Surah Al-Mu’minun Ayat 93-98; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Al-Mu'minun Ayat 93-98

Pecihitam.org – Kandungan Surah Al-Mu’minun Ayat 93-98 ini, Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad supaya dia selalu berlindung kepada-Nya dari bisikan-bisikan setan dan dari godaan-godaannya, dan supaya setan itu selalu jauh daripadanya dan tidak dapat masuk ke dalam hatinya untuk memperdayakannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Mu’minun Ayat 93-98

Surah Al-Mu’minun Ayat 93
قُل رَّبِّ إِمَّا تُرِيَنِّي مَا يُوعَدُونَ

Terjemahan: Katakanlah: “Ya Tuhanku, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku azab yang diancamkan kepada mereka,

Tafsir Jalalain: قُل رَّبِّ إِمَّا (Katakanlah! “Ya Rabbku! Jika) lafal Imma pada asalnya terdiri daripada gabungan antara In Syarthiyyah dan Ma Zaidah تُرِيَنِّي مَا يُوعَدُونَ (Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku apa yang diancamkan kepada mereka) berupa azab, hal ini benar-benar terjadi dalam perang Badar, yaitu banyak dari kalangan orang-orang musyrik yang mati terbunuh.

Tafsir Ibnu Katsir: قُل رَّبِّ إِمَّا تُرِيَنِّي مَا يُوعَدُونَ (Katakanlah: “Ya Tuhanku, jika Engkau sungguh-sungguh hendak memperlihatkan kepadaku azab yang diancamkan kepada mereka,

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar berdoa memohon kepada-Nya supaya dijauhkan dari orang-orang kafir yang aniaya itu bila Dia hendak mengazab mereka, jangan dibinasakan bersama mereka, agar diselamatkan dari siksaan dan kemurkaan-Nya, dan menjadikannya golongan orang yang diridai.

Perintah supaya berdoa seperti ini diajarkan Allah karena musibah dan malapetaka yang ditimpakan Allah kepada orang-orang durhaka dan aniaya kadang-kadang juga menimpa orang-orang yang tidak bersalah, karena mereka hidup bersama dalam masyarakat atau suatu negara. Ini sesuai dengan firman Allah:

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya. (al-Anfal/8: 25)

Menurut riwAyat Imam Ahmad dan at-Tirmidzi doa Nabi Muhammad saw dalam hal ini berbunyi: Allah) apabila Engkau hendak menimpa siksaan kepada kaum (yang aniaya) maka wafatkan aku dalam keadaan tidak ikut disiksa. (RiwAyat Ahmad dan at-Tirmid.

Tafsir Quraish Shihab: Katakan, wahai Rasulullah, “Ya Tuhanku, jika Engkau menurunkan siksa di dunia seperti telah Engkau janjikan, padahal aku berada di tengah-tengah mereka,

Surah Al-Mu’minun Ayat 94
رَبِّ فَلَا تَجْعَلْنِي فِي الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Terjemahan: ya Tuhanku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zalim”.

Tafsir Jalalain: رَبِّ فَلَا تَجْعَلْنِي فِي الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (Ya Rabbku! Maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zalim.”) karena aku pun nanti akan binasa pula bersama dengan mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: رَبِّ فَلَا تَجْعَلْنِي فِي الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ (ya Tuhanku, maka janganlah Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zalim”.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad agar berdoa memohon kepada-Nya supaya dijauhkan dari orang-orang kafir yang aniaya itu bila Dia hendak mengazab mereka, jangan dibinasakan bersama mereka, agar diselamatkan dari siksaan dan kemurkaan-Nya, dan menjadikannya golongan orang yang diridai.

Perintah supaya berdoa seperti ini diajarkan Allah karena musibah dan malapetaka yang ditimpakan Allah kepada orang-orang durhaka dan aniaya kadang-kadang juga menimpa orang-orang yang tidak bersalah, karena mereka hidup bersama dalam masyarakat atau suatu negara. Ini sesuai dengan firman Allah:

Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya. (al-Anfal/8: 25)

Menurut riwAyat Imam Ahmad dan at-Tirmidzi doa Nabi Muhammad saw dalam hal ini berbunyi: Allah) apabila Engkau hendak menimpa siksaan kepada kaum (yang aniaya) maka wafatkan aku dalam keadaan tidak ikut disiksa. (RiwAyat Ahmad dan at-Tirmid.

Tafsir Quraish Shihab: maka aku mohon kepada-Mu agar Engkau tidak menyiksaku bersama orang-orang kafir yang melampuai batas itu.”

Baca Juga:  Surah At-Taubah Ayat 73-74; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Surah Al-Mu’minun Ayat 95
وَإِنَّا عَلَى أَن نُّرِيَكَ مَا نَعِدُهُمْ لَقَادِرُونَ

Terjemahan: Dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk memperlihatkan kepadamu apa yang Kami ancamkan kepada mereka.

Tafsir Jalalain: وَإِنَّا عَلَى أَن نُّرِيَكَ مَا نَعِدُهُمْ لَقَادِرُونَ (Dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk memperlihatkan kepadamu apa yang Kami ancamkan kepada mereka).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah Ta’ala: وَإِنَّا عَلَى أَن نُّرِيَكَ مَا نَعِدُهُمْ لَقَادِرُونَ (“Dan sesungguhnya Kami benar-benar kuasa untuk memperlihatkan kepadamu apa yang Kami ancamkan kepada mereka.”) Maksudnya, jika Kami menghendaki, niscaya Kami akan perlihatkan kepadamu malapetaka, kesengsaraan, dan cobaan yang Kami timpakan kepada mereka.

Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman seraya menunjukkan satu resep yang sangat bermanfaat dalam bergaul dengan umat manusia, yaitu berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepadanya untuk mengambil hatinya sehingga permusuhannya itu bisa berubah menjadi persahabatan dan kebenciannya berubah menjadi kecintaan,

Tafsir Kemenag: Allah menjelaskan kepada Nabi Muhammad, bahwa Dia Kuasa memperlihatkan kepadanya siksaan yang akan ditimpakan kepada orang kafir itu sehingga Nabi Muhammad dapat melihat sendiri bagaimana dahsyatnya dan hebatnya siksaan Allah. Tetapi karena rahmat dan kasih sayang-Nya kepada umat Muhammad,

Allah tidak menjatuhkan siksa itu dengan segera (di dunia ini), tetapi sudah menjadi ketetapan-Nya bahwa siksaan itu akan menimpa mereka di akhirat, karena mungkin kelak ada di antara mereka atau keturunan mereka yang akan sadar dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Oleh sebab itu, Nabi Muhammad jangan terlalu bersedih hati atas tindakan dan perlakuan orang kafir terhadapnya dan kaum Muslimin yang memang dalam keadaan lemah dan tak berdaya.

Tafsir Quraish Shihab: Kami sungguh Mahakuasa dan mampu untuk memperlihatkan kepadamu siksa yang telah Kami janjikan kepada mereka.
Oleh karena itu, kamu tidak perlu risau dan tenanglah dengan pertolongan Kami.

Surah Al-Mu’minun Ayat 96
اِدۡفَعۡ بِالَّتِیۡ ہِیَ اَحۡسَنُ السَّیِّئَۃَ ؕ نَحۡنُ اَعۡلَمُ بِمَا یَصِفُوۡنَ

Terjemahan: Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.

Tasir Jalalain: ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ (Tolaklah dengan menampilkan hal yang lebih baik) yaitu budi pekerti yang baik, bersikap lapang dada dan berpaling dari mereka yang kafir السَّيِّئَةَ (hal yang buruk itu) perlakuan mereka yang menyakitkan terhadap dirimu. Ayat ini diturunkan sebelum ada perintah untuk berperang.

نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ (Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan) kedustaan dan buat-buatan mereka, maka kelak Kami akan membalasnya kepada mereka.

Tafsir Ibnu Katsir: berfirman: ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ (“Tolaklah perbutan buruk mereka dengan yang lebih baik.”)

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah memberikan tuntunan kepada Nabi Muhammad bagaimana cara yang sebaik-baiknya menghadapi sikap kaum musyrik itu. Di antaranya, Nabi harus tetap bersikap lemah lembut terhadap mereka dan jangan sekali-kali membalas kejahatan dengan kejahatan, kekerasan dengan kekerasan karena memang belum waktunya bersikap demikian.

Bila mereka mencemooh dan mencaci maki hendaknya Nabi memaafkan ucapan-ucapan mereka yang tidak pada tempatnya itu, karena ucapan itu tidak mengenai sasarannya tetapi hendaklah dibalas dengan kata-kata yang mengandung patunjuk dan ajaran dengan mengemukakan dalil-dalil dan alasan yang masuk akal.

Bila mereka hendak melakukan tindakan penganiayaan, hindari mereka dan jauhi sedapat mungkin kesempatan yang membawa kepada tindakan seperti itu dan hendaklah dihadapi dengan penuh kesabaran dan ketabahan.

Nabi juga diperintahkan untuk menunjukkan kepada mereka bahwa beliau memang seorang ksatria yang tidak ada niat sedikit pun untuk mencelakakan mereka. Dengan sikap lemah lembut dan kebijaksanaan itu, mereka tidak akan merajalela terhadap kaum Muslimin.

Baca Juga:  Surah Al Humazah; Asbabun Nuzul, Tafsir dan Artinya

Lambat laun mereka yang keras seperti batu itu akan menjadi lembut dan menyadari sendiri kesalahan yang sudah mereka lakukan. Nabi juga diminta untuk meyakini dalam hati bahwa Allah mengetahui semua ucapan dan tindakan mereka.

Allah lebih mengetahui apa saja yang mereka lakukan dan apa saja yang tersembunyi dalam dada mereka. Sesuai dengan petunjuk ini Allah berfirman dalam Ayat yang lain:

Dan tidaklah sama kebaikan dengan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, sehingga orang yang ada rasa permusuhan antara kamu dan dia akan seperti teman yang setia. (Fussilat/41: 34)

Anas bin Malik berkata mengomentari Ayat ini, “Seorang laki-laki mengatakan terhadap saudaranya hal yang tidak-tidak.” Maka dia menjawab, “Jika ucapanmu itu bohong maka saya memohon kepada Allah supaya Dia mengampuni kebohonganmu itu. Jika ucapanmu itu benar maka saya memohon kepada Allah supaya mengampuniku.”.

Tafsir Quraish Shihab: Lanjutkanlah dakwahmu. Hadapilah perlakuan buruk mereka dengan tindakan yang lebik baik seperti memaafkan dan sebagainya. Kami pun sungguh sangat mengetahui keburukan-keburukan yang mereka katakan tentang dirimu dan tentang dakwahmu. Kami akan membalas mereka atas perbuatannya.

Surah Al-Mu’minun Ayat 97
وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ

Terjemahan: Dan katakanlah: “Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.

Tafsir Jalalain: وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ (Dan katakanlah! “Ya Rabbku! Aku berlindung kepada Engkau) aku meminta perlindungan مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ (dari bisikan-bisikan setan) dari kecenderungan-kecenderungan setan yang selalu setan embus-embuskan itu.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan Allah Ta’ala juga berfirman: وَقُل رَّبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ (“Dan katakanlah: ‘Ya Rabbku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan syaitan.’”) Allah Ta’ala memerintahkannya untuk berlindung dari syaitan, tipu daya mereka tidaklah berguna dan mereka tidak mau tunduk kepada kebaikan.

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad supaya dia selalu berlindung kepada-Nya dari bisikan-bisikan setan dan dari godaan-godaannya, dan supaya setan itu selalu jauh daripadanya dan tidak dapat masuk ke dalam hatinya untuk memperdayakannya.

Demikianlah seharusnya sikap setiap pejuang untuk menegakkan kebenaran. Mereka harus benar-benar menjaga supaya tidak sekalipun dipengaruhi hawa nafsunya dan terdorong untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak benar dan tidak jujur.

Setan amat mudah sekali menjerumuskan manusia ke jurang kesalahan, penghinaan dan kejahatan apabila ia dapat memasuki hawa nafsu manusia. Karena itu hendaklah kita selalu berlindung kepada Allah dari tipu daya setan.

Memang apabila seseorang benar-benar telah berserah diri kepada Tuhannya dalam segala tindakannya dan selalu memohon perlindungan-Nya dari tipu daya dan godaan setan, dirinya menjadi bersih dan hati nuraninya akan terketuk untuk selalu berbuat kebaikan dan menghindari kejahatan.

Rasulullah selalu berlindung kepada Tuhannya supaya dijauhkan daripadanya campur tangan setan dalam segala perbuatannya terutama dalam salat ketika membaca Al-Qur’an dan pada saat ajalnya akan tiba.

DiriwAyatkan oleh Ahmad, Abu Daud dan at-Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al-Baihaqi dari ‘Amr bin Syu’aib dan ayahnya dari kakeknya ia berkata, “Rasulullah saw mengajarkan

Dengan menyebut nama Allah, aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kemurkaan-Nya, dari siksa-Nya. Dari kejahatan hamba-Nya, dari bisikan-bisikan setan dan dari kahadiran setan kepadaku. (RiwAyat Ahmad, Abu Daud dan at-Tirmidzi).

Tafsir Quraish Shihab: Katakan, wahai Muhammad, “Ya Tuhan, aku berlindung kepada-Mu dari pengaruh godaan setan pada diriku dengan berbuat sesuatu yang tidak Engkau perkenankan.

Surah Al-Mu’minun Ayat 98
وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ

Terjemahan: Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, dari kedatangan mereka kepadaku”.

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 29; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Jalalain: وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ (Dan aku berlindung pula kepada Engkau, ya Rabbku, dari kedatangan setan-setan itu kepadaku”) dalam perkara-perkaraku, karena sesungguhnya mereka datang hanya dengan membawa keburukan belaka.

Tafsir Ibnu Kasir: Firman-Nya: وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَن يَحْضُرُونِ (“Dan aku berlindung [pula] kepada Engkau ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku.”) Maksudnya, dalam salah satu urusanku. Oleh karena itu, Allah memerintahkan untuk berdzikir kepada-Nya pada setiap permulaan segala hal. Hal itu dimaksudkan untuk mengusir syaitan, baik pada saat akan makan, akan berhubungan badan, menyembelih hewan, dan lain-lainnya.

Imam Ahmad meriwAyatkan dari `Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, dia bercerita, Rasulullah saw. mengajari kita beberapa kalimat yang beliau ucapkan pada saat akan tidur dari suatu ketakutan:

doa mohon perlindungan pd Allah“Dengan menyebut Nama Allah, aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari murka dan siksaan-Nya, dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dari godaan syaitan, dan dari kedatangan mereka kepadaku.”

Dia bercerita, Abdullah binAmr mengajarkan hal itu kepada anaknya yang sudah baligh dan menyuruh untuk mengucapkannya pada saat itu. Dan kepada anak yang masih kecil yang belum bisa berfikir untuk menghafalnya (menyimpannya), maka dia tuliskan dan kemudian mengalungkannya dileher. DiriwAyatkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan an-Nasa’i, dari hadits Muhammad bin Ishaq. At-Tirmidzi mengatakan: “Hasan gharib.”

Tafsir Kemenag: Pada Ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad supaya dia selalu berlindung kepada-Nya dari bisikan-bisikan setan dan dari godaan-godaannya, dan supaya setan itu selalu jauh daripadanya dan tidak dapat masuk ke dalam hatinya untuk memperdayakannya.

Demikianlah seharusnya sikap setiap pejuang untuk menegakkan kebenaran. Mereka harus benar-benar menjaga supaya tidak sekalipun dipengaruhi hawa nafsunya dan terdorong untuk melakukan tindakan-tindakan yang tidak benar dan tidak jujur.

Setan amat mudah sekali menjerumuskan manusia ke jurang kesalahan, penghinaan dan kejahatan apabila ia dapat memasuki hawa nafsu manusia. Karena itu hendaklah kita selalu berlindung kepada Allah dari tipu daya setan.

Memang apabila seseorang benar-benar telah berserah diri kepada Tuhannya dalam segala tindakannya dan selalu memohon perlindungan-Nya dari tipu daya dan godaan setan, dirinya menjadi bersih dan hati nuraninya akan terketuk untuk selalu berbuat kebaikan dan menghindari kejahatan.

Rasulullah selalu berlindung kepada Tuhannya supaya dijauhkan daripadanya campur tangan setan dalam segala perbuatannya terutama dalam salat ketika membaca Al-Qur’an dan pada saat ajalnya akan tiba.

DiriwAyatkan oleh Ahmad, Abu Daud dan at-Tirmidzi dan dinilai sahih oleh al-Baihaqi dari ‘Amr bin Syu’aib dan ayahnya dari kakeknya ia berkata, “Rasulullah saw mengajarkan

Dengan menyebut nama Allah, aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari kemurkaan-Nya, dari siksa-Nya. Dari kejahatan hamba-Nya, dari bisikan-bisikan setan dan dari kahadiran setan kepadaku. (RiwAyat Ahmad, Abu Daud dan at-Tirmidzi).

Tafsir Quraish Shihab: Aku berlindung pula kepada-Mu dari kehadiran mereka pada setiap perbuatanku, agar apa yang akau lakukan itu benar-benar murni hanya untuk-Mu.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Al-Mu’minun Ayat 93-98 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S