Surah An-Naml Ayat 45-47; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah An-Naml Ayat 45-47

Pecihitam.org – Kandungan Surah An-Naml Ayat 45-47 ini, menerangkan bahwa Allah telah mengutus Nabi Saleh kepada kaum Samud yang berdiam di al-hijr, suatu daerah pegunungan batu yang terletak antara Wadil Qura dan Syam. Selanjutnya Nabi Saleh menyeru agar kaumnya segera mohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya. Dengan demikian, dosa-dosa mereka akan diampuni Allah dan rahmat yang telah diberikan-Nya ditambah lagi dengan rahmat yang lebih besar lagi.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah An-Naml Ayat 45-47

Surah An-Naml Ayat 45
وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ

Terjemahan: Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru): “Sembahlah Allah”. Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan.

Tafsir Jalalain: وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا إِلَى ثَمُودَ أَخَاهُمْ (Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka) yang satu kabilah صَالِحًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ (Saleh, yang berseru, “Sembahlah Allah!”) tauhidkanlah Dia.

فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ (Tetapi tiba-tiba mereka jadi dua golongan yang bermusuhan) dalam masalah agama; segolongan terdiri dari orang-orang yang beriman kepadanya sejak ia diutus kepada mereka dan golongan yang lain adalah orang-orang kafir.

Tafsir Ibnu Katsir: فَإِذَا هُمْ فَرِيقَانِ يَخْتَصِمُونَ (“Tetapi tiba-tiba mereka menjadi dua golongan yang bermusuhan.”) Mujahid berkata, “Yaitu mukmin dan kafir.”

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Allah telah mengutus Nabi Saleh kepada kaum Samud yang berdiam di al-hijr, suatu daerah pegunungan batu yang terletak antara Wadil Qura dan Syam. Nabi Saleh masih termasuk keturunan Samud, sehingga berarti ia diutus kepada kaumnya sendiri.

Nabi Saleh menyeru kaumnya yang menyembah sesuatu di samping Allah atau menyekutukan-Nya, agar hanya menyembah Allah saja, Tuhan Yang Maha Esa. Dalam menanggapi seruan Saleh itu, maka kaumnya terbagi dua:

  1. Sebagian kecil dari mereka memenuhi seruannya dengan meninggalkan penyembahan berhala dan hanya menyembah Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Sebagian besar dari mereka tetap ingkar bahkan mengancam dan menentang Nabi Saleh.

Di antara kedua golongan di atas itu terjadi perdebatan dan permusuhan. Masing-masing golongan menuduh bahwa agama yang dianut lawannya adalah agama yang batil. Bahkan golongan yang mengakui dirinya kuat, dan mempunyai pengikut yang lebih banyak, bertambah-tambah kezaliman mereka, dan menentang Nabi Saleh dengan membunuh unta yang sudah dilarang untuk dibunuh. Mereka juga meminta agar disegerakan turunnya azab kepada mereka, seandainya ia adalah benar-benar rasul yang diutus Allah.

Baca Juga:  Surah Ad-Dukhan Ayat 17-33; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Allah berfirman: Kemudian mereka sembelih unta betina itu, dan berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya. Mereka berkata, “Wahai Saleh! Buktikanlah ancaman kamu kepada kami, jika benar engkau salah seorang rasul.” (al-A’raf/7: 77).

Tafsir Quraish Shihab: Kami sungguh telah mengutus kepada kaum Tsamud saudara mereka sendiri, Shalih, untuk mengajak mengesakan Allah. Tapi mereka saling berselisih dan saling bersengketa. Mereka terbagi menjadi dua kelompok, yang satu beriman dan yang lain tidak beriman.

Surah An-Naml Ayat 46
قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Terjemahan: Dia berkata: “Hai kaumku mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum (kamu minta) kebaikan? Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat”.

Tafsir Jalalain: قَالَ (Dia berkata) kepada orang-orang yang mendustakannya. يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ (“Hai kaumku! Mengapa kalian minta disegerakan keburukan sebelum kamu minta kebaikan?) yakni meminta disegerakan turunnya azab sebelum rahmat, karena kalian telah mengatakan, ‘Jika apa yang kamu datangkan kepada kami itu adalah benar, maka turunkanlah azab kepada kami’, لَوْلَا (Mengapa tidak) تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ (kalian meminta ampun kepada Allah) dari kemusyrikan لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ (agar kalian mendapat rahmat”) karenanya kalian tidak akan diazab.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَ يَا قَوْمِ لِمَ تَسْتَعْجِلُونَ بِالسَّيِّئَةِ قَبْلَ الْحَسَنَةِ (“Dia berkata: ‘Hai kaumku, mengapa kamu minta disegerakan keburukan sebelum [kamu minta] kebaikan?’”) yaitu kenapa kalian meminta didatangkan adzab dan tidak meminta rahmat dari Allah. Untuk itu Dia berfirman: لَوْلَا تَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Tafsir Kemenag: Melihat sikap dan tantangan kaumnya, Nabi Saleh mengatakan kepada mereka, “Wahai kaum kerabatku, mengapa kamu sekalian ingin azab disegerakan datang menimpamu, sebelum kamu beriman dan mengerjakan kebaikan. Mengapa kamu sekalian tidak segera beriman dan tetap dalam kekafiran? Padahal keimananmu itu dapat mendatangkan pahala dan kebahagiaan abadi bagimu. Sedangkan kekafiran itu akan mengakibatkan dosa dan azab yang kekal di akhirat nanti.”

Selanjutnya Nabi Saleh menyeru agar kaumnya segera mohon ampun kepada Allah dan bertobat kepada-Nya. Dengan demikian, dosa-dosa mereka akan diampuni Allah dan rahmat yang telah diberikan-Nya ditambah lagi dengan rahmat yang lebih besar lagi.

Tafsir Quraish Shihab: Shalih berkata sambil memperingatkan kaumnya, “Mengapa kalian menuntut agar siksa itu disegerakan sebelum kalian menyatakan pertobatan? Tidakkah sebaiknya kalian memohon pengampunan terlebih dahulu pada Tuhan dan beriman kepada-Nya kalau-kalau kalian mendapatkan rahmat?”

Baca Juga:  Surah Al-Isra Ayat 98-99; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah An-Naml Ayat 47
قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَن مَّعَكَ قَالَ طَائِرُكُمْ عِندَ اللَّهِ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ

Terjemahan: Mereka menjawab: “Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”. Shaleh berkata: “Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji”.

Tafsir Jalalain: قَالُوا اطَّيَّرْنَا (Mereka menjawab, “Kami mendapat kesialan) asalnya adalah Tathayyarna, kemudian huruf Ta diidgamkan kepada huruf Tha setelah diganti menjadi Tha, kemudian ditarik Hamzah Washal, sehingga menjadi Iththayyarna. Artinya, kami merasa sial بِكَ وَبِمَن مَّعَكَ (disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu”) yakni orang-orang Mukmin yang besertamu. Mereka mengatakan demikian karena mereka tertimpa kemarau panjang dan paceklik.

قَالَ طَائِرُكُمْ (Saleh berkata, “Nasib kalian) yakni kesialan kalian عِندَ اللَّهِ (adapada sisi Allah) Dia-lah yang telah mendatangkannya kepada kalian, bukan kami بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ (tetapi kalian kaum yang diuji”) maksudnya sedang dicoba dengan kebaikan dan keburukan.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالُوا اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَن مَّعَكَ (“Hendaklah kamu meminta ampun kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat.’ Mereka menjawab, ‘Kami mendapat nasib yang malang disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.’”) yakni kami tidak melihat satu kebaikan pun di wajahmu dan wajah orang-orang yang mengikutimu.

Hal ini dikarenakan keadaan mereka, dimana tidak ada satu keburukan pun yang mengimpa salah satu dari mereka kecuali mereka berkata: “Ini pasti karena Shalih dan shahabat-shahabatnya.”
Mujahid berkata, “Mereka menganggap sial terhadap Shalih dan shahabat-shahabatnya.”

Mereka menjawab: اطَّيَّرْنَا بِكَ وَبِمَن مَّعَكَ قَالَ طَائِرُكُمْ عِندَ اللَّهِ (“‘Kami mendapat nasib yang malang disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu.’ Shalih berkata, ‘Nasibmu ada pada sisi Allah.’”) yaitu Allah membalas kalian atas semua itu, بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ تُفْتَنُونَ (“Tetapi kamu kaum yang diuji.”)

Qatadah berkata, “Kalian diuji dengan ketaatan dan kemaksiatan.” Yang jelas, bahwa yang dimaksud dengan firman-Nya: tuftanuun (“Yang diuji”) yaitu kalian ditarik dengan berangsur-angsur ke dalam kesesatan kalian itu.

Tafsir Kemenag: Kaum Samud yang ingkar itu menjawab seruan Nabi Saleh dengan mengatakan bahwa mereka merasa sial dengan seruan Nabi Saleh dan orang-orang yang beriman kepadanya. Semenjak Nabi Saleh menyeru mereka agar meninggalkan tuhan-tuhan mereka dan hanya menyembah Tuhan Yang Maha Esa, mereka telah ditimpa pelbagai malapetaka, seperti tidak turunnya hujan yang menyebabkan kekeringan dan lain-lain.

Mereka percaya akan terus ditimpa bencana karena kemarahan tuhan-tuhan mereka akibat perbuatan Nabi Saleh itu. Tanda-tanda kesialan dan kedatangan bencana itu tampak pada setiap kali mereka melempar dan mengejuti burung, yang memberi tanda ramalan nasib mereka, burung itu memperlihatkan tanda-tanda yang tidak baik kepada mereka.

Baca Juga:  Surah An-Naml Ayat 76-81; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Mereka menjawab demikian karena kebodohan dan kepercayaan mereka kepada takhayul dan lain-lain. Sebagaimana orang-orang primitif yang percaya pada kekuatan-kekuatan gaib yang terdapat pada benda-benda di alam ini, di samping kekuatan gaib yang ada pada Allah sendiri, demikian pula halnya kaum Samud.

Salah satu kepercayaan dan adat kebiasaan kaum Samud ialah apabila mereka dalam perjalanan jauh menemui burung-burung dari kanan ke arah kiri, mereka gembira. Hal yang demikian mengisyaratkan bahwa mereka boleh meneruskan perjalanan. Sebaliknya jika burung itu terbang dan lari dari kiri menuju ke arah kanan, hal itu menandakan bahwa ada musibah jika mereka tetap melakukan perjalanan jauh.

Nabi Saleh menjawab pernyataan kaumnya itu dengan mengatakan bahwa sesungguhnya apa saja yang menimpa mereka, apakah baik atau buruk, bahagia atau sengsara, adalah ketentuan Allah dan itulah qadha dan qadarnya.

Tiada seorang pun yang dapat mengubah qadha dan qadar Allah itu. Jika Dia menghendaki, Dia akan memberikan rezeki. Jika Dia menghendaki, mereka tidak akan diberi-Nya rezeki sedikit pun. Ia beserta pengikut-pengikutnya tidak kuasa sedikit pun mendatangkan kesialan atau keberuntungan kepada mereka.

Kemudian Nabi Saleh menerangkan bahwa kesialan itu merupakan ujian dari Tuhan kepada mereka, apakah mereka mau mengikuti seruannya dan tidak lagi mengerjakan perbuatan-perbuatan terlarang yang biasa dikerjakan, atau tidak mau mengikutinya.

Tafsir Qurasih Shihab: Mereka menjawab, “Kami merasa pesimis dan sial denganmu dan para pengikutmu. Kami jelas akan ditimpa kemalangan.” Shalih berkata, “Semua yang mendatangkan kebaikan atau keburukan yang kalian alami berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala Sebenarnya kalian sedang mendapat cobaan, berupa kesenangan dan kesusahan, agar kalian nantinya beriman.”

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah An-Naml Ayat 45-47 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S