Surah Asy-Syura Ayat 16-18; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syura Ayat 16-18

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syura Ayat 16-18 ini, menerangkan bahwa orang-orang yang masih membantah kebenaran agama Allah, sekalipun agama itu telah diterima baik oleh masyarakat, akan sia-sia usaha dan bantahan mereka.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Mereka itu dimurkai Allah karena keberanian mereka mengingkari kebenaran agama Islam, mereka akan diazab di hari kemudian karena keangkuhan mereka meninggalkan agama yang hak yang dapat dibuktikan kebenarannya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syura Ayat 16-18

Surah Asy-Syura Ayat 16
وَٱلَّذِينَ يُحَآجُّونَ فِى ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مَا ٱسۡتُجِيبَ لَهُۥ حُجَّتُهُمۡ دَاحِضَةٌ عِندَ رَبِّهِمۡ وَعَلَيۡهِمۡ غَضَبٌ وَلَهُمۡ عَذَابٌ شَدِيدٌ

Terjemahan: Dan orang-orang yang membantah (agama) Allah sesudah agama itu diterima maka bantahan mereka itu sia-sia saja, di sisi Tuhan mereka. Mereka mendapat kemurkaan (Allah) dan bagi mereka azab yang sangat keras.

Tafsir Jalalain: وَٱلَّذِينَ يُحَآجُّونَ (Dan orang-orang yang membantah) agama فِى ٱللَّهِ (Allah) maksudnya, membantah Nabi-Nya مِنۢ بَعۡدِ مَا ٱسۡتُجِيبَ لَهُۥ (sesudah agama itu diterima) sesudah diimani dan nyatanya mukjizat yang dibawanya, yang dimaksud dengan mereka adalah orang-orang Yahudi,

حُجَّتُهُمۡ دَاحِضَةٌ (maka bantahan mereka itu sia-sia saja) atau batil عِندَ رَبِّهِمۡ وَعَلَيۡهِمۡ غَضَبٌ وَلَهُمۡ عَذَابٌ شَدِيدٌ (di sisi Rabb mereka. Mereka mendapat kemurkaan Allah dan bagi mereka azab yang sangat keras.).

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman mengancam orang-orang yang menghalangi orang yang beriman dari jalan Allah: وَٱلَّذِينَ يُحَآجُّونَ فِى ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مَا ٱسۡتُجِيبَ لَهُۥ (“Dah orang-orang yang membantah [agama] Allah sesudah agama itu diterima.”) maksudnya mereka membatah kaum mukminin yang memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya untuk mereka halangi dari jalan hidayah yang mereka tempuh.

حُجَّتُهُمۡ دَاحِضَةٌ عِندَ رَبِّهِمۡ (“Maka bantahan mereka itu sia-sia saja di sisi Rabb mereka.”) yaitu, bathil di sisi Allah. وَعَلَيۡهِمۡ غَضَبٌ (“Mereka mendapat kemurkaan.”) dari-Nya. وَلَهُمۡ عَذَابٌ شَدِيدٌ (“Dan bagi mereka adzab yang sangat keras.”) yakni pada hari kiamat.

Ibnu ‘Abbas dan Mujahid berkata: “Mereka membantah kaum mukminin setelah mereka memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya untuk mereka palingkan dari hidayah dan mereka berharap kembali jahiliyyah.” Qatadah berkata:

“Mereka adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berkata: ‘Agama kami lebih baik dari agama kalian dan Nabi kami sebelum Nabi kalian, untuk itu kami lebih baik daripada kalian dan lebih utama di sisi Allah dari kalian.’ Sesungguhnya mereka telah berdusta dalam hal tersebut.”

Tafsir Kemenag: Dalam Ayat ini Allah menerangkan bahwa orang-orang yang masih membantah kebenaran agama Allah, sekalipun agama itu telah diterima baik oleh masyarakat, akan sia-sia usaha dan bantahan mereka. Mereka itu dimurkai Allah karena keberanian mereka mengingkari kebenaran agama Islam, mereka akan diazab di hari kemudian karena keangkuhan mereka meninggalkan agama yang hak yang dapat dibuktikan kebenarannya.

Diriwayatkan bahwa orang-orang Yahudi berkata kepada orang-orang Mukmin, “Wahai orang-orang Mukmin! Kamu sekalian telah mengatakan bahwa mengambil dan menerima yang sudah disepakati, lebih baik daripada mengambil dan menerima yang sudah diperselisihkan.

Kenabian Musa dan kitab Taurat-nya telah diterima dan disepakati kebenarannya sedangkan kenabian Muhammad masih diperselisihkan dan dipersengketakan. Jadi agama Yahudilah yang pantas dan layak diambil dan diterima.”

Untuk melumpuhkan alasan mereka itu, Allah mengemukakan hujjah bahwa kewajiban beriman dan mempercayai kebenaran Musa adalah karena adanya mukjizat yang diberikan Allah kepadanya yang menunjukkan dan membuktikan kebenarannya.

Baca Juga:  Surah Al-Kahfi Ayat 71-73; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Beberapa mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw bisa disaksikan sendiri oleh orang-orang Yahudi. Maka wajiblah atas kita semua mengakui dan mempercayai kenabian Muhammad saw itu.

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang yang memperdebatkan agama Allah setelah seruannya yang jelas itu diterima oleh manusia, alasan mereka tidak bisa diterima di sisi Allah. Mereka akan mendapatkan murka besar karena sifat kafir mereka dan mereka ditunggu oleh azab yang menyakitkan.

Surah Asy-Syura Ayat 17
ٱللَّهُ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ وَٱلۡمِيزَانَ وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّ ٱلسَّاعَةَ قَرِيبٌ

Terjemahan: Allah-lah yang menurunkan kitab dengan (membawa) kebenaran dan (menurunkan) neraca (keadilan). Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu (sudah) dekat?

Tafsir Jalalain: ٱللَّهُ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلۡكِتَٰبَ (Allahlah yang menurunkan Kitab) Alquran بِٱلۡحَقِّ (dengan membawa kebenaran) lafal Bil Haqqi berta’alluq kepada lafal Anzala وَٱلۡمِيزَانَ (dan neraca), keadilan. وَمَا يُدۡرِيكَ (Dan tahukah kamu) apakah kamu tahu لَعَلَّ ٱلسَّاعَةَ (boleh jadi kiamat itu) yakni kedatangannya قَرِيبٌ (sudah dekat?) lafal La’alla amalnya di-ta’alluq-kan kepada Fi’il dan lafal-lafal sesudahnya berkedudukan sebagai dua Maf’ul.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman: ٱللَّهُ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّ (“Allah yang menurunkan kitab dengan [membawa] kebenaran.”) yaitu kitab-kitab yang diturunkan di sisi-Nya kepada para Nabi-Nya. وَٱلۡمِيزَانَ (“Dan [menurunkan] neraca”) yaitu keadilan. Itulah yang dikatakan oleh Mujahid dan Qatadah.

Ayat ini seperti firman Allah yang artinya: “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca [keadilan], supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (ar-Rahmaan: 7-9)

Firman Allah: وَمَا يُدۡرِيكَ لَعَلَّ ٱلسَّاعَةَ قَرِيبٌ (“Dan tahukah kamu, boleh jadi hari kiamat itu [sudah] dekat?”) di dalamnya mengandung dorongan dan ancaman terhadapnya, serta zuhud terhadap dunia.

Tafsir Kemenag: Dalam Ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada nabi-nabi-Nya, yang memuat kebenaran yang tak diragukan, jauh dari kebatilan dan semuanya mengandung kebaikan.

Dia memberikan perintah untuk berbuat adil untuk menjadi acuan menentukan hukuman dalam mengadili orang-orang yang dituduh bersalah dan menghukum mereka dengan hukuman yang telah ditetapkan di dalam Kitab-Nya. Firman Allah:

Sungguh, Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan bukti-bukti yang nyata dan kami turunkan bersama mereka kitab dan neraca (keadilan) agar manusia dapat berlaku adil. (al-hadid/57: 25)

Penutup Ayat ini mendorong kita berbuat baik dan adil untuk kebahagiaan ukhrawi dan menjauhi godaan duniawi. Karena tidak diketahui kapan dunia ini kiamat, maka tentunya kita harus patuh dan taat mengikuti petunjuk Al- Qur’an, selalu berbuat adil di antara sesama manusia, mengamalkan apa-apa yang diperintahkan, selalu waspada terhadap kemungkinan panggilan Allah yang datang dengan tiba-tiba, lalu tidak ada lagi kesempatan untuk berbuat baik, merugilah dia, dan di hari Kiamat nanti dia akan menyesal karena menyia-nyiakan kesempatan yang ada untuk beramal baik. Sabda Nabi saw:

Rasulullah saw bersabda,”Tidak seorang pun yang meninggal dunia melainkan ia menyesal.”Para sahabat bertanya, Apakah penyesalan mereka wahai Rasulullah?” Nabi menjawab,”Jika ia seorang yang berbuat baik maka ia menyesal karena kebaikannya tidak bertambah lagi. Jika ia seorang yang tidak baik maka ia menyesal karena tidak sempat melepaskan dirinya dari kejahatan itu. (RiwAyat at-Tirmidhi).

Tafsir Quraish Shihab: Allahlah yang menurunkan kitab suci Muhammad dan kitab-kitab suci para rasul sebelumnya yang berisikan kebenaran dan keadilan. Dan kamu tidak tahu, jangan-jangan hari kiamat itu sudah dekat.

Baca Juga:  Surah Asy-Syura Ayat 32-35; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Surah Asy-Syura Ayat 18
يَسۡتَعۡجِلُ بِهَا ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِهَا وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مُشۡفِقُونَ مِنۡهَا وَيَعۡلَمُونَ أَنَّهَا ٱلۡحَقُّ أَلَآ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُمَارُونَ فِى ٱلسَّاعَةِ لَفِى ضَلَٰلٍۭ بَعِيدٍ

Terjemahan: Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar (akan terjadi). Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah tentang terjadinya kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.

Tafsir Jalalain: يَسۡتَعۡجِلُ بِهَا ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِهَا (Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan) mereka mengatakan, “Kapan hari kiamat itu akan datang,” demikian itu karena mereka menduga bahwa hari kiamat tidak akan datang.

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مُشۡفِقُونَ (dan orang-orang yang beriman, merasa takut) merasa khawatir مِنۡهَا وَيَعۡلَمُونَ أَنَّهَا ٱلۡحَقُّ أَلَآ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُمَارُونَ (kepadanya dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar akan terjadi Ketahuilah bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah) mendebat فِى ٱلسَّاعَةِ لَفِى ضَلَٰلٍۭ بَعِيدٍ (tentang terjadinya hari kiamat itu benar-benar dalam kesesatan yang jauh.).

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: يَسۡتَعۡجِلُ بِهَا ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِهَا (“Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan.”) yakni mereka mengatakan: “Kapan janji itu akan datang, jika kalian termasuk orang-orang yang benar?” mereka mengatakan demikian hanya karena sikap mendustakan, menganggap mustahil dan membangkang.

وَٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مُشۡفِقُونَ مِنۡهَا (“dan orang-orang yang beriman merasa takut kepadanya.”) takut dan ngeri dengan kejadiannya. وَيَعۡلَمُونَ أَنَّهَا ٱلۡحَقُّ (“dan mereka yakin bahwa kiamat itu adalah benar.”) akan terjadi dan tidak mustahil, maka mereka pun mempersiapkan diri dan beramal menghadapinya.

Telah diriwayatkan dari berbagai jalan yang mencapai derajat mutawathir dalam kitab Shahih, Hasan, Sunan dan Musnad, dimana sebagian lafdznya adalah, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw. dengan suara yang lantang di waktu beliau bepergian dengan menyeru:

“Hai Muhammad.” Maka Rasulullah saw. menjawab dengan suara yang sama: “Kemarilah.” Laki-laki itu bertanya: “Kapan hari kiamat itu?” Rasulullah saw. menjawab: “Celaka engkau! Itu pasti terjadi. Apa yang engkau persiapkan untuk menghadapinya?” laki-laki itu menjawab: “Cinta [kepada] Allah dan Rasul-Nya.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Engkau bersama siapa yang engkau cintai.”

Maka beliau bersabda di dalam sebuah hadits: “Seseorang itu bersama dengan siapa yang dicintainya.” Hadits ini mutawathir, tidak mustahil.
Tujuannya, beliau tidak menjawab tentang waktu hari kiamat, akan tetapi beliau memerintahkan untuk mempersiapkan diri guna menghadapinya.

Firman Allah: أَلَآ إِنَّ ٱلَّذِينَ يُمَارُونَ فِى ٱلسَّاعَةِ (“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya orang-orang yang membantah terhadap terjadinya kiamat itu.”) yakni membantah keberadaannyadan menolak terjadinya. لَفِى ضَلَٰلٍۭ بَعِيدٍ (“Benar-benar dalam kesesatan yang jauh.”) yakni, dan kejahilan yang nyata, karena Rabb yang menciptakan langit dan bumi tentu saja Mahakuasa untuk menghidupkan orang-orang yang mati.

Sebagaimana firman Allah yang artinya: “Dan Dia-lah yang menciptakan [manusia] dari permulaan, kemudian mengembalikan [menghidupkan]nya kembali, dan menghidupkannya kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya.” (ar-Ruum: 27)

Tafsir Kemenag: DiriwAyatkan bahwa pernah di dalam suatu kesempatan Nabi Muhammad saw menyebut-nyebut hari Kiamat dan pada waktu itu ada orang-orang musyrik. Maka mereka bertanya dengan nada mengejek dan mendustakan kedatangan hari Kiamat itu, “Kapankah hari Kiamat itu?” Maka turunlah Ayat ini, riwayat di atas menceritakan bahwa orang-orang yang tidak percaya akan terjadinya hari Kiamat itu mengejek nabi dan ingkar kepadanya. Mereka menginginkan supaya hari Kiamat itu segera datang untuk membuktikan siapakah yang benar, mereka atau Muhammad dan sahabatnya yang benar?

Baca Juga:  Surah Asy-Syura Ayat 1-6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Berbeda halnya dengan orang-orang Mukmin. Orang-orang Mukmin merasa takut dan cemas akan kedatangan hari Kiamat. Mereka belum tahu bagaimana nasibnya pada hari itu nanti. Mereka harus mempertanggungjawabkan amal perbuatan mereka di dunia dan menerima balasan baik dan buruk dari perbuatan mereka. Sejalan dengan Ayat ini firman Allah:

Dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhannya. (al-Mu’minun/23: 60)

Ayat ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa orang-orang yang membantah dan menolak akan adanya hari Kiamat adalah orang-orang yang sesat, salah jalan, jauh dari kebenaran.

Karena percaya pada hari Kiamat merupakan salah satu rukun iman maka menafikan hari Kiamat berarti menafikan kebenaran Allah sebab keadilan yang hak hanya diperoleh manusia pada hari Kiamat, banyak sekali terjadi ketidakadilan di muka bumi ini, dimana lagi mereka yang terzalimi akan memperoleh hak-haknya kalau bukan di pengadilan Allah.

Orang yang menginginkan hari akhirat dalam arti mempercayainya dan bersiap-siap menghadapinya adalah orang-orang yang memiliki visi jauh ke depan, sedangkan orang-orang yang mengingkari hari Kiamat yang menganggap kehidupannya berakhir dengan kematiannya adalah orang-orang yang visi hidupnya sempit. Mereka tidak akan pernah merasakan kepuasan rohani, karena sibuk mengejar kenikmatan duniawi.

Salah satu ciri yang membedakan antara ajaran agama dan pemikiran manusia yang pernah diterapkan manusia di dunia ini adalah adanya kepercayaan pada hari akhirat atau hari Kiamat, karena bisa dikatakan inti dari iman kepada Allah, adalah iman kepada hari akhirat, tempat dan waktu dimana manusia harus mempertanggungjawabkan semua amal perbuatannya di dunia. Berita tentang hari Kiamat dan dibangkitkannya kembali orang-orang yang sudah mati itu pasti menjadi kenyataan.

Allah merupakan pencipta langit dan bumi, Dia mampu dan kuasa pula menghancurkannya serta menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati. Sebagaimana firman Allah:

Dan Dialah yang memulai penciptaan, kemudian mengulanginya kembali, dan itu lebih mudah bagi-Nya. (ar-Rum/30: 27).

Tafsir Quraish Shihab: Dengan maksud mengejek, orang-orang yang tidak mempercayai hari kiamat, menginginkannya untuk dipercepat. Sedangkan orang-orang yang mempercayainya, takut dan tidak menginginkannya segera terjadi.

Mereka menyadari bahwa hal itu merupakan kepastian yang tidak mengandung keraguan. Allah pun, setelah itu, mengingatkan bahwa orang-orang yang memperdebatkan kejadiannya betul-betul jauh sesat dari kebenaran.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syura Ayat 16-18 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S