Surah An-Nahl Ayat 101-102; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Nahl Ayat 101-102

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Nahl Ayat 101-102 ini, menyatakan Setiap kali ayat baru yang memuat hukum baru diturunkan, para penentang yang tidak mengenal maslahat hukum ilahi bakal menuduh Nabi Muhammad Saw.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Padahal Allah Swt lebih mengetahui dalam kondisi bagaimana menurunkan hukum dan bila kondisinya memungkinkan akan diubah. “Dalam syariat Islam perubahan hukum ini disebut “naskh” dan tidak ada yang berhak mengubah hukum Allah.

Disisi lain mengatakan bahwa “Jawablah kepada mereka secara transparan bahwa semua ayat-ayat al-Quran diturunkan dengan benar dan jujur oleh Jibril, malaikat wahyu dan tidak ada kekurangan dan penyimpangan dalam al-Quran.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl Ayat 101-102

Surah An-Nahl Ayat 101
وَإِذَا بَدَّلْنَا آيَةً مَّكَانَ آيَةٍ وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوا إِنَّمَا أَنتَ مُفْتَرٍ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Terjemahan: Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain sebagai penggantinya padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-adakan saja”. Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui.

Tafsir Jalalain: وَإِذَا بَدَّلْنَا آيَةً مَّكَانَ آيَةٍ (Dan apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain) artinya dengan memansukhnya kemudian menggantinya dengan ayat yang lain demi kemaslahatan semua hamba.

وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا يُنَزِّلُ قَالُوا (padahal Allah lebih mengetahui apa yang diturunkan-Nya, mereka berkata) orang-orang kafir kepada Nabi saw.

إِنَّمَا أَنتَ مُفْتَرٍ (Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-ada saja) seorang pendusta yang pandai membuat-buat perkataan dari dirimu sendiri.

بَلْ أَكْثَرُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ (Bahkan kebanyakan mereka tiada mengetahui) hakikat Alquran dan faedah yang terkandung di dalam penasikhan ini.

Baca Juga:  Surah Al-A'raf Ayat 73-79; Seri Tadabbur Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala memberitahukan tentang lemahnya akal orang-orang musyrik serta minimnya keteguhan dan keyakinan mereka. Bahwasanya tidak tergambar keimanan pada diri mereka. Bagi mereka telah ditetapkan kesengsaraan. Hal itu dapat terlihat saat mereka melihat perubahan hukum-hukum, yang menasakh (yang menghapus) dan yang mansukh (dihapus).

Mereka berkata kepada Rasulullah: ِنَّمَا أَنتَ مُفْتَرٍ (Sesungguhnya kamu adalah orang yang mengada-ada saja) Maksudnya, kamu pendusta. Sesungguhnya Dia (Allah) adalah Rabb yang Mahatinggi yang berbuat apa saja yang Dia kehendaki dan menetapkan apa yang Dia inginkan.

Mengenai firman Allah Ta’ala: وَإِذَا بَدَّلْنَا آيَةً مَّكَانَ آيَةٍ (Apabila Kami letakkan suatu ayat di tempat ayat yang lain) Mujahid mengemukakan, yakni, mengungkapkan, ayat ini sama seperti firman-Nya:

“Apa saja ayat yang Kami nasakhkan atau Kami jadikan [manusia] lupa,” ayat seterusnya. (QS. Al-Baqarah: 106)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, dijelaskan bahwa Allah telah mengganti ayat dalam Al-Qur’an dengan ayat lain. Penggantian itu dimaksudkan untuk kemasla-hatan manusia, karena hanya Allah yang mengetahui hukum yang mana yang lebih sesuai untuk suatu masa bagi suatu umat.

Kaum musyrikin mencela Nabi Muhammad saw karena menurut mereka, Nabi pada satu waktu memerintahkan suatu perkara, dan pada waktu yang lain melarangnya. Mereka mengatakan bahwa rasul suka mengada-ada. Sikap demikian timbul karena mereka tidak mengetahui hikmah yang ter-kandung dalam penggantian ayat.

Penggantian ayat atau hukum Al-Qur’an hanya pada beberapa ayat saja, misalnya dalam masalah mengubah adat kebiasaan suatu kaum. Kalau perubahan itu dilakukan sekaligus, akan menimbulkan kegoncangan di kalangan mereka.

Baca Juga:  Adakah Ayat Al-Quran Tentang Jodoh? Ini Penjelasannya

Adalah sangat bijaksana dalam membina perubahan suatu masyarakat selalu diperhatikan segi-segi kejiwaan masyarakat itu. Tetapi bagi orang yang hatinya tertutup oleh kesombongan dan permusuhan terhadap Rasul, pergantian ayat yang mendukung dan mengandung hikmah itu dijadikan sumber fitnah bagi beliau. (Lih. Penafsiran al-Baqarah/2: 106).

Surah An-Nahl Ayat 102
قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

Terjemahan: SKatakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.

Tafsir Jalalain: قُلْ (Katakanlah) kepada mereka! نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ (Ruh Quduslah yang telah menurunkannya) yakni Alquran itu مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ (dari sisi Rabbmu dengan benar) lafal bilhaqqi berta’alluq kepada lafal nazzalahu

لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا (untuk meneguhkan hati orang-orang yang beriman) dengan keimanan mereka kepada Alquran وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri).

Tafsir Ibnu Katsir: Sebagai jawaban bagi mereka, Allah Ta’ala berfirman: قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ (Katakanlah, “Ruhul qudus menurunkan al-Qur’an itu.) yakni Jibril, مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ (Dari Rabbmu dengan benar) yakni dengan kebenaran dan keadilan.

لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا (Untuk meneguhkan [hati] orang-orang yang telah beriman) sehingga mereka membenarkan ayat yang diturunkan pertama dan kedua, sedang hati-hati mereka merasa tenteram padanya.

وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ (Dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-
orang yang berserah diri [kepada Allah]) Maksudnya, Allah menjadikan ayat ini sebagai petunjuk dan kabar gembira bagi kaum muslimin yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 30-32; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Allah swt dalam ayat ini memerintahkan Rasul saw untuk menjelaskan kepada kaum musyrikin bahwa ayat-ayat itu bukanlah rekayasa beliau, tetapi diturunkan oleh malaikat Jibril a.s. dari Allah Rabbul ‘Alamin, kelompok demi kelompok dengan hikmah kebijaksanaan yang sempurna, sesuai dengan perkembangan masyarakat dan kebutuhannya.

Allah juga mengemukakan sifat rububiyah-Nya serta menghubungkannya kepada Nabi Muhammad saw (Rabbika = Tuhanmu), untuk memberikan pengertian bahwa bimbingan Allah kepada Rasul adalah dengan cara berangsur-angsur untuk menuju kesempurnaan. Allah akan melimpahkan pancaran sifat rububiyah itu kepada Nabi-Nya.

Al-Qur’an diturunkan secara bertahap kepada Rasul untuk meneguhkan keimanan orang yang beriman, memberi pedoman bagi mereka dalam mengesakan Allah swt, dan menjadi petunjuk dalam mencari kehidupan yang bahagia dunia dan akhirat.

Al-Qur’an menjelaskan pula kepada orang-orang yang beriman bahwa mereka akan memperoleh surga di akhirat sebagai balasan bagi amal kebajikan mereka di dunia.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Nahl Ayat 101-102 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S