Surah Al-Anbiya Ayat 36-37 ; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Anbiya Ayat 36-37

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 36-37 ini, mengisahkan mula-mula Allah menerangkan bahwa manusia dijadikan sebagai mahluk yang bertabiat suka tergesa-gesa dan terburu nafsu. Kemudian Allah memperingatkan kaum kafir agar mereka jangan meminta disegerakannya azab yang diancamkan kepada mereka, karena Allah pasti akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda dari azab-Nya itu.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiya Ayat 36-37

Surah Al-Anbiya Ayat 36
وَإِذَا رَآكَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَذَا الَّذِي يَذْكُرُ آلِهَتَكُمْ وَهُم بِذِكْرِ الرَّحْمَنِ هُمْ كَافِرُونَ

Terjemahan: Dan apahila orang-orang kafir itu melihat kamu, mereka hanya membuat kamu menjadi olok-olok. (Mereka mengatakan): “Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhan-mu?”, padahal mereka adaIah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah.

Tafsir Jalalain: وَإِذَا رَآكَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا (Dan apabila orang-orang kafir itu melihat kamu tidaklah mereka menjadikanmu melainkan hanyalah sebagai bahan perolokan) yakni mereka memperolok-olok kamu seraya mengatakan, أَهَذَا الَّذِي يَذْكُرُ آلِهَتَكُمْ (“Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhan kalian?”) orang yang mencaci maki tuhan-tuhan kalian.

وَهُم بِذِكْرِ الرَّحْمَنِ (Dan mereka adalah orang-orang yang bila disebutkan nama Tuhan Yang Maha Pemurah) kepada mereka هُمْ (maka mereka) lafal ini berfungsi menjadi taukid كَافِرُونَ (ingkar) kepada-Nya, karena mereka menjawab, “Kami tidak mengetahui-Nya.”.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya: وَإِذَا رَآكَ الَّذِينَ كَفَرُوا (“Dan apabila orang-orang kafir itu melihatmu,”) yaitu orang-orang kafir Quraisy, seperti Abu jahal dan orang-orang yang serupa dengannya. إِن يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا (“Mereka hanya membuatmu menjadi olok-olok,”) yaitu mereka mengolok;olok dan meremehkanmu. Mereka berkata:

أَهَذَا الَّذِي يَذْكُرُ آلِهَتَكُمْ (“Apakah ini orang yang mencela ilah-ilahmu?”) Yang mereka maksudkan adalah, apakah ini orang yang mengejek ilah-ilah kalian dan menganggap bodoh pembesar-pembesar kalian?

Allah Ta’ala berfirman: وَهُم بِذِكْرِ الرَّحْمَنِ هُمْ كَافِرُونَ (“Padahal mereka adalah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Mahapemurah”) yaitu mereka kafir kepada Allah, dan di samping itu mereka mengolok-olok Rasulullah saw.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 105-107; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Dalam Ayat ini Allah menerangkan sikap dan kelakuan orang-orang kafir terhadap Nabi Muhammad, yaitu bahwa setiap kali mereka melihatnya, maka mereka menjadikan Nabi sebagai sasaran olok-olokan dan ejekan mereka, seraya berkata kepada sesama mereka, “Inikah orangnya yang mencela tuhan kamu? Padahal merekalah orang-orang yang ingkar dari mengingat Allah.”

Demikianlah ejekan mereka terhadap Rasulullah. Dan mereka tidak menginsafi bahwa yang sebenarnya merekalah yang selayaknya menerima ejekan, karena mereka menyembah patung-patung dan berhala, yang tidak kuasa berbuat apapun untuk mereka, bahkan tangan mereka sendirilah yang membuat tuhan-tuhan mereka itu sehingga mereka yang menjadi khalik sedang tuhan-tuhan mereka menjadi makhluk yang diciptakan. Dengan demikian, keadaan menjadi terbalik daripada yang semestinya, karena tuhan semestinya sebagai pencipta bukan yang diciptakan.

Tafsir Quraish Shihab: Apabila orang-orang yang ingkar kepada Allah dan kepada ajaran yang kau bawa itu melihatmu, Muhammad, mereka hanya akan mengejek dan menghinamu. Mereka saling berkata kepada sesamanya, “Inikah orang yang mencela tuhan-tuhan kalian?” Padahal mereka sendiri tidak percaya dengan zikir kepada Allah yang melimpahkan rahmat-Nya kepada mereka.

Surah Al-Anbiya Ayat 37
خُلِقَ الْإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ

Terjemahan: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.

Tafsir Jalalain: Ayat ini diturunkan sewaktu mereka meminta disegerakan turunnya azab atas mereka. خُلِقَ الْإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ (Manusia telah dijadikan dari tergesa-gesa) disebabkan manusia itu bertabiat tergesa-gesa di dalam semua tindakannya, maka seolah-olah ia diciptakan daripadanya.

سَأُرِيكُمْ آيَاتِي (Kelak Aku akan perlihatkan kepada kalian tanda-tanda azab-Ku) yakni ketentuan waktu bagi azab-Ku فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ (maka janganlah kalian minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera) kemudian Allah memperlihatkan kepada mereka turunnya azab itu, yaitu dengan dibunuhnya mereka dalam perang Badar.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 38-40 ; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala خُلِقَ الْإِنسَانُ مِنْ عَجَلٍ سَأُرِيكُمْ آيَاتِي فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ (“Manusia telah dijadikan [bertabi’at] tergesa-gesa. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda-Ku. Maka, janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera,”) hikmah disebutkannya ketergesa-gesaan manusia dalam Ayat ini adalah ketika Dia menceritakan orang-orang yang mengejek Rasul saw, yaitu terjadi di dalam jiwa, serta kecepatan pembalasan dan ketergesa-gesaan menghukum mereka,

maka Allah Ta’ala berfirman bahwa manusia diciptakan (bertabi’at) tergesa-gesa. Karena, sesungguhnya Allah Ta’ala mengulur orang yang dhalim, hingga tiba-tiba Dia menghukumnya tanpa ditunda-tunda, kemudian disegerakan dan dilihat tanpa diakhirkan.

Untuk itu, Dia berfirman: سَأُرِيكُمْ آيَاتِ (“Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda-Ku,”) yaitu hukuman-Ku, kebijaksanaan-Ku dan siksaan-Ku bagi orang-orang yang bermaksiat kepada-Ku; فَلَا تَسْتَعْجِلُونِ (“Maka, janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera.”)

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini, mula-mula Allah menerangkan bahwa manusia dijadikan sebagai mahluk yang bertabiat suka tergesa-gesa dan terburu nafsu. Kemudian Allah memperingatkan kaum kafir agar mereka jangan meminta disegerakannya azab yang diancamkan kepada mereka, karena Allah pasti akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda dari azab-Nya itu.

Di sini dapat kita ketahui bahwa Allah melarang manusia untuk bersifat tergesa-gesa, meminta segera didatangkannya sesuatu yang belum tiba saatnya, dan pasti datangnya. Di samping itu Allah menerangkan bahwa walaupun sifat tergesa-gesa itu sudah dijadikan-Nya sebagai salah satu sifat pada manusia, namun manusia telah diberi kemampuan untuk menahan diri dan mengatasi sifat tersebut, dengan cara membiasakan diri bersikap tenang, sabar, dan mawas diri.

Sifat tergesa-gesa dan terburu nafsu selalu menimbulkan akibat yang tidak baik serta merugikan baik diri sendiri atau orang lain, yang akhirnya akan menimbulkan rasa penyesalan yang tidak berkesudahan. Sebaliknya, sikap tenang, sabar, berhati-hati dan mawas diri dapat menyampaikan seseorang kepada apa yang ditujunya, dan mencapai sukses yang gemilang dalam hidupnya.

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 157; Seri Tadabbur Al-Qur'an

Itulah sebabnya Al-Qur’an selalu memuji orang-orang yang bersifat sabar, dan menjanjikan kepada mereka bahwa Allah senantiasa akan memberikan perlindungan, petunjuk dan pertolongan kepada mereka. Sedang orang-orang yang suka terburu-buru, lekas marah, mudah teperdaya oleh godaan iblis yang akan menjerumuskannya ke jurang kebinasaan, dan menyeleweng dari kebenaran akan mendapat kerugian.

Permintaan orang-orang kafir agar azab Allah segera didatangkan kepada mereka, dengan jelas menunjukkan ketidakpercayaan mereka terhadap adanya azab tersebut, serta keingkaran mereka bahwa Allah kuasa menimpakan azab kepada orang-orang yang zalim.

Tafsir Quraish Shihab: Jika dahulu mereka meminta agar siksaan untuk mereka disegerakan, itu memang sudah merupakan tabiat manusia. Akan Aku perlihatkan kepada kalian, wahai orang-orang yang menginginkan disegerakannya siksa, nikmat-Ku di dunia dan siksa-Ku di akhirat.

Oleh karena itu, kalian tidak perlu minta dipercepat sesuatu yang memang pasti akan tiba(1). (1) Yang dimaksud dengan kata “âyâtî” (‘ayat-ayat-Ku’) dalam ayat ini adalah âyât kawniyyah, yaitu tanda-tanda wujud dan kekuasaan Allah yang terdapat di alam raya.

Kemajuan ilmu pengetahuan akan dapat menyingkap tanda-tanda itu sejalan dengan perkembangan pemikiran manusia pada waktu yang telah ditentukan. Maka, apabila waktu yang ditentukan itu telah tiba, Allah akan memudahkan manusia untuk dapat menyingkap rahasia tanda-tanda kekuasaan-Nya itu.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 36-37 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag, dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S