Surat Umar bin Khattab Untuk Sungai Nil, Apa Isinya?

surat umar untuk sungai nil

Pecihitam.orgSungai Nil merupakan sungai terpanjang di dunia, mengalir sepanjang 6.650 km dan membelah tak kurang dari sembilan negara yaitu: Ethiopia, Zaire, Kenya, Uganda, Tanzania, Rwanda, Burundi, Sudan, Sudan Selatan dan tentu saja Mesir. Dalam sejarah Islam, sungai ini memiliki keistimewaan tersendiri.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ternyata, salah satu sahabat Nabi, Umar bin Khattab pernah mengirimkan surat untuk sungai Nil yang identik dengan Mesir tersebut. Amirul Mukminin Umar menuliskan surat untuk Sungai Nil karena saat itu Mesir dilanda kekeringan panjang sehingga masyarakat menjadi kelaparan dan perekonomian terancam.

Ketika mengalami kondisi kekeringan ini biasanya raja-raja Mesir terdahulu akan menumbalkan anak gadis agar Sungai Nil mau mengalirkan airnya. Namun tidak demikian dengan Amirul Mukminin Umar bin Khatab, beliau cukup menuliskan surat dan melemparkannya ke dalam sungai. Kemudian atas ijin Allah, air di sungai tersebut kembali melimpah seperti sedia kala. Penasaran seperti apa kisah dan isi suratnya? Mari kita simak.

Kisah ini bermula ketika masa awal islam menaklukkan Mesir di bawah kepemimpinan Umar bin Khatab. Saat itu Amr bin Al-Ash ra. yang ditugaskan menjadi Gubernur di Mesir. Ketika menjalani kepemimpinannya, penduduk Mesir datang untuk menemui Amr bin al Ash sang gubernur baru.

Mereka menyampaikan bahwa saat itu sudah memasuki bulan sakral bagi penduduk Mesir. Mereka kemudian menceritakan kebiasaan sakral yang selalu dilakukan saat memasuki bulan ini. Penduduk percaya bahwa jika ritual ini tidak dilakukan, maka Sungai Nil akan berhenti mengalir dan kekeringan.

Baca Juga:  Pentingnya Memahami Al-Quran dari Tafsirnya

Sang Gubernur ‘Amr bin ‘Ash bertanya: “Apa tradisi itu?”
Tradisi itu ialah mencari anak yang masih gadis untuk dijadikan tumbal dan dilemparkan ke Sungai Nil agar air kembali meluap. Namun Amr bin ‘Ash tidak menyetujui hal itu. Baginya perbuatan itu sangat dilarang oleh Islam dan Islam telah menghapus ajaran buruk sebelumnya.

Penduduk Mesir kemudian mengikuti apa yang diperintahkan sang Gubernur. Tak disangka kekhawatiran penduduk akhirnya terjadi dan Sungai Nil yang tadinya penuh dengan air mulai surut dan nyaris kering.

Pada akhirnya, sungai terpanjang di Dunia tersebut nyaris tanpa aliran sama sekali. Kondisi tersebut akhirnya menjadi ancaman serius bagi perekonomian negara, karena, sudah selama tiga bulan Sungai Nil tanpa air.

Penduduk Mesir mulai resah dan berencana untuk pindah. Melihat kondisi sudah mulai memprihatinkan, Amr bin ‘Ash mengirim surat kepada pemimpin tertinggi, Khalifah Umar bin Khatab. Ia menerangkan tentang kondisi yang dialami masyarakat Mesir saat itu, dan ritual sakral yang dilakukan tahunan dimasa lalu oleh masyarakat.

Baca Juga:  Inilah Kitab-Kitab Tafsir Al-Qur'an Karangan Para Ulama Nusantara

Kemudian Khalifah Umar menulis surat kepada ‘Amr bin Ash yang di dalamnya diselipkan nota kecil. Dalam surat ‘Umar bin Khattab menulis:

“Tindakanmu benar. Islam memang menghapus kebiasaan buruk sebelumnya. Sesungguhnya saya telah mengirim kepadamu (juga) sebuah surat di dalam suratku ini, maka lemparkanlah surat itu ke dalam sungai nil sungai Nil.”

Setelah membaca surat dari Khalifah Umar, Amr bin ash begitu penasaran apa isi surat yang akan dilemparkan ke dalam sungai Nil tersebut. Ia kemudian membuka surat itu dan isinya tertulis berikut:

“Dari hamba Allah, Amirul Mukminin, Umar bin Khattab untuk Nil penduduk Mesir. Amma ba’du. Jika engkau mengalir karena kemauanmu, janganlah engkau mengalir. Tetapi bila engkau mengalir karena diperintah oleh Allah, maka aku meminta kepada Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa agar menjadikanmu mengalir.”

Amru bin ‘Ash lalu melempar surat kecil tersebut ke dalam Sungai Nil yang sudah kering. Sementara penduduk Mesir telah bersiap untuk hijrah sebab sungai yang menjadi sumber kehidupan mereka tidak lagi mengalirkan air.

Keesokan hari, setelah surat dari Umar bin Khattab dilempar, di pagi hari di hari raya Nasrani, air Sungai Nil telah mengalir dengan ketinggian 7 meter lebih hanya dalam kurun waktu satu malam. Dari saat itu Sungai Nil terus melimpah dan airnya tidak pernah surut sampai sekarang.

Baca Juga:  Lakukan 5 Hal Ini Jika Mengalami Mimpi Buruk

Hal ini selain menjadi salah satu karomah Umar bin Khattab dan juga bisa menjadi bukti bahwa bertawasul dan tabarruk di perbolehkan, selama niat dan tujuannya dikembalikan kepada Allah, seperti yang di lakukan oleh Khalifah Umar bin Khattan dan Amr bin Ash.

Kisah surat Umar untuk sungai Nil ini dapat ditemukan dalam kitab seperti Jami Karamat Auliya’ karya Syeikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani, Al-Bidayah wan Nihayah karya Imam Ibnu Katsir, Futuh Misra karya Ibn Abdil Hakam, Syarah I’tiqad Ahlis Sunnah karya Al-Lalika’i, Tarikh Dimasyqi karya Ibnu Asakir, dan Al-Udhmah karya Abus Syeikh.

Semoga informasi ini memberi khazanah keilmuan tentang dunia keislaman dan semakin menambah Iman kita semua. Aamiin. Wallahua’lam bisshawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik