Surah Az-Zumar Ayat 5-6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Az-Zumar Ayat 5-6

Pecihitam.org – Kandungan Surah Az-Zumar Ayat 5-6 ini, Allah menjelaskan bahwa Dia menciptakan manusia pada mulanya seorang saja. Allah menciptakan manusia yang beraneka ragam warna dan bahasanya dari diri Adam. Kemudian Allah menciptakan pasangannya Hawa. Allah juga menjelaskan bahwa Dia pula yang menciptakan delapan ekor binatang ternak yang berpasang-pasangan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zumar Ayat 5-6

Surah Az-Zumar Ayat 5
خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّ يُكَوِّرُ ٱلَّيۡلَ عَلَى ٱلنَّهَارِ وَيُكَوِّرُ ٱلنَّهَارَ عَلَى ٱلَّيۡلِ وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ كُلٌّ يَجۡرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّى أَلَا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفَّٰرُ

Terjemahan: “Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.

Tafsir Jalalain: خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ بِٱلۡحَقِّ (Dia menciptakan langit dan bumi dengan -tujuan- yang benar) lafal Bilhaqqi berta’alluq kepada lafal Khalaqa يُكَوِّرُ (Dia menutupkan) yakni memasukkan ٱلَّيۡلَ عَلَى ٱلنَّهَارِ (malam atas siang) sehingga waktu malam bertambah. وَيُكَوِّرُ ٱلنَّهَارَ (dan menutupkan siang) memasukkannya عَلَى ٱلَّيۡلِ (atas malam) sehingga waktu siang bertambah.

وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ كُلٌّ يَجۡرِى (dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan) pada garis edarnya لِأَجَلٍ مُّسَمًّى (hingga waktu yang ditentukan) yakni hari kiamat. أَلَا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ (Ingatlah Dialah Yang Maha Perkasa) Yang Maha Menang atas semua perkara-Nya dan Yang Maha Membalas terhadap musuh-musuh-Nya ٱلۡغَفَّٰرُ (lagi Maha Pengampun) kepada kekasih-kekasih-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah Ta’ala memberikan kabar bahwa Dia adalah Mahapencipta segala apa yang ada di langit dan di bumi serta segala isinya dan Dia adalah Raja para raja yang mengatur padanya lagi membolak-balikkan malam dan siang.

يُكَوِّرُ ٱلَّيۡلَ عَلَى ٱلنَّهَارِ وَيُكَوِّرُ ٱلنَّهَارَ عَلَى ٱلَّيۡلِ (“Dia menutup malam atas siang dan menutupkan siang atas malam.”) yaitu menundukkan keduanya yang berputar silih berganti tanpa lelah. Masing-masing keduanya mengikuti yang lainnya dengan cepat, seperti firman Allah: artinya (“Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat.”) (al-A’raaf: 54). Inilah makna yang diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, as-Suddi dan lain-lain.

Firman Allah: وَسَخَّرَ ٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ كُلٌّ يَجۡرِى لِأَجَلٍ مُّسَمًّى (“dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan.”) yaitu hingga masa yang telah ditentukan di sisi Allah Ta’ala, kemudian berakhir pada hari kiamat.

أَلَا هُوَ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡغَفَّرُ (“Ingatlah, Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahapengampun.”) di samping keperkasaan, keagungan dan kebesaran-Nya, Dia Mahapengampun bagi orang yang mendurhakai-Nya, kemudian bertaubat dan kembali kepada-Nya.

Tafsir Kemenag: Allah menjelaskan bahwa Dia menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar. Dihiasi-Nya langit dengan matahari dan bulan. Masing-masing mempunyai lintasan-lintasan menurut ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Karena perputaran bumi pada porosnya, seolah-olah matahari terlihat beredar di langit dari arah Timur ke Barat, sehingga terjadilah pergantian siang dan malam.

Apabila matahari muncul di kaki langit bagian Timur datanglah siang dan bila matahari tenggelam di kaki langit bagian Barat datanglah malam. Demikianlah yang terjadi setiap hari. Peristiwa yang terjadi itu semata-mata karena kehendak Allah, yang telah ditetapkan-Nya pada saat menciptakan alam semesta.

Allah menutupkan malam atas siang adalah ungkapan dari perumpamaan dimana siang yang ditandai oleh terangnya sinar matahari diumpamakan tempat yang terbuka, sedang malam yang ditandai oleh tertutupnya sinar matahari diumpamakan sebagai tirai yang menutupi tempat yang terbuka. Jadi apabila dikatakan malam menutupi siang, pengertiannya ialah terangnya sinar matahari tertutup oleh tirai gelapnya malam.

Allah menutupkan siang atas malam adalah lawan perumpamaan yang disebutkan sebaliknya. Siang diumpamakan cahaya yang terang-benderang sedang malam diumpamakan tempat-tempat yang gelap gulita. Di waktu hari mulai siang cahaya matahari yang terang benderang menutupi kegelapan malam, hingga pekatnya malam berganti dengan terang-benderang.

Pandangan serupa ini adalah pandangan sehari-hari menurut pengamatan orang awam. Akan tetapi apabila orang mau berpikir lebih teliti, ia akan dapat memahami bahwa panjang siang dan malam tidaklah sama. Untuk tempat-tempat yang berada di sekitar khatulistiwa panjang dan pendeknya siang dan malam selalu berkisar sama, sekitar 12 jam. Akan tetapi, bagi tempat-tempat yang berada di sebelah utara khatulistiwa, pada saat matahari beredar di sebelah utara, waktu siang untuk daerah-daerah itu bertambah panjang.

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 71-73; Seri Tadabbur Al Qur'an

Bertambahnya waktu siang berbanding lurus dengan kedudukan tempat di bumi dan kedudukan matahari. Hingga di beberapa tempat di daerah kutub utara apabila matahari berada di belahan langit yang paling utara, daerah-daerah tersebut akan mengalami siang terus-menerus. Dapat dikatakan, makin jauh satu tempat dari khatulistiwa dan makin jauh kedudukan matahari dari khatulistiwa langit, makin panjanglah waktu siang hingga pada daerah-daerah tertentu berlangsung siang terus-menerus.

Maka dari tempat yang terdekat hingga yang terjauh dari khatulistiwa ada bagian malam yang ditutupi siang yang waktunya makin panjang. Hingga pada suatu tempat siang sama sekali menutupi malam. Berarti siang menghabiskan seluruh lingkaran peredaran matahari.

Dengan kata lain siang menutupi malam sama sekali. Sesudah itu, Allah menjelaskan bahwa dia menundukkan matahari dan bulan. Berarti bahwa peredaran matahari dan bulan itu sesuai dengan ketentuan yang telah diatur oleh Allah pada saat diciptakan.

Apabila yang dimaksud peredaran harian matahari semu, maka saat matahari berkulminasi ke saat berkulminasi berikutnya diperlukan waktu selama kira-kira 24 jam. Tetapi apabila yang dimaksud peredaran tahunan, yaitu peredaran semu matahari di antara bintang-bintang diperlukan waktu satu tahun. Sedang untuk peredaran bulan dari ijtima’ hingga ijtima berikutnya diperlukan waktu sebanyak satu bulan.

Ketentuan-ketentuan waktu sebanyak satu bulan menurut perhitungan kalender yang berdasarkan pada peredaran bulan. Ketentuan-ketentuan waktu peredaran tersebut adalah ketentuan secara garis besarnya saja. Untuk mendapatkan angka-angka yang lebih teliti, memerlukan pembahasan yang lebih teliti dan mendalam.

Tetapi yang dapat dipahami bahwa matahari dan bulan itu beredar menurut waktu peredaran yang tertentu; bahkan boleh dikatakan beredar menurut ketentuan yang hampir pasti. Itulah sebabnya maka Allah menandaskan bahwa masing-masing benda langit itu beredar menurut waktu yang ditentukan menurut peredarannya masing-masing.

Oleh karena itu, apabila tiba saatnya matahari dan bulan itu akan kehilangan keseimbangannya, makin lama makin menyimpang dari ketentuan peredarannya. Hal yang serupa itu akan terjadi pada hari Kiamat, yaitu hari ketika langit dan bumi serta isinya hancur berantakan.

Allah berfirman: (Ingatlah) pada hari langit Kami gulung seperti menggulung lembaran-lembaran kertas. (al-Anbiya’/21: 104) Di akhir ayat, Allah menyuruh hamba-Nya agar memohon ampun kepada-Nya dengan cara bergegas untuk beribadah dan memurnikan ketaatan kepada-Nya.

Allah juga mengingatkan mereka bahwa Ia Mahaperkasa dan ketentuan-ketentuannya tidak dapat dibantah. Allah Maha Pengampun bagi para hamba-Nya yang sadar dan suka dibimbing ke jalan yang benar.

Tafsir Quraish Shihab: Dia menciptakan langit dan bumi dengan benar dan dalam bentuk yang tetap. Dia menutupkan siang ke dalam malam dan menutupkan malam ke dalam siang secara berulang-ulang. Dia juga menundukkan matahari dan bulan kepada kehendak-Nya dan untuk maslahat hamba-Nya, masing-masing beredar pada porosnya sampai batas waktu yang telah ditentukan, yaitu hari kiamat. Hanya Dialah, bukan yang lain, yang Mahaunggul atas segala sesuatu. Tidak ada sesuatu pun yang keluar dari kehendak-Nya. Dia Maha Pengampun atas dosa hamba-hamba-Nya(1).

(1) Ayat ini menunjukkan bahwa bumi berbentuk bulat dan selalu berotasi. Dari segi bahasa, kata “yukawwir” yang digunakan dalam ayat ini berarti ‘menutupkan suatu benda ke atas benda lain secara berturut-turut’. Kalau saja bumi ini tidak bulat–datar, umpamanya–tentu siang dan malam di suatu tempat dapat dimungkinkan tampak pada satu waktu secara bersamaan.

Surah Az-Zumar Ayat 6
خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٍ وَٰحِدَةٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ ثَمَٰنِيَةَ أَزۡوَٰجٍ يَخۡلُقُكُمۡ فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ خَلۡقًا مِّنۢ بَعۡدِ خَلۡقٍ فِى ظُلُمَٰتٍ ثَلَٰثٍ ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ لَهُ ٱلۡمُلۡكُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ

Terjemahan: “Dia menciptakan kamu dari seorang diri kemudian Dia jadikan daripadanya isterinya dan Dia menurunkan untuk kamu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak. Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan. Yang (berbuat) demikian itu adalah Allah, Tuhan kamu, Tuhan Yang mempunyai kerajaan. Tidak ada Tuhan selain Dia; maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?

Tafsir Jalalain: خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٍ وَٰحِدَةٍ (Dia menciptakan kalian dari seorang diri) yaitu dari Nabi Adam ثُمَّ جَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا (kemudian Dia jadikan daripadanya istrinya) yaitu Siti Hawa وَأَنزَلَ لَكُم مِّنَ ٱلۡأَنۡعَٰمِ (dan Dia menurunkan untuk kalian binatang ternak) yakni unta, sapi, kambing, domba dan biri-biri ثَمَٰنِيَةَ أَزۡوَٰجٍ (sebanyak delapan ekor yang berpasang-pasangan) yakni dari setiap jenis sepasang, yaitu jantan dan betina sebagaimana yang telah dijelaskan dalam surah Al-An’am.

Baca Juga:  Surah Al-Ankabut Ayat 50-52; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

يَخۡلُقُكُمۡ فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ خَلۡقًا (Dia menjadikan kalian dalam perut ibu kalian kejadian demi kejadian) yaitu mulai dari air mani, kemudian menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging فِى ظُلُمَٰتٍ ثَلَٰثٍ (dalam tiga kegelapan) yaitu gelapnya perut, gelapnya rahim dan gelapnya selaput pelindung bayi.

ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ لَهُ ٱلۡمُلۡكُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ (Yang berbuat demikian itu adalah Allah, Rabb kalian, Rabb Yang mempunyai kerajaan; tidak ada Tuhan selain Dia, maka bagaimanakah kalian dapat dipalingkan?) dari menyembah kepada-Nya, kemudian kalian menyembah yang lain-Nya.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman Allah: خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٍ وَٰحِدَةٍ (“Dia menciptakanmu dari seorang diri.”) yaitu Dia menciptakan kalian dengan berbagai perbedaan jenis, bentuk, dan warna kulit, dari satu sisi, yaitu Adam a.s. Tsumma ja’ala minHaa zaujaHaa (“Kemudian Dia jadikan daripadanya istrinya.”) yaitu Hawwa.

Firman Allah: ثُمَّ جَعَلَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا (“Dan Dia menurunkan untukmu delapan ekor yang berpasangan dari binatang ternak.”) yaitu, Dia menciptakan untuk kalian delapan ekor pasang dari binatang ternak, dua dari dha-n (domba jantan dan betina), dua dari ma’iz (kambing jantan dan betina) dua dari unta dan dua dari sapi.

Firman Allah: يَخۡلُقُكُمۡ فِى بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمۡ (“Dia menjadikan dalam perut ibumu.”) yaitu Dia takdirkan kalian di dalam perut ibu kalian. خَلۡقًا مِّنۢ بَعۡدِ خَلۡقٍ (“Kejadian demi kejadian.”) salah seorang kalian semula berbentuk air mani, kemudian menjadi segumpal darah, lalu segumpal daging, lalu Dia menciptakan menjadi daging, tulang, sumsum dan urat serta ditiupkan ruh ke dalamnya, hingga menjadi makhluk lain. (“maka Mahasuci Allah, Pencipta Yang paling baik.”)(al-Mukminuun: 14)

Firman Allah: فِى ظُلُمَٰتٍ ثَلَٰثٍ (“Dalam tiga kegelapan.”) yaitu kegelapan dalam rahim, kegelapan plasenta (ari-ari) yang berpentuk seperti penutup dan penjaga bagi anak serta kegelapan perut.

Firman Allah: ذَٰلِكُمُ ٱللَّهُ رَبُّكُمۡ (“Yang berbuat demikian itu adalah Allah, Rabb-mu.”) Rabb yang menciptakan langit dan bumi ini dengan isinya serta yang menciptakan kalian dan bapak-bapak kalian adalah Rabb yang memiliki kerajaan lagi Mahapengatur akan semua itu.

لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ (“Tidak ada Ilah [yang berhak diibadahi] selain Dia.”) yaitu Rabb yang tidak layak diibadahi kecuali Dia Mahaesa yang tidak ada sekutu bagi-Nya. فَأَنَّىٰ تُصۡرَفُونَ (“Maka bagaimana kamu dapat dipalingkan?”) yaitu bagaimana kalian menyembah selain Dia bersama-Nya? kemana hilangnya akal-akal kalian?

Tafsir Kemenag: Allah menunjukkan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang ada pada penciptaan diri manusia. Allah menjelaskan bahwa Dia menciptakan manusia pada mulanya seorang saja. Allah menciptakan manusia yang beraneka ragam warna dan bahasanya dari diri Adam. Kemudian Allah menciptakan pasangannya Hawa.

Allah juga menjelaskan bahwa Dia pula yang menciptakan delapan ekor binatang ternak yang berpasang-pasangan. Kambing sepasang, biri-biri sepasang, unta sepasang, dan sapi sepasang. Allah menjelaskan lebih jauh tentang kejadian manusia.

Manusia diciptakan melalui proses kejadian demi kejadian. Proses kejadiannya yang pertama ialah sebagai nutfah, sesudah itu melalui proses demi proses sebagaimana darah kental kemudian sebagai janin. Pada saat sempurna menjadi janin itulah Allah menciptakan roh di dalamnya sehingga menjadi makhluk hidup.

Tanda-tanda kehidupannya dapat diketahui dari detak jantungnya dengan menempelkan telinga ke perut sang ibu. Tentang proses kejadian manusia dalam perut ibu, Nabi Muhammad bersabda: Sesungguhnya kejadian seseorang di antara kamu dalam perut ibunya adalah 40 hari pertama berupa air mani (sperma), kemudian menjadi ‘alaqah (sesuatu yang menggantung)pada masa seperti itu lagi (40 hari), lalu menjadi “Mudhgah”(segumpal daging) dalam masa seperti itu (40 hari.

Kemudian malaikat di utus (oleh Allah), lalu dia meniupkan roh kepada janin, dan Allah memerintahkan untuk menetapkan 4 hal: Rezekinya, umurnya, amalnya, apakah dia orang yang celaka atau bahagia.( Riwayat Muslim dari Ibnu Mas’ud) Di samping itu, Allah menjelaskan bahwa ketika bayi berada dalam kandungan, ia berada dalam tiga kegelapan, yaitu pada bagian dalam selaput yang menutupi bayi dalam rahim sehingga bayi itu terlindung dari pengaruh pembusukan.

Baca Juga:  Surah An-Naml Ayat 38-40; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Menurut pandangan mata, sepintas kilas selaput itu seakan-akan hanya selapis saja, namun bila diteliti dengan seksama, selaput itu ada tiga lapis. Para ilmuwan menjelaskan bahwa tiga lapis membran yang dapat mengamankan janin selama berada di dalam rahim, adalah: 1. Lapisan membran amnion yang mengandung cairan sehingga janin dalam keadaan berenang.

Kondisi demikian ini melindungi janin apabila ada benturan dari luar. Di samping itu, posisi berenang ini memberikan kesempatan kepada janin dalam memposisikan diri saat akan dilahirkan. 2. Lapisan membran chorion 3. Lapisan membran decidua Beberapa peneliti menghubungkan tiga lapisan kegelapan dalam ayat di atas dengan lapisan membran amniotik yang mengelilingi rahim, dinding rahim itu sendiri, dan dinding abdomen di bagian perut .

Allah menandaskan bahwa yang berbuat demikian itu ialah Allah Pencipta manusia dan yang menguasai langit dan bumi serta isinya. Oleh sebab itu, Dia yang berhak disembah. Tidak ada Tuhan yang patut disembah kecuali Dia, Yang Maha Esa dan tidak mempunyai sekutu.

Pada penghujung ayat, Allah menanyakan kepada kaum musyrikin pertanyaan yang mengandung cemoohan terhadap mereka, mengapa mereka dapat dipalingkan dari beribadah hanya kepada Allah, menjadi penyembah patung-patung, padahal mereka telah mempunyai kemampuan untuk membaca tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah yang ada di alam semesta dan ada pada diri mereka sendiri.

Tafsir Quraish Shihab: Allah telah menciptakan kalian, wahai umat manusia, dari satu nafs yaitu Adam, bapak manusia. Dari satu nafs itu, Dia menciptakan pasangannya yaitu Hawâ’. Untuk kepentingan kalian, Dia menurunkan delapan macam hewan ternak, jantan dan betina, yaitu unta, sapi, domba dan kambing.

Dia juga menciptakan kalian di dalam rahim ibu melalui tiga fase kegelapan: kegelapan perut, rahim dan plasenta. Yang memberikan hikmat itu kepada kalian adalah Allah, Pemelihara dan Penguasa segala urusan kalian. Hanya Dialah, bukan yang lain, yang memiliki kekuasaan segala urusan. Tak ada yang pantas disembah selain Dia. Lalu mengapa kalian tidak menyembah-Nya dan berpaling menyembah yang lain?(1).

(1) Ovum berada pada salah satu indung telur wanita. Ketika mencapai puncak kematangannya, ovum akan keluar dari dalam indung telur untuk kemudian ditangkap oleh salah satu tabung valub. Di dalam saluran valub itu, ovum kemudian berjalan menuju rahim dan baru akan sampai ke rahim setelah beberapa hari.

Pada masa berjalan menuju rahim itulah, ovum dapat dibuahi oleh sperma laki-laki. Mulailah, setelah itu, masa perkembangannya. Fase selanjutnya dialami janin di dalam rahim, di mana janin dilapisi oleh dua pembalut: charlon yang turun membantu membentuk plasenta, dan awnion yang langsung melapisi janin.

Mengenai penafsiran “tiga fase kegelapan” dalam ayat ini, memang terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ahli. Di antaranya, bahwa yang dimaksud dengan tiga fase kegelapan itu, adalah: a. perut, rahim dan plasenta (atau selaput pembalut janin pada umumnya), b. perut, charlon dan awnion, c. perut, punggung dan rahim, d. indung telur, saluran valub dan rahim. Tampaknya, pendapat terakhirlah yang paling kuat karena merupakan tiga masa yang terpisah dan berbeda-beda tempatnya.

Sedangkan pendapat yang lain pada kenyataannya hanya menunjukkan satu fase gelap pada satu tempat dengan beberapa tingkatan. Allah, Sang Pencipta, telah mengisyaratkan fakta ilmiah ini di dalam kitab suci-Nya pada saat orang belum menemukan ovum pada binatang mamalia, serta perjalanannya di dalam tubuh wanita yang jauh dari penglihatan mata.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Az-Zumar Ayat 5-6 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Kemenag dan Tafsir Quraish Shihab. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S