Surah Maryam Ayat 61-63; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Maryam Ayat 61-63

Pecihitam.org – Kandungan Surah Maryam Ayat 61-63 ini, menerangkan bahwa surga yang dijanjikan Allah akan menjadi tempat kediaman bagi orang yang bertobat dan bertakwa itu, ialah surga Adn. Meskipun surga yang dijanjikan tidak dapat dilihat oleh manusia di dunia ini, karena masih bersifat gaib dan kapan manusia itu pasti masuk ke dalamnya tidak pula dapat diketahui dengan pasti karena semua itu hanya diketahui oleh Allah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Di dalam surga tidak akan terjadi pertengkaran, tidak akan terdengar kata-kata yang tidak berguna seperti yang terjadi di dunia di mana manusia untuk kepentingan dirinya sendiri atau untuk kepentingan keluarga dan kelompoknya selalu berselisih, bertengkar, dakwa- mendakwa dan tuduh-menuduh yang tiada akhirnya, mengakibatkan mereka kehilangan ketenteraman dan kesejahteraan.

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Maryam Ayat 61-63

Surah Maryam Ayat 61
جَنَّاتِ عَدْنٍ الَّتِي وَعَدَ الرَّحْمَنُ عِبَادَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا

Terjemahan: yaitu surga ‘Adn yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun (surga itu) tidak nampak. Sesungguhnya janji Allah itu pasti akan ditepati.

Tafsir Jalalain: جَنَّاتِ عَدْنٍ (Yaitu surga Adn) menjadi tempat tinggal mereka. Lafaz ‘Adn menjadi Badal daripada lafal Jannatin الَّتِي وَعَدَ الرَّحْمَنُ عِبَادَهُ بِالْغَيْبِ (yang telah dijanjikan oleh Tuhan Yang Maha Pemurah kepada hamba-hamba-Nya, sekalipun surga itu tidak tampak). Lafal بِالْغَيْبِ menjadi Hal, maksudnya walaupun surga itu tidak kelihatan oleh mereka.

إِنَّهُ كَانَ وَعْدُهُ (Sesungguhnya janji Allah itu) yakni apa yang telah dijanjikan oleh-Nya مَأْتِيًّا (pasti akan ditepati). Lafal Ma’tiyyan maknanya Aatiyan; asalnya adalah Ma’tiwyun. Yang dimaksud dengan janji-Nya adalah surga yang akan ditempati oleh orang-orang yang berhak memasukinya.

Tafsir Ibnu Katsir: Allah berfirman bahwa surga yang akan dimasuki oleh orang-orang yang bertaubat dari dosa-dosa mereka adalah surga ‘Adn. Artinya tempat tinggal yang dijanjikan oleh ar-Rahman terhadap hamba-hamba-Nya melalui alam ghaib adalah merupakan perkara ghaib yang harus mereka imani dan mereka tidak melihatnya. Hal tersebut karena sangat yakin dan kuatnya keimanan mereka.

Firman-Nya: كَانَ وَعْدُهُ مَأْتِيًّا (“Sesungguhnya janji Allah itu pasti ditepati,”) merupakan penguat tercapainya, mantap dan kokohnya hal tersebut. Karena Allah tidak menyalahi janji dan tidak akan merubahnya. Seperti firman-Nya:

kaana wa’duHuu maf’uulan (“Sesungguhnya janji Allah itu pasti terlaksana,”) pasti terjadi. Firman-Nya di sini yaitu para hamba akan menuju pada-Nya dan akan mendatangi-Nya. Di antara mereka ada ulama yang berpendapat bahwa bermakna yang mendatangi. Karena setiap apa yang datang kepadamu, maka pasti engkau mendapatkannya.

Tafsir Kemenag: Ayat ini menerangkan bahwa surga yang dijanjikan Allah akan menjadi tempat kediaman bagi orang yang bertobat dan bertakwa itu, ialah surga `Adn. Meskipun surga yang dijanjikan tidak dapat dilihat oleh manusia di dunia ini, karena masih bersifat gaib dan kapan manusia itu pasti masuk ke dalamnya tidak pula dapat diketahui dengan pasti karena semua itu hanya diketahui oleh Allah.

Baca Juga:  Surah Al-An'am Ayat 118-119; Seri Tadabbur Al Qur'an

Tetapi bagi orang yang beriman dan yakin akan terjadinya hari kebangkitan dan hisab, hal itu tidak diragukan sedikit pun karena itu adalah janji Allah Yang Mahasempurna, Mahaadil dan Maha Bijaksana. Pastilah janji itu akan dipenuhi-Nya dan akan dilaksanakan-Nya.

Surah Maryam Ayat 62
لَّا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا إِلَّا سَلَامًا وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةً وَعَشِيًّا

Terjemahan: Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam surga, kecuali ucapan salam. Bagi mereka rezekinya di surga itu tiap-tiap pagi dan petang.

Tafsir Jalalain: لَّا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا (Mereka tidak mendengar perkataan yang tidak berguna di dalam surga) pembicaraan yang tak berarti إِلَّا (kecuali) mereka hanya mendengar سَلَامًا (ucapan Salam) dari para Malaikat buat mereka, atau dari sebagian mereka kepada sebagian yang lain.

وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةً وَعَشِيًّا (Bagi mereka rezekinya di surga itu tiap-tiap pagi dan petang) dalam perkiraan kedua waktu tersebut menurut perhitungan waktu di dunia, karena sesungguhnya di dalam surga itu tidak ada siang dan malam tetapi yang ada hanyalah cahaya dan nur yang abadi.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: لَّا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا (“Mereka tidak mendengar perkataan yang tak berguna di dalam surga,”) yaitu di dalam surga tidak terdapat perkataan sia-sia yang tidak memiliki makna, tidak seperti di dunia.

Firman-Nya: إِلَّا سَلَامًا (“Kecuali ucapan salam,”) adalah pengecualian (istitsna mungathi’) Seperti firman-Nya: “Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.” (QS. Al-Waaqi’ah: 25-26)

Firman-Nya: وَلَهُمْ رِزْقُهُمْ فِيهَا بُكْرَةً وَعَشِيًّا (“Bagi mereka rizkinya di surga itu tiap pagi dan petang,”) yaitu di waktu yang sama dengan waktu pagi dan sore. Di sana tidak ada malam dan tidak ada siang, akan tetapi mereka berada pada waktu-waktu yang silih berganti yang berlalunya waktu itu mereka ketahui melalui cahaya dan sinar.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya kelompok pertama yang memasuki surga itu, rupa mereka adalah bagaikan bulan purnama, mereka tidak meludah, tidak beringus dan tidak buang air besar. Sisir dan bejana-bejana mereka dari emas dan perak dan perapiannya adalah dari tangkai dupa harum dan keringat mereka berbau misik.

Setiap satu orang di antara mereka memiliki dua orang isteri-isteri yang sumsum-sumsum betis keduanya dapat terlihat dari balik daging luarnya dikarenakan sangat indahnya, tidak ada perselisihan dan tidak juga saling membenci. Hati-hati mereka tertuju untuk seorang laki-laki saja. Mereka bertasbih kepada Allah di waktu pagi dan petang.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Baca Juga:  Surah Maryam Ayat 1-6; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Allah menerangkan pula bahwa di dalam surga tidak akan terjadi pertengkaran, tidak akan terdengar kata-kata yang tidak berguna seperti yang terjadi di dunia di mana manusia untuk kepentingan dirinya sendiri atau untuk kepentingan keluarga dan kelompoknya selalu berselisih, bertengkar, dakwa- mendakwa dan tuduh-menuduh yang tiada akhirnya, mengakibatkan mereka kehilangan ketenteraman dan kesejahteraan.

Bahkan mereka diliputi kecemasan dan kekhawatiran. Lain halnya dengan surga karena manusia telah memasuki dunia yang lain, semua keinginan dapat dicapai dan dinikmati, tidak ada lagi permusuhan atau adu kekuatan antara sesama mereka untuk mencapai sesuatu, maka yang terdengar hanya ucapan salam (selamat sejahtera), baik ucapan itu datang dari malaikat atau dari sesama mereka.

Semuanya merasa aman dan tenteram karena pada setiap pagi dan petang mereka diberi rezeki oleh Tuhan mereka, rezeki yang tidak dapat dibayangkan dalam pikiran seseorang bagaimana nikmat dan lezat cita rasanya. Allah melukiskan nikmat yang disediakan bagi penghuni surga, sebagaimana disebut dalam Hadis Qudsi:

Aku sediakan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh nikmat-nikmat yang belum pernah di lihat oleh mata, yang belum pernah di dengar oleh telinga dan tidak dapat dibayangkan dalam lintasan hati manusia. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Surah Maryam Ayat 63
تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ مِنْ عِبَادِنَا مَن كَانَ تَقِيًّا

Terjemahan: Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.

Tafsir Jalalain: تِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي نُورِثُ (Itulah surga yang akan Kami wariskan) Kami anugerahkan dan Kami tempatkan di dalamnya مِنْ عِبَادِنَا مَن كَانَ تَقِيًّا (kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa) yang berlaku taat kepada-Nya.

Ayat berikut diturunkan ketika wahyu datang sangat terlambat selama beberapa hari, kemudian Nabi saw. berkata kepada malaikat Jibril ketika datang kepadanya, “Apakah gerangan yang menyebabkan engkau tidak menziarahi aku selama ini”.

Tafsir Ibnu Katsir: Firman-Nya: tilkal jannatul latii nuuritsu min ‘ibaadinaa man kaana taqiyyan (“Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa.”) Yaitu surga yang telah Kami sifatkan dengan sifat-sifat yang besar ini adalah surga yang akan Kami wariskan untuk hamba-hamba Kami yang bertakwa. Mereka adalah orang-orang yang taat kepada Allah di waktu lapang dan di waktu sempit. Mereka mampu menahan amarah dan memaafkan orang lain.

Sebagaimana Allah berfirman di awal surat al-Mu’minuun: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki;

Baca Juga:  Surah Maryam Ayat 85-87; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

maka sesungguhnya mereka dalam hal int tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya. (QS. Al-Mu’minuun: 1-11)

Tafsir Kemenag: Demikianlah suasana di dalam surga aman dan tenteram, suasana bahagia dan sejahtera. Penghuninya merasa lega dan puas dengan nikmat dan karunia yang dilimpahkan Tuhan kepada mereka, dan Allah pun rida terhadap mereka karena mereka di dunia selalu patuh dan taat kepada-Nya, sabar dalam menghadapi cobaan-Nya sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

Allah berfirman, “Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.” (al-Ma`idah/5: 119)

Demikian keadaan dan sifat surga yang akan diwariskan-Nya kepada hamba-Nya yang benar-benar beriman dan selalu bertakwa kepada-Nya sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa. “Wahai hamba-hamba-Ku! Tidak ada ketakutan bagimu pada hari itu dan tidak pula kamu bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan mereka berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan pasanganmu akan digembirakan.”

Kepada mereka diedarkan piring-piring dan gelas-gelas dari emas, dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata. Dan kamu kekal di dalamnya. Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal perbuatan yang telah kamu kerjakan. Di dalam surga itu terdapat banyak buah-buahan untukmu yang sebagiannya kamu makan. (az-Zukhruf/43: 63-73).

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Maryam Ayat 61-63 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S