3 Tips dan Doa Rasulullah Ketika Marah, Wajib Hafal Biar Hati Tenang

3 Tips dan Doa Rasulullah Ketika Marah, Wajib Hafal Biar Hati Tenang

PeciHitam.org – Berbicara mengenai marah, siapapun juga pasti sering mengalami. Saat dimana kita merasa disakiti atau disebabkan oleh beberapa hal yang dianggap dapat mengusik ketenangan kita. Sebagai manusia biasa, marah merupakan hal yang lumrah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ketika seseorang marah, seringkali ia merugikan diri sendiri maupun orang lain. Tidak jarang pula, ketika marah telah berlalu, kita merasa menyesal.

Sebab sikap marah kita mungkin tekah di luar kendali. Bahkan Rasulullah Saw pun sama seperti manusia pada umumnya (ka al-basyar). Kadang bisa gembira, sedih bahkan marah sekalipun. Namun bedanya, Rasulullah selalu mampu mengontrol amarahnya.

Mana kala seseorang marah, atau biasa disebut dengan ”ghadib/ghadaban” (orang yang sedang marah), kata tersebut juga dapat diartikan sebagai reaksi yang cenderung kearah negatif, baik merugikan diri sendiri atau bahkan menimbulkan permusuhan.

Adapun akar kata ”ghadza” adalah ghadza – yughayidzu – ghaidzan yang berarti membuatnya sangat marah. Rasulullah SAW sudah sejak dahulu mengingatkan bahwa ketika seseorang marah, boleh jadi ia membahayakan dirinya.

Oleh sebab itu, maka Rasulullah SAW mengajarkan kepada umatnya tentang bagaimana tips mengatasi marah yang sedang bergejolak di dalam batin seseorang.

Sebelum itu, ada hal penting yang berkaitan dengan marah, disampaikan Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin. Menurutnya marah merupakan sekam yang tersimpan dalam hati, seperti terselipnya bara di balik debu. Bisa jadi api dari amarah tersebut merupakan tipu daya setan dalam menjerumuskan manusia.

Baca Juga:  Dzikir Pagi dan Petang Dalam Rangkaian al-Matsurat

Marah merupakan salah satu emosi yang secara fitrah dimiliki oleh setiap manusia sejak lahir. Bahkan tidak jarang kita temui, bayi yang belum mampu berbicara pun memiliki emosi seperti marah, gembira, malu, takut, terkejut, heran dan sebagainya. Namun seiring berjalannya waktu seorang manusia seyogyanya juga belajar mengendalikan nafsu amarahnya tersebut.

Ketika marah, seseorang akan mengeluarkan intonasi yang lebih tinggi dari biasanya. Tidak jarang pula, ada yang menyimpan marah tersebut dengan diam dan disimpan dalam hati. Keduanya boleh jadi dapat merugikan seseorang nantinya, baik diri sendiri maupun orang lain.

Hal yang perlu dilakukan ialah mengendalikannya, bukan menyimpan dalam hati yang nantinya merugikan diri sendiri maupun melepaskannya dengan melakukan suatu tindakan tertentu.

Ketika seseorang dapat mengendalikan marah, itu artinya ia mampu meletakkan nafsu pada tempatnya dan sesuai porsinya. Hal inilah yang sesuai dengan fitrah penciptaan manusia tersebut.

Selain al-Ghazali, Imam An-Nawawi juga mendefinisikan arti kata marah, namun dari perepektif ilmu Tasawuf. Menurut An-Nawawi, marah merupakan tekanan nafsu dari hati yang mengalirkan darah pada bagian wajah dan mengakibatkan timbulnya kebencian terhadap seseorang.

Mungkin kita sering heran, mengapa ketika seseorang marah, ia merasa tenaganya meningkat luar biasa. Seperti jauh lebih kuat dari biasanya. Nah, dalam hal ini, ketika seseorang marah, otomatis adrenalinnya meningkat, darah terpompa lebih cepat.

Ketika adrenalin meningkat inilah biasanya seseorang kalap dan tak mampu mengendalikannya. Hal tersebut dimanfaatkan oleh setan dalam menjerumuskan manusia ke dalam jurang permusuhan.

Baca Juga:  5 Variasi Bacaan Doa Iftitah Ini Jarang Digunakan Nahdliyyin

Bahkan sering kita jumpai perilaku kriminal yang bersumber dari marah, antara lain seperti membunuh, menganiaya, dan kejahatan lainnya. Ali bin Abi Thalib pernah berkata “Kendalikan kemarahan, sebab kemarahan merupakan salah satu bala tentara besar diantara bala tentara-bala tentara setan”

Menahan amarah bukanlah perkara yang mudah, bahka pernah Rasulullah pernah mengingatkannya dalam sabdanya, “Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah”.

Selain itu, nabi juga memberikan tips-tips dalam mengendalikan marah, antara lain:

  1. Tenang dan diam

Saat orang sedang marah, ia adrenalin meningkat, membuat kita seringkali di luar kendali. Tidak jarang pula kita mengucapkan hal-hal yang mungkin dapat menyakiti orang lain ketika marah.

  1. Mengubah posisi

Perubahan posisi dapat berpengaruh pada kestabilan emosi, sehingga Nabi Muhammad SAW menganjurkan bila marah dalam keadaan berdiri maka duduklah, jika duduk belum cukup menurunkan tekanan emosi marah maka berganti posisi lagi. Jika berbaring tidak mungkin dilakukan seperti saat di kantor atau di tempat umum, bisa merubah posisi tersebut dengan menjauhkan diri dari sumber pemicu emosi, tentunya dengan cara yang santun.

  1. Berwudhu

Berwudhu merupakan salah satu solusi ketika marah. Ketika seseorang marah, biasanya ia  merasakan tubuhnya seperti panas mendidih. Harapannya dengan bersentuhan dengan air bisa meredakan suhu tubuh menjadi lebih stabil.

Baca Juga:  Doa Mengusir Gangguan Jin dan Terhindar dari Petaka Lainnya

Dalam kitab Al-Adzkar, Imam An-Nawawi menyantumkan suatu riwayat tentang doa yang dibaca Rasulullah ketika marah, berikut ini:

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذَنْبِيْ ، وَأَذْهِبْ غَيْظَ قَلْبِيْ ، وَأَجِرْنِيْ مِنَ الشَّيْطَانِ

“Ya Allah, ampunilah dosaku, redamlah murka hatiku, dan lindungilah diriku dari pengaruh setan.”

Ketika seseorang sedang marah, demi meredamnya, paling tidak ia dianjurkan untuk membaca ta’awudz. Jika membaca ta’awudz ternyata belum mampu membendungnya, maka berwudhu lalu melakukan shalat dua rakaat. Setelah itu ia berdoa kepada Allah dan memohon petunjuk kepada-Nya.

Begitulah pembahasan mengenai Tips dan Doa Rasulullah Ketika Marah yang bisa kita amalkan dalam kehidupan kita. Semoga kita bisa senantiasa menahan emosi kita dalam setiap waktu dan kesempatan.

Mohammad Mufid Muwaffaq