Surah Asy-Syura Ayat 29-31; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Asy-Syura Ayat 29-31

Pecihitam.org – Kandungan Surah Asy-Syura Ayat 29-31 ini, Allah menerangkan bahwa sebagian dari tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya ialah diciptakan-Nya langit dan bumi serta apa yang tersebar pada keduanya seperti binatang yang melata dan bergerak termasuk manusia, jin, dan semua hewan dengan berbagai bentuk dan corak serta warnanya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Allah kuasa mengumpulkan manusia di hari kemudian, baik yang datang lebih dulu maupun yang datang kemudian, begitu juga makhluk yang lain; di Padang Mahsyar kemudian Dia akan memberikan balasan kepada mereka dengan seadil-adilnya.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Asy-Syura Ayat 29-31

Surah Asy-Syura Ayat 29
وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦ خَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا مِن دَآبَّةٍ وَهُوَ عَلَىٰ جَمۡعِهِمۡ إِذَا يَشَآءُ قَدِيرٌ

Terjemahan: “Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.

Tafsir Jalalain: وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦ خَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ (Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan) menciptakan وَمَا بَثَّ (apa yang Dia sebarkan) Dia sebar ratakan فِيهِمَا مِن دَآبَّةٍ (pada keduanya, yaitu berupa makhluk yang melata) pengertian Ad-Dabbah ialah makhluk yang menempati bumi, yaitu manusia dan lain-lainnya.

وَهُوَ عَلَىٰ جَمۡعِهِمۡ (Dan Dia untuk mengumpulkan semuanya) mengumpulkan semua makhluk untuk dihadapkan kepada-Nya إِذَا يَشَآءُ قَدِيرٌ (Maha Kuasa jika dikehendaki-Nya) Dhamir Hum yang terdapat pada lafal Jam’ihim lebih memprioritaskan makhluk yang berakal daripada makhluk lainnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman: وَمِنۡ ءَايَٰتِهِۦ (“dan di antara ayat-ayat-Nya.”) yakni yang menunjukkan keagungan-Nya, keperkasaan-Nya yang besar dan kekuasaan-Nya yang memaksa, خَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَثَّ فِيهِمَا (“Ialah menciptakan langit dan bumi dan Dia sebarkan di antara keduanya.”) yaitu Dia menciptakan di antara keduanya yaitu langit dan bummii, مِن دَآبَّةٍ (“makhluk-makhluk yang melata.”) mencakup para malaikat, manusia, jin dan seluruh hewan dengan bentuk, warna, bahasa, tabiat, jenis dan macam-macam mereka. Dia menebarkan mereka di seluruh pelosok langit dan bumi.

وَهُوَ (“Dan Dia.”) di samping seluruhnya ini, عَلَىٰ جَمۡعِهِمۡ إِذَا يَشَآءُ قَدِيرٌ (“Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.”) yaitu pada hari kiamat, Dia mengumpulkan makhluk pertama dan makhluk terakhir serta seluruhnya di satu padang, dimana orang yang menyeru akan didengar mereka, dan pandangan mata akan menjangkau mereka. Lalu Dia menghukum mereka dengan hukum-Nya yang adil dan benar.

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa sebagian dari tanda-tanda kekuasaan dan kebesaran-Nya ialah diciptakan-Nya langit dan bumi serta apa yang tersebar pada keduanya seperti binatang yang melata dan bergerak termasuk manusia, jin, dan semua hewan dengan berbagai bentuk dan corak serta warnanya.

Allah kuasa mengumpulkan manusia di hari kemudian, baik yang datang lebih dulu maupun yang datang kemudian, begitu juga makhluk yang lain; di Padang Mahsyar kemudian Dia akan memberikan balasan kepada mereka dengan seadil-adilnya. Sebagaimana firman Allah:

Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami perjalankan gunung-gunung dan engkau akan melihat bumi itu rata dan Kami kumpulkan mereka (seluruh manusia), dan tidak Kami tinggalkan seorang pun dari mereka. (al-Kahf/18: 47)

Apabila diperhatikan ayat di atas, kita merasa bahwa Allah sedang menjelaskan mengenai adanya makhluk hidup lain di luar angkasa. Sebelum membahas ayat di atas, perlu disimak terlebih dahulu ayat terkait di bawah: Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya (sebagai rahmat) dari-Nya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang bepikir. (al-Jatsiyah/45: 13)

Ayat di atas menyebutkan kata “menundukkan”. Kata tersebut dapat diinterpretasikan bahwa manusia dapat memanfaatkan benda-benda langit, seperti planet dan bintang. Contohnya adalah bulan dan matahari yang mempunyai orbit yang teratur.

Baca Juga:  Tadabbur Al Qur'an Surah An Nisa Ayat 7-11

Keteraturan orbit ini digunakan manusia untuk membuat penanda waktu atau penanggalan dan hal-hal lain untuk keperluan hidupnya. Contoh lain adalah mengenai datangnya besi dari luar angkasa yang secara jelas dinyatakan pada Surah al-hadid/57: 25.

Secara jelas disebutkan bahwa Allah telah menciptakan galaksi, planet dan bintang dan benda langit lainnya, dan menyebarkan padanya, di antaranya, makhluk hidup sebagai hasil ciptaan-Nya. Artinya, sangatlah memungkinkan bahwa Dia mengirimkan ciptaan dari satu planet ke planet lainnya.

Demikian pula halnya dengan dua ayat lain yang membahas mengenai binatang ternak yang diturunkan dari ruang angkasa (al-An’am/6:143 dan az-Zumar/39: 6) Dari sudut ilmu pengetahuan, banyak pembuktian mengarah pada apa yang dijelaskan Al-Qur’an.

Pada tanggal 7 Agustus 1996, para peneliti NASA (badan antariksa Amerika Serikat) mengumumkan akan adanya temuan kehidupan mikroskopis di planet Mars tiga miliar tahun yang lalu. Walaupun banyak yang menentang teori ini, namun temuan pesawat ruang angkasa Galileo akan adanya laut yang berwarna merah di bawah lapisan es di satelit planet Jupiter, Europe, sangat menjanjikan.

Dalam waktu dekat akan terjawab pertanyaan tertua yang selalu tertanam dalam benak manusia: “Apakah ada makhluk hidup di atas sana? Ataukah kita yang ada di dunia ini adalah satu-satunya makhluk hidup di alam raya?” Apabila memang ada kehidupan di atas sana, maka di manakah mereka dapat ditemukan.

Tebakan kita pertama adalah di planet-planet yang ada di sana. Di “bumi-bumi” yang ada pada galaksi-galaksi yang ada di alam semesta. Ini dicerminkan secara Quranik pada Surah ath-thalaq/65: 12 yang menyatakan, “Allah yang menciptakan tujuh langit dan bumi seperti mereka ……” Dengan demikian, karena terdapat jutaan galaksi, maka Allah juga menciptakan miliaran bumi, tersebar di alam semesta. Sedangkan kata “bumi” yang digunakan di sini menunjukkan planet yang mempunyai kehidupan.

Dengan berpegang pada pernyataan Al-Qur’an dan sedikit bukti yang diperoleh ilmu pengetahuan, kita sampai pada satu kesimpulan bahwa makhluk di luar angkasa memang ada. Pertanyaan selanjutnya, apakah kita akan dapat menemukannya?

Allah memberikan indikasinya pada Surah Fussilat/41: 53 “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (ayat-ayat) Kami di segenap ufuk ….”. Indikasi ini memberikan harapan bahwa pada suatu waktu kita akan dapat bertemu dengan kehidupan extraterestrial, termasuk di dalamnya makhluk yang cerdas.

Tafsir Quraish Shihab: Di antara bukti-bukti kekuasaan Allah dalam mencipta segala seuatu, adalah penciptaan langit dan bumi dalam aturan yang sangat teliti ini dan penciptaan semua binatang yang kelihatan dan disebarluaskan di dalam keduanya.

Allah yang Mahakuasa dalam mencipta semua yang tersebut tadi, Mahakuasa juga untuk mengumpulkan orang-orang yang berkewajiban melakukan ajaran agama pada waktu pembangkitan yang Dia tentukan, untuk diberi balasan.

Surah Asy-Syura Ayat 30
وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٍ

Terjemahan: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Tafsir Jalalain: وَمَآ أَصَٰبَكُم (Dan apa saja yang telah menimpa kalian) khithab ayat ini ditujukan kepada orang-orang mukmin وَمَآ أَصَٰبَكُم (berupa musibah) berupa malapetaka dan kesengsaraan فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ (maka adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri) artinya, sebab dosa-dosa yang telah kalian lakukan sendiri. Diungkapkan bahwa dosa-dosa tersebut dikerjakan oleh tangan mereka, hal ini mengingat, bahwa kebanyakan pekerjaan manusia itu dilakukan oleh tangan,

وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٍ (dan Allah memaafkan sebagian besar) dari dosa-dosa tersebut, karena itu Dia tidak membalasnya. Dia Maha Mulia dari menduakalikan pembalasan-Nya di akhirat. Adapun mengenai musibah yang menimpa kepada orang-orang yang tidak berdosa di dunia, dimaksudkan untuk mengangkat derajatnya di akhirat kelak.

Baca Juga:  Surah Al-Anfal Ayat 19; Seri Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَمَآ أَصَٰبَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ (“Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.”) apa saja musibah yang menimpa kalian hai manusia, maka hanyalah disebabkan kesalahan-kesalahan yang kalian lakukan.

وَيَعۡفُواْ عَن كَثِيرٍ (“Dan Allah memaafkan sebagian besar.”) yakni dari kesalahan-kesalahan kalian. Maka Dia tidak membalas kalian dengan kesalahan pula, bahkan Dia memaafkannya. “Jikalau Allah menghukum manusia karena kedhalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu makhluk pun dari makhluk yang melata.” (an-Nahl: 61)

Dinyatakan dalam sebuah hadits shahih: “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada sesuatupun yang menimpa seorang mukmin, berupa kesalahan, penyakit, kesedihan dan duka cita, melainkan Allah akan menghapuskan dari dosa-dosanya, sampai-sampai duri yang menusuk kakinya [sekalipun].”

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa apa yang menimpa manusia di dunia berupa bencana penyakit dan lain-lainnya adalah akibat perbuatan mereka sendiri, perbuatan maksiat yang telah dilakukannya dan dosa yang telah dikerjakannya sebagaimana sabda Nabi saw: ‘Ali berkata,

“Maukah kalian aku beritahukan mengenai ayat yang sangat utama dalam Al-Qur’an sebagaimana Nabi saw sampaikan kepada kami.(Nabi saw membacakan firman Allah)”Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak(dari kesalahan-kesalahannya).”

Wahai ‘Ali , aku akan menjelaskan ayat ini kepadamu, “Musibah apa pun yang menimpa kamu” yaitu dari penyakit dan siksaan atau bencana di dunia, “disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri” (Riwayat Ahmad) Tidaklah suatu keletihan, penyakit, kesusahan, kesedihan, kezaliman, kesempitan, bahkan sepotong duri pun yang menusuk seorang muslim, melainkan dengan hal itu Allah menghapus dosa-dosanya. (Riwayat al-Bukhari)

Datangnya penyakit atau musibah adalah disebabkan ulah manusia itu sendiri. Tetapi di sisi lain penyakit atau musibah itu dapat menghapus dosa seperti hadis di atas. Hal itu tergantung kepada cara manusia menyikapi, apakah dengan bersabar atau berputus asa.

Ayat ini ditutup dengan satu ketegasan bahwa Allah mengampuni sebagian besar dari kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat hamba-Nya sebagai satu rahmat besar yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya, karena kalau tidak, niscaya manusia akan dihancurkan sesuai dengan timbunan dosa yang telah diperbuat mereka, sebagaimana firman Allah:

Dan kalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ada yang ditinggalkan-Nya (di bumi) dari makhluk yang melata sekalipun, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai waktu yang sudah ditentukan. (an-Nahl/16: 61) Dan firman-Nya:

Dan sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu pun makhluk bergerak yang bernyawa di bumi ini, tetapi Dia menangguhkan (hukuman)nya, sampai waktu yang sudah ditentukan. (Fathir/35: 45).

Tafsir Quraish Shihab: Musibah apa saja yang menimpa diri kalian, dan yang tidak menyenangkan kalian, merupakan akibat oleh perbuatan maksiat kalian. Apa saja yang di dunia telah dimaafkan atau diberi hukuman, Allah terlalu suci untuk menghukum hal itu lagi di akhirat. Dengan demikian, Dia tersucikan ari berbuat kezaliman dan memiliki sifat kasih sayang yang besar.

Surah Asy-Syura Ayat 31
وَمَآ أَنتُم بِمُعۡجِزِينَ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ مِن وَلِىٍّ وَلَا نَصِيرٍ

Terjemahan: “Dan kamu tidak dapat melepaskan diri (dari azab Allah) di muka bumi, dan kamu tidak memperoleh seorang pelindung dan tidak pula penolong selain Allah.

Tafsir Jalalain: وَمَآ أَنتُم (Dan kalian tidak dapat) hai orang-orang musyrik بِمُعۡجِزِينَ (melepaskan diri) melarikan diri dari azab Allah فِى ٱلۡأَرۡضِ (di muka bumi) maksudnya, kalian tidak akan dapat meloloskan diri dan menghindar dari azab-Nya itu وَمَا لَكُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ (dan kalian tidak memperoleh selain Allah) مِن وَلِىٍّ وَلَا نَصِيرٍ (seorang pelindung pun dan tidak pula seorang penolong) yang dapat menolak azab Allah dari kalian.

Baca Juga:  Surah Asy-Syura Ayat 44-46; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Ibnu Katsir: Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa ‘Ali berkata: Maukah kuberitahukan kepada kalian ayat dalam Kitabullah yang paling utama, dimana Rasulullah saw. bercerita kepada kami tentang hal itu. Beliau bersabda:

“’Dan apa saja musibah yang menimpamu, maka itu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendir dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahanmu.’ Dan aku akan menafsirkannya untukmu hai Ali: Tidak ada satupun yang menimpamu, berupa penyakit, hukuman atau cobaan di dunia, maka disebabkan oleh tangan kalian sendiri.

Sedangkan Allah Maha penyantun untuk menimpakan lagi hukuman-Nya di akhirat. Dan apa saja yang Allah maafkan di dunia, maka Allah Mahapemurah untuk kembali [menghukumnya] setelah memberikan maaf-Nya.’” (Demikian pula diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Marwan bin Mu’awiyah dan ‘Abdah, dari Abu Sakhilah, bahwa ‘Ali ra. berkata, lalu dia menyebutkannya secara marfu’)

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jika dosa seorang hamba begitu banyak, sedangkan dia tidak memiliki sesuatu yang dapat menghapusnya, maka Allah akan mengujinya dengan kedukaan agar dapat menghapusnya.”

Tafsir Kemenag: Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa manusia itu tidak akan dapat melepaskan diri dan tidak akan dapat mengelak dari azab Allah di dunia ini dan di mana pun mereka berada. Mereka tidak akan memperoleh pelindung, karena hanya Allah yang akan dapat melindungi mereka dari azab yang akan menimpa mereka akibat maksiat yang telah diperbuatnya.

Mereka tidak akan mendapat penolong selain dari Allah apabila mereka mendapat azab. Oleh karena itu, selayaknya manusia menjauhkan diri dari maksiat dan tidak menyalahi perintah-Nya karena tidak ada seorang pun yang dapat menolak azab Allah, apabila Dia telah menjatuhkan azab kepada hamba-Nya.

Kalau manusia yang bergelimang dosa itu tidak diazab di dunia, jangan dikira bahwa itu adalah karena kekuasaan atau keperkasaan seseorang, tetapi adalah karena Allah menghendaki yang demikian itu agar mereka mendapat siksaan lebih keras dan lebih pedih di akhirat, sebagaimana firman Allah:

Dan jangan sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka lebih baik baginya. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah; dan mereka akan mendapat azab yang menghinakan. (Ali ‘Imran/3: 178).

Tafsir Quraish Shihab: Kalian semua tidak akan mampu membuat Allah tidak kuasa menurunkan musibah-musibah di dunia sebagai hukuman atas perbuatan maksiat kalian, sampai pun jika kalian lari ke mana saja di penjuru bumi ini. Kalian tidak akan menemukan siapa saja selain Allah yang dapat memberikan kasih sayang dan dapat menolong pada saat diturunkannya bencana.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Asy-Syura Ayat 29-31 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S