5 Cara Khas Salafi Wahabi Tampil Manis di Depan Umum

ustadz wahabi

Pecihitam.org – Sejak gerakan Wahabi muncul abad ke-18 di Arab Saudi, paham yang didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab ini menggeliat dan meresahkan, bahkan hingga ke tanah air. Hal ini terlihat dari banyaknya kajian yang diisi oleh para dai-dai Wahabi di berrbagai tempat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Selain itu, tampak pula dengan banyaknya media dan portal berita yang bertebaran di dunia maya yang berafiliasi dengan paham tersebut. Begitu masifnya dai-dai mereka menyebarkan paham dan ajarannya baik dengan menulis artikel hingga melayani konsultasi keagamaan. Benar-benar sebuah skema yang jitu dalam berdakwah di dunia modern seperti saat ini.

Karena paham wahabi yang bersifat takfiri dan cukup keras, tak jarang di lapangan menimbulkan friksi yang hebat dengan kelompok lain. Repotnya mereka pintar bermain play victim. Upaya menolak ajaran Wahabi mereka tuduh sebagai sebuah penolakan terhadap pemurnian Islam.

Biar nggak kagetan, berikut adalah cara-cara yang ditempuh oleh Wahabi dan media-medianya dalam dialektikanya dengan umat Islam di luar mereka.

1. Menolak Sebutan Mereka Sendiri

Memang agak aneh kelompok yang satu ini. Karena meski mereka Wahabi namun tak mau disebut Wahabi dan tidak mau mengakui bahwa mereka adalah Wahabi. Mereka lebih suka disebut sebagai Salafi.

Mungkin, istilah ‘Wahabi’ sudah terlanjur identik dengen cara dakwah yang kaku, yang gemar memberi stempel sesat kepada pihak lain yang berbeda pendapat dengan mereka. Selain itu nama Wahabi juga sudah dipandang sebagai sesuatu yang ekstrim oleh masyarakat sehingga mereka bermaksud untuk berlepas diri darinya.

Baca Juga:  Astagfirullah, Ustadz Ini Sebut Rasulullah SAW Adalah Wahabi

Alasan lain mereka menolak disebut ‘Wahabi’ karena sebutan itu mengandung kesalahan nisbah. Jika yang dimaksudkan adalah pengikut Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab harusnya disebut Muhammadi.

Mereka kemudian mengatakan sebutan itu kepada pihak lain yakni kaum yang dinyatakan sebagai khawarij yang muncul pada abad ke-3 Hijriyah yakni Wahbiyyah, pengikut Abdul Wahhab bin Rustum.

Lantas, mengapa para pendahulu mereka nyaman-nyaman saja dengan sebutan itu hingga bertahan selama berpuluh-puluh tahun?

2. Meminjam Pendapat Ulama Golongan Lain

Seperti yang kita tahu, Wahabi akam memusuhi siapa saja yang tidak sepaham dengan mereka. Namun kelompok Syiah adalah disebut-sebut sebagai musuh nomor wahid. Banyak dalil yang mereka sajikan untuk meng-counter musuh bebuyutannya itu.

Bahkan pernah salah satu dalil yang mereka jadikan sandaran adalah fatwa Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Padahal selama ini mereka selalu memberi stempel bid’ah pada NU. Tapi demi memuluskan tujuannya dengan tak tahu malu mereka pun dengan seenaknya mengutip dalil.

Dalam kitab Risalah Ahlussunah wal Jama’ah, KH Hasyim Asy’ari menyebut Syiah Rafidhah sebagai salah 1 dari 6 golongan sesat di samping Haruriyah, Qadariyah, Jahmiyah, Murji’ah, dan Jabariyah. Potongan kalam KH Hasyim Asy’ari ini ternyata banyak dijumpai di situs-situs Wahabi dalam tema ‘Syiah Bukan Islam’.

Padahal di lain sisi KH Hasyim juga punya wanti-wanti untuk mewaspadai kaum mujassimah yang beliau sebut sebagai sekte pelaku bidah muharramah. Bahkan beliau secara eksplisit menulis nama syekh Muhammad bin Abdul Wahhab pendiri Wahabi dalam Kitab Risalahnya itu. Berikut petikannya :

Baca Juga:  Peranan Mr. Hempher Terhadap Gerakan Muhammad bin Abdul Wahab (Bag 2)

وَمِنْهُمْ فِرْقَةٌ يَتَّبِعُوْنَ رَأْيَ مُحَمَّدْ عَبْدُهْ وَرَشِيدْ رِضَا ، وَيَأْخُذُوْنَ مِنْ بِدْعَةِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ النَّجْدِيْ ، وَأَحْمَدَ بْنِ تَيْمِيَّةَ وَتِلْمِيْذَيْهِ ابْنِ الْقَيِّمِ وَعَبْدِ الْهَادِيْ

‘Diantara mereka terdapat juga kelompok yang mengikuti pemikiran Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Mereka melaksanakan kebid’ahan Muhammad bin Abdul Wahhab al-Najdi, Ahmad bin Taimiyah serta kedua muridnya, Ibnul Qoyyim dan Abdul Hadi.’

3. Penyesatan Informasi

Di antara polemik berkepanjangan yang hingga kini pun masih terjadi adalah tema “Islam Nusantara” yang diusung PBNU. Oleh media-media Wahabi dan kelompok lain yang menentang tema tersebut, Islam Nusantara diberitakan sebagai proyek liberal untuk mencerabut muslimin Indonesia dari Islam yang sahih.

Tanpa mau melihat definisi sesungguhnya, mereka kemudian menuduh Islam Nusantara menyeleweng dari syariat, memecah belah, anti-Arab dan pernyataan-pernyataan lain yang sebenarnya jauh dari konteks yang sebenarnya.

Mereka mengartikannya sebagai me-Nusantara-kan Islam, padahal tema itu pada dasarnya hanya memberikan nama pada hal-hal yang sudah berjalan selama ini. Sungguh yang dilakukan Wahabi itu adalah sebuah penyesatan informasi yang nyata.

4. Menggalang Kebersamaan dengan Golongan Lain

Karena kondisi masyarakat yang begitu kontra dengan Syiah, dengan mencai dukungan kelompok lain mereka pernah mendeklarasikan Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS). Aliansi ini dengan percaya diri menggaungkan ‘perang’ bertema Sunni versus Syiah di Indonesia.

Tema yang belum lama dilakukan adalah Aksi Bela Islam, Islam 212 bahkan sampai ada istilah alumni Islam 212. Memang tak dipungkiri dilapangan aksi-aksi tersebut diikuti oleh berbagai golongan dan lintas mazhab.

Baca Juga:  Nasiruddin Albani; Ada Hadis yang Tidak Shahih di Kitab Muslim, Ini Kritik Prof Kamaruddin Amin

Wahabi sangat lihai membaur dengan elemen muslim lain seperti dari FPI, FUI, HTI, Muhammadiyah atau bahkan dari NU yang memang secara organisasi tidak mendukung namun tidak pula melarang warganya berpartisipasi dalam aksi-aksi tersebut.

5. Memainkan Logika Awam

Cara yang ke lima ini memang masih dan efektif dilakukan Wahabi. Mereka membangun logika kepada masyarakat awam “Jika Wahabi diidentikkan dengan pihak yang ekstrim, mana mungkin Wahabi melakukan banyak hal yang bernilai kebaikan?”

Faktanya para milyuner Saudi menginfakkan hartanya, betapa baiknya askar Saudi dalam menjamu jamaah haji, betapa banyaknya bantuan mereka terhadap pengungsi Palestina dan kontribusi-kontribusi lainnya. Padahal apologi yang mereka gaungkan tidak bisa sepenuhnya saling mempengaruhi satu sama lain.

Dan itulah yang sampaikan kepada orang-orang awam yang tak paham mengapa umat Islam menolak Wahabi. Akhirnya dengan mudahnya orang-orang awam meyakini bahwa Wahabi adalah korban fitnah belaka. Padahal yang sebenarnya Wahabilah pembawa fitnah yang sesungguhnya.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik