Surah Al-Anbiya Ayat 57-63; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Anbiya Ayat 57-63

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 57-63 ini; Ayat ini menerangkan apa yang terkandung dalam hati Ibrahim yang diucapkan dan didengar oleh sebagian kaumnya yaitu ia bertekad untuk menghancurkan patung-patung yang menjadi sesembahan kaumnya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dalam ayat ini disebutkan bahwa apa yang menjadi tekad Ibrahim itu untuk memanfaatkan perayaan besar itu untuk menghancurkan patung-patung itu benar-benar dilaksanakannya, sehingga sepeninggal kaumnya, patung-patung itu dirusaknya sehingga hancur berkeping-keping, kecuali sebuah patung yang terbesar.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiya Ayat 57-63

Surah Al-Anbiya Ayat 57
وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُم بَعْدَ أَن تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ

Terjemahan: Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya.

Tafsir Jalalain: وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُم بَعْدَ أَن تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ (Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhala kalian sesudah kalian pergi meninggalkannya).

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian, al-Khalil Ibrahim as bersumpah dengan sumpah yang didengar oleh sebagian kaumnya, sesungguhnya dia akan menipu daya berhala-berhala mereka, yaitu sesungguhnya dia amat antusias untuk menyak menghancurkan mereka setelah mereka pergi meninggalkannya menuju perayaan hari kebesaran mereka. Karena mereka memiliki satu hari besar dimana pada saat itu mereka keluar.

As-Suddi berkata: “Ketika waktu perayaan itu hampir tiba, ayahanda Ibrahim berkata: ‘Hai anakku, seandainya engkau keluar bersama kami menuju perayaan itu, niscaya kamu mengagumi agama kami.’ Lalu, ia keluar bersama mereka. Ketika dia telah berada di pertengahan jalan, ia menjatuhkan dirinya ke tanah dan ia berkata: ‘Aku sakit.’ Akan tetapi, mereka tetap berlalu meninggalkannya, padahal dia dalam keadaan kejang.

Mereka berkata: ‘Biarkan saja.’ Dan ia terus berkata: ‘Aku sakit.’ Ketikanya (umumnya) mereka telah melewatinya dan yang tinggal hanyalah orang-orang yang lemah di kalangan mereka, dia berkata: ‘Dema Allah sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu,’ maka mereka mendengarnya.”

Ibnu Ishaq berkata dari Abul Ahwash, bahwa Abdullah berkata: “Ketika kaum Ibrahim keluar menuju perayaan hari besar mereka, mereka melewatinya. Lalu mereka berkata: Hai Ibrahim! Apakah engkau tidak keluar bersama kami?’ Dia menjawab: ‘Aku sakit.’ Keesokan harinya Ibrahim berkata:

وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُم بَعْدَ أَن تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ (“Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggal-kannya,”) maka sebagian mereka mendengarnya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan apa yang terkandung dalam hati Ibrahim yang diucapkan dan didengar oleh sebagian kaumnya yaitu ia bertekad untuk menghancurkan patung-patung yang menjadi sesembahan kaumnya, apabila mereka sudah pergi meninggalkan tempat tersebut.

Tafsir Quraish Shihab: Ibrahim berkata kepada dirinya sendiri, “Aku bersumpah demi Allah, akan mengatur siasat untuk menghancurkan patung-patung kalian setelah kalian pergi jauh meninggalkannya agar tampak sesatnya apa yang kalian lakukan.”

Surah Al-Anbiya Ayat 58
فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا إِلَّا كَبِيرًا لَّهُمْ لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ

Terjemahan: Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya.

Tafsir Jalalain: فَجَعَلَهُمْ (Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu) sesudah mereka pergi meninggalkannya menuju ke tempat pertemuan di hari raya mereka جُذَاذًا (menjadi puing-puing) dapat dibaca Judzaadzan dan Jidzaadzan, artinya hancur terpotong-potong di kapak oleh Nabi Ibrahim

إِلَّا كَبِيرًا لَّهُمْ (kecuali yang terbesar dari mereka) lalu Nabi Ibrahim menggantungkan kapaknya ke pundak berhala yang terbesar itu لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ (agar mereka kepadanya) yakni kepada berhala yang terbesar itu يَرْجِعُونَ (menanyakannya) maka mereka akan melihat apa yang ia perbuat terhadap berhala-berhala yang lain.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: فَجَعَلَهُمْ جُذَاذًا (“Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berkeping-keping,”) seluruhnya pecah terpotong-potong kecuali berhala terbesar mereka miliki.

Firman-Nya: لَعَلَّهُمْ إِلَيْهِ يَرْجِعُونَ (“Agar mereka kembali kepadanya”) mereka menceritakan bahwa Ibrahim meletakkan kapaknya di tangan berhala terbesar itu agar mereka berkeyakinan bahwa dialah yang merasa cemburu untuk disembah bersama berhala-berhala kecil tersebut, sehingga dia pun memecahkannya.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini disebutkan bahwa apa yang menjadi tekad Ibrahim itu untuk memanfaatkan perayaan besar itu untuk menghancurkan patung-patung itu benar-benar dilaksanakannya, sehingga sepeninggal kaumnya, patung-patung itu dirusaknya sehingga hancur berkeping-keping, kecuali sebuah patung yang terbesar.

Patung itu tidak dirusaknya, karena ia berharap bila mereka kembali ke sana dan bertanya kepadanya tentang siapa orang yang merusak patung-patung yang lain itu, maka ia akan menyuruh mereka bertanya kepada patung yang terbesar itu, yang tentu saja tidak dapat menjawab pertanyaan mereka.

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 95-97; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Setelah mereka pergi meninggalkan patung-patung itu, Ibrahim mendatanginya lalu menghancurkannya berkeping-keping kecuali patung yang besar agar nantinya menjadi tempat bertanya bagi mereka tentang apa yang telah terjadi pada tuhan-tuhan mereka itu. Tentu, patung besar itu pun tidak akan dapat menjawab apa-apa. Dengan demikian kebatilan akan tampak jelas pada mereka.

Surah Al-Anbiya Ayat 59
قَالُوا مَن فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ

Terjemahan: Mereka berkata: “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”.

Tafsir Jalalain: قَالُوا (Mereka berkata) setelah kembali dan melihat apa yang telah diperbuat terhadap berhala-berhala mereka, مَن فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ (“Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim”) di dalam perbuatannya ini.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالُوا مَن فَعَلَ هَذَا بِآلِهَتِنَا إِنَّهُ لَمِنَ الظَّالِمِينَ (“Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap ilah-ilah kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang dzhalim,”) yaitu ketika mereka kembali menyaksikan apa yang dilakukan oleh al-Khalil terhadap berhala-berhala mereka yang telah dihina dan direndahkan, di mana hal tersebut menunjukkan bahwa mereka itu bukan tuhan serta amat rendahnya akal para penyembahnya dalam menciptakan semua itu.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa apa yang diharapkan oleh Ibrahim, benar-benar terjadi. Setelah mendengar berita bahwa patung-patung mereka telah rusak, mereka datang kembali ke tempat itu dan bertanya kepada Ibrahim, siapakah yang telah melakukan perbuatan jahat ini terhadap tuhan-tuhan mereka? Sungguh dia benar-benar termasuk orang yang zalim.”

Dari ucapan ini dapat kita pahami bahwa sampai saat itu mereka masih belum menerima sepenuhnya apa yang disampaikan Ibrahim kepada mereka, dan mereka masih menyembah dan mengagungkan berhala-berhala itu, dan masih menyebutnya sebagai tuhan-tuhan mereka. Hal ini menimbulkan kemarahan terhadap orang yang membinasakannya.

Tafsir Quraish Shihab: Setelah mereka melihat apa yang terjadi pada tuhan-tuhan mereka itu, mereka pun berkata bahwa siapa yang melakukan hal ini terhadap tuhan-tuhan mereka sungguh termasuk orang yang menzalimi diri sendiri dengan menjerumuskannya untuk disiksa.

Surah Al-Anbiya Ayat 60
قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ

Terjemahan: Mereka berkata: “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim”.

Tafsir Jalalain: قَالُوا (Mereka berkata) sebagian dari mereka kepada yang lain, سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ (“Kami dengar ada seorang pemuda yang menyebut-nyebut mereka) yakni yang mencaci maki berhala-berhala itu يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ (yang bernama Ibrahim”).

Tafsir Ibnu Katsir: قَالُوا سَمِعْنَا فَتًى يَذْكُرُهُمْ يُقَالُ لَهُ إِبْرَاهِيمُ (“Mereka berkata: ‘Kami dengar seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim’”) orang yang mendengar bahwa ia bersumpah untuk menipu daya mereka berkata: “Kami mendengar seorang pemuda yang dikenal dengan nama Ibrahim.”

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan dalam ayat ini bahwa orang-orang yang berada di dekat penyembahan patung-patung itu menjawab pertanyaan di atas dengan mengatakan bahwa mereka mendengar seorang pemuda yang bernama Ibrahim telah menghancurkan berhala-berhala itu.

Dari sini kita pahami pada saat itu Ibrahim masih sebagai seorang pemuda (± 16 tahun), dan belum diutus Allah menjadi Nabi dan Rasul-Nya. Maka tindakannya dalam membinasakan patung-patung itu bukan dalam rangka tugasnya sebagai Rasul, melainkan timbul dari dorongan kepercayaannya kepada Allah, berdasarkan petunjuk kepada kebenaran yang telah dilimpahkan Allah kepadanya, sebelum ia diangkat menjadi Rasul.

Tafsir Quraish Shihab: Di antara mereka ada yang berkata, “Kami mendengar ada seorang anak muda bernama Ibrahim yang menghina tuhan-tuhan kita.”

Surah Al-Anbiya Ayat 61
قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ

Terjemahan: Mereka berkata: “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan”.

Tafsir Jalalain: قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ (Mereka berkata, “Kalau demikian, bawalah dia ke hadapan orang banyak) perlihatkanlah dia kepada mereka لَعَلَّهُمْ يَشْهَدُونَ (agar mereka menyaksikan”) bahwasanya dialah yang telah melakukan semuanya ini.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: قَالُوا فَأْتُوا بِهِ عَلَى أَعْيُنِ النَّاسِ (“Mereka berkata: ‘Kalau demikian, bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak,’”) yaitu di hadapan para saksi secara langsung, di sebuah pertemuan besar yang dihadiri banyak orang.

Padahal, inilah tujuan utama Ibrahim dalam pertemuan besar tersebut untuk menjelaskan besarnya kebodohan mereka dan piciknya akal-akal mereka dengan menyembah berhala-berhala yang tidak dapat menolak kemudharatan untuk dirinya sendiri serta tidak mampu membantunya. Maka, bagaimana mungkin dia akan melakukan itu semua?

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 89-90 ; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan bahwa setelah mereka mendapat jawaban bahwa yang merusakkan patung-patung itu adalah seorang pemuda yang bernama Ibrahim, maka mereka menyuruh agar pemuda itu dihadapkan kepada orang banyak, dengan harapan kalau-kalau ada orang lain yang menyaksikan pemuda tersebut melakukan pengrusakan itu, sehingga kesaksian itu akan dapat dijadikan bukti.

Hal ini memberikan pengertian bahwa di kalangan mereka pada masa itu sudah berlaku suatu peraturan, bahwa mereka tidak akan menindak secara langsung seseorang yang dituduh sebelum ada bukti-bukti, baik berupa persaksian dari seseorang, maupun berupa pengakuan dari pihak yang tertuduh.

Tafsir Quraish Shihab: Pembesar-pembesar mereka berkata, “Carilah ia dan datangkan ke sini untuk diperhitungkan di hadapan orang banyak, agar mereka menyaksikan apa yang telah ia lakukan!”

Surah Al-Anbiya Ayat 62
قَالُوا أَأَنتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ

Terjemahan: Mereka bertanya: “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”

Tafsir Jalalain: قَالُوا (Mereka bertanya) setelah menghadirkan Ibrahim, أَأَنتَ (“Apakah kamu) dapat dibaca A’anta dan A-anta فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ (yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?”).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah subhanahu wa ta’ala: قَالُوا أَأَنتَ فَعَلْتَ هَذَا بِآلِهَتِنَا يَا إِبْرَاهِيمُ Ibrahim menjawab, “Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya. Yakni berhala yang dibiarkannya dan tidak dipecahkannya itu. maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.(QS. Al-Anbiyaa [21]: 63)

Sesungguhnya Ibrahim ‘alaihis salam melontarkan jawaban ini tiada lain agar mereka menyadari bahwa berhala itu tidak dapat bicara karena berhala itu berupa patung yang terbuat dari benda mati (lalu mengapa mereka menyembahnya).

Di dalam kitab Sahihain disebutkan sebuah hadis melalui Hisyam ibnu Hissan, dari Muhammad ibnu Sirin, dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

Sesungguhnya Ibrahim as. tidak berdusta selain dalam tiga hal. Dua di antaranya terhadap Zat Allah, yaitu yang disebutkan di dalam firman-Nya,
“Sebenarnya patung yang besar itu yang melakukannya” (QS. Al-Anbiyaa [21]: 63). Dan apa yang disebutkan oleh firman-Nya, “Sesungguhnya aku sakit” (QS. As-Saffat [37]: 89).

Dan ketika Ibrahim sedang berjalan di suatu negeri yang berada di bawah kekuasaan seorang raja yang angkara murka, saat itu ia membawa Sarah —istrinya—lalu ia turun istirahat di suatu tempat. Maka ada seseorang melaporkan kepada raja yang angkara murka itu, bahwa sesungguhnya telah singgah di negerimu ini seorang lelaki dengan membawa seorang wanita yang sangat cantik.

Maka si raja lalim itu mengirimkan utusannya memanggil Ibrahim, kemudian Ibrahim datang menghadap, dan si raja lalim bertanya, “Siapakah wanita yang kamu bawa itu?” Ibrahim Menjawab, “Saudara perempuanku.” Si raja berkata, “Pergilah kamu dan bawalah dia menghadap kepadaku.”

Maka Ibrahim pergi menuju ke tempat Sarah, lalu ia berkata kepadanya, “Sesungguhnya si raja lalim ini telah bertanya kepadaku tentang kamu, saya jawab bahwa engkau adalah saudara perempuanku, maka janganlah kamu mendustakan aku di hadapannya. Karena sesungguhnya engkau adalah saudara perempuanku menurut Kitabullah.

Dan sesungguhnya di muka bumi ini tiada seorang muslim pun selain aku dan kamu.” Ibrahim membawa Sarah pergi, lalu Ibrahim melakukan salat. Setelah Sarah masuk ke dalam istana raja dan si raja melihatnya. Maka si raja menubruknya dengan maksud akan memeluknya, tetapi si raja mendadak menjadi sangat kaku sekujur tubuhnya.

Lalu ia berkata, “Doakanlah kepada Allah untuk kesembuhanku, maka aku tidak akan meng­ganggumu.” Sarah berdoa untuk kesembuhan si raja. Akhirnya si raja sembuh, tetapi si raja kembali menubruknya dengan maksud memeluknya. Tiba-tiba ia mendadak mengalami peristiwa yang pertama tadi, bahkan kali ini lebih parah. Raja melakukan hal itu sebanyak tiga kali, setiap kali ia melakukannya, ia ditimpa musibah itu seperti kejadian yang pertama dan yang kedua. Akhirnya si raja berkata,

“Doakanlah kepada Allah, maka aku tidak akan mengganggumu lagi.” Sarah berdoa untuk kesembuhan si raja, dan si raja sembuh seketika itu juga. Sesudah itu si raja memanggil penjaga (pengawal)nya yang terdekat dan berkata,

“Sesungguhnya yang kamu datangkan kepadaku bukanlah manusia melainkan setan. Keluarkanlah dia dan berikanlah Hajar kepadanya.” Maka Sarah dikeluarkan (dibebaskan) dan diberi hadiah seorang budak wanita bernama Hajar, lalu pulang (ke tempat suaminya). Setelah Ibrahim merasakan kedatangan istrinya, ia berhenti dari salatnya, lalu bertanya,
“Bagaimanakah beritanya?” Sarah menjawab, “Allah telah melindungiku dari tipu daya si kafir yang durhaka itu dan memberiku seorang pelayan bernama Hajar.”

Baca Juga:  Surah Al-Anbiya Ayat 1-6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Muhammad ibnu Sirin mengatakan bahwa Abu Hurairah apabila usai menceritakan kisah ini mengatakan, “Itulah cerita ibu kalian, hai orang-orang nomaden.”

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini diterangkan bahwa setelah Ibrahim mereka hadapkan kepada orang banyak, maka mereka mengadakan penyelidikan dan pemeriksaan terhadapnya dengan mengajukan pertanyaan, apakah betul dia yang melakukan pengrusakan terhadap berhala-berhala itu.

Pertanyaan ini mereka ajukan dengan harapan bahwa Ibrahim akan mengakui bahwa dialah yang melakukan pengrusakan itu. Pengakuan itu akan mereka jadikan alasan untuk menghukum Ibrahim.

Tafsir Quraish Shihab: Setelah Ibrahim berhasil didatangkan, mereka berkata, “Kamukah yang melakukan ini semua terhadap tuhan-tuhan kami, Ibrahim?”

Surah Al-Anbiya Ayat 63
قَالَ بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ إِن كَانُوا يَنطِقُونَ

Terjemahan: Ibrahim menjawab: “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara”.

Tafsir Jalalain: قَالَ (Ibrahim menjawab) seraya menyembunyikan apa yang sebenarnya telah ia lakukan, فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا فَاسْأَلُوهُمْ (“Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala-berhala itu) siapakah pelakunya إِن كَانُوا يَنطِقُونَ (jika mereka dapat berbicara”) Jawab syarat dari kalimat ayat ini telah didahulukan dan kalimat yang sebelumnya merupakan sindiran bagi para penyembah berhala, bahwa berhala-berhala yang telah dimaklumi ketidakmampuannya untuk berbuat itu bukan tuhan.

Tafsir Ibnu Katsir: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا (“Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, ‘”) yaitu yang dia biarkan tidak dihancurkannya. فَاسْأَلُوهُمْ إِن كَانُوا يَنطِقُونَ (“Maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara,”) yang diakehendaki dari hal tersebut adalah agar mereka segera mengakui dari jiwa mereka sendiri bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara dan semua itu tidak akan mungkin dilakukan oleh patung tersebut, karena mereka adalah benda mati.

Tafsir Kemenag: Diterangkan dalam ayat ini jawaban Ibrahim atas tuduhan itu. Dimana jawaban Ibrahim ternyata sangat mengagetkan mereka, sebab tidak sesuai dengan harapan mereka, karena Ibrahim tidak memberikan pengakuan bahwa ia yang melakukan pengrusakan, tetapi ia mengatakan bahwa yang melakukan pengrusakan terhadap patung-patung itu justru adalah patung terbesar yang masih utuh.

Jawaban semacam itu dimaksudkan Ibrahim untuk mencapai tujuannya, yaitu untuk menyadarkan kaumnya bahwa patung-patung itu tidak patut untuk disembah, karena ia tidak dapat berbuat apa-apa. Apalagi untuk membela dirinya.

Jelas bahwa kaumnya tidak akan percaya bahwa patung terbesar itulah yang melakukan pengrusakan terhadap patung-patung yang lain. Sebab, mereka menyadari bahwa hal itu mustahil akan terjadi, karena patung tidak dapat berbuat apa pun, sebab dia adalah benda mati. Jika mereka telah menginsafi hal tersebut, sudah sepatutnya mereka berhenti menyembah patung.

Pada akhir ayat ini disebutkan ucapan Ibrahim selanjutnya terhadap kaumnya, yang menyuruh mereka menanyakan kepada patung-patung itu sendiri, siapakah yang telah merusak mereka.

Ucapan ini menyebabkan kaumnya semakin terpojok, karena seandainya mereka bertanya kepada patung-patung itu, niscaya mereka tidak akan memperoleh jawaban, sebab patung-patung tersebut tidak mendengar dan tidak dapat berbicara. Kalau demikian keadaannya, patutkah patung-patung itu disembah? Jika masih ada orang yang menyembahnya, pastilah orang tersebut tidak mempergunakan pikirannya yang sehat.

Tafsir Quraish Shihab: Dengan maksud mengingatkan kesesatan mereka, Ibrahim menjawab, “Tuhan terbesar itulah yang melakukannya. Tanyakan saja kepada tuhan-tuhan yang lain tentang siapa yang telah melakukan hal itu kalau mereka bisa menjawab pertanyaan kalian!”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 57-63 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S