Surah An-Nahl Ayat 124; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Nahl Ayat 124

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Nahl Ayat 124 ini, mengisyaratkan sesungguhnya Allah hanya mewajibkan menghormati hari sabtu untuk berkonsentrasi dalam ibadah atas orang-orang yahudi yang telah berselisih padanya tentang nabi mereka, dan lebih memilihnya sebagai ganti hari jumat yang mereka sebenarnya diperintah untuk mengagungkannya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dan sesungguhnya tuhanmu (wahai rasul), benar-benar akan memutuskan ketetapan diantara orang-orang yang berselisih pada hari kiamat, dalam perkara yang mereka berselisih paham padanya terhadap nabi mereka dan akan memberikan balasan bagi masing-masing sesuai dengan balasan yang berhak diterimnya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl Ayat 124

إِنَّمَا جُعِلَ السَّبْتُ عَلَى الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

Terjemahan: Sesungguhnya diwajibkan (menghormati) hari Sabtu atas orang-orang (Yahudi) yang berselisih padanya. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu.

Tafsir Jalalain: إِنَّمَا جُعِلَ السَّبْتُ (Sesungguhnya telah dijadikan hari Sabtu) diwajibkan menghormatinya عَلَى الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ (atas orang-orang Yahudi yang berselisih mengenainya) dengan nabi mereka; mereka adalah orang-orang Yahudi yang diperintahkan oleh Allah supaya mereka menyibukkan dirinya untuk beribadah di hari Jumat, akan tetapi mereka mengatakan,

Baca Juga:  Penjelasan Ulama Tafsir tentang Surat An-Nur Ayat 35: Allahu Nurus Samawati wal Ardh

“Kami tidak menghendakinya,” lalu mereka memilih hari Sabtu sebagai hari untuk ibadah. Akhirnya Allah memperketat peraturan kepada mereka di hari Sabtu.

وَإِنَّ رَبَّكَ لَيَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ (Dan sesungguhnya Rabbmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu) yaitu Dia kelak akan memberi pahala kepada orang yang taat, dan Dia akan mengazab orang-orang yang durhaka melanggar hal-hal yang diharamkan-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Tidak diragukan lagi bahwa Allah Ta’ala telah mensyari’atkan kepada setiap umat satu hari dalam satu minggu supaya mereka berkumpul untuk beribadah. Karenanya, Allah mensyari’atkan hari Jum’at bagi umat ini, karena hari Jum’at adalah hari keenam yang padanya Allah menyempurnakan penciptaan serta sempurna pula nikmat bagi hamba-hamba-Nya.

Dikatakan bahwa Allah mensyari’atkan hari tersebut (Jum’at) kepada Bani Israil melalui lisan Musa, tetapi mereka menolaknya dan malah memilih hari Sabtu, karena Sabtu merupakan hari di mana Allah tidak menciptakan makhluk apa pun di dalamnya, karena penciptaan semua makhluk telah sempurna pada hari sebelumnya, yaitu Jum’at.

Yang kemudian Allah menetapkan hari itu bagi mereka di dalam syari’at Taurat. Dia berpesan kepada mereka supaya berpegang teguh padanya serta memeliharanya, disertai perintah-Nya kepada mereka supaya mengikuti Muhammad jika Dia telah mengutusnya dan mengambil janji dari mereka untuk itu.

Baca Juga:  Perbedaan Urutan Surat-Surat Al-Quran Menurut Ulama

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: إِنَّمَا جُعِلَ السَّبْتُ عَلَى الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ (Sesungguhnya diwajibkan [menghormati] hari Sabtu atas orang-orang [Yahudi] yang berselisih padanya) Mujahid mengemukakan, mereka mengikuti hari Sabtu dan meninggalkan hari Jum’at, lalu mereka masih tetap terus berpegang teguh padanya sehingga Allah Ta’ala mengutus Isa putera Maryam.

Ada yang mengatakan, bahwa dia merubahnya kepada hari Ahad. Ada juga yang mengatakan, bahwa dia tidak meninggalkan syari’at Taurat kecuali beberapa hukum yang dinasakh, dan bahwasanya’Isa masih terus memelihara hari Sabtu sehingga dia diangkat ke langit.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah swt mengecam orang Yahudi karena mereka berselisih tentang kedudukan hari Sabtu. Hari Sabtu adalah hari jatuhnya murka Allah kepada sebagian Bani Israil karena kedurhakaan mereka melanggar kewajiban pada hari itu, seperti diterangkan Allah swt:

Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina!” (al-Baqarah/2: 65).

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 33-34; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Allah swt mewajibkan kepada Bani Israil untuk melaksanakan ibadah pada hari Sabtu serta melarang mereka dan hewan-hewan mereka melakukan pekerjaan lain. Akan tetapi, sebagian mereka tidak menaati larangan Allah dan mencari-cari jalan untuk membenarkan perbuatan mereka pada hari itu. Karena mereka menghalalkan yang haram, jatuhlah azab Tuhan dengan mengubah mereka menjadi seperti kera.

Perselisihan di antara golongan dalam agama Yahudi tidak dapat diselesaikan antara mereka sendiri, karena sudah mengakar dan meluas. Hanya Allah swt yang menentukan keputusan di antara mereka pada hari kiamat kelak, tentang masalah-masalah yang mereka perselisihkan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Nahl Ayat 124 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S