Surah Ar-Rahman Ayat 14-25; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Ar-Rahman Ayat 14-25

Pecihitam.org – Kandungan Surah Ar-Rahman Ayat 14-25 ini, menerangkan bahwa Allah-lah yang menguasai bahtera-bahtera yang tinggi layarnya laksana gunung-gunung di lautan, ia berlayar di lautan dan memberikan manfaat kepada manusia guna mengangkut barang-barang dagangan dari suatu negeri ke negeri lain, makanan-makanan yang banyak terdapat pada suatu tempat dan tempat yang lain kekurangan bahan-bahan tersebut, dan lain sebagainya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dengan demikian, terlaksana pertukaran barang-barang dagangan dan terpenuhi keperluankeperluan manusia tentang makanan dan minuman.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Rahman Ayat 14-25

Surah Ar-Rahman Ayat 14
خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٍ كَٱلۡفَخَّارِ

Terjemahan: “Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,

Tafsir Jalalain: خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ (Dia menciptakan manusia) yakni Nabi Adam مِن صَلۡصَٰلٍ (dari tanah kering) tanah kering yang apabila diketuk akan mengeluarkan suara berdenting كَٱلۡفَخَّارِ (seperti tembikar) seperti tanah liat yang dibakar.

Tafsir Ibnu Katsir: خَلَقَ ٱلۡإِنسَٰنَ مِن صَلۡصَٰلٍ كَٱلۡفَخَّارِ (“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar,

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Allah menciptakan manusia pertama Nabi Adam dari tanah kering seperti tembikar, dan keras seperti tanah yang telah dipanggang. Di dalam Al-Qur’an banyak ayat yang menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah dan yang lain menyebutkan bahwa ia diciptakan dari tanah liat serta di sini disebutkan tanah kering seperti tembikar.

Tanah liat yang dipanggang dengan bara yang panas untuk menjaga ia tetap bersatu, tidak bercerai berai. Demikian pula manusia mempunyai nafsu makan dan minum, mempunyai nafsu kawin agar badannya dapat terpelihara dan dapat melanjutkan hidupnya, serta mempunyai keturunan. Ia mempunyai nafsu marah yang menjadikannya berani dan kuat untuk menjaga kelangsungan hidupnya dan mempertahankan dirinya dari bahaya yang mengancamnya serta serbuan musuh-musuh yang berada di sekitarnya.

Kekuatan manusia ini seolah-olah sama dengan tanah liat yang telah masak agar menjadi tanah kering yang bagian-bagiannya melekat dengan kuat. Apabila tidak ada hal-hal itu tentu dia tidak akan dapat mempertahankan dirinya dari bahaya dan musuhmusuhnya, dari manusia lain atau binatang-binatang buas, maka ia akan hancur berkeping-keping menjadi santapan burung-burung dan binatang-binatang, sebagaimana tanah yang belum dimasak bertaburan diterbangkan angin.

Penciptaan manusia dari tanah telah banyak dibicarakan pada ayat-ayat sebelumnya, antara lain pada ayat-ayat: al-hijr/15: 26 (dari lumpur hitam), al- hijr/15: 28 (tanah liat kering), ar-Rum/30: 20 (dari tanah), Fathir/35: 11 (dari tanah), shad/38: 71 (tanah liat), Gafir/40 (dari tanah), sedangkan pada Surah al-Furqan/25: ayat 54 dinyatakan bahwa manusia diciptakan dari air.

Dari berbagai pernyataan ayat-ayat di atas tentang bahan penciptaan manusia, maka terdapat dua bahan yaitu air dan tanah. Sedangkan macam tanah yang sering dijelaskan adalah tanah liat, suatu jenis tanah yang tersusun oleh partikel yang sangat halus, dengan ukuran diameter partikel kurang dari 2 mikron. Jenis tanah ini memiliki sifat-sifat fisik yang plastis bila mengandung air.

Secara kimia, larutan tanah liat dalam air memiliki kapasitas tukar kation, yaitu dapat mengikat ion atau senyawa kimia lainnya yang bermuatan listrik, tetapi dengan ikatan yang tidak terlalu kuat sehingga ion yang terikat bisa berganti-ganti dengan mudah. Tanah jenis ini pulalah yang biasa dipakai sebagai bahan untuk membuat tembikar. Sementara proses penciptaannya amat sedikit diketahui (lihat Tafsir al-hijr/15: 26 dan 28).

Tafsir Quraish Shihab: Dia menciptakan bangsa manusia dari tanah kering yang tidak dibakar seperti tembikar. Sedangkan bangsa jin diciptakan-Nya dari nyala api yang murni.

Surah Ar-Rahman Ayat 15
وَخَلَقَ ٱلۡجَآنَّ مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ

Terjemahan: “dan Dia menciptakan jin dari nyala api.

Tafsir Jalalain: وَخَلَقَ ٱلۡجَآنّ (Dan Dia menciptakan jin) yakni bapak moyang jin, yaitu iblis مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ (dari nyala api) yaitu nyala api yang tidak berasap.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah menceritakan tentan penciptaan manusia dari tanah kering seperti tembikar dan penciptaan jin yang berasal dari ujung lidah api. Demikianlah yang dikemukakan oleh adl-Dlahhak dari Ibnu ‘Abbas. Dan hal senada juga dikemukakan oleh ‘Ikrimah, Mujahid, al-Hasan, dan Ibnu Zaid. ‘Ali bin Abi Thalib meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Kata مِن مَّارِجٍ مِّن نَّارٍ berarti dari api yang murni.” Demikianlah yang disampaikan oleh ‘Ikrimah, Mujahid, adl-Dlahhak dan lain-lain.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah, ia bercerita: “Rasulullah bersabda: ‘Malaikat diciptakan dari nur (cahaya), jin dari nyala api, sedangkan Adam diciptakan dari apa yang telah diterangkan pada kalian.’” (HR. Muslim)

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa bila manusia pertama dijadikan dari tanah, maka jin yang pertama atau iblis berbeda, ia dijadikan dari api (dari nyala api), dari nyala api yang bergabung dengan yang lain; dari nyala api yang berwarna kuningmerah dan kehijau-hijauan. Sebagaimana manusia dijadikan dari tanah yang bermacam-macam.

Ayat-ayat tersebut mengingatkan bahwa Adam diciptakan melalui proses yang pertama dari tanah, kemudian lumpur yang dibentuk selanjutnya dari tanah kering seperti tembikar.

Tafsir Quraish Shihab: Dia menciptakan bangsa manusia dari tanah kering yang tidak dibakar seperti tembikar. Sedangkan bangsa jin diciptakan-Nya dari nyala api yang murni.

Surah Ar-Rahman Ayat 16
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan:”Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Kemenag: Ayat ini menunjukkan nikmat yang berlimpah-limpah yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya baik itu dari kalangan jin maupun manusia, tetapi mengapa mereka mendustakan. Dalam hubungan ayat ini Ibnu ‘Umar berkata: Rasulullah saw membaca Surah ar-Rahman atau surah itu dibacakan kepadanya, lalu beliau bersabda,

“Mengapa saya mendengar jin lebih baik jawabannya kepada Tuhannya dari kalian?” Mereka bertanya, “Apakah itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjelaskan tentang jawaban mereka (jin) apabila saya membaca firman Allah, “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” Maka mereka berkata, “Tidak ada sesuatu pun dari nikmat Tuhan yang kami dustakan.” (Riwayat Ibnu Jarir dari Ibnu ‘Umar).

Tafsir Quraish Shihab: Nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 17
رَبُّ ٱلۡمَشۡرِقَيۡنِ وَرَبُّ ٱلۡمَغۡرِبَيۡنِ

Terjemahan: “Mengajarnya pandai berbicara.

Tafsir Jalalain: رَبُّ ٱلۡمَشۡرِقَيۡنِ (Rabb yang memelihara kedua tempat terbit matahari) yaitu tempat terbitnya di waktu musim dingin dan tempat terbitnya di waktu musim panas وَرَبُّ ٱلۡمَغۡرِبَيۡنِ (dan Rabb yang memelihara kedua tempat terbenamnya) penafsirannya seperti pada yang pertama tadi.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: رَبُّ ٱلۡمَشۡرِقَيۡنِ وَرَبُّ ٱلۡمَغۡرِبَيۡنِ (Rabb yang memelihara kedua tempat terbit matahari dan tempat terbenamnya di musim panas dan musim dingin. Dalam ayat yang lain, Allah berfirman: (maka akur bersumpah dengan Rabb yang mengatur tempat terbit dan terbenamnya matahari, bulan, dan bintang.” (al-Ma’aarij: 40).

Tafsir Kemenag: Ayat ini menjelaskan tentang peredaran matahari dan bulan, Bahwa Dialah yang menciptakan keduanya dan yang mengatur peredaran menurut perhitungan yang tepat. Tuhan memelihara dua tempat terbit, dua tempat terbenam matahari dan musim panas dan musim dingin.

Baca Juga:  Surah Al-Qashash Ayat 78; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Atas perubahan Indeks 687 perubahan itu timbullah musim panas, musim dingin, musim semi dan musim gugur dan menimbulkan pula perubahan udara yang mengakibatkan perubahan pada curah hujan, perubahan pada pohon-pohonan dan tumbuh-tumbuhan serta sungai-sungai. “Dua Timur” dan “Dua Barat” yang tersurat dalam ayat di atas berkaitan dengan bulatnya bentuk bumi. Karena, hanya pada benda yang berbentuk seperti bola dapat terjadi hal yang demikian (dua timur dan dua barat).

Secara kenyataan, memang bumi mempunyai dua titik tempat terbitnya matahari dan dua titik tempat terbenamnya matahari. Di sini, ayat Allah dan ilmu pengetahuan kembali saling bersetuju. Penjelasannya demikian: “Ketika matahari terbit di satu titik di bagian sebelah bumi, maka pada waktu yang sama matahari akan terbenam di bagian sebelah bumi lainnya.

Saat matahari terbenam di sebelah bagian bumi, kembali, pada waktu yang sama, di belahan bumi yang lain, matahari sedang terbit. Dengan demikian, pada kenyataannya, memang betul bahwa ada dua titik dimana matahari terbit, dan pada waktu yang sama, terdapat dua titik dimana matahari terbenam.” Keadaan demikian ini dilaporkan oleh para antariksawan pada saat mereka memandang bumi dari ruang angkasa.

Al-Qur’an menguraikan hal ini sedemikian rupa, seolah-olah konsep bumi yang seperti bola memang sudah dikenal manusia saat itu. Sedangkan sebenarnya tidaklah demikian. Bentuk bumi yang seperti bola juga dapat dilihat pada beberapa ayat lainnya, seperti dua ayat di bawah ini:

Tidakkah engkau memperhatikan, bahwa Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai kepada waktu yang ditentukan. Sungguh, Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan. (Luqman/31: 29) Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia memasukkan malam atas siang dan memasukkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah! Dialah Yang Mahamulia, Maha Pengampun. (az-Zumar/39: 5)

Saat ini, kita dapat melihat pada bola dunia (globe) gambaran tentang bumi yang mempunyai bentuk seperti bola. Sebenarnya, pada 1400 tahun yang lalu, Al-Qur’an telah memberikan indikasi yang demikian. Dua ayat di atas, dengan menggunakan perumpamaan, telah menjelaskan tentang bentuk bumi.

Pada saat masyarakat di Eropa masih mempercayai bahwa bumi itu datar, maka para pelajar di universitas di dunia Islam sudah mempelajari bumi dengan menggunakan bola dunia. Karena Al-Quran diturunkan bukan sebagai ilmu pengetahuan (science), maka di dalamnya tidak ada pernyataan secara khusus bahwa bentuk bumi adalah bulat seperti bola.

Akan tetapi, dari beberapa ayat, manusia mulai berpikir bahwa bentuk bumi seperti bola. Contohnya pada Surah Luqman/31 ayat 29. Ayat lainnya, Surah az-Zumar/39 ayat 5 menunjukkan bagaimana Allah “menggulung” siang dengan malam.

Kata “menggulung” pada ayat di atas adalah terjemahan dari kata Arab “kawwara”, yang digunakan untuk menggambarkan seorang sedang menggulungkan sorban di sekeliling kepalanya. Untuk dapat mengerti lebih jelas mengenai kedua ayat di atas, lakukanlah suatu percobaan di rumah. Alat yang diperlukan adalah bola dunia dan lampu senter. Bawa kedua alat ini ke kamar yang gelap. Sinari bola dunia dengan lampu senter dari salah satu sisinya. Sinar dari lampu senter ini akan berperan seperti sinar matahari. Maka akan tampak bahwa sebagian belahan dunia akan terang, dan belahan lainnya gelap. Lalu putarkan bola dunia secara perlahan, sebagaimana halnya bumi melakukan putaran pada sumbunya. Perhatikan saat bola dunia berputar, maka sinar matahari akan secara menerus mulai menerangi bagian bumi yang semula gelap.

Demikian pula halnya gelap. Ia akan secara perlahan menggantikan terang di bagian bumi yang lain. Ayat di bawah ini juga berbicara mengenai bentuk bumi: Tuhan (yang memelihara) dua timur dan Tuhan (yang memelihara) dua barat. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (ar-Rahman/55: 17-18)

Pada saat manusia mempercayai bahwa bumi datar dan menetap (tidak bergerak), Al-Qur’an sudah mengungkapkan, secara eksplisit maupun implisit, bahwa bumi itu bulat. Tidak hanya bulat, akan tetapi lebih rinci, yaitu bentuknya lebih seperti telur daripada bulat.

Mengenai pemeliharaan tempat terbit dan tenggelamnya matahari. Ketika manusia memercayai bahwa bumi datar dan diam/tidak bergerak, maka Al Qur’an mengungkapkan bahwa bumi itu bulat, melalui firman-Nya dalam ayat tersebut di atas. Karena hanya pada benda berbentuk seperti bola peristiwa tersebut dapat terjadi, dua timur dan dua barat ?

Sayyid Quthub berpendapat mungkin itu tempat terbitnya matahari dan bulan serta tempat terbenamnya matahari dan bulan. Tapi bisa juga maksudnya dua tempat terbit matahari yang berbeda posisinya pada musim panas dan musim dingin. Demikian pula dua tempat terbenamnya.

Sementara Ilmu Pengetahuan berpendapat bahwa manakala matahari terbit di satu titik di belahan bumi, maka pada saat yang sama justru matahari tersebut akan terbenam dilihat dari titik belahan lainnya yang letaknya jauh ke arah timur.

Begitu pula tatkala matahari terlihat terbenam di suatu titik di belahan bumi, maka pada saat yang bersamaan dari belahan bumi yang letaknya jauh ke sebelah barat, matahari tersebut dilihat sedang terbit. Fenomena ini yang diartikan dengan (seolah) ada dua titik di mana matahari terbit dan pada waktu yang sama ada dua titik tempat matahari terbenam. Apapun makna dari pesan tersebut, sesuatu yang penting untuk disyukuri adalah pemeliharaan Allah atas dua timur dan dua barat merupakan bagian dari nikmat-Nya di alam semesta ini? (.

Tafsir Quraish Shihab: Tuhan yang memelihara dua tempat terbitnya matahari, pada musim panas dan musim dingin, dan Tuhan yang memelihara dua tempat terbenamnya matahari pada kedua musim tersebut. (1) (1) Yang dimaksud ayat ini, bisa jadi, adalah dua tempat terbit dan terbenamnya matahari dan bulan.

Dengan demikian, ayat ini menunjuk kepada adanya gejala siang dan malam yang juga terdapat pada surat al-Qashash ayat 71, 72 dan 73. Tetapi, bisa jadi juga, yang dimaksudkan dalam ayat ini hanya matahari saja, karena matahari merupakan sumber kehidupan di planet bumi ini.

Dengan demikian, ayat ini menunjukkan adanya dua tempat terbit dan terbenamnya matahari, yaitu pada musim dingin dan musim panas. Pendapat ini dianut oleh kebanyakan ahli tafsir. Fenomena terbit dan terbenamnya matahari di dua tempat ini disebabkan oleh kecondongan garis edar bumi selama mengedari matahari sekitar 523,5 derajat.

Oleh karena itu belahan utara bumi condong ke arah matahari pada musim panas yang mengakibatkan siang menjadi lebih panjang daripada malam. Dan begitu seterusnya hingga mencapai puncaknya, yaitu ketika matahari terbit dan terbenam di ujung sebelah utara dari garis bujur timur dan barat. Setelah itu kembali sedikit demi sedikit dari hari ke hari hingga mencapai garis lurus pada musim gugur.

Belahan utara bumi ini kemudian mulai berpaling meninggalkan arah matahari yang mengakibatkan malam menjadi lebih panjang daripada siang. Begitu seterusnya, matahari terus bergeser ke arah selatan sampai pada titik paling selatan pada musim dingin. Setelah itu matahari bergeser lagi ke arah utara sedikit demi sedikit, hari demi hari hingga mencapai garis bujur timur dan barat pada musim semi.

Baca Juga:  Surah An Nisa Ayat 48; Seri Tadabbur Al Qur'an

Peredaran yang demikian ini berlaku pula di belahan bumi sebelah selatan. Perbedaannya terletak pada geraknya yang berlawanan. Peredaran yang sedemikian teraturnya itu tentu saja mengandung hikmah dan manfaat yang besar bagi kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Contohnya, sebagai akibat dari perputaran itu, terdapat apa yang kita kenal dengan empat musim yang pada gilirannya memiliki kekhususan sendiri-sendiri (seperti musim tanam, musim panen, dan sebagainya) sehingga memberikan kemudahan kepada manusia, hewan dan tumbuh- tumbuhan dalam beraktifitas.

Surah Ar-Rahman Ayat 18
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah menantang manusia dan jin, nikmat Tuhan yang manakah yang mereka dustakan. Apakah mereka mengingkari hujan dan faedah-faedahnya? Ataukah mereka mengingkari manfaat adanya perubahan musim yang di dalamnya terdapat perubahan tanaman-tanaman yang harus ditanam pada musim panas atau musim dingin? Ataukah mereka mengingkari tentang keistimewaan yang terdapat pada perubahan udara yang mengatur perasaan manusia dan binatang.

Tafsir Quraish Shihab: Lalu, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 19
مَرَجَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ يَلۡتَقِيَانِ

Terjemahan: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu,

Tafsir Jalalain: مَرَجَ (Dia membiarkan) atau melepaskan ٱلۡبَحۡرَيۡنِ (dua laut) yang airnya tawar dan yang asin يَلۡتَقِيَانِ (saling bertemu) menurut pandangan mata.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Ta’ala: مَرَجَ ٱلۡبَحۡرَيۡنِ يَلۡتَقِيَانِ “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu.” Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Maksudnya mengalirkan keduanya.”

Dan mengenai firman-Nya: يَلۡتَقِيَانِ (kemudian bertemu) Ibnu Zaid mengatakan: “Yakni, yang menghalangi kedua lautan itu untuk bertemu, yaitu dengan meletakkan penghalang yang memisahkan antara keduanya.” Dan yang dimaksud dengan firman-Nya: bahraini adalah asin dan manis. Dan yang manis itu adalah sungai-sungai yang mengalir di tengah-tengah umat manusia.

Tafsir Kemenag: Ayat-ayat ini menerangkan bahwa Allah mengalirkan air yang asin dari air yang tawar berdekatan yang kemudian berkumpul menjadi satu, masing-masing tidak mempengaruhi yang lain, yang asin tidak mempengaruhi yang tawar sehingga yang tawar menjadi asin dan yang asin menjadi tawar.

Allah telah membatasi di antara keduanya dengan batas yang telah diciptakan dengan kekuasaan-Nya atau dibatasinya dengan batas yang berupa tanah. Firman Allah: Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus. (al-Furqan/25: 53)

Peristiwa di atas dapat dilihat seperti sungai-sungai yang mengalir dari gunung-gunung yang akhirnya masuk ke dalam laut dan rasanya menjadi asin sedang air sungainya tetap tawar. Menurut kajian ilmiah, laut mempunyai sifat fisika dan kimia yang tidak homogen. Ketidak homogenan ini yang menyebabkan laut bergerak dinamis.

Proses yang memicu pergerakan ini sangat kompleks dan melibatkan tenaga dari luar seperti angin, rotasi bumi, topografi dasar laut maupun hubungan satu sama lain antar laut. Distribusi rapat massa yang tergantung pada tingkat kegaraman, temperatur dan tekanan udara juga mempunyai peranan penting.

Aliran arus permukaan yang hangat dari kawasan tropis mengalir melintasi khatulistiwa menuju Lautan Atlantik Utara dan Laut Norwegia, untuk kemudian mengalami pendinginan. Akibat pendinginan ini terjadi peningkatan rapat massa dan laut bergerak ke bawah sebagai aliran arus bawah dan bergerak menuju Lautan Atlantik Selatan, Lautan Hindia dan menuju Lautan Pasifik.

Gerakan aliran arus bawah ini dikenal sebagai pola sirkulasi thermohalin yang gerakannya sering diidentikan dengan conveyor belt yang menggerakan air, temperatur dan sifat-sifat lainnya dan materimateri di lautan. Apa yang digambarkan di atas adalah gambaran global mengenai pergerakan arus laut.

Dalam kenyataannya pergerakan arus laut adalah lebih kompleks. Sebagai contoh adalah apa yang digambarkan oleh Djamil (2004) yang menyebutkan bahwa di bawah garis khatulistiwa di Lautan Pasifik, Atlantik dan Lautan Hindia terdapat arus yang bergerak melawan arus permukaannya dan dikenal sebagai Pacific Equatorial Undercurrent atau disebut juga sebagai Cromwell Current.

Arus ini bergerak ke timur, yang menentang arus Pacific South Equatorial Current yang bergerak ke barat. Arus yang mempunyai ketebalan 150 m dan panjang 402 km, dan batas atasnya antara 42-91 m, selalu bergerak di bawah khatulistiwa.

Air laut yang bergerak dalam aliran arus Cromwell ini yang bergerak ke timur menentang aliran arus ke barat dan antar keduanya terdapat batas. Batas antara dua lautan ini tidak hanya sebatas wilayah yang disebutkan di atas tetapi juga di temui di Selat Gibraltar, maupun di sebelah timur Jepang.

Tafsir Quraish Shihab: Allah melepas dua lautan, tawar dan asin, saling berdampingan dan bertemu pada permukaannya. Di antara kedua lautan itu terdapat pembatas yang merupakan kekuasaan Allah. Masing-masing tidak melampaui yang lain sehingga tidak bercampur.

Surah Ar-Rahman Ayat 20
بَيۡنَهُمَا بَرۡزَخٌ لَّا يَبۡغِيَانِ

Terjemahan: “antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing.

Tafsir Jalalain: َبَيۡنَهُمَا بَرۡزَخٌ (Antara keduanya ada batas) ada penghalang yang membatasi keduanya dari kekuasaan Allah swt. لَّا يَبۡغِيَانِ (yang tidak dilampaui oleh masing-masing) yang satu melampaui yang lainnya sehingga bercampur.

Tafsir Ibnu Katsir: بَيۡنَهُمَا بَرۡزَخٌ لَّا يَبۡغِيَانِ (antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui, sehingga menimbulkan kerusakan dan menghilangkan sifat yang dikehendaki dari masing-masing lautan tersebut.

Tafsir Kemenag: Ayat-ayat ini menerangkan bahwa Allah mengalirkan air yang asin dari air yang tawar berdekatan yang kemudian berkumpul menjadi satu, masing-masing tidak mempengaruhi yang lain, yang asin tidak mempengaruhi yang tawar sehingga yang tawar menjadi asin dan yang asin menjadi tawar.

Allah telah membatasi di antara keduanya dengan batas yang telah diciptakan dengan kekuasaan-Nya atau dibatasinya dengan batas yang berupa tanah. Firman Allah: Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar dan segar dan yang lain sangat asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tembus. (al-Furqan/25: 53)

Peristiwa di atas dapat dilihat seperti sungai-sungai yang mengalir dari gunung-gunung yang akhirnya masuk ke dalam laut dan rasanya menjadi asin sedang air sungainya tetap tawar. Menurut kajian ilmiah, laut mempunyai sifat fisika dan kimia yang tidak homogen. Ketidak homogenan ini yang menyebabkan laut bergerak dinamis.

Proses yang memicu pergerakan ini sangat kompleks dan melibatkan tenaga dari luar seperti angin, rotasi bumi, topografi dasar laut maupun hubungan satu sama lain antar laut. Distribusi rapat massa yang tergantung pada tingkat kegaraman, temperatur dan tekanan udara juga mempunyai peranan penting.

Baca Juga:  Surah Ar-Rahman Ayat 37-45; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Aliran arus permukaan yang hangat dari kawasan tropis mengalir melintasi khatulistiwa menuju Lautan Atlantik Utara dan Laut Norwegia, untuk kemudian mengalami pendinginan. Akibat pendinginan ini terjadi peningkatan rapat massa dan laut bergerak ke bawah sebagai aliran arus bawah dan bergerak menuju Lautan Atlantik Selatan, Lautan Hindia dan menuju Lautan Pasifik.

Gerakan aliran arus bawah ini dikenal sebagai pola sirkulasi thermohalin yang gerakannya sering diidentikan dengan conveyor belt yang menggerakan air, temperatur dan sifat-sifat lainnya dan materimateri di lautan. Apa yang digambarkan di atas adalah gambaran global mengenai pergerakan arus laut.

Dalam kenyataannya pergerakan arus laut adalah lebih kompleks. Sebagai contoh adalah apa yang digambarkan oleh Djamil (2004) yang menyebutkan bahwa di bawah garis khatulistiwa di Lautan Pasifik, Atlantik dan Lautan Hindia terdapat arus yang bergerak melawan arus permukaannya dan dikenal sebagai Pacific Equatorial Undercurrent atau disebut juga sebagai Cromwell Current.

Arus ini bergerak ke timur, yang menentang arus Pacific South Equatorial Current yang bergerak ke barat. Arus yang mempunyai ketebalan 150 m dan panjang 402 km, dan batas atasnya antara 42-91 m, selalu bergerak di bawah khatulistiwa.

Air laut yang bergerak dalam aliran arus Cromwell ini yang bergerak ke timur menentang aliran arus ke barat dan antar keduanya terdapat batas. Batas antara dua lautan ini tidak hanya sebatas wilayah yang disebutkan di atas tetapi juga di temui di Selat Gibraltar, maupun di sebelah timur Jepang. (.

Tafsir Quraish Shihab: Allah melepas dua lautan, tawar dan asin, saling berdampingan dan bertemu pada permukaannya. Di antara kedua lautan itu terdapat pembatas yang merupakan kekuasaan Allah. Masing-masing tidak melampaui yang lain sehingga tidak bercampur.

Surah Ar-Rahman Ayat 21
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Kemenag: Pada ayat ini Allah swt menantang jin dan manusia agar mengemukakan suatu nikmat yang tidak berasal daripada-Nya. Cobalah mereka bayangkan seandainya air yang asin mempengaruhi yang tawar sehingga menjadi asin pula, maka tentu tidak akan ada air yang dapat diminum manusia dan binatang, tidak ada air untuk menyirami tumbuh-tumbuhan sehingga tumbuh-tumbuhan itu mati, manusia dan binatang pun mati kehausan dan kelaparan.

Tafsir Quraish Shihab: Lalu, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 22
يَخۡرُجُ مِنۡهُمَا ٱللُّؤۡلُؤُ وَٱلۡمَرۡجَانُ

Terjemahan: “Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.

Tafsir Jalalain: يَخۡرُجُ (Keluarlah) dapat dibaca Yakhruju. dan Yukhraju مِنۡهُمَا (daripada keduanya) dari pertemuan di antara keduanya, yakni dari bagian yang airnya asin ٱللُّؤۡلُؤُ وَٱلۡمَرۡجَانُ (mutiara dan marjan) marjan artinya batu yang berwarna merah atau yang dimaksud adalah mutiara yang kecil.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman-Nya: يَخۡرُجُ مِنۡهُمَا ٱللُّؤۡلُؤُ وَٱلۡمَرۡجَانُ (dari keduanya keluar mutiara dan marjan). Yakni dari keduanya. Jika ditemukan pada salah satunya, maka hal itu sudah cukup.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa di dalam laut itu terdapat barang-barang yang sangat berharga, misalnya mutiara dan marjan dari laut yang asin dan tawar. Keduanya dapat dijadikan sebagai perhiasan yang tinggi nilainya dan mahal harganya.

Tafsir Quraish Shihab: Dari kedua lautan itu keluar mutiara dan merjan yang dapat kalian jadikan perhiasan. (1) (1) Lihat catatan kaki ayat 12 surat Fâthir.

Surah Ar-Rahman Ayat 23
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Kemenag: Allah swt menantang jin dan manusia jika ada nikmat yang bukan berasal dari Dia yang berada di laut, tentu jin dan manusia tidak akan mendustakannya, terutama nikmat yang berupa mutiara dan marjan.

Tafsir Quraish Shihab: Lalu, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Surah Ar-Rahman Ayat 24
وَلَهُ ٱلۡجَوَارِ ٱلۡمُنشَـَٔاتُ فِى ٱلۡبَحۡرِ كَٱلۡأَعۡلَٰمِ

Terjemahan: “Dan kepunyaan-Nya lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung.

Tafsir Jalalain: وَلَهُ ٱلۡجَوَارِ (Dan kepunyaan-Nyalah bahtera-bahtera) perahu-perahu ٱلۡمُنشَـَٔاتُ (yang dibangun) yang dibuat فِى ٱلۡبَحۡرِ كَٱلۡأَعۡلَٰمِ (di lautan laksana gunung-gunung) lautan besar yang tingginya bagaikan gunung-gunung.

Tafsir Ibnu Katsir: Dan firman Allah Ta’ala: wa lahul jawaaril mungsya-aatu (dan kepunyaan-Nya-lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya). Yakni kapal-kapal yang berlayar. Fil bahri. Di lautan. Kata “al-mungsyi-aatu” berarti kapal-kapal yang berlayar tinggi.

Kal a’laam (laksana gunung-gunung). Yakni bagaikan gunung-gunung dalam besarnya dan berbagai barang dagangan yang terangkut di dalamnya dari satu tempat ke tempat lain, dari satu daerah ke daerah lain yang di dalamnya terdapat kemashlahatan bagi umat manusia berupa pengambilan berbagai hal yang mereka butuhkan berupa berbagai barang dagangan.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wa lahul jawaaril mungsya-aatu fil bahri kal a’laam (dan kepunyaan-Nya-lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung).

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa Allah-lah yang menguasai bahtera-bahtera yang tinggi layarnya laksana gunung-gunung di lautan, ia berlayar di lautan dan memberikan manfaat kepada manusia guna mengangkut barang-barang dagangan dari suatu negeri ke negeri lain, makanan-makanan yang banyak terdapat pada suatu tempat dan tempat yang lain kekurangan bahan-bahan tersebut, dan lain sebagainya. Dengan demikian, terlaksana pertukaran barang-barang dagangan dan terpenuhi keperluankeperluan manusia tentang makanan dan minuman.

Tafsir Quraish Shihab: Di bawah kekuasaan-Nyalah bahtera-bahtera buatan kalian yang berlayar di samudra. Bahtera-bahtera itu besar bagaikan gunung-gunung yang menjulang.

Surah Ar-Rahman Ayat 25
فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Terjemahan: “Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Tafsir Jalalain: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Ibnu Katsir: فَبِأَىِّ ءَالَآءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ (Maka manakah nikmat-nikmat Rabb kamu berdua yang kamu dustakan?).

Tafsir Kemenag: Allah swt menantang jin dan manusia jika ada nikmat yang bukan berasal dari Dia yang berada di laut, tentu jin dan manusia tidak akan mendustakannya, terutama nikmat yang berupa mutiara dan marjan.

Tafsir Quraish Shihab: Lalu, nikmat Tuhan yang manakah yang kalian ingkari?

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Ar-Rahman Ayat 14-25 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S