Surah Al-Kahfi Ayat 74-76; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Kahfi Ayat 74-76

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Kahfi Ayat 74-76 ini, menjelaskan bagaimana Khidir mengingkari pertanyaan Musa, seraya berkata kepada Musa as, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya kau tidak akan dapat sabar untuk mempelajari ilmu hakikat bersamaku.”

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Memang sudah dua kali Musa membantah dan tidak menyetujui perbuatan Khidir, padahal Musa telah berjanji tidak akan mengadakan sangkalan apa-apa terhadap apa yang diperbuat oleh Nabi Khidir. Peringatan Khidir kepada Musa itu adalah peringatan yang terakhir.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi Ayat 74-76

Surah Al-Kahfi Ayat 74
فَانطَلَقَا حَتَّى إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ قَالَ أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً بِغَيْرِ نَفْسٍ لَّقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُّكْرًا

Terjemahan: Maka berjalanlah keduanya; hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhr membunuhnya. Musa berkata: “Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar”.

Tafsir Jalalain: فَانطَلَقَا (Maka berjalanlah keduanya) sesudah keduanya keluar dari perahu حَتَّى إِذَا لَقِيَا غُلَامًا (hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang pemuda) yang masih belum mencapai usia balig, sedang bermain-main bersama dengan teman-temannya, dia adalah anak yang paling cakap parasnya di antara mereka

فَقَتَلَهُ (maka Khidhir membunuhnya) dengan cara menyembelihnya dengan memakai pisau besar, atau mencabut kepalanya dengan tangannya, atau memukulkan kepala anak muda itu ke tembok. Mengenai caranya banyak pendapat yang berbeda. Dalam ayat ini didatangkan huruf Fa ‘Athifah, karena pembunuhan itu terjadi langsung sesudah bertemu. Jawabnya Idzaa adalah pada ayat berikutnya yaitu; قَالَ (Berkatalah ia) yakni Nabi Musa,

أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً (“Mengapa kamu bunuh jiwa yang bersih) jiwa yang masih belum berdosa karena belum mencapai usia taklif. Dan menurut suatu qiraat lafal زَكِيَّةً dibaca Zakiyatan بِغَيْرِ نَفْسٍ (bukan karena dia membunuh orang lain?) dia tidak membunuh orang lain.

لَّقَدْ جِئْتَ شَيْئًا نُّكْرًا (Sesungguhnya kamu telah melakukan suatu yang mungkar).” Lafal Nukran dapat pula dibaca Nukuran, artinya sesuatu hal yang mungkar.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: فَانطَلَقَا (“Maka berjalanlah keduanya,”) yakni, setelah itu; حَتَّى إِذَا لَقِيَا غُلَامًا فَقَتَلَهُ (“Hingga tatkala keduanya berjumpa dengan seorang anak, maka Khidhir membunuhnya.”) Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa anak itu sedang bermain dengan anak-anak lainnya di sebuah perkampungan. Khidhir sengaja mendekati anak itu yang berada di tengah anak-anak lainnya. la adalah anak yang paling bagus, tampan, dan ceria di antara kawan-kawannya. Lalu Khidhir membunuhnya, wallahu a’lam.

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 108; Seri Tadabbur Al Qur'an

Setelah Musa as menyaksikan peristiwa tersebut, ia pun menentangnya, bahkan lebih keras dari yang pertama, dan dengan segera ia berkata: أَقَتَلْتَ نَفْسًا زَكِيَّةً (“Mengapa engkau membunuh jiwa yang bersih.”) Yakni, seorang anak kecil yang belum berbuat dosa dan tidak juga ia berbuat kesalahan sehingga engkau membunuhnya;

بِغَيْرِ نَفْسٍ (“Bukan karena ia membunuh orang lain?”) Yakni, tanpa adanya alasan membunuhnya. لَّقَدْ جِئْتَ شَيْئًا (“Sesungguhnya engkau telah melakukan sesuatu yang munkar.”) Yakni, kemunkaran yang benar-benar jelas.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah mengisahkan bahwa keduanya mendarat dengan selamat dan tidak tenggelam, kemudian keduanya turun dari kapal dan meneruskan perjalanan menyusuri pantai. Kemudian terlihat oleh Khidir seorang anak yang sedang bermain dengan kawan-kawannya, lalu dibunuhnya anak itu.

Ada yang mengatakan bahwa Khidir itu membunuhnya dengan cara memenggal kepalanya, ada yang mengatakan dengan mencekiknya. Akan tetapi, Al-Qur’an tidak menyebutkan bagaimana cara Khidir membunuh anak itu, apakah dengan memenggal kepalanya, membenturkan kepalanya ke dinding batu, atau cara lain. Kita tidak perlu memperhatikan atau menyelidikinya.

Melihat peristiwa itu, dengan serta merta Nabi Musa berkata kepada Khidir, “Mengapa kamu bunuh jiwa yang masih suci dari dosa dan tidak pula karena dia membunuh orang lain? Sungguh kamu telah berbuat sesuatu yang mungkar, yang bertentangan dengan akal yang sehat.

Dalam ayat ini, pembunuh disebut dengan kata nukr (mungkar), sedangkan melubangi perahu dalam ayat 71 disebut kata imr (kesalahan yang besar). Penyebabnya adalah pembunuhan terhadap anak itu lebih keji dibandingkan dengan melubangi perahu.

Melubangi perahu tidak menghilangkan nyawa apabila tidak tenggelam. Tetapi pembunuhan atau menghilangkan nyawa yang tidak sejalan dengan ajaran agama itu nyata-nyata suatu perbuatan mungkar. Pembunuhan yang dapat dibenarkan oleh ajaran agama hanyalah karena murtad, zina muhsan, atau karena qishash.

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 25-26; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Al-Kahfi Ayat 75
قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا

Terjemahan: Khidhr berkata: “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”

Tafsir Jalalain: قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (Khidhir berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku)” hal ini sebagai teguran yang kedua bagimu di samping teguran yang pertama tadi, dalam hal ini alasanmu tidak dapat diterima.

Tafsir Ibnu katsir: قَالَ أَلَمْ أَقُل لَّكَ إِنَّكَ لَن تَسْتَطِيعَ مَعِيَ صَبْرًا (“Khidhir berkata, Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dapat sabar bersamaku?”) Di sini Khidhir juga menekankan seraya mengingatkan syarat pertama.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini dijelaskan bagaimana Khidir mengingkari pertanyaan Musa, seraya berkata kepada Musa as, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya kau tidak akan dapat sabar untuk mempelajari ilmu hakikat bersamaku.”

Memang sudah dua kali Musa membantah dan tidak menyetujui perbuatan Khidir, padahal Musa telah berjanji tidak akan mengadakan sangkalan apa-apa terhadap apa yang diperbuat oleh Nabi Khidir. Peringatan Khidir kepada Musa itu adalah peringatan yang terakhir.

Surah Al-Kahfi Ayat 76
قَالَ إِن سَأَلْتُكَ عَن شَيْءٍ بَعْدَهَا فَلَا تُصَاحِبْنِي قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِّي عُذْرًا

Terjemahan: Musa berkata: “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah (kali) ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur padaku”.

Tafsir Jalalain: Oleh sebab itu maka قَالَ إِن سَأَلْتُكَ عَن شَيْءٍ بَعْدَهَا (berkatalah Musa, “Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah ini) sesudah kali ini فَلَا تُصَاحِبْنِي (maka janganlah kamu menemani aku lagi) artinya janganlah kamu mengikuti aku lagi

قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِّي (sesungguhnya kamu telah cukup memberikan kepadaku) dapat dibaca Ladunii atau Ladunnii, artinya dari pihakku عُذْرً (udzur”) alasan agar aku berpisah denganmu.

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 18; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Musa berkata kepadanya: إِن سَأَلْتُكَ عَن شَيْءٍ بَعْدَهَا (“Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah kali ini.”) Maksudnya, jika aku menentangmu dalam sesuatu hal setelah ini;

فَلَا تُصَاحِبْنِي قَدْ بَلَغْتَ مِن لَّدُنِّي عُذْرًا (“Maka janganlah engkau memperbolehkan diriku menyertaimu, sesungguhnya engkau telah cukup memberikan udzur kepadaku.”) Maksudnya, engkau telah memberikan udzur berkali-kali kepadaku.

Tafsir Kemenag: Selanjutnya Musa berkata, “Kalau sekiranya aku bertanya lagi kepadamu tentang suatu perbuatanmu yang aneh-aneh itu yang telah aku saksikan, karena aku ingin mengetahui hikmahnya bukan untuk sekedar bertanya saja.

Maka jika aku bertanya sekali lagi sesudah kali ini, maka janganlah kamu mengizinkan aku menyertaimu lagi, karena kamu sudah cukup memberikan maaf kepadaku.” Inilah kata-kata Musa yang penuh dengan penyesalan atas perbuatannya yang terpaksa dia akui dan insafi.

Diriwayatkan dalam suatu hadis yang sahih bahwa Nabi Muhammad saw bersabda tentang keadaan Nabi Musa itu sebagai berikut:

Semoga Allah memberi rahmat kepada kita dan kepada Musa. Seandainya beliau sabar pada sahabatnya (Khidir), tentu beliau banyak menyaksikan keajaiban tentang ilmu hakikat, tetapi karena beliau merasa malu untuk menghadapi celaan lagi dari sahabatnya (Khidir), maka beliau berkata,

“Kalau aku bertanya lagi kepadamu tentang sesuatu sesudah ini, maka janganlah kamu menemani aku. Sesungguhnya kamu sudah cukup memberi maaf kepadaku.” (Riwayat Muslim dari Ubay bin Ka’ab).

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Kahfi ayat 74-76 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S