Sejarah Kerajaan Mataram Islam, Penguasa Pulau Jawa Abad ke 17

kerajaan mataram islam

Pecihitam.org – Nagari Kasultanan Mataram (ꦤꦒꦫꦶꦏꦱꦸꦭ꧀ꦠꦤ꧀ꦩꦠꦫꦩ꧀) atau disebut juga Mataram Islam atau Mataram Baru) merupakan suatu Negara Islam di pulau Jawa yang berbentuk kesultanan pada abad ke-17. Kerajaan Mataram Islam sebetulnya didirikan sejak abad ke-16 namun baru diakui sebagai negara yang berdaulat pada abad ke-17 saat dipimpin Dinasti keturunan Ki Ageng Sela dan Ki Ageng Pamanahan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Berdirinya Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam bermula dari suatu kadipaten, dibawah kekuasaan kerajaan Pajang, dimana terletak di bumi Mentaok. Kerajaan ini diberikan kepada Ki Ageng Pemanahan oleh Raja Pajang Jaka Tingkir, sebagai hadiah ataa jasanya ketika menaklukkan Arya Panangsang dari Jipang.

Ki Ageng Pemanahan adalah bupati di Mataram, dia memiliki seorang putra bernama Sutawijaya. Dia adalah seseorang yang memiliki bakat militer yang tinggi dan Sutawijayalah yang membunuh Arya Panangsang. Kemudian diangkat anak oleh raja Pajang yaitu Jaka Tingkir (Sultan Adiwijaya).

Sutawijaya juga dijadikan saudara dengan pangeran Banawa sang putra mahkota. Pada tahun 1575M, Ki Ageng Pemanahan meninggal dunia, Raja Pajang mengangkat Sutawijaya sebagai bupati Mataram menggantikan sang ayah, di dibawah kepemimpinannya Mataram semakin berkembang pesat. Selanjutnya pada tahun 1582, sang Raja Pajang meninggal dunia, Arya Panggiring yang saat itu menjadi adipati di Demak melakukan kecurangan dengan merebut Pajang.

Putra Mahkota yaitu Pangeran Banawa berhasil disingkirkan, kemudian Arya Panggiring naik tahta, namun rakyat Pajang kurang menyukai Arya Panggiring. Melihat hal itu Pangeran Banawa berniat untuk merebut haknya kembali. Dengan bantuan dari Bupati Mataram yaitu Sutawijaya, dan akhirnya Arya Panggiri dapat dilengserkan.

Kemudian pada tahun 1586 M, Pajang diambil alih oleh Sutawijaya karena tidak ada putra mahkota yang menggantikan kepemimpinan pangeran Banawa, kemudian pusat pemerintahan Pajang dipindahkan ke Mataram dan inilah awal berdirinya Kesultanan Mataram Islam.

Kejayaan Mataram adalah ketika dipimpin oleh Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo, namun lebih dikenal dengan Sultan Agung. Beliau dikenal memiliki pribadi yang ulet, kuat dan berani. Cita-citanya adalah menyatukan pulau Jawa dibawah kekuasaan Kerajaan Mataram Islam. Pada tahun 1615 Sultan Agung memulai mewujudkan cita-citanya yaitu dengan diawali penyerangan kepada para bupati di pesisir Utara yang tidak ingin tunduk pada Mataram.

Baca Juga:  Ijtihad Sahabat Umar Bin Khattab Yang Kontroversial

Pada tahun 1625, hampir semua wilayah di pulau Jawa ada dibawah kekuasaan Mataram kecuali Banten, Cirebon, Blambangan serta Batavia. Sultan Agung pernah berusaha menaklukan Banten dan Batavia, pada saat itu banten dan Batavia masih dibawah kekuasaan VOC sehingga dia harus menaklukan VOC terlebih dahulu.

Pada tahun 1628 dan 1629 serangan itu terjadi, namun kedua serangan itu gagal dan megalami kekalahan karena kapal pengangkut beras ditenggelamkan oleh VOC, gudang beras pasukan Mataram dibakar dan para pasukan mataram mengalami kelelahan karena perjalanan yang terlalu jauh.

Sebagai penguasa Mataram Sultan Agung sangat menghormati para Ulama, karena memiliki moral serta ilmu dan pengetahuan yang tinggi dan karena kedekatannya Sultan Agung selalu meminta nasihat para ulama sebagai pertimbangan ketika akan memutuskan sesuatu.

Pada saat itu para Ulama sedang konsentrasi mengerjakan Islamisasi pada budaya-budaya yang masih menempel pada hati masyarakat. Pada tahun 1645 Sultan Agung meninggal dunia, ia lalu digantikan oleh putranya Amangkurat 1. Pada saat pemerintahan Sultan Agungdia juga membuat penanggalan Jawa memakai perhitungan yang sama dengan perhitungan tahun Hijriyah.

Raja-Raja Mataram

Kerajaan Mataram Islam pernah dipimpin oleh 6 orang raja, sebagaimana berikut :

1. Ki Ageng Pamanahan (1556 – 1584)

Desa Mataram didirikan oleh Ki Ageng Pamanahan di tahun 1556. Desa yang dulunya alas Mentaok ini yang kemudian dipimpin oleh anaknya yaitu Sutawijaya. Ki Ageng Pamanahan wafat pada tahun 1584 dan dimakamkan di Kota Gede, Jogjakarta.

2. Panembahan Senapati (1584 – 1601)

Setelah Ki Ageng Pamanahan wafat tahun 1584, kekuasaan berlanjut ke tangan putranya yaitu Sutawijaya. Sutawijaya sendiri adalah menantu dan anak angkat dari Sultan Pajang. Di bawah kepemimpinannya kerajaan Mataram Islam berkemabang dan melakukan ekspansi wilayah kekuasaannya. Mulai dari Pajang, Demak, Tuban, Madiun, Pasuruan dan sebagian besar wilayah Surabaya.

3. Raden Mas Jolang (1601 – 1613)

Raden Mas Jolang adalah penerus tahta Kerajaan Mataram yang ke 3. Ia adalah putra dari Panembahan Senapati dan Putri Ki Ageng Panjawi. Raden Mas Jolang juga dijuluki sebagai Panembahan Anyakrawatu.

Baca Juga:  Pengertian Syarah dan Sejarah Perkembangan Syarah Hadis Sampai Menjadi Disiplin Ilmu

Pada masa pemerintahannya terjadi banyak peperangan untuk menaklukkan wilayah dan juga mempertahankan wilayah. Raden Mas Jolang berkuasa selama 12 tahun, dan ia wafat di tahun 1613 di desa Krapyak dimakamkan di Pasar Gede.

4. Raden Mas Rangsang (1613 – 1646)

Raden Mas Rangsang atau Sultan Agung Senopati Ingalaga Ngabdurrahman, ia merupakan putra dari Raden Mas Jolang dan juga raja ke 4 Kerajaan Mataram Islam.

Kerajaan Mataram mencapai puncak kejayaan pada masa kekuasaannya. Kerajaan Mataram berhasil menguasai hampir seluruh tanah Jawa. Raden Mas Rangsang wafat tahun 1546 dan dimakamkan di Imogiri.

5. Hamangkurat I (1646 – 1676)

Sultan Hamangkurat merupakan anak dari Sultan Agung. Beliau memindahkan pusat kerajaan dari kota Gedhe ke Plered tahun 1647. Pada masa pemerintahan Hamangkurat I inilah Kerajaan Mataram Islam mulai terpecah. Sultan Amangkurat I wafat pada tanggal 10 Juli 1677 dan dimakamkan di Telagawangi, Tegal.

6. Hamangkurat II (1677 – 1703)

Sebelum wafat, Hamangkurat I mengangkat Amangkurat II sebagai penerusnya. Amangkurat II memiliki nama asli Raden Mas Rahmat. Beliau merupakan pendiri serta raja pertama dari Kasunanan Kartasura. Kasunanan Kartasura merupakan lanjutan dari Kerajaan Mataram Islam.

Amangkurat II merupakan raja Jawa pertama yang menggunakan pakaian dinas berupa pakaian Eropa. Sehingga rakyat menjulukinya Sunan Amral (Admiral).

Runtuhnya Kerajaan Mataram Islam

Kemunduran Mataram terjadi ketika Sultan Agung merebut Batavia untuk menguasai seluruh Jawa dari Belanda, akan tetapi Kerajaan Mataram Islam mengalami kekalahan. Setelah kekalahan tersebut, ekonomi rakyat terbengkalai dan berantakan karena sebagaian rakyat dikerahkan untuk ikut berperang.

Kemudian pada masa pemerintahan Hamangkurat I juga kurang stabil karena banyak ketidakpuasan dan pemberontakan. Pada masa itu, terjadi pemberontakan besar yang dipimpin oleh Trunajaya dan memaksa Hamangkurat I bersekutu dengan VOC. Ia wafat di Tegalarum (1677) ketika mengungsi sehingga dijuluki Sunan Tegalarum.

Penggantinya, Hamangkurat II (Hamangkurat Amral), begitu patuh pada VOC sehingga kalangan istana banyak yang tidak puas dan pemberontakan terus terjadi. Pada masanya, kraton dipindahkan lagi ke Kartasura (1680), sekitar 5 km sebelah barat Pajang karena kraton yang lama dianggap telah tercemar.

Baca Juga:  Rentetan Sejarah Berdirinya Nahdlatul Ulama

Pengganti Hamangkurat II berturut-turut adalah Hamangkurat III (1703-1708), Pakubuwana I (1704-1719), Hamangkurat IV (1719-1726), Pakubuwana II (1726-1749). VOC tidak menyukai Hamangkurat III karena menentang VOC sehingga VOC mengangkat Pakubuwana I (Puger) sebagai raja.

Akibatnya Mataram memiliki dua raja dan ini menyebabkan perpecahan internal. Hamangkurat III memberontak dan menjadi “king in exile” hingga tertangkap di Batavia lalu dibuang ke Ceylon (Sebutan dunia Internasional dari Sri Lanka).

Kekacauan politik baru dapat diselesaikan pada masa Pakubuwana III setelah pembagian wilayah Mataram menjadi dua yaitu Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta tanggal 13 Februari 1755. Pembagian wilayah ini tertuang dalam Perjanjian Giyanti (nama diambil dari lokasi penandatanganan, di sebelah timur kota Karanganyar, Jawa Tengah).

Dari sini berakhirlah era Kerajaan Mataram Islam sebagai satu kesatuan politik dan wilayah. Walaupun demikian sebagian masyarakat Jawa beranggapan bahwa Kesultanan Ngayogyakarta dan Kasunanan Surakarta adalah pewaris dari Kesultanan Mataram hingga saat ini.

Faktor runtuhya Kerajaan Mataram Islam

Faktor eksternalnya antara lain yaitu meletusnya Gunung Merapi yang megeluarkan lahar sehingga menimbun candi-candi yang didirikan oleh kerajaan dan candipun rusak, terjadinya krisis politik, campur tangan VOC dalam sistem pemerintahan. Faktor internalnya antara lain, tidak ada pembentukan pemimpin baru, adanya perang saudara yang melemahkan kekuatan perang yang menimbulkan malapetaka bagi rakyat dan bangsawan.

Mataram sendiri merupakan kerajaan berbasis agraris (pertanian). Dan memiliki banyak sekali peninggalan yang dapat kita lihat hingga kini. Seperti kampung Matraman di Batavia (Jakarta), sistem persawahan di Pantura, Jawa Barat, penggunaan huruf Hanacaraka, perhitungan Jawa Hindu atau Saka yang menjadi penanggalan Islam dan Hijriah dan lainnya.

*Diolah dari berbagai sumber

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik