Surah An-Nahl Ayat 93-96; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Nahl Ayat 93-96

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Nahl Ayat 93-96 ini, memaparkan sebuah landasan dan kaidah umum yang menyangkut hubungan Allah Swt dengan manusia lewat firman-Nya, Allah Swt tidak berkehendak memaksa manusia untuk beriman kepadanya, tapi Allah menginginkan manusia memilih akidah dan ajaran atas kehendak dan pilihan mereka sendiri.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Orang-orang yang telah menghalangi manusia dari jalan kebenaran akan mendapat kesulitan dan masalah pertama mereka di dunia. Mereka juga akan mendapat siksa yang pedih di Hari Kiamat. Oleh sebab itu, jangan menjual nama Allah sebagai sumpah untuk memperoleh kepentingan dunia dan materi di dunia.

Orang-orang yang runtuh imannya karena godaan harta dan dunia. Mereka juga mempermainkan nilai-nilai suci agama dan menjual akhirat yang kekal dengan dunia yang bersifat sementara.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nahl Ayat 93-96

Surah An-Nahl Ayat 93
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَلَكِن يُضِلُّ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ وَلَتُسْأَلُنَّ عَمَّا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

Terjemahan: Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.

Tafsir Jalalain: وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً (Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kalian satu umat) menjadi pemeluk satu agama وَلَكِن يُضِلُّ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ وَلَتُسْأَلُنَّ (tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Dan sesungguhnya kalian akan ditanya) kelak di hari kiamat dengan pertanyaan yang keras عَمَّا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ (tentang apa yang telah kalian kerjakan) kemudian kalian mendapatkan balasannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ (Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu) wahai sekalian manusia; أُمَّةً وَاحِدَةً (satu umat [saja]) Yang demikian itu sama seperti firman-Nya:

“Dan jika Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi ini seluruhnya.” (QS. Yunus: 99) Maksudnya, niscaya hubungan di antara kalian akan harmonis dan tidak akan terjadi perselisihan, tidak saling memusuhi dan tidak saling mendengki.

وَلَكِن يُضِلُّ مَن يَشَاءُ وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ (Tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya) Kemudian pada hari Kiamat kelak, Allah akan meminta pertanggung-jawaban dari seluruh perbuatan kalian, untuk selanjutnya Dia berikan balasan atas amal tersebut sekecil apa pun amal perbuatan tersebut.

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah swt dalam ayat ini mengemukakan bahwa sekiranya Dia berkehendak, tentu Dia mampu mempersatukan manusia ke dalam satu agama sesuai dengan tabiat manusia itu, dan meniadakan kemampuan ikhtiar dan pertimbangan terhadap apa yang dikerjakan.

Dengan demikian, manusia hidup seperti halnya semut atau lebah, atau hidup seperti malaikat yang diciptakan bagaikan robot yang penuh ketaatan kepada Allah, sedikit pun tidak akan menyimpang dari ketentuan yang benar, atau tersesat ke jalan yang salah. Akan tetapi, Allah swt tidak berkehendak demikian dalam menciptakan manusia.

Baca Juga:  Surah Az-Zukhruf Ayat 57-65; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Allah menciptakan manusia dengan menganugerah-kan kemampuan berikhtiar dan berusaha dengan penuh pertimbangan. Daya pertimbangan itu sejak azali diberikan kepada manusia.

Pahala dan siksa berkaitan erat dengan pilihan dan pertimbangan manusia itu. Masing-masing diminta pertanggungjawaban terhadap segala perbuatan yang dihasilkan oleh pertimbangan dan pilihan mereka itu.

Surah An-Nahl Ayat 94
وَلَا تَتَّخِذُوا أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ فَتَزِلَّ قَدَمٌ بَعْدَ ثُبُوتِهَا وَتَذُوقُوا السُّوءَ بِمَا صَدَدتُّمْ عَن سَبِيلِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Terjemahan: Dan janganlah kamu jadikan sumpah-sumpahmu sebagai alat penipu di antaramu, yang menyebabkan tergelincir kaki(mu) sesudah kokoh tegaknya, dan kamu rasakan kemelaratan (di dunia) karena kamu menghalangi (manusia) dari jalan Allah; dan bagimu azab yang besar.

Tafsir Jalalain: وَلَا تَتَّخِذُوا أَيْمَانَكُمْ دَخَلًا بَيْنَكُمْ (Dan janganlah kalian jadikan sumpah-sumpah kalian sebagai alat penipu di antara kalian) Allah swt. mengulang-ulang kalimat ini untuk mengukuhkannya فَتَزِلَّ قَدَمٌ (yang menyebabkan tergelincir kaki kalian) artinya kalian tergelincir dari ajaran Islam بَعْدَ ثُبُوتِهَا (sesudah kokoh tegaknya) sesudah kalian teguh memegangnya.

وَتَذُوقُوا السُّوءَ (dan kalian rasakan azab) siksaan بِمَا صَدَدتُّمْ عَن سَبِيلِ اللَّهِ (karena kalian menghalangi manusia dari jalan Allah) artinya disebabkan kalian tidak mau memenuhi janji kalian sendiri, atau disebabkan kalian menghalang-halangi orang lain untuk memenuhi sumpah dan janjinya, kemudian orang lain itu menuruti perintah kalian وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (dan bagi kalian azab yang besar) di akhirat nanti.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala mengingatkan hamba-hamba-Nya agar tidak menjadikan sumpah sebagai alat untuk menipu dan memperdaya agar kaki yang sudah benar-benar kokoh tidak tergelincir. Yang demikian itu merupakan perumpamaan bagi orang yang sudah istiqamah, lalu menyimpang dan tergelincir dari jalan petunjuk karena pelanggaran sumpah yang meliputi perbuatan menghalang-halangi manusia dari jalan Allah.

Sebab, jika orang kafir melihat orang mukmin melanggar sumpah yang telah dinyatakan, maka hilanglah kepercayaannya kepada agama Islam. Pelanggaran itu dianggap sebagai penghalang bagi umat manusia untuk memasuki agama Islam.

Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: وَتَذُوقُوا السُّوءَ بِمَا صَدَدتُّمْ عَن سَبِيلِ اللَّهِ وَلَكُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (Dan kamu rasakan kemelaratan [di dunia] karena kamu menghalangi [manusia] dari jalan Allah, dan bagimu adzab yang besar)

Tafsir Kemenag: Allah swt menegaskan kembali kepada orang Islam tentang larangan-Nya menjadikan sumpah sebagai alat penipuan di antara mereka. Sesudah Allah swt melarang membatalkan perjanjian dan sumpah pada umumnya, dalam ayat ini, Allah swt secara khusus menegaskan larangan membatalkan perjanjian yang telah dibuat kaum Muslimin dengan Nabi Muhammad saw sewaktu masih di Mekah, menjelang hijrah ke Medinah.

Allah swt tidak membenarkan jika membuat perjanjian hanya untuk mengelabui manusia. Timbulnya larangan ini disebabkan oleh adanya keinginan dari kaum Muslimin untuk membatalkan baiat mereka yang telah diperkuat dengan sumpah. Jika mereka melakukan hal demikian, berarti kaki mereka tergelincir sesudah berpijak di tempat yang mantap.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 61-62; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Mereka akan mengalami penderitaan disebabkan tindakan mereka yang menjadikan sumpah sebagai alat penipu di antara manusia. Ada tiga hukuman bagi yang melanggar jika melakukan tindakan demikian itu.

Surah An-Nahl Ayat 95
وَلَا تَشْتَرُوا بِعَهْدِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا إِنَّمَا عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Terjemahan: Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit (murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Tafsir Jalalain: وَلَا تَشْتَرُوا بِعَهْدِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا (Dan janganlah kalian tukar perjanjian kalian dengan Allah dengan harga yang sedikit) berupa keduniaan, seumpamanya kalian membatalkan janji itu demi karena perkara duniawi.

إِنَّمَا عِندَ اللَّهِ (sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah) berupa pahala خَيْرٌ لَّكُمْ (itulah yang lebih baik bagi kalian) daripada apa yang terdapat di dunia إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ (jika kalian mengetahui) hal tersebut; maka oleh sebab itu janganlah kalian merusak janji kalian.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala berfirman: وَلَا تَشْتَرُوا بِعَهْدِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا (Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit [murah]) Maksudnya, janganlah kalian menukar sumpah dengan nama Allah dengan barang kehidupan dunia dan perhiasannya. Sebab, semuanya itu sangat sedikit jumlahnya.

Jika dunia dengan semua isinya ini dimiliki oleh seorang anak Adam, niscaya apa yang ada di sisi Allah adalah lebih baik baginya. Artinya, pahala dan balasan Allah itu tetap lebih baik bagi orang yang mengharap, orang yang beriman kepadanya, orang yang mencarinya, orang yang memelihara janjinya dengan harapan mendapatkan apa yang dijanjikan-Nya.

Oleh karena itu, Dia berfirman: إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ (Jika kamu mengetahui)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah menegaskan lagi larangan-Nya tentang membatalkan janji setia itu (bai’at) dengan menyatakan bahwa perbuatan itu sama halnya dengan menukarkan perjanjian dengan Allah dengan harga yang murah. Misalnya, untuk memperoleh keuntungan duniawi dan harta yang sedikit, mereka membatalkan suatu perjanjian yang mereka adakan sendiri.

Peringatan Allah ini berhubungan dengan ihwal orang-orang Mekah yang telah mem-bai’at Nabi saw kemudian mereka bermaksud membatalkan bai’at itu setelah melihat kekuatan orang Quraisy, serta penganiayaan mereka kepada orang Islam.

Kemudian orang-orang Quraisy menjanjikan pula kepada orang Islam akan memberikan sesuatu jika mereka mau kembali kepada agama kesyirikan. Oleh sebab itu, Allah memperingatkan mereka dengan ayat ini dan mencegah mereka agar jangan sampai membatalkan bai’at kepada Nabi itu, hanya untuk memperoleh harta duniawi.

Karena apa yang ada pada Allah seperti pahala di akhirat dan agama yang dibawa Nabi saw untuk kehidupan duniawi, jauh lebih baik dari apa yang dijanjikan oleh pemimpin musyrik itu.

Jika mereka mempergunakan akal pikiran dan merenungkan persoalan-persoalan itu, tentulah mereka lebih cenderung untuk tetap setia kepada Nabi saw dan menolak ajakan pemimpin-pemimpin musyrik itu.

Baca Juga:  Surah An-Nahl Ayat 91-92; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah An-Nahl Ayat 96
مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Terjemahan: Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Tafsir Jalalain: مَا عِندَكُمْ (Apa yang di sisi kalian) berupa duniawi يَنفَدُ (akan lenyap) akan musnah وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ (dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal) abadi.

وَلَنَجْزِيَنَّ (Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan) dapat dibaca walayajziyanna dan walanajziyanna الَّذِينَ صَبَرُوا (orang-orang yang sabar) demi menunaikan janjinya أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan) lafal ahsana di sini maknanya sama dengan hasuna.

Tafsir Ibnu Katsir: مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ( Apa yang dari sisimu akan lenyap) Yakni, akan habis, karena masanya berlangsung untuk waktu yang ditentukan, diukur dan ditetapkan batas akhirnya. وَمَا عِندَ اللَّهِ بَاقٍ (Dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal) Maksudnya, pahala yang diberikan kepada kalian di Surga akan abadi, tiada pernah terputus dan tiada pernah akan habis.

وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِينَ صَبَرُوا أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan) Hal itu merupakan sumpah Allah yang dikuatkan dengan huruf lam, yaitu, sesungguhnya Dia akan membalas berbagai amal perbuatan baik orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari amal mereka dan menghapus berbagai keburukan mereka.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini, Allah swt menjelaskan bahwa segala apa yang dimiliki dan datang dari manusia, berupa pemberian harta benda duniawi, adalah terbatas dan ada akhirnya, sedang apa yang ada pada sisi Allah, berupa pahala dan ganjaran dalam surga, tidak ada batasnya, tak putus-putus bahkan selama-lamanya.

Maka kepada mereka yang beriman, sabar menghadapi tugas-tugas agama, dan tabah menghadapi penderitaan, Allah pasti memberi ganjaran yang lebih dari apa yang mereka kerjakan. Tuhan menonjolkan sifat sabar atau tabah karena sifat itu merupakan asas dari segala amal perbuatan.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Nahl Ayat 93-96 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S