Surah Al-Mu’min Ayat 10-14; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Mu'min Ayat 10-14

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Mu’min Ayat 10-14 ini, menerangkan bahwa di akhirat orang-orang kafir yang sedang berada di dalam neraka merasakan azab yang amat pedih, saling membenci dan melaknat antara satu dengan yang lain. Bahkan mereka membenci diri mereka sendiri karena perbuatan yang telah dilakukannya di dunia yang menyebabkannya masuk neraka.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dijelaskan bahwa permintaan mereka itu tidak mungkin diperkenankan oleh Allah. Mereka tidak akan dikembalikan ke dunia, karena hati mereka sudah tidak menerima kebenaran lagi. Di dunia, mereka kafir dan ingkar apabila diseru untuk hanya menyembah Allah saja, tetapi apabila Allah dipersekutukan dengan yang lain, mereka percaya dan membenarkannya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’min Ayat 10-14

Surah Al-Mu’min Ayat 10
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُنَادَوۡنَ لَمَقۡتُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُ مِن مَّقۡتِكُمۡ أَنفُسَكُمۡ إِذۡ تُدۡعَوۡنَ إِلَى ٱلۡإِيمَٰنِ فَتَكۡفُرُونَ

Terjemahan: Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat): “Sesungguhnya kebencian Allah (kepadamu) lebih besar daripada kebencianmu kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir”.

Tafsir Jalalain: إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ يُنَادَوۡنَ (Sesungguhnya orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka) oleh para malaikat, sedangkan mereka membenci diri mereka sendiri sewaktu mereka dimasukkan ke dalam neraka لَمَقۡتُ ٱللَّهِ (“Sesungguhnya kebencian Allah) kepada kalian أَكۡبَرُ مِن مَّقۡتِكُمۡ أَنفُسَكُمۡ إِذۡ تُدۡعَوۡنَ (lebih besar daripada kebencian kalian kepada diri kalian sendiri karena kalian diseru) sewaktu di dunia إِلَى ٱلۡإِيمَٰنِ فَتَكۡفُرُونَ (untuk beriman, lalu kalian kafir.”).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman tentang orang-orang kafir, bahwa mereka menyeru pada hari kiamat, sedangkan mereka berada di lembah-lembah api neraka yang menyala-nyala. Hal itu ketika mereka merasakan –langsung adzab Allah Ta’ala- sesuatu yang belum pernah dirasakan oleh seorang pun, maka mereka memurkai diri mereka sendiri serta membencinya dengan amat dalam disebabkan amal-amal keburukan mereka terdahulu yang menjadi sebab mereka masuk neraka.

lalu para Malaikat ketika itu memberikan berita yang amat keras serta menyeru mereka bahwa Allah Ta’ala murka kepada mereka di dunia ketika ditawarkan keimanan kepada mereka, lalu mereka mengkufurinya dengan kemurkaan yang lebih dahsyat dari kemurkaan kalian, hai orang-orang yang menyiksa diri kalian sendiri pada hari ini.

Tentang firman Allah: لَمَقۡتُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُ مِن مَّقۡتِكُمۡ أَنفُسَكُمۡ إِذۡ تُدۡعَوۡنَ إِلَى ٱلۡإِيمَٰنِ فَتَكۡفُرُونَ (“Sesungguhnya kebencian Allah [kepadamu] lebih besar daripada kebencianmu pada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir.”) Qatadah berkata:

“Sesungguhnya kemurkaan Allah kepada pelaku kesesatan ketika iman ditawarkan kepada mereka di dunia, -akan tetapi mereka meninggalkannya serta enggan menerimanya- lebih besar daripada kemurkaan mereka kepada diri mereka sendiri disaat mereka menyaksikan adzab Allah pada hari kiamat.”

Demikianlah yang dikatakan oleh al-Hasan al-Bashri, Mujahid, as-Suddi, Dzarr bin ‘Ubaidillah al-Hamdani, ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dan Ibnu Jarir ath-Thabari –semoga Allah merahmati mereka semuanya-.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini, Allah menerangkan bahwa di akhirat orang-orang kafir yang sedang berada di dalam neraka merasakan azab yang amat pedih, saling membenci dan melaknat antara satu dengan yang lain. Bahkan mereka membenci diri mereka sendiri karena perbuatan yang telah dilakukannya di dunia yang menyebabkannya masuk neraka. Namun, malaikat berkata kepada mereka,

“Sesungguhnya kebencian Allah pada saat kalian menolak seruan para nabi lebih besar dibandingkan dengan kebencianmu terhadap dirimu sendiri ketika menghadapi siksa neraka.” Firman Allah: Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa. (az-Zukhruf/43: 67)

Dan firman-Nya: ?Kemudian pada hari Kiamat sebagian kamu akan saling mengingkari dan saling mengutuk? (al-‘Ankabut/29: 25)

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang kafir akan diseru, “Sesungguhnya kebencian dan kemurkaan Allah kepada kalian itu lebih besar dari kebencian kalian kepada diri kalian sendiri yang menjadi sumber turunnya siksa. Sebab kalian lebih memilih bersikap kafir daripada beriman ketika diajak beriman berkali-kali.”

Surah Al-Mu’min Ayat 11
قَالُواْ رَبَّنَآ أَمَتَّنَا ٱثۡنَتَيۡنِ وَأَحۡيَيۡتَنَا ٱثۡنَتَيۡنِ فَٱعۡتَرَفۡنَا بِذُنُوبِنَا فَهَلۡ إِلَىٰ خُرُوجٍ مِّن سَبِيلٍ

Terjemahan: Mereka menjawab: “Ya Tuhan kami Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali (pula), lalu kami mengakui dosa-dosa kami. Maka adakah sesuatu jalan (bagi kami) untuk keluar (dari neraka)?”

Tafsir Jalalain: قَالُواْ رَبَّنَآ أَمَتَّنَا ٱثۡنَتَيۡنِ (Mereka menjawab, “Ya Rabb kami, Engkau telah mematikan kami dua kali) yakni dua kali mati وَأَحۡيَيۡتَنَا ٱثۡنَتَيۡنِ (dan telah menghidupkan kami dua kali pula) yakni dua kali hidup. Karena sesungguhnya sebelum itu mereka berupa mani, dalam keadaan mati, kemudian mereka dijadikan hidup, lalu mereka dimatikan lagi, lalu mereka dihidupkan lagi pada hari berbangkit,

فَٱعۡتَرَفۡنَا بِذُنُوبِنَا (lalu kami mengakui dosa-dosa kami) yaitu dosa keingkaran kami terhadap adanya hari berbangkit. فَهَلۡ إِلَىٰ خُرُوجٍ (Maka adakah untuk keluar) dari neraka lalu kembali lagi ke dunia, supaya kami dapat menjalani ketaatan kepada Rabb kami مِّن سَبِيلٍ (sesuatu jalan”) yakni jalan keluar, maka jawaban mereka adalah tidak ada.

Baca Juga:  Surah Al-Mujadalah Ayat 12-13; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: قَالُواْ رَبَّنَآ أَمَتَّنَا ٱثۡنَتَيۡنِ وَأَحۡيَيۡتَنَا ٱثۡنَتَيۡنِ (“Mereka menjawab: ‘Ya Rabb kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali [pula].’”) ats-Tsauri berkata dari Abu Ishaq, dari Abul Ahwash, dari Ibnu Mas’ud ra.: “Ayat ini seperti firman Allah Ta’ala: ‘Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal tadinya kamu mati, lalu Allah menghidupkanmu, kamu dimatikan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya lah kamu dikembalikan.?” (al-Baqarah: 28)

Demikian pula yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, adh-Dhahhak, Qatadah dan Abu Malik serta inilah pendapat yang tepat yang tidak perlu lagi diragukan. Maksud dari semua ini adalah bahwa orang-orang kafir meminta dikembalikan ke dunia, sedangkan mereka diam di hadapan Allah pada hamparan kiamat. Di dalam Ayat yang mulia ini mereka memohon dengan halus dan mendahulukan satu ucapan sebelum perkataan mereka itu dengan [ucapan]:

قَالُواْ رَبَّنَآ أَمَتَّنَا ٱثۡنَتَيۡنِ وَأَحۡيَيۡتَنَا ٱثۡنَتَيۡنِ (“Ya Rabb kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan telah menghidupkan kami dua kali [pula].”) yaitu kekuasaan-Mu sangat agung, sesungguhnya Engkau menghidupkan kami setelah sebelumnya kami mati, kemudian Engkau matikan kami dan kemudian Engkau menghidupkan kami. Engkau Mahakuasa atas apa yang Engkau kehendaki. Sesungguhnya Kami mengakui dosa-dosa kami dan dahulu kami termasuk orang-orang yang mendhalimi diri kami sendiri di dunia.

فَهَلۡ إِلَىٰ خُرُوجٍ مِّن سَبِيلٍ (“Maka adakah suatu jalan [bagi kami] untuk keluar [dari neraka]?”) yaitu apakah Engkau berkenan untuk mengembalikan kami ke negeri dunia? Karena Engkau Mahakuasa atas hal tersebut, agar kami beramal tidak seperti yang dahulu kami lakukan. Dan jika kami kembali pada apa yang dulu kami lakukan, maka sesungguhnya kami termasuk orang-orang yang dhalim.

Lalu [perkataan] mereka dijawab, bahwa “tidak ada lagi jalan keluar untuk kalian bisa kembali ke dunia.” Kemudian Dia memberikan alasan tidak mungkin mereka dikembalikan ke dunia, karena perangai kalian adalah tidak menerima kebenaran dan tidak menghendakinya, bahkan menentang dan menolaknya.

Tafsir Kemenag: Setelah mendengar seruan malaikat dan tidak tahan lagi merasakan azab yang amat pedih, orang-orang kafir berkata, “Wahai Tuhan, Engkau telah mematikan kami dua kali dan menghidupkan kami dua kali. Engkau menjadikan kami dalam keadaan mati lalu menghidupkan kami dengan meniupkan roh ke dalam rahim ibu kami, kemudian mematikan kami di dunia setelah ajal kami berakhir, dan di akhirat nanti kami dihidupkan kembali dengan mengembalikan roh kami untuk dibangkitkan. Firman Allah:

Bagaimana kamu ingkar kepada Allah, padahal kamu (tadinya) mati, lalu Dia menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu lalu Dia menghidupkan kamu kembali. (al-Baqarah/2: 28)

Manusia mati ketika masih janin dan berada dalam tubuh orang tuanya. Kemudian dihidupkan ketika lahir ke dunia, lalu kematian berikutnya sudah merupakan suatu keharusan. Setelah itu dihidupkan pada hari Kebangkitan (hari Kiamat). Mereka mengalami dua kali hidup dan dua kali mati.

Setelah menyaksikan kekuasaan Allah mematikan dan menghidupkan mereka berulang kali, orang-orang kafir menjadi sadar. Mereka mengakui kesalahan-kesalahan di dunia ketika mengingkari hari Kebangkitan dan mengerjakan dosa-dosa yang tak terhitung banyaknya, untuk menebus kesalahan-kesalahan mereka itu. Mereka meminta supaya dikeluarkan dari neraka dan dikembalikan ke dunia untuk beramal saleh dan tidak akan mengerjakan kesalahan dan dosa lagi. Permintaan seperti ini disebutkan juga pada Ayat yang lain sebagaimana firman Allah:

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya di hadapan Tuhannya, (mereka berkata), “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), niscaya kami akan mengerjakan kebajikan. Sungguh, kami adalah orang-orang yang yakin.” (as-Sajdah/32: 12)

Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami darinya (kembalikanlah kami ke dunia), jika kami masih juga kembali (kepada kekafiran), sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim.” (al-Mu’minun/23: 107).

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang kafir itu berkata, “Ya Tuhan kami, Engkau telah mematikan kami dua kali: mati dari kehidupan dunia dan mati dari kehidupan kami di alam Barzah. (1) Engkau juga telah menghidupkan kami dua kali: hidup di dunia dan hidup setelah kami dibangkitkan dari kubur. Lalu apakah ada jalan bagi kami untuk keluar dari siksaan ini?”

(1) Pengertian tentang kehidupan di alam barzah–sebuah kehidupan yang tidak kita ketahui hakikat sebenarnya–dapat dipahami melalui dua firman Allah Swt. berikut. Pertama, mengenai keluarga Fir’aun yang terdapat dalam Ayat 46 surat ini yang artinya berbunyi: “Kepada mereka ditampakkan neraka pada pagi dan petang hari, dan pada hari kiamat.

Para malaikat diperintahkan, ‘Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras’.” Kedua, dalam Ayat 169 surat Alu ‘Imrân yang artinya berbunyi: “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Mereka bahkan hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki.”

Baca Juga:  Surah Al-Anfal Ayat 36-37; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Surah Al-Mu’min Ayat 12
ذَٰلِكُم بِأَنَّهُۥٓ إِذَا دُعِىَ ٱللَّهُ وَحۡدَهُۥ كَفَرۡتُمۡ وَإِن يُشۡرَكۡ بِهِۦ تُؤۡمِنُواْ فَٱلۡحُكۡمُ لِلَّهِ ٱلۡعَلِىِّ ٱلۡكَبِيرِ

Terjemahan: Yang demikian itu adalah karena kamu kafir apabila Allah saja disembah. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan. Maka putusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar.

Tafsir Jalalain: ذَٰلِكُم (Yang demikian itu) maksudnya, azab yang kalian sedang jalani itu بِأَنَّهُۥٓ (adalah karena) ketika di dunia إِذَا دُعِىَ ٱللَّهُ وَحۡدَهُۥ كَفَرۡتُمۡ (kalian kafir apabila Allah saja disembah) artinya, kalian kafir bilamana Dia diesakan.

وَإِن يُشۡرَكۡ بِهِۦ (Dan apabila Allah dipersekutukan) menjadikan sekutu bagi-Nya تُؤۡمِنُواْ (kalian percaya) kalian percaya kepada kemusyrikan itu. فَٱلۡحُكۡمُ (Maka putusan) untuk mengazab kalian لِلَّهِ ٱلۡعَلِىِّ (adalah pada Allah Yang Maha Tinggi) atas semua makhluk-Nya ٱلۡكَبِيرِ (lagi Maha Besar) Maha Agung.

Tafsir Ibnu Katsir: Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: ذَٰلِكُم بِأَنَّهُۥٓ إِذَا دُعِىَ ٱللَّهُ وَحۡدَهُۥ كَفَرۡتُمۡ وَإِن يُشۡرَكۡ بِهِۦ تُؤۡمِنُواْ (“Yang demikian itu adalah karena kamu kafir kepada Allah saja [yang] diibadahi. Dan kamu percaya apabila Allah dipersekutukan.”) yaitu kalian akan tetap seperti itu, sekalipun kalian telah dikembalikan ke dunia. Sebagaimana firman Allah:

وَلَوۡ رُدُّواْ لَعَادُواْ لِمَا نُهُواْ عَنۡهُ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ (“Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka.”)(al-An’am: 28)

firman Allah: فَٱلۡحُكۡمُ لِلَّهِ ٱلۡعَلِىِّ ٱلۡكَبِيرِ (“Maka putusan [sekarang ini] adalah pada Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar.”) yaitu Dia Mahabijaksana dan Mahaadil, tidak berbuat dhalim kepada makhluk-Nya. dia memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya, menyayangi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. tidak ada yang berhak untuk diibadahi kecuali Dia.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini dijelaskan bahwa permintaan mereka itu tidak mungkin diperkenankan oleh Allah. Mereka tidak akan dikembalikan ke dunia, karena hati mereka sudah tidak menerima kebenaran lagi. Di dunia, mereka kafir dan ingkar apabila diseru untuk hanya menyembah Allah saja, tetapi apabila Allah dipersekutukan dengan yang lain, mereka percaya dan membenarkannya. Permintaan mereka ke luar dari neraka dan dikembalikan ke dunia untuk beramal saleh, dijawab oleh Allah dengan firman-Nya:

Dia (Allah) berfirman, ?Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku.? (al-Mu?minun/23: 108)

Andaikata permintaan mereka diperkenankan dan dikembalikan ke dunia, mereka akan tetap mengerjakan hal-hal yang dilarang Allah sebagaimana halnya dahulu. Mereka itu pembohong, sebagaimana firman Allah:

Seandainya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya. Mereka itu sungguh pendusta. (al-An?am/6: 28)

Ayat ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa putusan di hari Kiamat berada di tangan Allah yang akan memberi putusan dengan hak dan adil, Tuhan Yang Mahatinggi dan Mahabesar tiada sesuatu yang menyamai-Nya. Tuhan sangat benci kepada yang mempersekutukan-Nya dan telah member?lakukan kebijaksanaan yaitu mengekalkan mereka di dalam neraka.

Tafsir Quraish Shihab: Itulah siksaan yang harus kalian rasakan. Karena kalian–saat di dunia dahulu–ketika hanya disebut nama Allah, kalian mengingkarinya, tetapi ketika disebut tuhan-tuhan lain selain Allah, serta merta kalian beriman. Jika demikian kondisi kalian di dunia, maka kalian berhak menanggung balasan atas sikap ingkar itu. Dan ketentuan hukum itu hanya ada pada Allah Yang Mahatinggi dan Mahaagung, yang membalas orang kafir dengan balasan yang pantas ia rasakan.

Surah Al-Mu’min Ayat 13
هُوَ ٱلَّذِى يُرِيكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ وَيُنَزِّلُ لَكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ رِزۡقًا وَمَا يَتَذَكَّرُ إِلَّا مَن يُنِيبُ

Terjemahan: Dialah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Nya dan menurunkan untukmu rezeki dari langit. Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali (kepada Allah).

Tafsir Jalalain: هُوَ ٱلَّذِى يُرِيكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ (Dialah yang memperlihatkan kepada kalian tanda-tanda-Nya) yang menunjukkan akan keesaan-Nya وَيُنَزِّلُ لَكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ رِزۡقًا (dan menurunkan untuk kalian rezeki dari langit) berupa hujan. وَمَا يَتَذَكَّرُ (Dan tiadalah mendapat pelajaran) yakni mengambil nasihat إِلَّا مَن يُنِيبُ (kecuali orang-orang yang kembali kepada Allah) dari kemusyrikan.

Tafsir Ibnu Katsir: firman Allah: هُوَ ٱلَّذِى يُرِيكُمۡ ءَايَٰتِهِۦ (“Dia-lah yang memperlihatkan kepadamu tanda-tanda [kekuasaan]-Nya.”) yaitu Dia menampakkan kekuasaan-Nya kepada makhluk-Nya dengan apa yang mereka saksikan dalam ciptaan-Nya di langit atau di bumi, berupa Ayat-Ayat yang besar yang menunjukkan kesempurnaan Penciptanya. وَيُنَزِّلُ لَكُم مِّنَ ٱلسَّمَآءِ رِزۡقًا (“Dan menurunkan rizky dari langit.”) yakni hujan, yang dengannya tumbuh berbagai tanaman dan buah-buahan yang dapat disaksikan dengan berbagai macam warna, rasa, harum dan bentuknya, sekalipun dari satu air. Dengan kekuasaan-Nya yang agung, semua itu memiliki perbedaan.

Baca Juga:  Surah Yunus Ayat 93; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

وَمَا يَتَذَكَّرُ (“dan tidaklah mendapat pelajaran.”) mendapat ibrah dan berfikir pada semua itu serta dapat mengambil bukti tentang keagungan Penciptanya, إِلَّا مَن يُنِيبُ (“kecuali orang-orang yang kembali [kepada Allah].”) yaitu orang yang memiliki mata hati lagi kembali kepada Allah Ta’ala.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Allah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya, seperti adanya angin, awan, guruh, kilat, petir, matahari, bulan, bintang, dan lain sebagainya. Dia pula yang menurunkan hujan dari langit, maka tumbuhlah pepohonan yang menghasilkan buah-buahan yang beraneka ragam macam warna, rasa, bentuk, dan kejadiannya.

Semua itu menunjukkan kekuasaan Allah. Hanya orang yang kembali kepada Allah dan taat kepada-Nya yang dapat mengambil iktibar dari tanda-tanda tersebut di atas, dan memahami bahwa semua itu adalah tanda-tanda dan bukti-bukti kekuasaan dan keesaan Allah.

Tafsir Quraish Shihab: Allahlah yang menunjukkan kepada kalian tanda-tanda kekuasaan-Nya. Dia, misalnya, menurunkan air dari langit sebagai faktor penyebab datangnya rezeki kalian. Hal ini, sungguh, tidak akan dapat menjadi pelajaran kecuali bagi orang-orang yang mau memikirkan dan merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah.

Surah Al-Mu’min Ayat 14
فَٱدۡعُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ

Terjemahan: Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya).

Tafsir Jalalain: فَٱدۡعُواْ ٱللَّهَ (Maka serulah Allah) sembahlah Dia مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ (dengan memurnikan ibadah kepada-Nya) artinya, memurnikan agama dari kemusyrikan وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ (meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya) sekalipun mereka tidak menyukai keikhlasan kalian kepada-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: فَٱدۡعُواْ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ وَلَوۡ كَرِهَ ٱلۡكَٰفِرُونَ (“Maka beribadahlah kepada Allah dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai[nya].”) murnikanlah peribadahan dan doa kalian hanya kepada Allah Yang Mahaesa serta selisihilah orang-orang musyrik dalam langkah dan pemikiran mereka.

Telah tercantum di dalam ash-Shahihain, dari Abdullah bin az-Zubair, bahwa Rasulullah saw. berdoa setelah selesai shalat wajib: laa ilaaHa illallaaHu wahdaHu laa syariika laHu, laHul mulku walaHul hamdu wa Huwa ‘alaa kulli syai-ing qadiir, laa haula walaa quwwata illaa billaaHi, laa ilaaHa illallaaHu, wa laa na’budu illaa iyyaaH, laHun na’matu wa laHul fadl-lu wa laHuts tsanaa-ul hasanu, laa ilaaHa illallaaHu mukhlishiina laHuddiina walau karihal kaafiruun.

(“Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. milik-Nya kerajaan dan pujian dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan upaya kecuali dengan [pertolongan] Allah. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah dan kami tidak beribadah kecuali hanya kepada-Nya. milik-Nya kenikmatan, keutamaan dan pujian yang indah. Tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai[nya].”)

Ibnu Hatim meriwAyatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Berdoalah kepada Allah Tabaaraka wa Ta’ala, sedang kalian berada dalam keadaan yakin diterima. Ketahuilah oleh kalian, bahwa Allah Ta’ala tidak memperkenankan doa orang yang hatinya lalai lagi lengah.”

Tafsir Kemenag: Pada akhir Ayat di atas dinyatakan bahwa orang yang menyadari kekuasaan dan keesaan Allah hanyalah orang-orang yang kembali kepada-Nya. Sepatutnya kita menyembah dan memohon kepada-Nya dengan ikhlas, memurnikan ibadah kepada-Nya, tidak mempersekutukannya dengan yang lain, sebagaimana dijelaskan dalam hadis yang diriwAyatkan al-Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin Zubair:

Bahwa Rasulullah setelah selesai salat fardu membaca La ilaha illallah?dan seterusnya (artinya) Tidak ada Tuhan selain Allah tidak ada sekutu bagi-Nya. Hanya bagi Allah seluruh kekuasaan, bagi-Nya segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas pertolongan Allah. Tidak ada Tuhan selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya semua kenikmatan, anugerah, dan pujian yang baik. Tidak ada Tuhan selain Allah, dengan mengikhlaskan diri dalam berbakti kepada-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. (RiwAyat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Abdullah bin Zubair)

Tafsir Quraish Shihab: Dari itu, sembahlah Allah dengan ibadah yang tulus hanya kepada-Nya, meskipun ibadah dan ketulusan kalian kepada Allah itu menimbulkan kebencian orang-orang kafir terhadap kalian.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mu’min Ayat 10-14 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S