Surah Al-Anbiya Ayat 71-75; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Anbiya Ayat 71-75

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 71-75 ini; dijelaskan bahwa Allah melengkapi rahmat-Nya kepada Ibrahim. Allah telah menyelamatkannya dari kobaran api. Dalam sejarah diterangkan bahwa Allah telah menyelamatkannya dari kejahatan penduduk kota Ur di Mesopotamia Selatan, yaitu negeri asalnya, lalu ia hijrah ke negeri Harran, kemudian ke Palestina di daerah Syam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Anbiya Ayat 71-75

Surah Al-Anbiya Ayat 71
وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ

Terjemahan: Dan Kami seIamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia.

Tafsir Jalalain: وَنَجَّيْنَاهُ وَلُوطًا (Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth) anak saudara Nabi Ibrahim yang bernama Haran yang tinggal di negeri Iraq إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ (ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia) dengan menjadikan sungai-sungai dan pohon-pohon yang banyak padanya, yaitu negeri Syam. Nabi Ibrahim tinggal di negeri Palestina sedangkan Nabi Luth di Mu’tafikah; jarak antara kedua negeri itu dapat ditempuh dalam sehari.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang Ibrahim yang diselamatkan oleh Allah dari pembakaran oleh kaumnya serta dikeluarkan berhijrah oleh-Nya di hadapan mereka dari negeri Syam menuju tanah suci (Baitul Maqdis).

Ar-Rabi’ bin Anas berkata dari Abul ‘Aliyah, bahwa Ubay bin Ka’ab berkata tentang firman Allah: إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا لِلْعَالَمِينَ (“Ke sebuah negeri yang Kami telah memberkahinya untuk sekalian manusia,”) yaitu negeri Syam. Qatadah berkata:

“Dia berada di negeri Irak, lalu Allah menyelamatkannya ke negeri Syam, dan dia berkata: Itulah tanah Mahsyar dan Mansyar, di sanalah turunnya Isa bin Maryam dan di sana pula dibinasakannya al-Masih ad-Dajjal.’”

As-Suddi berkata: “Ibrahim dan Luth berangkat menuju Syam, lalu Ibrahim bertemu dengan Sarah yaitu seorang puteri raja Haran yang mencela agama kaumnya.” Lalu, Ibrahim mengawininya hingga ia lari bersamanya. Pendapat yang masyhur adalah bahwa Sarah ialah anak perempuan pamannya dan ia keluar berhijrah bersamanya dari negerinya.

Al-‘Aufi berkata dari Ibnu Abbas, yaitu menuju Makkah. Apakah engkau tidak mendengar firman-Nya: “Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, di antaranya maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya, menjadi amanlah dia.” (QS. Ali-‘Imraan: 96-97)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini dijelaskan bahwa Allah melengkapi rahmat-Nya kepada Ibrahim. Allah telah menyelamatkannya dari kobaran api. Dalam sejarah diterangkan bahwa Allah telah menyelamatkannya dari kejahatan penduduk kota Ur di Mesopotamia Selatan, yaitu negeri asalnya, lalu ia hijrah ke negeri Harran, kemudian ke Palestina di daerah Syam.

Dalam ayat ini disebutkan bahwa negeri Syam adalah negeri yang telah diberi Allah keberkahan yang banyak untuk semua manusia. Sehingga negeri tersebut amat subur, banyak air dan tumbuh-tumbuhannya, sehingga memberikan banyak manfaat bagi penduduknya. Selain itu, negeri tersebut juga merupakan tempat lahir para nabi yang membawa sinar petunjuk bagi umat manusia. Baitul Makdis yang terletak di Palestina juga termasuk daerah Syam, dan kiblat pertama bagi umat Islam.

Dalam ayat ini diterangkan bahwa Nabi Lut juga berhijrah bersama ke negeri Syam itu. Menurut keterangan sejarah Nabi Lut adalah anak saudara lelaki Ibrahim a.s.

Tafsir Quraish Shihab: Begitulah, Kami telah menyelamatkan Ibrâhîm dan Lûth dari tipu daya orang-orang yang berbuat makar. Mereka berdua kemudian berpindah ke belahan bumi yang Kami penuhi dengan kebaikan untuk manusia dan tempat Kami mengutus banyak nabi.

Surah Al-Anbiya Ayat 72
وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً وَكُلًّا جَعَلْنَا صَالِحِينَ

Baca Juga:  Surah Yusuf Ayat 21-22; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Terjemahan: Dan Kami telah memberikan kepada-nya (Ibrahim) lshak dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah (daripada Kami). Dan masing-masingnya Kami jadikan orang-orang yang saleh.

Tafsir Jalalain: وَوَهَبْنَا لَهُ (Dan Kami telah memberikan kepadanya) kepada Ibrahim, yang sebelumnya selalu mendambakan mempunyai seorang anak, sebagaimana yang disebutkan di dalam surah Ash-Shaffat إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَ (Ishak dan Yakub sebagai suatu anugerah) dari Kami, yaitu anugerah yang lebih daripada apa yang dimintanya. Atau yang dimaksud dengan Naafilah adalah cucu وَكُلًّا (Dan masing-masingnya) Nabi Ibrahim dan kedua anaknya itu جَعَلْنَا صَالِحِينَ (Kami jadikan orang-orang yang saleh) yakni menjadi nabi semuanya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ نَافِلَةً (“Dan Kami telah memberikan kepadanya [Ibrahim] Ishaq dan Ya’qub, sebagai suatu anugerah.’”) Atha dan Mujahid berkata: “Yaitu suatu pemberian.” Ibnu Abbas, Qatadah dan al-Hakam bin Uyainah berkata: “an naafilatu; adalah cucu yaitu Ya’qub, anak Ishaq.”

وَكُلًّا جَعَلْنَا صَالِحِينَ (“Dan masing masing Kami jadikan orang orang yang shalih,”) yaitu seluruhnya adalah ahli kebaikan dan orang-orang shalih.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah menyebutkan nikmat-Nya yang lain kepada Ibrahim a.s. sebagai tambahan atas nikmat-Nya yang telah lalu, yaitu bahwa Allah telah menganugerahkan seorang putra yaitu Ishak, sedang Yakub adalah putra dari Ishak, jadi sebagai cucu Ibrahim yang melahirkan keturunan Bani Israil.

Di samping itu Ibrahim juga mempunyai seorang putra lainnya, yaitu Ismail, dari Siti Hajar. Allah telah menjadikan kesemuanya, yaitu Ibrahim, Ismail, Ishak dan Yakub sebagai nabi-nabi dan orang-orang yang saleh.

Tafsir Quraish Shihab: Lalu Ibrâhîm Kami karuniakan Ishâq, dan Ya’qûb setelah Ishâq, sebagai tambahan atas permintaannya. Baik Ishâq maupun Ya’qûb, keduanya kemudian Kami jadikan orang-orang yang saleh.

Surah Al-Anbiya Ayat 73
وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

Terjemahan: Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah,

Tafsir Jalalain: وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً (Kami telah menjadikan mereka itu sebagian pemimpin-pemimpin) dapat dibaca A-immatan atau Ayimmatan, yakni pemimpin yang menjadi teladan dalam kebaikan يَهْدُونَ (yang memberi petunjuk) kepada manusia بِأَمْرِنَا (dengan perintah Kami) memberi petunjuk kepada mereka untuk memeluk agama Kami,

وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ (dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, menunaikan zakat) hendaknya mereka dan orang-orang yang mengikuti mereka mengerjakan semuanya itu. Huruf Ha dari lafal Iqaamah dibuang demi untuk meringankan bunyi, sehingga menjadi Iqaamash Shalaati bukan Iqaamatish Shalaati وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah).

Tafsir Ibnu Katsir: وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً (“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin pemimpin”) yang diikuti. يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا (“Yang memberi petunjuk dengan perintah Kami”) yaitu mereka menyeru kepada Allah dengan izin-Nya.

Untuk itu Dia berfirman: وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ (“Dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat,”) termasuk penyebutan yang khusus setelah yang umum. وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ (“Dan hanya kepada Kamilah mereka selalu beribadah,”) yaitu melakukan apa saja yang mereka perintahkan kepada orang lain.

Tafsir Kemenag: Allah menyebutkan dalam ayat ini tambahan karunia-Nya kepada Ibrahim, selain karunia yang telah diterangkan pada ayat yang lalu, yaitu bahwa keturunan Ibrahim itu tidak hanya merupakan orang-orang yang saleh, bahkan juga menjadi imam atau pemimpin umat yang mengajak orang untuk menerima dan melaksanakan agama Allah, dan mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang baik dan bermanfaat, berdasarkan perintah dan izin Allah.

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 178; Seri Tadabbur Al-Qur'an

Nabi Ibrahim yang diberi gelar “Khalilullah” (kekasih Tuhan) juga merupakan bapak dari beberapa nabi karena banyak di antara nabi-nabi yang datang sesudahnya adalah dari keturunannya, sampai dengan Nabi dan Rasul yang terakhir, yaitu Muhammad saw adalah termasuk cucu-cucu Ibrahim a.s. melalui Nabi Ismail. Mereka memperoleh wahyu Allah yang berisi ajaranajaran dan petunjuk ke arah bermacam-macam kebajikan, terutama menaati perintah Allah dan meninggalkan larangan-Nya.

Di samping itu Allah juga mewahyukan kepada mereka agar mendirikan salat dan membayarkan zakat. Kedua macam ibadah ini disebutkan Allah secara khusus, sebab ibadah salat memiliki keistimewaan sebagai ibadah jasmaniah maupun sebagai sarana yang mengokohkan hubungan hamba dengan Tuhannya, sedang zakat mempunyai keistimewaan baik sebagai ibadah harta yang paling utama yang mempererat hubungan dengan sesama hamba, lebih-lebih bila diingat bahwa harta benda sangat penting kedudukannya dalam kehidupan manusia.

Kedua macam ibadah ini, walaupun harus dilengkapi dengan ibadahibadah lainnya, namun ia telah mencerminkan dua sifat utama pada diri manusia yaitu taat kepada Allah, dan kasih sayang kepada sesama manusia. Akhirnya, pada ujung ayat ini Allah menerangkan bahwa keturunan Nabi Ibrahim itu adalah orang-orang yang beribadat kepada Allah semata-mata dengan penuh rasa khusyuk dan tawadu.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka juga Kami jadikan sebagai nabi yang menyeru dan menunjuki manusia kepada kebaikan dengan perintah Kami. Hal itu setelah Kami mengilhami mereka untuk melakukan kebaikan, mengerjakan salat dengan betul dan membayar zakat. Mereka pun kemudian tunduk dan ikhlas kepada Kami.

Surah Al-Anbiya Ayat 74
وَلُوطًا آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ تَعْمَلُ الْخَبَائِثَ ۗ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَاسِقِينَ

Terjemahan: dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu, dan telah Kami selamatkan dia dari (azab yang telah menimpa penduduk) kota yang mengerjakan perbuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik,

Tafsir Jalalain: وَلُوطًا آتَيْنَاهُ حُكْمًا (Dan kepada Luth, Kami telah berikan hukum) yang memutuskan di antara orang-orang yang bersengketa وَعِلْمًا وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ تَعْمَلُ (dan ilmu dan telah Kami selamatkan dia dari azab yang telah menimpa kota yang penduduknya mengerjakan) perbuatan-perbuatan الْخَبَائِثَ (keji) yaitu seperti liwath atau homosex, main dadu, menebak nasib dengan burung dan lain sebagainya.

إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ (Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat) lafal Sau-in adalah bentuk Mashdar dari lafal Saa-a lawan kata dari Sarra, artinya jahat atau buruk فَاسِقِينَ (lagi fasik).

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian disambung dengan menceritakan Luth, yaitu Luth bin Haran bin Aazar yang bersama Hajar telah beriman dan mengikuti Ibrahim as, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: fa aamana laHuu luuthuw wa qaala innii muHaajirun ilaa rabbii (“Maka Luth membenarkan [kenabian]nya. Dan berkatalah Ibrahim: ‘Sesungguhnya aku akan berpindah ke tempat yang diperintahkan Rabbku.’”) (QS. Al-‘Ankabuut: 26)

Lalu, Allah memberikan hikmah dan ilmu, memberikan wahyu kepadanya, menjadikannya seorang Nabi serta mengutusnya ke kota Sadum. Maka, mereka menyelisihi dan mendustakannya, hingga Allah membinasakan dan menghancurkan mereka sebagaimana kisah mereka disebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an.

Untuk itu, Dia berfirman: وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَت تَّعْمَلُ الْخَبَائِثَ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَاسِقِينَ (“Dan telah Kami selamatkan dia dari adzab yang telah menimpa penduduk kota yang mengerjakan pebuatan keji. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang jahat lagi fasik.)

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah menerangkan tiga macam rahmat yang dikaruniakan kepada Nabi Lut: Pertama, Nabi Lut telah dikaruniai-Nya hikmah dan kearifan memberi putusan atau hukuman, sehingga dengan itu ia dapat memberikan penyelesaian dan keputusan dengan baik dalam perkara-perkara yang terjadi di kalangan umatnya.

Baca Juga:  Surah Ar-Rum Ayat 48-51; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Kedua, Ia juga dikaruniai ilmu pengetahuan yang sangat berguna terutama ilmu agama, sehingga ia dapat mengetahui dan melaksanakan dengan baik kewajiban-kewajibannya terhadap Allah dan terhadap sesama makhluk. Kedua syarat ini sangat penting bagi orang-orang yang akan diutus Allah sebagai Nabi dan Rasul-Nya.

Ketiga, Ia telah diselamatkan Allah ketika negeri tempat tinggalnya, yaitu Sodom ditimpa azab Allah karena penduduknya banyak berbuat kejahatan dan kekejian secara terang-terangan. Perbuatan-perbuatan keji yang mereka kerjakan di antaranya melakukan hubungan kelamin antara sesama lelaki (homosex), mengganggu lalulintas perniagaan dengan merampok barang-barang perniagaan itu, mendurhakai Lut dan tidak mengindahkan ancaman Allah dan lain-lain. Maka kota Sodom itu dimusnahkan Allah. Nabi Lut beserta keluarganya diselamatkan Allah kecuali istrinya yang ikut mendurhakai Allah.

Pada akhir ayat ini Allah menjelaskan apa sebabnya kaum Lut sampai melakukan perbuatan jahat dan keji semacam itu, ialah karena mereka telah menjadi orang-orang jahat dan fasik, sudah tidak mengindahkan hukum-hukum Allah, dan suka melakukan hal-hal yang terlarang, sehingga mereka bergelimang dalam perbuatan-perbuatan dosa dan ucapan-ucapan yang tidak senonoh yang semuanya dilakukan mereka dengan terang-terangan, tanpa rasa malu.

Tafsir Quraish Shihab: Sedangkan Lûth, ia Kami karuniai daya ketegasan dan kejelian dalam memutuskan masalah dan ilmu yang bermanfaat. Di samping itu, ia pun telah Kami selamatkan dari penduduk negeri yang melakukan jenis kejahatan yang ganjil. Mereka itu adalah suatu bangsa yang selalu melakukan kemungkaran dan keluar dari ketaatan kepada Allah dan tabiat normal.

Surah Al-Anbiya Ayat 75
وَأَدْخَلْنَاهُ فِي رَحْمَتِنَا ۖ إِنَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ

Terjemahan: dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami; karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang saleh.

Tafsir Jalalain: وَأَدْخَلْنَاهُ فِي رَحْمَتِنَا ۖ (Dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami) yang antara lain dia Kami selamatkan dari kaumnya. إِنَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ (Karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang saleh).

Tafsir Ibnu Katsir: وَأَدْخَلْنَاهُ فِي رَحْمَتِنَا ۖ إِنَّهُ مِنَ الصَّالِحِينَ (Dan Kami masukkan dia ke dalam rahmat Kami. Karena sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang shalih.”)

Tafsir Kemenag: Allah menjelaskan dalam ayat ini rahmat-Nya kepada Nabi Lut a.s., dengan memasukkannya ke dalam lingkungan rahmat-Nya. Maksudnya ialah bahwa Nabi Lut termasuk orang-orang yang dikasihi dan disayangi Allah, sehingga ia menjadi salah seorang penghuni surga-Nya.

Allah berfirman kepada surga, “Kamu adalah rahmat-Ku, dengan kaulah Aku rahmati orang-orang yang Aku kehendaki di antara hamba-hambaKu.” (Riwayat al-Bukhari)

Akhirnya, pada ujung ayat ini Allah menjelaskan apa sebabnya dia mengaruniakan rahmat yang begitu besarnya kepada Nabi Lut yaitu karena dia termasuk dalam golongan hamba-hamba Allah yang saleh yang selalu menaati perintah dan larangan Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Lûth Kami masukkan ke dalam golongan orang yang mendapat rahmat Kami. Dan dia memang pantas untuk dimasukkan ke dalam golongan orang saleh yang dinaungi oleh kasih sayang dan pertolongan Allah.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Anbiya Ayat 71-75 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S