Surah Al-Mu’minun Ayat 42-44; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Mu'minun Ayat 42-44

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Mu’minun Ayat 42-44 ini, Allah menegaskan bahwa tidak ada satu umat pun yang dapat mempercepat ajal atau kehancuran mereka, dan tidak pula dapat menundanya. Semua itu berlaku sesuai dengan ketentuan Allah Yang Mahakuasa, yang mengatur alam ini dengan segala isinya dengan tertib, teratur dan lancar.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Oleh karena itu, umat-umat yang telah binasa itu tidak dapat mendahului ajalnya yang telah ditentukan dan tidak pula mereka dapat mengundurkannya atau menundanya, sebab setiap umat telah ada ketetapan lebih dahulu di Lauh Mahfuz, berapa lama mereka akan mengalami hidup di dunia.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun Ayat 42-44

Surah Al-Mu’minun Ayat 42
ثُمَّ أَنشَأْنَا مِن بَعْدِهِمْ قُرُونًا آخَرِينَ

Terjemahan: Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat yang lain.

Tafsir Jalalain: ثُمَّ أَنشَأْنَا مِن بَعْدِهِمْ قُرُونًا آخَرِينَ (Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat) kaum-kaum (yang lain).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman: tsumma ansya’naa mim ba’diHim quruunan aakhariin (“Kemudian Kami ciptakan sesudah mereka umat-umat yang lain.”) Yakni, umat-umat dan juga berbagai macam makhluk.

Tafsir Kemenag: Setelah kehancuran kaum ‘Ad, pada Ayat ini diterangkan tentang kaum samud, kaum negeri Madyan dan negeri Aikah, serta negeri Sodom. Kepada kaum samud Allah mengutus Nabi Saleh, tetapi kaum samud menolaknya, bahkan sampai membunuh unta Nabi Saleh yang merupakan mukjizatnya.

Sedangkan kepada penduduk Madyan dan Aikah, Allah mengutus Nabi Syuaib. Mereka juga durhaka dan menolak Nabi Syuaib, serta mereka suka mengurangi timbangan. Penduduk Sodom juga mengingkari Nabi Lut dan banyak yang melakukan homoseksual.

Tafsir Quraish Shihab: Setelah mereka, Kami menciptakan lagi beberapa generasi yang lain seperti kaum Shalih, Luth dan Syu’ayb.

Baca Juga:  Surah Asy-Syura Ayat 36-39; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Al-Mu’minun Ayat 43
مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ

Terjemahan: Tidak (dapat) sesuatu umatpun mendahului ajalnya, dan tidak (dapat pula) mereka terlambat (dari ajalnya itu).

Tafsir Jalalain: مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا (Tidak dapat sesuatu umat pun mendahului ajalnya) seumpamanya mereka mati sebelum ajal mereka وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ (dan tidak dapat pula mereka terlambat) dari ajalnya itu. Lafal Yasta’khiruna dalam bentuk jamak dikaitkan kepada lafal Ummatin yang bentuknya muannats, hal ini memandang dari segi maknanya, karena ummatin berarti jamak.

Tafsir Ibnu Katsir: مَا تَسْبِقُ مِنْ أُمَّةٍ أَجَلَهَا وَمَا يَسْتَأْخِرُونَ (“Tidak suatu umatpun dapat mendahului ajalnya, dan tidak [dapat pula] mereka terlambat [dari ajalnya itu].”) Yakni, tetapi mereka akan dimatikan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan Allah bagi mereka di dalam Kitab-Nya yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh) dan pengetahuan-Nya sebelum penciptaan mereka, dari satu umat ke umat berikutnya, dari satu kurun ke kurun berikutnya, dan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah menegaskan bahwa tidak ada satu umat pun yang dapat mempercepat ajal atau kehancuran mereka, dan tidak pula dapat menundanya. Semua itu berlaku sesuai dengan ketentuan Allah Yang Mahakuasa, yang mengatur alam ini dengan segala isinya dengan tertib, teratur dan lancar.

Oleh karena itu, umat-umat yang telah binasa itu tidak dapat mendahului ajalnya yang telah ditentukan dan tidak pula mereka dapat mengundurkannya atau menundanya, sebab setiap umat telah ada ketetapan lebih dahulu di Lauh Mahfuz, berapa lama mereka akan mengalami hidup di dunia.

Tafsir Quraish Shihab: Masing-masing umat memiliki batas akhir kehidupannya yang tidak akan maju atau mundur sedikit pun.

Baca Juga:  Perkembangan Tafsir Pada Masa Nabi, Sahabat dan Tabi'in

Surah Al-Mu’minun Ayat 44
ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَى كُلَّ مَا جَاءَ أُمَّةً رَّسُولُهَا كَذَّبُوهُ فَأَتْبَعْنَا بَعْضَهُم بَعْضًا وَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ فَبُعْدًا لِّقَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُونَ

Terjemahan: Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut. Tiap-tiap seorang rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain. Dan Kami jadikan mereka buah tutur (manusia), maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman.

Tafsir Jalalain: ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَى (Kemudian Kami utus rasul-rasul Kami berturut-turut) lafal Tatran dapat pula dibaca Tatraa tanpa memakai harakat Tanwin, artinya berturut-turut yang di antara kedua rasul terdapat pemisah jarak waktu yang cukup lama.

كُلَّ مَا جَاءَ أُمَّةً (Manakala datang kepada suatu umat) lafal Jaa-a Ummatan dapat dibaca Jaa-a ummatan yakni dengan mentashhilkan huruf Hamzah yang kedua, sehingga ucapannya seolah-olah ada huruf Wau رَّسُولُهَا كَذَّبُوهُ فَأَتْبَعْنَا بَعْضَهُم بَعْضًا (Rasul, umat itu mendustakannya, maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain) Kami samakan mereka dengan umat-umat terdahulu dalam hal terbinasa وَجَعَلْنَاهُمْ أَحَادِيثَ فَبُعْدًا لِّقَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُونَ (dan Kami jadikan mereka buah tutur manusia maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang tidak beriman).

Tafsir Ibnu Katsir: ثُمَّ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا (“Kemudian Kami utus [kepada umat-umat itu] para Rasul Kami berturut-turut.”) Ibnu Abbas mengatakan: “Yakni, sebagian mengikuti sebagian lainnya.” كُلَّ مَا جَاءَ أُمَّةً رَّسُولُهَا كَذَّبُوهُ (“Setiap seorang Rasul datang kepada umatnya, umat itu mendustakannya,”) yakni, kebanyakan dari mereka.

Dan firman-Nya: فَأَتْبَعْنَا بَعْضَهُم بَعْضًا (“Maka Kami perikutkan sebagian mereka dengan sebagian yang lain.”) Yakni, Kami binasakan mereka. Waja’alnaaHum ahaadiitsa (“Dan Kami jadikan mereka buah tutur [manusia],”) yakni berita dan bahan pembicaraan bagi umat manusia.

Baca Juga:  Surah At-Thalaq Ayat 1; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah mengutus kepada umat-umat itu para rasul-Nya secara berturut-turut dalam beberapa masa yang berbeda. Pada setiap periode ada rasul Allah yang berfungsi menyampaikan risalah-Nya. Demikianlah mereka datang silih berganti sampai kepada nabi penutup yaitu Nabi Muhammad, setiap diutus rasul kepada umatnya, umat itu mendustakannya.

Oleh karena masing-masing umat itu mendustakan rasul-Nya, maka Allah membinasakan mereka berturut-turut dan Allah menjadikan kisah mereka buah tutur manusia yang datang kemudian. Kisah mereka sering disebut, baik dalam percakapannya sehari-hari maupun dalam pelajaran sejarah umat-umat yang pernah mendustakan nabi-nabi-Nya.

Tafsir Quraish Shihab: Lalu Kami mengutus rasul-rasul Kami kepada kaumnya masing-masing secara berturut-turut. Setiap kali seorang rasul datang kepada kaumnya, ia dianggap bohong dalam menyampaikan dakwahnya.

Mereka pun kemudian Kami binasakan secara berturut-turut.
Kabar tentang mereka Kami jadikan bahan omongan dan keheranan orang.
Terusirlah dari kasih sayang Kami dan binasalah orang-orang yang tidak mempercayai dan tidak tunduk kepada kebenaran!

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mu’minun Ayat 42-44 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S