Haul Abah Guru Sekumpul, Tradisi Besar Masyarakat Martapura

haul abah guru sekumpul

Pecihitam.org – Haul Abah Guru Sekumpul ke-15 tahun 2020 ini akan dilaksanakan beberapa hari lagi, tepatnya tanggal 1 dan 2 Maret nanti. Seperti pelaksanaan haul di tahun-tahun sebelumnya, jutaan jama’ah dari berbagai penjuru daerah di Kalimantan dan bahkan dari luar pulau akan memadati pusat kegiatan di wilayah Sekumpul, kota Martapura, Kalimantan Selatan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau dikenal Abah Guru Sekumpul memang sosok yang memiliki daya tarik tersendiri, baik saat beliau masih hidup maupun setelah wafatnya. Bukan karena pesona luarnnya yang dipamerkan dan pakaian yang dikenakan, tetapi karena pengabdian tulus beliau membina keberagamaan umat Islam.

Kiprah beliau dalam berdakwah dengan semangat kasih sayang tanpa merendahkan orang lain membuat kaum muslimin merasa kehilangan seorang figur guru sekaligus abah (ayah). Karena itu, rasa rindu pada sosok Abah Guru membuat jutaan jama’ah rela menyisihkan waktu dan meninggalkan aktivitas mereka untuk pergi dari kampung-kampung mereka dan mengikuti peringatan wafat beliau di kota Martapura (Lihat Rahasia Guru Sekumpul Dicintai Banyak Orang)

Sebagai tuan rumah seluruh penduduk kota Martapura sejak jauh-jauh hari sudah mempersiapkan diri menyambut tamu-tamu Abah Guru. Jalan-jalan dan gang-gang dihias dengan bendera dan umbul-umbul lengkap dengan spanduk bertuliskan “kami warga jalan …. mengucapkan selamat datang jama’ah Haul Abah Guru Sekumpul”. Jika berkeliling kota Martapura di malam hari, kita akan menyaksikan kelap-kelip lampu hias menerangi jalanan.

Baca Juga:  Peringatan Haul Dalam Islam, Bagaimanakah Tuntunannya?

Hampir di setiap persimpangan dan setiap sudut kota akan dijumpai posko relawan pengamanan. Setiap posko dihuni oleh warga-warga sipil yang nantinya bertugas menertibkan arus lalu lintas, mulai dari saat kedatangan jutaan jama’ah Haul hingga kepulangan mereka sampai kota terasa sepi kembali. Posko-posko relawan pengamanan juga menyiapkan jasa tambal ban dan perbaikan kendaraan buat para jama’ah.

Fasilitas konsumsi dan akomodasi tentunya menjadi bagian penting dalam melayani jama’ah. Masjid, surau, pertokoan, perkantoran dan bahkan rumah-rumah pribadi disulap menjadi penginapan bagi para jama’ah selama pelaksanaan Haul. Layanan makan harian dan cemilan juga disediakan oleh pengurus masjid atau pemilik rumah.

Konsumsi untuk para jama’ah tak hanya disajikan di penginapan-penginapan, tetapi juga di jalan-jalan dan seputar pusat pelaksanaan Haul. Sejak masa kedatangan hingga kepulangan jama’ah, penduduk kota Martapura dengan senang hati membagi-bagikan makanan, minuman dan cemilan bagi para jama’ah hampir di setiap sudut kota. Sebagian penduduk bahkan mendirikan dapur-dapur umum agar makanan yang disajikan kepada para jama’ah adalah makanan yang berkualitas.

Yang menarik adalah bahwa semua layanan buat para jama’ah Haul itu diberikan secara gratis tanpa memungut biaya sepeser pun! Para petugas posko tidak menarik biaya pengamanan dan biaya parkir, meski mereka tak menolak jika diberi imbalan. Pengurus masjid dan surau serta pemilik rumah penginapan juga menyajikan tempat menginap dan konsumsi secara cuma-cuma. Apalagi mereka yang secara suka rela membagi-bagikan makanan di seputaran kota.

Baca Juga:  Proses Penyebaran Islam di Nusantara Menurut Mukti Ali

Lebih menarik lagi, tugas melayani para jama’ah Haul itu bukanlah instruksi dari pemerintah setempat atau dari keluarga Abah Guru sebagai penyelenggara Haul. Semua layanan tak berbayar itu inisiatif warga kota Martapura yang kini menjadi tradisi dan dilakukan secara sukarela tanpa paksaan atau perintah dari pihak manapun. Bagi mereka, melayani para jama’ah Haul Abah Guru Sekumpul adalah tugas suci.

Mengutip Julian Huxley, Nurcholis Madjid (Cak Nur) dalam Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan (Mizan, 2008) membedah bahwa rasa kesucian adalah realitas keagamaan yang esensial. Banyak definisi berbeda tentang agama yang dikemukakan oleh para ahli yang masing-masing berdasarkan hanya dari aspek atau sudut pandang tertentu dari agama. Namun semua agama menunjukkan realita yang cenderung seragam, yakni rasa kesucian.

Rasa kesucian, menurut Cak Nur, adalah pengalaman khusus yang menyatakan dirinya melalui simbol-simbol dan mencari pernyataan intelektualnya dalam teologi. Rasa kesucian tersebut adalah sesuatu yang tidak dapat diterangkan. Ia ada apa adanya dan hanya dapat dikomunikasikan kepada orang lain yang memiliki pengalaman yang sama. Rasa kesucian itu erat hubungannya dengan kebaikan, kebenaran, kemuliaan dan nilai-nilai lainnya yang serba tinggi.

Baca Juga:  Implikasi Ajaran Sunan Kalijaga Terhadap Tradisi Sekaten di Yogyakarta

Pengertian ini sejalan dengan pernyataan Nathan Soderblom, seorang ahli perbandingan agama (Lihat Mujiburrahman dalam Jurnal Kanz Philosophia, Vol. 1, No. 2, 2011). Ia mengatakan bahwa kesucian (holiness) adalah kata kunci yang paling penting dalam agama. Ada agama yang tidak punya konsep Tuhan seperti Buddhisme, tapi tak ada agama yang tidak memiliki konsep kesucian dan yang suci.

Tradisi yang dilakukan oleh warga kota Martapura memenuhi rasa kesucian itu. Saat melayani para jama’ah Haul mereka merasakan batin yang sepenuhnya suci. Karena kesucian berkaitan dengan kebaikan, kebenaran dan kemuliaan, mereka menganggap bahwa tugas mereka itu baik, benar dan mulia. Balasan yang dicari bukanlah balasan materi, melainkan kepuasan dalam memberikan layanan terbaik sebagai tuan rumah yang baik.

Haul Abah Guru Sekumpul bukan sekedar perhelatan religius biasa, tapi juga menjadi ajang mencari kepuasan merasakan kesucian melalui tradisi melayani para jama’ah Haul. Mengenai sebesar apa dan sejauh mana perasaan suci itu dirasakan, itu soal lain.

Yunizar Ramadhani