Isra Miraj, Peristiwa Luar Biasa yang Dialami Nabi Hanya dalam Semalam

isra miraj

Pecihitam.org Peristiwa Isra Miraj merupakan salah satu bukti kekuasaan Allah yang Allah luar biasa, di mana Nabi Muhammad melakukan perjalanan hanya dalam waktu semalam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Peristiwa ini pun menjadi ujian, apakah orang-orang akan mempercayai atau malah mendustakan. Abu Bakar adalah orang yang pertama kali membenarkan perisitiwa ini, hingga beliau dijuluki As-Shiddiq yang bermkna orang yang membenarkan atau mempercayai.

Apa hakikat Isra Miraj, kapan terjadinya dan dengan tujuan apa? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang akan kamu temukan jawabannya dalam tulisan ini.

Daftar Pembahasan:

Pengertian Isra Miraj

Secara umum, orang memahami isra miraj sebagai perjalanan malam hari yang dilakukan Nabi dalam rangka menghadap Allah.

Dan inilah pengertiannya baik secara bahasa maupun istilah.

Secara Bahasa

Secara Bahasa, Isra Miraj berasal dari dua kata, yakni Isra yang berasal dari kata asra-yusri-isra yang berarti memperjalankan, dan dari kata Mi’raj yang berarti alat naik atau tangga.

Secara Istilah

Sedangkan menurut istilah yang berlaku dalam sejarah Islam, Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsha di Yerussalem, Palestina.

Sedangkan Miraj adalah perjalanan Nabi Muhammad dari bumi menuju langit ketujuh, lalu dilanjutkan ke Sidratul Muntaha.

Sidaratul Muntaha menjadi akhir perjalanan untuk menerima perintah Allah SWT. Perintah tersebut berupa sholat lima waktu sehari semalam.

Logika Isra Miraj

Bisakah peristiwa Isra Mi’raj yang merupakan perjalanan Nabi dari Mekah ke Masjidil Aqsa kemudian dilanjutkan kembali ke Sidratul Muntaha diterima oleh logika padahal dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa saja itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar apalagi hanya dalam satu malam?

Untuk menjawab pertanyaan ini, Mari kita perhatikan ayat di dalam Alquran yang membicarakan tentang Isra Miraj.

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ

Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS. Al-Isra’ ayat 1)

Jika kita perhatikan ayat di atas, ternyata ada dua yang menjadi penguat bahwa peristiwa Isra Mi’raj adalah kejadian luar biasa yang bisa diterima oleh logika.

Baca Juga:  3 Hal Penting Dalam Membangun Rumah Tangga Menurut Al-Quran

Lafadz Subhanallah

Ayat ini diawali dengan lafadz Subhanal Ladzi, yang mana sebagaimana kita ketahui Subhanal Ladzi atau Subhanallah adalah kalimat yang biasanya digunakan oleh seseorang untuk mengungkapkan sesuatu yang menakjubkan, sesuatu yang luar biasa atau sesuatu yang aneh.

Biasanya, orang ketika melihat arsitektur bangunan yang begitu detail dan sepertinya sulit untuk dikerjakan, ia akan berujar berujar Subhanallah.

Lafadz Asra, Bukan Sara

Alasan kedua yang membuat peristiwa Isra Mi’raj menjadi diterima oleh logika adalah pada ayat tersebut Allah menggunakan lafadz Asra bi abdihi (memperjalankan hamba-Nya), bukan Sara ‘abduhu (hamba-Nya berjalan).

Jadi, karena ada yang memperjalankan, yakni Allah, dan bukan berjalan sendiri, maka perjalanan yang jauh ditempuh Nabi dalam satu malam bukanlah sesuatu yang mustahil.

Hal ini bisa kita ibaratkan misalnya, seekor semut yang berada di Makassar kemudian dalam hitungan waktu satu setengah jam sudah berada di Pontianak.

Ketika bertemu dengan para semut yang ada di Pontianak, ia pun mengaku bahwa satu setengah jam yang lalu masih berada di Makassar. Kalau yang dipakai adalah logika semut, maka semut-semut yang ada di Pontianak tidak akan percaya bahwa semut tersebut berasal dari Makassar. Karena perjalanan dari Makassar ke Pontianak dengan cara berjalannya semut tidak bisa ditempuh dalam waktu yang singkat apalagi hanya satu setengah jam.

Akan tetapi berbeda halnya jika dipahami bahwa semut yang dari Makassar itu ikut pesawat. Misalnya semut tersebut hinggap di badan orang yang mau melakukan perjalanan dari Makassar ke Pontianak. Karena ikut pesawat, maka perjalanan dari Makassar ke Pontianak bisa ditempuh dalam waktu yang singkat.

Begitu jugalah peristiwa Isra Mi’raj. Kalau dipahami dengan logika manusia, memang antara Masjidil Haram dengan Masjidil Aqsa, apalagi Sidrotul Muntaha sangat jauh. Tetapi, jika ini dipahami dengan kekuasaan Allah yang tidak terbatas, maka jangankan satu malam, lebih cepat dari itupun Allah kuasa untuk mewujudkannya.

Kapan Peristiwa Isra Miraj

Menurut kebiasaan yang diperingati di Indonesia dan di belahan negara muslim lainnya, Isra Mi’raj terjadi pada malam tanggal 27 Rajab. Namun lebih lengkapnya tepatnya pada ada tanggal dan tahun Kapankah peristiwa ini terjadi, berikut penjelasannya.

Baca Juga:  Inilah Peringatan Ulama Salaf Tentang Bahayanya Wahabi

Peristiwa Isra Mikraj terjadi pada periode akhir priode dakwah di Makkah sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Menurut mayoritas ulama, Isra Mikraj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M.

Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra Mikraj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer. Namun, Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfuri menolak pendapat tersebut dengan alasan karena Khadijah radhiyallahu anha meninggal pada bulan Ramadan tahun ke-10 kenabian, yaitu dua bulan setelah bulan Rajab, dan saat itu belum ada kewajiban salat lima waktu.

Al-Mubarakfuri menyebutkan setidaknya ada enam pendapat tentang waktu kejadian Isra Mikraj. Tetapi lahi-lagi menurut beliau, tidak ada satupun yang pasti. Dengan demikian, menurut beliau tidak diketahui secara persis kapan tanggal terjadinya Isra Mikraj.

Kenapa Ada Isra Mi’raj?

Kenapa ada peristiwa Isra Mi’raj? Ini pertanyaan yang mungkin muncul di benak Anda. Ternyata ada beberapa alasan kenapa Allah memanggil nabi untuk melakukan perjalanan Isra Mi’raj, salah satunya adalah untuk mengubur hati Nabi.

Sebelumnya lampi mengalami sedih karena ditinggal oleh istri tercintanya, Sayyidah Khadijah, dan Abu Thalib pamannya yang selalu melindungi nabi dari gangguan dan intimidasi kafir Quraish, hingga tahun itu dikenal dengan ‘âmul khuzn (tahun penuh kesedihan).

Saat itulah, Allah memanggil Nabi untuk melakukan Isra Mi’raj sebagai hiburan bagi beliau. Dan dalam perjalanan menghadap Allah, beliau pun dipertemukan dengan para leluhurnya dari golongan nabi. Dan itu merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi Nabi.

Tujuan Isra’ Miraj

Tujuan utama dari peristiwa Isra Mi’raj adalah dalam rangka dalam rangka nabi menerima perintah langsung dari Allah berupa kewajiban melaksanakan salat lima waktu dalam sehari semalam.

Menurut beberapa riwayat, salat yang diwajibkan atas umat Islam awalnya adalah 50 waktu dalam sehari semalam. Tetapi kemudian atas saran beberapa nabi, Rasulullah diminta untuk menghadap kembali kepada Allah agar diberikan keringanan bagi umatnya dalam menjalankan kewajiban salat, sehingga menjadilah kewajiban salat hanya lima kali dalam sehari semalam, seperti yang kita jalani hari ini.

Baca Juga:  Pembagian Iman dan Ciri-Ciri Orang yang Dikatakan Beriman

Hikmah Isra’ Mi’raj

Ada beberapa hikmah atau pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa Isra Mi’raj yang dilakukan oleh Nabi. Di sini kami cukupkan untuk untuk meringkas tiga hal saja.

Hidup Hanya Sementara

Nabi Muhammad dipanggil untuk menghadap Allah ini mengisyaratkan bahwa setiap manusia akan mati dan kembali kepada Allah.

Sebelum berangkat, dada Nabi masih dibelah dan dibersihkan hatinya, ini pun mengandung pelajaran bahwa untuk menghadap Allah dalam keadaan selamat kita harus dalam keadaan suci atau bersih dari dosa dosa.

Jangan Jauh dari Masjid

Coba kita pikirkan, kenapa untuk menuju ke Baitul Makmut yang lurus di atas Ka’bah, Nabi masih pergi ke Masjidil Aqsha? Tidakkah cukup dengan langsung saja naik melintas di atas Ka’bah?

Ternyata ini memberikan pelajaran bahwa dalam hidup ini tidak boleh jauh-jauh dari masjid. Nabi berangkat dari masjid yang ada di Mekah menuju masjid yang ada di Palestina sebelum beliau menghadap Allah.

Begitulah kita, sebelum mati kembali pada Allah, hendaknya tidak boleh jauh dari masjid.

Shalat Ibadah Paling Utama

Jika kewajiban-kewajiban lain seperti puasa zakat dan haji perintahnya cukup dengan wahyu melalui Malaikat Jibril, maka perintah salat langsung didapat dengan menghadap Allah.

Ini menunjukkan bahwa shalat merupakan ibadah yang paling utama dan amal yang akan dihisab pertama kali kelak di Hari Perhitungan.

Demikianlah tulisan ini yang membahas tentang beberapa hal terkait Isra Mi’raj. Mulai dari pengertian, alasan, tujuan hingga hikmah-hikmah atau pelajaran yang dapat kita petik. Wallahu a’lam bisshawab!

Faisol Abdurrahman