Surah Az-Zukhruf Ayat 15-20; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Ash-Zukhruf Ayat 15-20

Pecihitam.org – Kandungan Surah Az-Zukhruf Ayat 15-20 ini, menerangkan bahwa kaum musyrik telah berbuat empat kesalahan besar yang menunjukkan kekafiran mereka. Pertama, dikatakannya bahwa Allah mempunyai anak. Kedua, anak-anak Allah perempuan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dan ketiga, anak-anak Allah itu adalah malaikat, padahal malaikat adalah hamba yang dimuliakan-Nya, yang senantiasa menyembah Tuhan siang dan malam, dan tidak pernah menyalahi apa yang diperintahkan kepadanya. Malaikat yang bersifat demikian dikatakannya perempuan. Keempat, anggapan mereka bahwa mereka menjadi musyrik karena ditakdirkan oleh Allah.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zukhruf Ayat 15-20

Surah Az-Zukhruf Ayat 15
وَجَعَلُواْ لَهُۥ مِنۡ عِبَادِهِۦ جُزۡءًا إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَكَفُورٌ مُّبِينٌ

Terjemahan: “Dan mereka menjadikan sebahagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bahagian daripada-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata (terhadap rahmat Allah).

Tafsir Jalalain: وَجَعَلُواْ لَهُۥ مِنۡ عِبَادِهِۦ جُزۡءًا ِۦُ (Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian daripada-Nya) karena mereka telah mengatakan, bahwa malaikat-malaikat itu adalah anak-anak perempuan Allah. Dikatakan Juz’an atau bagian, karena anak itu adalah bagian dari orang tuanya; padahal hakikatnya malaikat-malaikat itu adalah hamba-hamba Allah swt.

إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ (Sesungguhnya manusia) yang telah mengatakan perkataan tadi لَكَفُورٌ مُّبِينٌ (benar-benar pengingkar yang nyata) yang jelas dan nyata kekafirannya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman memberikan kabar tentang apa yang dibuat-buat dan didustakan oleh orang-orang musyrik. Demikian pula mereka telah menjadikan di antara dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan, kemudia mereka menganggap hina dan rendah jenis perempuan, sebagaimana firman(“Apakah [patut] untukmu [anak] laki-laki dan untuk Allah [anak] perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.”)(an-Najm: 21-22) Dan dalam ayat ini Allah berfirman:

وَجَعَلُواْ لَهُۥ مِنۡ عِبَادِهِۦ جُزۡءًا إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَكَفُورٌ مُّبِينٌ (“Dan mereka menjadikan sebagian dari hamba-hamba-Nya sebagai bagian daripada-Nya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar pengingkar yang nyata [terhadap rahmat Allah].”)

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan bahwa sekalipun orang musyrik mengakui bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi, namun di samping itu mereka pun menetapkan bahwa Allah mempunyai anak, dan malaikat merupakan anak perempuan-Nya. Mereka mengatakan,

Allah tidak azali seperti makhluk, sama-sama mempunyai anak, malah merendahkan-Nya karena Allah dikatakan mempunyai anak perempuan, sedang mereka mempunyai anak laki-laki. Orang-orang Arab pada waktu itu menganggap orang yang mempunyai anak-anak perempuan itu hina. Jadi, tidak heran kalau ayat itu ditutup dengan satu ketegasan bahwa manusia benar-benar pengingkar nikmat Tuhan, yang telah dikaruniakan kepada mereka.

Tafsir Quraish Shihab: Tetapi orang-orang musyrik malah menjadikan sebagian ciptaan-Nya itu sebagai anak Tuhan yang, menurut anggapan mereka, merupakan bagian dari diri-Nya. Sesungguhnya, dengan pebuatannya itu, manusia benar-benar melampaui batas dalam sikap kafirnya yang sangat jelas.

Surah Az-Zukhruf Ayat 16
أَمِ ٱتَّخَذَ مِمَّا يَخۡلُقُ بَنَاتٍ وَأَصۡفَىٰكُم بِٱلۡبَنِينَ

Terjemahan: “Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia mengkhususkan buat kamu anak laki-laki.

Tafsir Jalalain: أَمِ (Patutkah) lafal Am di sini bermakna Istifham Inkari, sedangkan lafal Al Qaulu diperkirakan keberadaannya sesudah itu, yakni Ataquluna: Apakah kalian patut mengatakan ٱتَّخَذَ مِمَّا يَخۡلُقُ بَنَاتٍ (Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya) untuk diri-Nya sendiri,

وَأَصۡفَىٰكُم (dan Dia mengkhususkan buat kalian) memilihkan buat kalian بِٱلۡبَنِينَ (anak laki-laki) yang hal ini disimpulkan daripada perkataan kalian yang tadi itu; jumlah kalimat ini merupakan kalimat yang diinkari oleh Istifham tadi.

Tafsir Ibnu Katsir: Lalu firman Allah: أَمِ ٱتَّخَذَ مِمَّا يَخۡلُقُ بَنَاتٍ وَأَصۡفَىٰكُم بِٱلۡبَنِينَ (“Patutkah Dia mengambil anak perempuan dari yang diciptakan-Nya dan Dia mengkhususkan untukmu anak laki-laki.”) ini merupakan pengingkaran yang amat sangat terhadap mereka.

Tafsir Kemenag: Allah membuka tabir kesesatan orang musyrik dan kebatilan ucapan mereka. Apakah masuk akal bahwa Allah memiliki sesuatu untuk diri-Nya yang lebih buruk (menurut anggapan mereka) sedangkan yang lain memiliki yang baik dan memilih untuk diri-Nya anak perempuan, sedangkan untuk orang lain anak laki-laki? Firman Allah:

Apakah (pantas) untuk kamu yang laki-laki dan untuk-Nya yang perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. (an-Najm/53: 21-22) Dan firman-Nya: Apakah Dia (Allah) memilih anak-anak perempuan daripada anak-anak laki-laki? Mengapa kamu ini? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan? Maka mengapa kamu tidak memikirkan? (ash-shaffat/37: 153-155) Dan firman-Nya lagi:

Sekiranya Allah hendak mengambil anak, tentu Dia akan memilih apa yang Dia kehendaki dari apa yang telah diciptakan-Nya. Mahasuci Dia. Dialah Allah Yang Maha Esa, Mahaperkasa. (az-Zumar/39: 4).

Baca Juga:  Surah Az-Zukhruf Ayat 66-73; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Lebih dari itu, patutkah mereka beranggapan bahwa Tuhan lebih mengutamakan mereka untuk memiliki anak laki-laki, sementara Dia merasa cukup dengan anak perempuan? Sungguh merupakan anggapan yang benar-benar aneh!

Surah Az-Zukhruf Ayat 17
وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحۡمَٰنِ مَثَلًا ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ

Terjemahan: “Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah; jadilah mukanya hitam pekat sedang dia amat menahan sedih.

Tafsir Jalalain: وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحۡمَٰنِ (Padahal apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha Pemurah) maksudnya, dijadikan baginya hal serupa dengan apa yang ia nisbatkan kepada Allah, yaitu diberi anak-anak perempuan.

Atau dengan kata lain, apabila ia diberi berita gembira tentang kelahiran anak perempuannya ظَلَّ (jadilah) maka menjadi berubahlah وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدًّا (mukanya hitam) artinya, roman mukanya tampak berubah menjadi kelabu وَهُوَ كَظِيمٌ (sedangkan dia amat menahan sedih) penuh dengan kedukaan, maka mengapa mereka berani menisbatkan anak-anak perempuan kepada Allah swt.?.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Dia menyebutkan kesempurnaan pengingkarannya, di mana Rabb Yang Mahaagung berfirman: وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِمَا ضَرَبَ لِلرَّحۡمَٰنِ مَثَلًا ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ (“Padahal, apabila salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang dijadikan sebagai misal bagi Allah Yang Maha pemurah, jadilah mukanya hitam pekat, sedang ia amat menahan sedih.”) yaitu jika salah seorang di antara mereka diberi kabar gembira dengan apa yang mereka jadikan untuk Allah, yaitu anak perempuan, maka dia kecewa dan dikuasai rasa sedih lantaran buruknya apa yang dia diberi kabar dengannya [dengan kelahiran anak perempuan], ia menjauh dari keramaian lantaran perasaan malu dari hal tersebut.

Allah berfirman yang maksudnya: Bagaimana kalian kecewa terhadap hal itu, sedangkan kalian menisbatkannya kepada Allah?

Tafsir Quraish Shihab: Mereka beranggapan demikian. Padahal, apabila salah seorang di antara mereka mendapat kelahiran anak perempuan, wajahnya menjadi hitam pekat karena merasa sangat sedih dengan kelahiran itu.

Surah Az-Zukhruf Ayat 18
أَوَمَن يُنَشَّؤُاْ فِى ٱلۡحِلۡيَةِ وَهُوَ فِى ٱلۡخِصَامِ غَيۡرُ مُبِينٍ

Terjemahan: “Dan apakah patut (menjadi anak Allah) orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran.

Tafsir Jalalain: أَوَمَن يُنَشَّؤُاْ (Dan apakah patut) Hamzah atau kata tanya di sini mengandung pengertian ingkar, sedangkan Wawu ‘Athafnya menunjukkan ‘Athaf jumlah kepada jumlah yang lain. Maksudnya, apakah patut mereka menjadikan bagi Allah يُنَشَّؤُاْ فِى ٱلۡحِلۡيَةِ (orang yang dibesarkan dalam perhiasan) maksudnya selalu berhias diri وَهُوَ فِى ٱلۡخِصَامِ غَيۡرُ مُبِينٍ (sedangkan dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran) tidak pernah menang di dalam adu argumentasi karena kelemahan akalnya sebagai perempuan.

Tafsir Ibnu Katsir: Kemudian Allah berfirman: أَوَمَن يُنَشَّؤُاْ فِى ٱلۡحِلۡيَةِ وَهُوَ فِى ٱلۡخِصَامِ غَيۡرُ مُبِينٍ (“Dan apakah patut [menjadikan anak Allah] orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan sedang dia tidak dapat memberi alasan yang terang dalam pertengkaran?”) yaitu seorang wanita itu minus. Dan keminusannya dapat disempurnakan dengan perhiasan sejak kecil. Jika ia berdebat, maka tidak ada ungkapan yang dimilikinya, bahkan ia amat lemah. Ataukah orang seperti itu yang dinisbatkan kepada Allah Yang Mahaagung.

Wanita itu memiliki kekurangan dari sisi dhahir dan batin dalam bentuk dan makna, lalu kekurangan dhaHir dan bentuknya itu disempurnakan dengan memakai perhiasan, demikian pula kekurangan dalam maknanya, dapat ditutupi seperti yang dikatakan: “Perhiasan tidak lain kecuali hiasan kekurangan untuk menyempurnakan keindahan jika keindahan berkurang. Akan tetapi, jika keindahan itu mencukupi seperti keindahanmu, niscaya tidaklah butuh dihiasi.”

Sedangkan kekurangan maknanya adalah, ia menjadi lemah untuk membela diri, tidak mampu mengungkapkan dan juga tidak mempunyai ketetapan pada saat membela diri.

Tafsir Kemenag: Allah membantah anggapan kaum musyrik bahwa Allah mempunyai anak perempuan sedangkan mereka mempunyai anak laki-laki. Bantahan itu ialah: Apakah orang yang dilahirkan dan dibesarkan untuk berhias dan bila ia dalam bertukar pikiran dan berdiskusi tidak sanggup mengemukakan hujjah atau alasan yang kuat, karena dia lebih terpengaruh oleh perasaan daripada mempergunakan akal dan pikiran, adakah orang seperti ini patut dianggap anak Tuhan?.

Baca Juga:  Surah Az-Zukhruf Ayat 26-35; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Quraish Shihab: Begitu beraninyakah mereka beranggapan bahwa Allah mempunyai anak yang sebenarnya merupakan perhiasan hidup? Padahal, untuk mendatangkan alasan dalam berdebat saja ia tidak mampu karena kefasihan bahasanya yang sangat terbatas. Sungguh merupakan anggapan yang benar-benar aneh!

Surah Az-Zukhruf Ayat 19
وَجَعَلُواْ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ ٱلَّذِينَ هُمۡ عِبَٰدُ ٱلرَّحۡمَٰنِ إِنَٰثًا أَشَهِدُواْ خَلۡقَهُمۡ سَتُكۡتَبُ شَهَٰدَتُهُمۡ وَيُسۡـَٔلُونَ

Terjemahan: “Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaika-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka dan mereka akan dimintai pertanggung-jawaban.

Tafsir Jalalain: وَجَعَلُواْ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ ٱلَّذِينَ هُمۡ عِبَٰدُ ٱلرَّحۡمَٰنِ إِنَٰثًا أَشَهِدُواْ (Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Maha Pemurah sebagai orang-orang perempuan. Apakah mereka menyaksikan) apakah mereka hadir menyaksikan.

خَلۡقَهُمۡ سَتُكۡتَبُ شَهَٰدَتُهُمۡ (penciptaan malaikat-malaikat itu? Kelak akan dituliskan persaksian mereka) yang menyatakan bahwa malaikat-malaikat itu adalah orang-orang perempuan وَيُسۡـَٔلُونَ (dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban) di akhirat kelak tentang perkataan itu, karenanya mereka akan menerima siksaan yang pedih.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: وَجَعَلُواْ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ ٱلَّذِينَ هُمۡ عِبَٰدُ ٱلرَّحۡمَٰنِ إِنَٰثًا (“Dan mereka menjadikan malaikat-malaikat yang mereka itu adalah hamba-hamba Allah Yang Mahapemurah sebagai orang-orang perempuan.”) yaitu mereka meyakini hal itu, sehingga Allah Ta’ala mengingkari perkataan mereka itu dengan firman-Nya:

أَشَهِدُواْ خَلۡقَهُمۡ (“Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu?”) yaitu apakah mereka menjadi saksi saat Allah menciptakan mereka sebagai perempuan? سَتُكۡتَبُ شَهَٰدَتُهُمۡ (“Kelak akan dituliskan persaksian mereka.”) yaitu dengan hal tersebut. وَيُسۡـَٔلُونَ (“Dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban.”) tentang hal tersebut pada hari kiamat. Ini merupakan ancaman keras dan gertakan yang kuat.

Tasir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa kaum musyrik telah berbuat empat kesalahan besar yang menunjukkan kekafiran mereka. Pertama, dikatakannya bahwa Allah mempunyai anak; kedua, anak-anak Allah perempuan.

Ketiga, anak-anak Allah itu adalah malaikat, padahal malaikat adalah hamba yang dimuliakan-Nya, yang senantiasa menyembah Tuhan siang dan malam, dan tidak pernah menyalahi apa yang diperintahkan kepadanya. Malaikat yang bersifat demikian dikatakannya perempuan.

Keempat, anggapan mereka bahwa mereka menjadi musyrik karena ditakdirkan oleh Allah. Semua pernyataan mereka itu adalah dosa besar dan kebohongan yang tidak berdasar sama sekali. Apakah mereka menyaksikan penciptaan malaikat-malaikat itu sehingga mereka berani menetapkan yang demikian dan yakin bahwa malaikat itu perempuan?

Allah berfirman: Atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan sedangkan mereka menyaksikan(nya)?Ingatlah, sesungguhnya di antara kebohongannya mereka benar-benar mengatakan,”Allah mempunyai anak.” Dan sungguh, mereka benar-benar pendusta. (as-shaffat/37: 150-152)

Ayat 19 ini ditutup dengan satu ancaman kepada orang musyrik bahwa apa yang mereka katakan mengenai malaikat, semua itu akan dicatat dan akan dimintai pertanggungjawaban mereka di akhirat kelak. Satu lagi diperlihatkan perbuatan sesat dan orang musyrik.

Mereka berkata dengan nada mengejek, “Sekiranya Allah yang Maha Pemurah menghendaki, niscaya kami tidak menyembah malaikat itu.” Seakan-akan mereka menyembah malaikat karena kehendak Allah. Allah berfirman: Orang-orang musyrik akan berkata, “Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak akan mempersekutukan-Nya. (al-An’am/6: 148)

Pendirian mereka sangat keliru dan sesat, karena Allah tidak pernah merestui suatu penyembahan terhadap sesuatu selain Dia, Allah hanya memerintahkan agar manusia hanya menyembah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya: Dan sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah, dan jauhilah thagut” (an-Nahl/16: 36) Dan firman-Nya:

Dan tanyakanlah (Muhammad) kepada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum engkau, “Apakah Kami menentukan tuhan-tuhan selain (Allah) Yang Maha Pengasih untuk disembah?” (az-Zukhruf/43: 45) Ayat 20 ini ditutup dengan satu ketegasan, menolak ucapan orang musyrik itu, bahwa mereka tidak tahu sama sekali keadaan yang sebenarnya dan tidak mempunyai pengetahuan sedikit pun mengenai hal itu. Apa yang dikatakan mereka hanya dugaan belaka dan tidak berdasarkan hak dan kebenaran.

Tafsir Quraish Shihab: Mereka menyebut malaikat, yang merupakan makhluk Sang Maha Pemurah, sebagai anak-anak perempuan-Nya. Apakah mereka melihat penciptaan malaikat-malaikat itu dengan mata kepala mereka sendiri sehingga mempunyai anggapan demikian? Tidak, mereka tidak melihat. Kami akan mencatat apa yang mereka ada-adakan ini. Dan kelak, di hari kiamat, mereka akan ditanya tentang hal itu.

Baca Juga:  Surat Al-Kautsar; Paling Sedikit Ayatnya, Namun Begitu dalam Maknanya

Surah Az-Zukhruf Ayat 20
وَقَالُواْ لَوۡ شَآءَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مَا عَبَدۡنَٰهُم مَّا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ

Terjemahan: “Dan mereka berkata: “Jikalau Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka (malaikat)”. Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.

Tafsir Jalalain: وَقَالُواْ لَوۡ شَآءَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مَا عَبَدۡنَٰهُم (Dan mereka berkata, “Jika Allah Yang Maha Pemurah menghendaki tentulah kami tidak menyembah mereka”) tidak menyembah malaikat; maka ibadah atau penyembahan kami kepada mereka berdasarkan kehendak dari-Nya, Dia rela kami melakukan hal itu. Lalu Allah berfirman,

“مَّا لَهُم بِذَٰلِكَ (Tiadalah bagi mereka tentang hal itu) yakni dugaan mereka yang mengatakan bahwa Allah rela mereka menyembah malaikat مِنۡ عِلۡمٍ إِنۡ هُمۡ إِلَّا (suatu pengetahuan pun, tidak lain) tiada lain يَخۡرُصُونَ (mereka hanya menduga-duga belaka) hanya berdusta belaka tentang itu, karenanya mereka harus menerima siksaan.

Tafsir Ibnu Katsir: وَقَالُواْ لَوۡ شَآءَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مَا عَبَدۡنَٰهُم (“Dan mereka berkata: Jikalau Allah Yang Mahapemurah menghendaki, tentulah kami tidak menyembah mereka [malaikat].”) yaitu seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menghalangi kami dengan penyembahan berhala-berhala itu. Allah berfirman:

وَقَالُواْ لَوۡ شَآءَ ٱلرَّحۡمَٰنُ مَا عَبَدۡنَٰهُم (“Dan tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelumnya: Adakah Kami menentukan ilah-ilah untuk disembah selain Allah Yang Mahapemurah?”)(az-Zukhruf: 45)

Sedangkan Allah berfirman di dalam ayat ini setelah menyebutkan hujjah-hujjah mereka: مَّا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍ (“Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang itu.”) yaitu tentang kebenaran apa yang mereka katakan dan mereka jadikan hujjah. إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ (“Mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.”) yaitu hanyalah berdusta dan mengada-ada saja.

Mujahid berkata tentang firman Allah: مَّا لَهُم بِذَٰلِكَ مِنۡ عِلۡمٍ إِنۡ هُمۡ إِلَّا يَخۡرُصُونَ (“Mereka tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentang itu. Mereka tidak lain hanyalah menduga-duga belaka.”) yaitu mereka tidak mengetahui kekuasaan Allah Tabaaraka wa Ta’ala dalam masalah itu.

Tafsir Kemenag: Kemudian Allah menjelaskan bagaimana tindakan orang-orang yang bersifat tamak dan selalu meragukan kebenaran wahyu itu. Mereka itu selalu menolak kebenaran ayat-ayat Allah yang disampaikan kepada mereka. Mereka juga selalu mempermasalahkan bukti-bukti yang disampaikan mengenai kebenaran wahyu itu.

Akan tetapi, penolakan mereka itu tidak memiliki kekuatan apa pun. Kepercayaan mereka hanya berdasar tradisi nenek moyang mereka, dan itu hanyalah kepatuhan membabi buta tanpa dipikirkan. Kepatuhan seperti ini tidak dibenarkan karena Allah memberi manusia pendengaran, penglihatan, dan akal pikiran.

Oleh karena itu, orang yang menolak kebenaran wahyu dan lebih percaya pada tradisi nenek moyang itu tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Dengan demikian, mereka sangat dibenci Allah dan orang-orang yang beriman. Selanjutnya Allah menerangkan hukum-hukum-Nya bagi orang yang menutup hatinya untuk menerima kebenaran wahyu, yaitu bahwa Ia akan menutup hati mereka.

Hati yang tertutup terjadi karena mereka selalu menolak kebenaran wahyu dan mempermasalahkannya. Penolakan yang terus-menerus akan membawa kepada kesombongan. Selalu mempermasalahkan kebenaran akan membawa kepada kesewenang-wenangan. Karena sombong dan sewenang-wenang itu, maka mereka akan selalu menolak dan menentang kebenaran. Akhirnya hati mereka tertutup dengan sendirinya. Demikian hukum yang ditentukan Allah bagi tertutupnya hati manusia. .

Tafsir Quraish Shihab: Orang-orang musyrik itu berkata, “Kalau Tuhan Sang Maha Pengasih itu menghendaki kami untuk tidak menyembah tuhan-tuhan lain, tentu kami tidak akan menyembahnya.” Mereka mengira bahwa Tuhan berkenan dengan tingkah mereka menyembah tuhan-tuhan palsu itu. Padahal, mereka tidak memiliki sandaran ilmu apa-apa tentang apa yang mereka ucapkan itu. Mereka hanya menduga-duga dan mengatakan sesuatu tanpa berdasarkan bukti.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Az-Zukhruf Ayat 15-20 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S