وَٱلۡحَٰفِظَٰتِ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ(dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya) dari hal-hal yang diharamkan,

وَٱلذَّٰكِرِينَ ٱللَّهَ كَثِيرًا وَٱلذَّٰكِرَٰتِ أَعَدَّ ٱللَّهُ لَهُم مَّغۡفِرَةً (laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan) dari perbuatan-perbuatan maksiat yang pernah mereka lakukan وَأَجۡرًا عَظِيمًا (dan pahala yang besar) bagi amal ketaatan mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: Imam Ahmad meriwayatkan, ‘Affan bercerita kepada kami, ‘Abdul Wahid bin Ziyad bercerita kepada kami, ‘Utsman bercerita kepada kami, bahwa ‘Abdurrahman bin Syaibah berkata: Aku mendengar Ummu Salamah ra. istri Nabi saw. berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah saw.: “Mengapa kami [kaum wanita] tidak disebut di dalam al-Qur’an sebagaimana disebutkannya kaum laki-laki?” Beliau tidak menjawab hal tersebut kecuali suatu hari beliau berseru di atas mimbar.

Baca Juga:  Surat Al Lahb; Kutukan Allah kepada Abu Lahb dan Isterinya Karena Sangat Memusuhi Islam

Saat itu aku sedang mengurai rambutku, lalu aku gulung rambutku itu dan aku keluar dari kamar rumahku. Aku mencoba mendengarkan sesuatu di sisi pelepah kurma, tiba-tiba aku mendengar beliau saw. bersabda di atas mimbar: “Hai manusia, sesungguhnya Allah berfirman:

‘Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.’” (demikian yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i dan Ibnu Jarir dari hadits ‘Abdul Wahid bin Ziyad).

Firman Allah: إِنَّ ٱلۡمُسۡلِمِينَ وَٱلۡمُسۡلِمَٰتِ وَٱلۡمُؤۡمِنِينَ وَٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ (“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan Muslim, laki-laki dan perempuan yang Mu’min.”) merupakan dalil bahwa iman itu selain Islam, karena dia lebih khusus daripada kata Islam.

Berdasarkan firman Allah: “Orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah [kepada mereka]: ‘Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu.’” (al-Hujuraat: 14)

Dan di dalam shahihain: “Tidaklah seorang pezina melakukan zina, sedangkan dia dalam keadaan beriman.” Iman ditiadakan dari orang tersebut, sekalipun hal itu tidak menjadikkannya kafir menurut ijma’ kaum Muslimin. Hal tersebut menunjukkan bahwa kata iman lebih khusus daripada kata Islam.

Firman Allah swt : وَٱلۡقَٰنِتِينَ وَٱلۡقَٰنِتَٰتِ (“Laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya.”) qunut adalah ketaatan dengan penuh ketenteraman. Allah Ta’ala berfirman:(“Berdirilah untuk Allah [dalam shalatmu] dengan khusyu’.”)(al-Baqarah: 238). Setelah Islam ada tingkatan yang harus dinaiki, yaitu iman. Kemudian qunut muncul setelah keduanya.

وَٱلصَّٰدِقِينَ وَٱلصَّٰدِقَٰتِ (“laki-laki dan perempuan yang jujur.”) ini adalah masalah perkataan. Karena kejujuran adalah sikap terpuji. Untuk itu sebagian shahabat tidak pernah berbohong, baik pada masa jahiliyyah dan juga pada masa Islam.

Itulah tanda keimanan, sebagaimana kedustaan merupakan tanda kemunafikan. Barangsiapa yang jujur, dia akan selamat. “Peganglah oleh kalian kejujuran, karena kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan membawa kepada surga.

Waspadalah kalian kepada kedustaan, karena kedustaan itu membawa kepada keburukan dan sesungguhnya keburukan itu membawa kepada api neraka. seorang laki-laki senantiasa berbuat jujur dan menjaga kejujuran, sehingga di sisi Allah dicatat sebagai orang yang jujur. Dan senantiasa seorang laki-laki berbuat dusta dan menjaga kedustaan, hingga di sisi Allah dicatat sebagai pendusta.” (Muttafaq ‘alaih) Hadits-hadis dalam masalah ini banyak sekali.

Baca Juga:  Ilmu Qiraat dalam al-Quran; Pengertian Hingga Pembagian Mazhabnya

وَٱلصَّٰبِرِينَ وَٱلصَّٰبِرَٰتِ (“laki-laki dan perempuan yang sabar.”) ini adalah karakter yang mengokohkan jiwa, yaitu kesabaran terhadap musibah. Pengetahuan bahwa sesuatu yang ditakdirkan itu pasti akan terjadi, maka hal tersebut harus disambut dengan kesabaran dan keteguhan. Kesabaran itu dilakukan ketika permulaan kejadian. Yang paling berat adalah ketika pertama kali terjadi, kemudian setelahnya lebih mudah dan itulah karakter yang benar.

وَٱلۡخَٰشِعِينَ وَٱلۡخَٰشِعَٰتِ (“laki-laki dan perempuan yang khusyu’”) khusyu’ adalah ketenangan, ketenteraman, kebaikan, kehormatan, rendah hati, serta membawa rasa takut dan merasa diawasi oleh Allah swt.

Sebagaimana di dalam hadits: “Beribadahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. dan jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (Muttafaq ‘alaiHi dengan riwayat-riwayat yang berbeda dari hadits Jibril as.)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menjelaskan sifat-sifat hamba-Nya yang akan diampuni segala dosa dan kesalahannya serta dimasukkan ke dalam surga. Sifat-sifat mereka ada sepuluh macam: 1. Taat dan tunduk kepada hukum Islam, baik ucapan maupun perbuatan. 2. Membenarkan dan memercayai ajaran Allah dan rasul-Nya.

3. Selalu melaksanakan perintah-perintah agama dengan penuh kekhusyukan dan ketenangan. 4. Selalu benar dalam ucapan dan perbuatan, sebagai tanda keimanan yang sempurna. Dalam sebuah hadis yang sahih disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,

“Peganglah kebenaran, bahwa kebenaran itu membawa pada kebajikan, dan kebajikan akan membawa masuk surga, dan jauhilah dusta, sebab dusta itu membawa pada kedurhakaan dan kedurhakaan itu membawa ke neraka.”

5. Sabar menghadapi kesulitan dan penderitaan dalam melaksanakan perintah Allah serta menahan syahwat dan hawa nafsu. 6. Khusyuk dan tawaduk kepada Allah, baik jasmani maupun rohani, dalam melaksanakan semua tugas dan kewajiban dan keikhlasan semata-mata untuk mencari keridaan Allah.

7. Bersedekah dengan harta dan memberi bantuan kepada mereka yang serba kekurangan dan tidak mempunyai penghasilan. 8. Berpuasa yang dapat membantu menundukkan syahwat dan hawa nafsu, sebagaimana tercantum di dalam sabda Rasulullah saw “Wahai sekalian pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk kawin silakan kawin, karena perkawinan itu lebih dapat menahan pandangan mata dan lebih memelihara kemaluan, dan barang siapa yang belum mampu, supaya berpuasa, karena berpuasa itu dapat membendung syahwatnya.” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud)

9. Menjaga kemaluan dan kehormatan dari segala perbuatan yang haram dan keji, sesuai dengan firman Allah: Dan orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela. Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. (al-Mu’minun/23: 5-7) 10.

Baca Juga:  Surah Al Ikhlas; Terjemahan, Tafsir dan Keutamaan Membacanya

Selalu ingat kepada Allah dengan lidah dan hati, sesuai dengan hadis yang diriwayatkan dari Mujahid yang menyatakan bahwa seseorang itu belum disebut banyak mengingat Allah kecuali bila sudah dapat mengingat-Nya sambil berdiri, duduk, dan berbaring.

Abu Sa’id al-Khudri telah meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah bersabda: “Apabila seorang suami membangunkan seorang istrinya di malam hari lalu mereka salat Tahajud dua rakaat , maka mereka berdua pada malam tersebut termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah.” (Riwayat Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Dalam hadis yang lain dari Sahal bin Mu’az al-Juhani dari ayahnya diriwayatkan bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw: “Pejuang-pejuang manakah yang paling besar pahalanya wahai Rasulullah?” Nabi saw menjawab, “Yang paling banyak ingatnya kepada Allah. Lalu ia bertanya lagi,” Cara orang yang berpuasa manakah yang paling besar pahalanya?” Nabi saw menjawab, “Yang paling banyak ingat kepada Allah.”

Kemudian dia menyebutkan pula orang yang salat, berzakat, naik haji dan bersedekah, dan pada kesemuanya itu Nabi saw mengatakan, “Mereka yang paling banyak ingatnya kepada Allah.” Abu Bakar lalu berkata kepada Umar, “Orang yang banyak ingatnya kepada Allah telah membawa semua kebajikan.” Dan Nabi saw menambahkan, “Memang demikianlah.” (Riwayat Ahmad).

Tafsir Quraish Shihab: Sesungguhnya kaum lelaki dan wanita yang tunduk, percaya pada Allah dan Rasul-Nya, melakukan ketaatan, jujur dalam perkataan, perbuatan dan niat, tabah dalam menghadapi cobaan dalam berjuang di jalan Allah, merendahkan diri, menyedekahkan sebagian harta bagi orang yang membutuhkan, melakukan puasa wajib dan sunnah, menjaga kemaluan dari hal-hal yang dilarang, serta berzikir pada Allah dengan hati dan lisan, niscaya Allah akan memberikan pengampunan bagi segala dosa dan pahala yang besar atas perbuatan baik mereka.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama
kandungan Surah Al-Ahzab Ayat 35 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S