Surah Al-Mu’minun Ayat 23-25; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Mu'minun Ayat 23-25

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Mu’minun Ayat 23-25 ini, menerangkan bahwa Allah telah mengutus Nuh kepada kaumnya untuk memberi peringatan kepada mereka tentang azab Allah, bila mereka membuat kemusyrikan kepada-Nya dan mendustakan Rasul-Nya, seraya berkata dengan lemah lembut kepada mereka, “Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah Yang Esa, jangan sekali-kali mempersekutukan-Nya, karena tidak ada Tuhan bagimu selain Dia.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Seruan Nabi Nuh yang lemah lembut ini dijawab dengan cemoohan kaumnya, bahwa Nuh tidak lain hanya seorang manusia biasa seperti mereka, tidak mempunyai kelebihan apa-apa, baik fisik maupun mental sehingga ia pantas untuk menjadi utusan Allah dan menerima wahyu. Nuh dituduh hanya ingin menjadi orang yang kedudukannya lebih dari mereka, dan ingin lebih berkuasa.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun Ayat 23-25

Surah Al-Mu’minun Ayat 23
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Terjemahan: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepada-Nya)?”

Tafsir Jalalain: وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا نُوحًا إِلَى قَوْمِهِ فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ (Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, lalu ia berkata, “Hai kaumku! Sembahlah oleh kamu sekalian Allah) taatilah dan esakanlah Allah مَا لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ (karena sekali-kali tidak ada Tuhan bagi kalian selain Dia) lafal Ghairuhu merupakan Isim dari Maa, sedangkan lafal sebelumnya menjadi Khabar dari Maa dan huruf Min adalah huruf Zaidah.

أَفَلَا تَتَّقُونَ (Maka mengapa kalian tidak bertakwa kepada-Nya?”) tidak takut kepada azab-Nya, mengapa kalian menyembah selain-Nya?.

Tafsir Ibnu Katsir: فَقَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ أَفَلَا تَتَّقُونَ (“Lalu dia berkata: Hai kaumku, ibadahilah olehmu Allah, [karena] sekali-kali tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa [kepada-Nya]?’”‘) Maksudnya, apakah kalian tidak merasa takut kepada Allah dengan tindakan kalian menyekutukan-Nya?

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah mengutus Nuh kepada kaumnya untuk memberi peringatan kepada mereka tentang azab Allah, bila mereka membuat kemusyrikan kepada-Nya dan mendustakan Rasul-Nya, seraya berkata dengan lemah lembut kepada mereka,

“Hai kaumku, sembahlah olehmu Allah Yang Esa, jangan sekali-kali mempersekutukan-Nya, karena tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak merasa takut akan azab-Nya, dan menjauhkan diri dari menyekutukan-Nya?”.

Baca Juga:  Surah Al-Mu'min Ayat 82-85; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Di dalam kisah masyarakat terdahulu, terdapat pelajaran agar kalian beriman. Kami mengutus Nuh kepada kaumnya. Ia kemudian berkata, “Wahai kaumku, beribadahlah hanya kepada Allah. Sebab, tidak ada tuhan yang pantas disembah selain Dia. Apakah kalian tidak takut siksa dan kehilangan nikmat yang diberikan Allah, jika kalian mendurhakai-Nya?”

Surah Al-Mu’minun Ayat 24
فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ مَا هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَائِكَةً مَّا سَمِعْنَا بِهَذَا فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ

Terjemahan: Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu. Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu.

Tafsir Jalalain: فَقَالَ الْمَلَأُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَوْمِهِ (Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya berkata) kepada para pengikut mereka, مَا هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ (“Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi) lebih mulia dan berpengaruh عَلَيْكُمْ (dari kalian) maksudnya ia ingin menjadi orang yang banyak pengikutnya, dan para pengikutnya adalah kalian sendiri.

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ (Dan kalau Allah menghendaki) supaya tidak disembah selain daripada-Nya لَأَنزَلَ مَلَائِكَةً (tentu Dia mengutus beberapa Malaikat) untuk menyampaikan hal tersebut, tidak mengutus manusia. مَّا سَمِعْنَا بِهَذَا (Belum pernah kami mendengar seruan yang seperti ini) yang diserukan oleh Nabi Nuh, maksudnya ajaran tauhid فِي آبَائِنَا الْأَوَّلِينَ (pada masa nenek moyang kami yang dahulu) yakni umat-umat terdahulu.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian para pemuka dan pembesar di antara mereka berkata: مَا هَذَا إِلَّا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُرِيدُ أَن يَتَفَضَّلَ عَلَيْكُمْ (“Orang ini tidak lain hanyalah manusia sepertimu, yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi darimu.”) Mereka mengartikan, bahwa dia lebih tinggi dari kalian serta lebih agung dengan pengakuan kenabian, padahal dia hanyalah manusia biasa seperti kalian, lalu bagaimana Allah telah memberikan wahyu kepadanya sedangkan tidak kepada kalian?

وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَنزَلَ مَلَائِكَةً (“Dan kalau Allah menghendaki, tentu Dia mengutus beberapa Malaikat.”) Maksudnya, jika Dia hendak mengutus seorang Nabi, niscaya Dia akan mengutus satu Malaikat dari sisi-Nya, bukan seorang manusia.

Dan kita tidak pernah mendengar hal seperti itu, yakni tentang pengutusan seorang manusia pada nenek moyang kami yang pertama. Yang mereka maksudkan adalah para pendahulu dan nenek moyang mereka pada masa-masa yang telah lalu.

Baca Juga:  Surah An Nisa Ayat 80-81; Seri Tadabbur Al Qur'an

Tafsir Kemenag: Seruan Nabi Nuh yang lemah lembut ini dijawab dengan cemoohan kaumnya, bahwa Nuh tidak lain hanya seorang manusia biasa seperti mereka, tidak mempunyai kelebihan apa-apa, baik fisik maupun mental sehingga ia pantas untuk menjadi utusan Allah dan menerima wahyu.

Nuh dituduh hanya ingin menjadi orang yang kedudukannya lebih dari mereka, dan ingin lebih berkuasa. Untuk mencapai tujuannya itu, ia mengaku menjadi utusan Allah, padahal sebenarnya ia tidak pantas. Lalu mereka menyebutkan dua hal yang menjadi alasan untuk tidak mengakui Nuh sebagai utusan Allah.

Pertama, seandainya Allah menghendaki mengutus seorang rasul yang memerintahkan beribadah hanya kepada Allah saja, tentu Dia mengutus beberapa malaikat, dan bukan mengutus seorang manusia biasa.

Kedua, mereka belum pernah mendengar dari nenek moyang mereka sendiri apa yang dikemukakan oleh Nuh, tentang penyembahan hanya kepada Allah, Tuhan Yang Esa. Seruan kepada ketauhidan itu tidak ada dalam tradisi nenek moyang mereka, maka mereka menentang keras dakwah Nabi Nuh. Hal demikian menunjukkan bahwa mereka telah terseret dalam taklid buta dan kesesatan.

Tafsir Quraish Shihab: Para pembesar pengikutnya yang kufur, menentang dan merintangi orang-orang lain untuk menerima dakwah Nuh berkata, “Tidak ada bedanya antara Nuh dan kalian. Nuh juga seorang manusia biasa seperti kalian. Ia hanya ingin menonjolkan diri di tengah-tengah kalian dengan dakwahnya itu.

Kalau benar pernah ada sejumlah rasul yang diutus oleh Allah, seperti apa yang didakwa Nuh, rasul-rasul itu tentulah berupa malaikat. Dalam sejarah nenek moyang kita, kita tidak pernah mendengar apa-apa tentang dakwah dan pengutusan rasul-rasul yang berwujud manusia itu.”

Surah Al-Mu’minun Ayat 25
إِنْ هُوَ إِلَّا رَجُلٌ بِهِ جِنَّةٌ فَتَرَبَّصُوا بِهِ حَتَّى حِينٍ

Terjemahan: la tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu”.

Tafsir Jalalain: إِنْ هُوَ (Ia tiada lain) maksudnya Nuh ini tidak lain رَجُلٌ بِهِ جِنَّةٌ (hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila) dalam keadaan gila فَتَرَبَّصُوا بِهِ (maka tunggulah terhadapnya) tunggulah dia, atau biarkanlah dia حَتَّى حِينٍ (sampai suatu waktu”) hingga saat kematiannya. Maksud mereka biarkanlah dia begitu, nanti juga mati sendiri.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: إِنْ هُوَ إِلَّا رَجُلٌ بِهِ جِنَّةٌ (“Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila,”) yakni, gila atas apa yang diakuinya, bahwa Allah telah mengutusnya kepada kalian dan hanya mengkhususkan pemberian wahyu kepadanya saja di antara kalian.

Baca Juga:  Surah Asy-Syura Ayat 9-12; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

فَتَرَبَّصُوا بِهِ حَتَّى حِينٍ (“Maka tunggulah [sabarlah] terhadapnya sampai suatu waktu.”) Maksudnya, tunggulah dan bersabarlah atasnya sejenak, sehingga kalian merasa tenang darinya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan sikap orang-orang kafir akibat pandangan mereka yang meremehkan posisi Nuh sebagai rasul. Mereka mengatakan bahwa Nuh tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang miring otaknya, yang berbicara seenaknya, dan apa yang diucapkannya tidak beralasan sama sekali, sehingga tidak perlu dilayani.

Oleh karena itu, mereka meminta kepada kaumnya untuk sabar sampai Nuh pada suatu waktu sadar dan kembali ke keadaannya yang normal dan kembali memeluk agama nenek moyang mereka. Ucapan mereka itu menunjukkan keingkarannya, padahal mereka mengetahui, bahwa Nuh orang yang paling cerdas pikirannya di antara mereka.

Menyimak perkataan kaum Nabi Nuh, yang menolak kedudukannya sebagai rasul, bisa dikatakan bahwa setiap rasul seharusnya memiliki kelebihan dari umatnya dari segi akhlak dan mukjizat. Seorang rasul kedudukannya harus lebih tinggi karena dengan demikian semua petunjuknya akan diikuti.

Di samping itu seorang rasul harus berwibawa, supaya dengan wibawanya ia dapat memimpin umatnya ke jalan yang benar, dan rasul itu maksum, yakni terpelihara dari segala dosa termasuk kesombongan. Ucapan mereka bahwa seruan kepada ketauhidan itu belum pernah mereka terima dari nenek moyang mereka dahulu.

Padahal ucapan mereka itu tidak cukup untuk dijadikan alasan menolak risalah Nuh. Tuduhan mereka bahwa Nabi Nuh menderita sakit ingatan, bertentangan dengan kenyataan yang mereka lihat dan alami sendiri.

Tafsir Quraish Shihab: Nuh tak lain hanyalah seorang yang gila, kata mereka lagi. “Bersabarlah dan tunggulah saat terungkap kegilaan Nuh atau saat kehancurannya nanti.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mu’minun Ayat 23-25 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S