Surah Ar-Ra’d Ayat 17; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Ar-Ra'd Ayat 17

Pecihitam.org – Kandungan Surah Ar-Ra’d Ayat 17 ini Rahmat dan inayah Allah Swt selalu tercurahkan kepada umat manusia, dan semuanya akan memperoleh rahmat tersebut sesuai dengan kapasitas dan potensinya. Dalam peristiwa-peristiwa pahit dan manis di dunia ini, semua yang tidak murni akan diketahui, dan haq dan bathil akan terpisah, satu dari yang lain.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebagaimana ditegaskan di akhir ayat ini, dalam rangka menjelaskan kebenaran dan kebatilan, Allah Swt menggunakan hal-hal yang dikenal oleh umat manusia dan yang biasa mereka saksikan atau bahkan mereka alami, sebagai perumpamaan. Dalam ayat ini, Allah Swt mengumpamakan kebenaran sebagai air, sedangkan kebatilan sebagai buih.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Ra’d Ayat 17

أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا ۚ وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ زَبَدٌ مِثْلُهُ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ ۚ فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً ۖ وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ

Terjemahan: Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.

Tafsir Jalalain: Kemudian Allah membuat suatu perumpamaan mengenai perkara yang hak dan perkara yang batil untuk itu Dia berfirman: أَنْزَلَ (Allah telah menurunkan) Maha Tinggi Allah مِنَ السَّمَاءِ مَاءً (air dari langit) yakni air hujan.

فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا (maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya) sesuai dengan daya tampungnya. فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا (maka arus itu membawa buih yang mengembang) mengapung di atas air yang mengandung kotoran dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Surah Al-Isra' ayat 85; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ (Dan dari apa yang mereka lebur) dapat dibaca tuuqiduuna dan yuuqiduuna فِي النَّارِ (dalam api) yaitu berupa logam yang dikeluarkan dari dalam bumi, seperti emas, perak dan tembaga

ابْتِغَاءَ (untuk membuat) untuk dijadikan حِلْيَةٍ (perhiasan) barang perhiasan أَوْ مَتَاعٍ (atau alat-alat) perabot-perabot yang diperlukan, jika kesemuanya itu dilebur.

زَبَدٌ مِثْلُهُ (ada pula buihnya) yakni sama seperti buih arus tadi, yaitu kotorannya kemudian kotoran itu dibuang oleh orang yang mencetaknya. كَذَٰلِكَ (Demikianlah) hal yang telah disebutkan itu يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ (Allah membuat perumpamaan bagi yang benar dan yang batil) perumpamaan mengenai keduanya.

فَأَمَّا الزَّبَدُ (Adapun buih itu) buih arus itu dan kotoran barang logam yang dilebur فَيَذْهَبُ جُفَاءً (akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya) menjadi limbah yang dibuang

وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ (adapun yang memberi manfaat kepada manusia) yaitu air bersih dan inti logam فَيَمْكُثُ (maka ia tetap) terkandung فِي الْأَرْضِ (di bumi) selama beberapa masa.

Demikianlah perumpamaan tentang hal yang batil; akan pudar dan lenyap, sekalipun dalam beberapa waktu dapat mengalahkan perkara yang hak. Akan tetapi pada akhirnya perkara yang hak jugalah yang akan tetap tegak dan menang.

كَذَٰلِكَ (Demikian) hal yang disebutkan itu يَضْرِبُ اللَّهُ (Allah menjelaskan) menerangkan الْأَمْثَالَ (perumpamaan-perumpamaan).

Tafsir Ibnu Katsir: Ayat yang mulia ini mengandung dua buah perumpamaan yang dibuat untuk kebenaran yang akan tetap kukuh dan langgeng, dan kebathilan yang pasti akan hilang dan musnah.

Allah berfirman: أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً (“Allah telah menurunkan air dari langit.”) Maksudnya air hujan. فَسَالَتْ أَوْدِيَةٌ بِقَدَرِهَا (“Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya.”) yakni masing-masing lembah mengambil air sesuai dengan ukurannya. Lembah yang besar memuat air yang banyak, dan lembah yang kecil memuat air secukupnya.

Ini mengisyaratkan kepada hati manusia yang berbeda-beda; Ada yang dapat memuat banyak ilmu, dan ada pula yang sempit tidak mampu memuat banyak ilmu.

Baca Juga:  Surah Ar-Ra'd Ayat 20-24; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

فَاحْتَمَلَ السَّيْلُ زَبَدًا رَابِيًا (“Maka arus itu membawa buih yang mengembang.”) Maksudnya, terjadi di atas lembah yang dialiri air itu, buih yang mengembang tinggi. Ini perumpamaan yang pertama.

Sedangkan firman Allah: وَمِمَّا يُوقِدُونَ عَلَيْهِ فِي النَّارِ ابْتِغَاءَ حِلْيَةٍ أَوْ مَتَاعٍ (“Dan dari apa [logam] yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada pula buihnya seperti buih arus itu.”) Adalah perumpamaan kedua, yaitu bahan-bahan yang dilebur dalam api untuk membuat perhiasan seperti emas dan perak, atau kuningan dan besi untuk membuat peralatan, itu pasti akan terjadi padanya buih yang timbul, زَبَدٌ مِثْلُهُ (seperti halnya buih) yang timbul dari air yang mengalir di lembah.

كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْحَقَّ وَالْبَاطِلَ (“Demikianlah Allah membuat perumpamaan [bagi] yang benar dan yang bathil.”) Bila kebenaran dan kebathilan itu bertemu, maka kebathilan tidak akan dapat bertahan lama, tak ubahnya seperti buih yang tidak bertahan lama yang berada bersama air dan tidak dapat bertahan pula bersama emas, perak, dan bahan lain yang serupa yang dilebur dalam api, bahkan buih itu akan hilang dan sirna.

Karena itu Allah berfirman: فَأَمَّا الزَّبَدُ فَيَذْهَبُ جُفَاءً (“Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya.”) Artinya, tidak berguna bahkan terbagi-bagi, terpecah-belah dan hilang di kedua belah sisi lembah, bergelantungan pada pohon-pohon, dan pecah berantakan ditiup angin.

Demikan pula halnya dengan buih emas, Perak, besi, dan kuningan, akan hilang pula dan tidak ada yang kembali lagi, sedangkan air, emas, Perak, dan lain-lainnya itu akan tetap tinggal dan bermanfaat.

Karena itu Allah berfirman: وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ ۚ كَذَٰلِكَ يَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ (“Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi. Demikanlah Allah membuat perumpamaan perumpamaan.”)

Tafsir Quraish Shihab: Nikmat dan karunia Allah kepada kalian pun sungguh sangat jelas dan nyata, dan patung-patung kalian tidak mempunyai peran apa-apa tentang karunia-karunia itu. Hanya Dialah yang menurunkan hujan dari awan hingga mengakibatkan sungai dan lembah dapat mengalirkan air.

Baca Juga:  Surah Ar-Ra'd Ayat 18; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Semua itu sesuai dengan ketentuan takdir yang telah ditetapkan Allah untuk dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan membuahkan pohon. Sungai-sungai itu, ketika mengalirkan air, membawa benda-benda yang tak berguna yang mengapung di atas permukaannya, mengalir mengikuti arah air, sedangkan di dalamnya terdapat benda-benda yang dapat dimanfaatkan dan tidak lenyap.

Sementara benda yang tak berguna itu akan lenyap. Demikian pula halnya dengan kebenaran dan kebatilan. Yang pertama itu akan tetap, kekal dan tidak lenyap, sedangkan yang kedua akan lenyap.

Selain itu, di antara tambang yang kalian olah dengan menggunakan api, ada yang dapat kalian ambil sebagai perhiasan seperti emas dan perak, ada pula yang dapat kalian pergunakan sebagaimana peralatan seperti besi dan tembaga.

Ada juga yang tidak dapat dimanfaatkan, yang muncul di permukaan. Nah, yang tidak dapat dimanfaatkan itu hanya akan terbuang, sedangkan yang dapat digunakan akan bertahan. Demikian pula halnya dengan akidah dan kepercayaan.

Akidah yang sesat akan lenyap tak berarti, dan akidah yang benar akan tetap, tidak akan lenyap. Dengan cara seperti ini Allah Swt. menerangkan yang sebenarnya. Allah mengumpamakan suatu dengan yang lainnya agar semuanya menjadi jelas.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Ar-Ra’d Ayat 17 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S