Ilmu Qiraat dalam al-Quran; Pengertian Hingga Pembagian Mazhabnya

Ilmu Qiraat dalam al-Quran; Pengertian Hingga Pembagian Mazhabnya

Daftar Pembahasan:

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Pengertian Ilmu Qiraat dalam al-Quran

PeciHitam.org – dalam hal pembacaan al-Quran atau yang biasa dikenal dengan ilmu Qiraat, terdapat beberapa mazhab yang dipilih oleh seorang imam Qurra’. Lalu sebenarnya, bagaimana sih definis dan penjelasan lengkap mengenai Ilmu QIra’ah ini? Yuk kita bahas.

Menurut Abu Syamah al-Dimasyqi, ilmu qiraat didefinisikan sebagai sebuah disiplin ilmu yang membahas mengenai tata cara artikulasi (pengucapan) dan ragam perbedaan lafadz al-Quran yang disandarkan pada perawi yang mentransmisikannya.

Sedangkan menurut Az-Zarqani dalam kitabnya yang berjudul Manahil al-‘Irfan Fi Ulum al-Quran menjelaskan bahwa Qiraat merupakan suatu madzhab yang dianut oleh seorang imam dalam membaca al-Quran yang berbeda satu dengan yang lainnya dalam pengucapan al-Quran serta disepakati riwayat dan jalurnya, baik perbedaan dalam pengucapan huruf (artikulasi) maupun lafadznya.

Hal ini bertujuan untuk menjaga keaslian dan otentisitas al-Quran dari masa ke masa, sejak masa Nabi hingga akhir zaman. Hal ini jugalah yang membuat bacaan al-Quran di seluruh dunia tetap pada pakemnya.

Mazhab Ilmu Qiraat dalam al-Quran

Mazhab qira’ah yang paling terkenal dan banyak digunakan antara lain Qira’ah Sab’ah, Qira’ah ’Asyrah juga Qira’ah Arba’a ‘Asyrah. Berikut ini sepuluh Imam Qiraat yang amat masyhur, bacaan mereka telah divalidasi oleh para ulama Qiraat sebagai bacaan yang mutawatir.

Dengan kata lain, bacaan tersebut memang benar-benar asli bersumber dari nabi Muhammad saw. Sepuluh Imam Qiraat tersebut antara lain:

  1. Nafi’ bin Abi Nu’aim al-Ashbihani
  2. Ibn Katsir, Abdullah bin Katsir al-Makki
  3. Abu ‘Amr, Zaban bin al-‘Ala’
  4. Ibn ‘Amir Abdullah bin ‘Amir as-Syami
  5. ’Ashim bin Abi an-Najud
  6. Hamzah bin Habib az-Zayyat
  7. Kisa’I, Ali bin Hamzah
  8. Abu Ja’far, Yazid bin al-Qa’qa’
  9. Ya’qub al-Hadlrami
  10. Khalaf al-Bazzar (al-Bazzaz)
Baca Juga:  Memegang Al-Quran Terjemah Tanpa Wudhu Bolehkah?

Kesepuluh nama di atas inilah yang dikenal sebagai imam qiraat ‘asyrah. Masing-masing imam qiraat di atas memiliki murid yang juga telah diakui oleh ulama qiraat.

Murid-murid mereka inilah yang dipercaya sebagai rujukan riwayat oleh para ulama. Adapun nama-nama muridnya, antara lain:

  1. Nafi’: Qalun dan Warsy.
  2. Ibn Katsir: al-Bazzi dan Qunbul.
  3. Abu ‘Amr: ad-Duri dan as-Susi.
  4. Ibn ‘Amir: Hisyam dan Ibn Dzakwan.
  5. ‘Ashim: Syu’bah dan Hafsh.
  6. Hamzah: Khalaf dan Khallad.
  7. Al-Kisa’I: Abu al-Harits dan ad-Duri al-Kisa’i.
  8. Abu Ja’far: Ibn Jammaz dan Ibn Wardan.
  9. Ya’qub: Rauh dan Ruwais.
  10. Khalaf: Ishaq dan Idris.

Qiraat dalam al-Quran yang Masyhur Pada Masa Lalu

Sementara itu, Imam Makki al-Qaisi (w. 437 H) juga menjelaskan tentang bacaan penduduk negeri-negeri Islam pada masa lalu, berikut penjelasannya:

وكان الناس على رأس المائتين بالبصرة على قراء ة أبى عمرو البصرى ويعقوب الحضرمى , وعلى أهل الكوفة قراءة حمزة وعاصم ,وبالشام على قراءة ابن عامر , وبمكة على قراءة ابن كثير , وبالمدينة على قراءة نافع , واستمروا على ذلك. فلما كان على رأس الثلاث مئة اثبت ابن مجاهاد اسم الكسائى وحذف يعقوب

Artinya : pada permulaan tahun 200 H, masyarakat di Basrah mengikuti bacaan Abu ‘Amr al-Basri dan Ya’qub. Di Kufah mengikuti bacaan Hamzah dan ‘Ashim. Di Syam mengikuti bacaan Ibn ‘Amir. Di Madinah mengikuti bacaan Nafi’. Kemudian pada penghujung tahun 300 H, Ibn Mujahid memasang nama al-Kisa’i dan mengganti Ya’qub.

Sedangkan Ibn al-Jazari juga menambahkan bahwa bacaan penduduk negeri Syam sampai pada tahun 500 H, menggunakan Qiraat Ibn ‘Amir.

Qiraat yang Paling Banyak Digunakan Hingga Saat Ini

Perlu diketahui juga bahwa Qiraat yang masyhur dan masih digunakan hingga saat ini antara lain, yaitu:

Riwayat Imam Nafi’

Bacaan Imam Nafi’ melalui riwayat Qalun, pada umunya digunakan di Libia dan Tunisia. Sedangkan riwayat Warsy digunakan di Afrika Utara (al-Maghrib al-‘Arabi) seperti Aljazair, Maroko, Mauritania.

Sementara ada yang begitu menarik di Sudan, sebab di negeri ini menggunakan empat riwayat sekaligus, yaitu: Qalun, Warsy, ad-Duri Abu ‘Amr, dan Hafsh.

Baca Juga:  Etika Membaca Al Quran Sesuai Sunnah Rasulullah SAW

Riwayat Imam ad-Duri

Bacaan Imam ad-Duri Abu ‘Amr pada umumnya masih digunakan di Somalia, Sudan, Chad, Nigeria, dan Afrika Tengah. Begitu juga dengan Yaman, terbukti dengan adanya kitab Tafsir Fath al-Qadir karya asy-Syaukani tulisan Al-Qurannya mengikuti riwayat ad-Duri.

Riwayat Hafsh

Bacaan Al-Quran Imam ‘Ashim riwayat Hafsh merupakan bacaan yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. Hal ini sedikit banyak berkat pemerintahan Turki Usmani sekitar tahun 922 H/1516 M mempunyai peranan yang sangat signifikan melalui kekuatan politik kekuasaan.

Selain itu, pemerintahan Turki Usmani juga pada saat mencetak mushaf, mereka memilih bacaan riwayat Hafsh. Sebagaimana disebutkan oleh Muhammad al-Mar’asyi yang hidup pada abad ke-12 H (w.1150 H) berikut:

والمأخوذ فى ديارنا ( عش مدينة فى جنوب تركيا الآن ) قراءة عاصم برواية حفص عنه

Artinya: “yang dijadikan patokan di negeri kami (Turki) adalah bacaan ‘Ashim riwayat Hafsh.”

Di Indonesia sendiri, dari 20 perawi di atas yang paling masyhur riwayat Imam Hafsh selaku perawi dari Imam ‘Ashim inilah yang digunakan.

Nama lengkapnya ialah Hafsh bin Sulaiman bin al-Mughirah Abu Umar bin Abi Dawud al-Asadi al-Kufi al-Ghadliri al-Bazzaz. Beliau merupakan murid kepercayaan Imam ‘Ashim, yang dilahirkan pada tahun 90 H.

Seperti yang telah disebutkan di atas, ada dua murid Imam ‘Ashim yang menjadi perawi masyhur, yaitu Syu’bah Abu bakar bin al-‘Ayyasy dan Hafsh bin Sulaiman.

Namun para ulama lebih mengunggulkan riwayat Hafsh. Bahkan dalam kitab Ghayah an-Nihayah fi Thabaqat al-Qurra’ karya Ibn al-Jazari hanya menyebutkan Imam ‘Ashim sebagai gurunya Hafsh.

Mengapa Memilih Riwayat Hafsh?

Diunggulkannya riwayat Hafsh dibandingkan dengan riwayat Syu’bah ini bukan tanpa alasan. Sebab, sanad (runtutan periwayatan) Imam Hafsh dari Imam ‘Ashim berujung kepada sahabat Ali bin Abi Thalib. Sementara bacaan Syu’bah hanya bermuara kepada sahabat Abdullah bin Mas’ud.

Meskipun keduanya berguru pada guru yang sama, namun jalur periwayatannya berbeda. Adapun urutan sanad riwayat Hafsh yaitu Hafsh – ‘Ashim – Abu Abdurrahman as-Sulami – Ali bin Abi Thalib. Sedangkan sanad riwayat Syu’bah ialah Syu’bah- Ashim- Zirr bin Hubaisy-Abdullah bin Mas’ud.

Baca Juga:  Kontroversi dalam Memahami Seberapa Penting Asbabun Nuzul Al-Quran

Begitu banyak peniaian para ulama yang memuji kemampuan Hafsh dalam periwayatan qira’ah al-Quran, khususnya bacaan Imam ‘Ashim. Beberapa di antaranya seperti Yahya bin Ma’in yang menilai bahwa riwayat Hafsh merupakan riwayat yang shahih dari Imam ‘Ashim.

Senada dengannya, Abu Hasyim ar-Rifa’I juga menilai bahwa orang yang paling mengetahui bacaan Imam ‘Asyim adalah Hafsh. Tidak hanya itu, Imam Az-Zahabi juga menilai bahwa dalam penguasaan materi Qiraat, Hafsh dinilai sebagai seorang yang tsiqah (terpercaya) dan tsabt (mantap).

Berikut ini juga perlu kami sebutkan beberapa murid Hafsh, antara lain yaitu:

  • Husein bin Muhammad al-Murudzi,
  • Hamzah bin Qasim al-Ahwal,
  • Sulaiman bin Dawud az-Zahrani,
  • Hamd bin Abi Utsman ad-Daqqaq,
  • al-‘Abbas bin al-Fadl ash-Shaffar,
  • Abdurrahman bin Muhamad bin Waqid,
  • Muhammad bin al-fadl Zarqan,
  • ‘Amr bin ash-Shabbah,
  • Ubaid bin ash-Shabbah,
  • Hubairah bin Muhammad at-Tammar,
  • Abu Syu’aib al-Qawwas,
  • al-Fadl bin Yahya bin Syahi,
  • al-Husain bin Ali al-Ju’fi,
  • Ahmad bin Jubair al-Inthaqi dan lain-lain.

Begitu banyaknya murid Hafsh tersebut, tercatat ketika beliau mengabdikan hidupnya untuk mengajarkan ilmu Qiraat pada kedua negeri yaitu Baghdad dan Makkah.

Ia khusus mengajarkan ilmu qiraat Imam ‘Ashim. Qiraat ‘Ashim riwayat Hafsh inilah yang hingga sekarang ini sudah tersebar ke seluruh penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia.

Demikian sedikit penjelasan mengenai ilmu Qiraat dalam al-Quran, khususnya Qiraat ‘Ashim riwayat Hafsh yang dijadikan sebagai pedoman bacaan di Indonesia. Hal ini penting untuk diketahui oleh kaum muslimin di Indonesia. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam.

Mohammad Mufid Muwaffaq