Inilah Alasan Kenapa Sya’ban Disebut Sebagai Bulan Shalawat

Sya'ban Bulan Shalawat

Pecihitam.org Kita yang memang belajar Islam dari dasar, tentu pernah mendengar istilah Sya’ban sebagai bulan shalawat. Istilah ini bukan tanpa alasan. Dan dalam tulisan ini, saya akan mengemukakan dua alasan kenapa Sya’ban bulan kedelapan Hijriah ini disebut sebagai bulan shalawat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Namun sebelum itu, saya juga akan mengurai keunggulan shalawat dibandingkan ibadah lainnya, dan di bagian akhir saya sempurnakan juga dengan empat alasan penting kenapa kita harus memperbanyak membaca shalawat kepada sang Insan Agung, Muhammad SAW.

Keunggulan Shalawat

1. Allah Pun Bershalawat

Sebagaimana sering kita dengar, dalam Surat Al-Ahzab ayat 56 dijelaskan bahwa Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi.

Ini sungguh informasi sekaligus pelajaran luar biasa. Sungguh, tiada suatu ibadah yang ketika Allah perintahkan, Ia turut melakukanya. Sebut saja shalat dan zakat. Ketika dua ibadah rukun Islam ini diperintahkan tentu mustahil Allah juga melakukanya.

Hal ini berbeda dengan shalawat. Sebelum Allah memerintahkan kita kaum beriman untuk bershalawat, Ia dan para malaikat telah juga bershalawat pada Nabi.

2. Ibadah yang Paling Mudah

Disebutkan dalam kitab Sa’adah al-Darain

فهي أسهل الطاعات وأقربها إلى الملك الجليل

Shalawat merupakan bentuk ketaatan yang paling mudah untuk dilakukan dan paling dekat untuk diterima oleh Allah Al-Malik Al-Jalil. (Sa’adah al-Darain halaman 34)

Baca Juga:  Dalil Tentang Pentingnya Menjaga Kehormatan Muslim Lain Meskipun Berbeda Pandangan

Jadi, shalawat itu memang sangat mudah. Walaupun tidak punya wudhu’, bahkan saat junub. Bisa juga sambil berdiri, jalan bahkan dengan berbaring pun tetap bisa dilakukan, walau memang yang utama adalah dalam keadaan suci, menundukkan kepala serta menjaga adab-adab lainnya.

3. Ingat Allah + Nabi Muhammad

Shalawat, oleh para ulama sering pula disebut dengan dzikir kompleks. Karena dalam shalawat terhimpun mengingat Allah sebagai Dzat Maha Mulia kemudian Nabi Muhammad sebagai mahkluk paling mulia.

Misalnya dalam kalimat shalawat sederhana berikut:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

Wahai Allah (ini kalimat dzikir Allah) limpahkanlah shalawat kepada Nabi Muhammad (ini menyebut nama Nabi Muhammad)

Sya’ban Bulan Shalawat

Ada dua landasan yang bisa dijadikan dasar kenapa Sya’ban disebut sebagai bulan shalawat.

1. Al-Ahzab: 56 Turun di Bulan Sya’ban

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)

Sebagaimana keterangan dalam banyak kitab tafsir, Surat Al-Ahzab ayat 56 yang merupakan awal perintah membaca shalawat kepada Nabi Muhammad diturunkan di bulan Sya’ban.

2. Sya’ban Adalah Bulannya Nabi

Ada satu riwayat yang disampaikan oleh Hasan Al-Bashry yang juga dikutip oleh Imam As-Suyuthy dalam kitab Jami’us Shaghir, bahwa Nabi Saw bersabda;

رجب شهر الله وشعبان شهري ورمضان شهر أمتي

“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku.”

Sebagai tambahan, hadis ini ditolak oleh sebagian kalangan, bahkan disebut sebagai hadis maudhu

Baca Juga:  Pohon Zaqqum, Makanan bagi Para Penghuni Neraka

Kenapa Kita Harus Banyak Bershalawat

Tak terhingga memang alasan kenapa kita harus harus banyak bershalawat. Namun di sini saya mencukupkan pada empat alasan penting.

1. Shalawat Pasti Sampai Pada Nabi

Pernah dengar ungkapan ini nggak: shalawat tetap berpahala walaupun dengan riya’ (niat pamer)?

Hal demikian memang benar adanya. Disebutkan dalam beberapa kitab, bahkan itu diklaim sebagai kesepakatan di antara para ulama.

Ini (shalawat tetap berpahala walaupun riya’) tak lain karena memandang sosok Nabi Muhammad yang begitu agung.

Namun ada yang mentahqiq pernyataan ini bahwa shalawat dengan perasaan riya’ memang sampai pada Nabi, tapi masalah pahala tetap tidak dapat, karena syarat utama amal agar diterima harus ikhlas. Diskusi tentang ini telah saya bahas pada tulisan saya lainnya yang bisa Anda baca di sini.

2. Tameng dari Adzab Allah

Shalawat merupakan salah satu tameng agar kita tidak mendapatkan azab atau siksa secara langsung dari Allah.

Sebagaimana kita ketahui umat-umat terdahulu ketika melakukan kedurhakaan kepada Allah, maka mereka langsung ditimpakan azab. Ada yang di disiksa dengan hujan batu, dikutuk jadi kera, dijungkirbalikkan negerinya, disambar petir atau ditenggelamkan ke dasar laut.

Hal ini tidak berlaku kepada kita umat Nabi Muhammad SAW. Karena Allah berfirman

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. Al-Anfal: 33)

Baca Juga:  Ilmu Hikmah, Bukan Kesaktian, Tapi Amalan Raga dan Jiwa

Allah tidak akan menyiksa jika di tengah-tengah kita masih ada Nabi Muhammad. Hari ini Nabi Muhammad memang sudah tiada jasadnya bersama kita, akan tetapi ketika kita membaca shalawat, maka ruh dan cahaya beliau yang mulia akan hadir menyinari jiwa dan raga kita.

3. Kita yang Butuh

Hakikatnya, Nabi Muhammad tidak butuh pada shalawat yang kita persembahkan kepadanya, justru kitalah yang butuh keberkahan dari shalawat yang kita baca.

Dalam hal ini, para ulama membuat ilustrasi bahwa Nabi Muhammad ibaratkan wadah besar yang berisi air yang suci bersih, jernih dan segar. Sedangkan kita adalah gelas-gelas kecil yang berisi air yang kotor, najis keruh dan sebagainya.

Maka ketika kita bershalawat, ibaratkan kita mencampurkan air kita yang kotor ke air Nabi yang suci dan bersih. Dengan begitu, maka air kita yang kotor dan najis akan juga menjadi bersih. Itulah rahasianya.

Makanya sebagaimana disebutkan dalam banyak hadis, shalawat kita satu kali akan mendapatkan balasan kebaikan sepuluh kali.

4. Bukti Cinta

من أحب شيئاً أكثر من ذكره

Barangsiapa mencintai sesuatu, maka akan banyak mengingatnya.

Begitu pula, seseorang yang mengaku cinta pada Nabi, akan memperbanyak shalawat kepadanya. Bukankah seorang kekasih rindu duduk dekat bersama sang kekasih?

Dan inilah janji Nabi

إن أقربكم مني يوم القيامة أكثركم صلاة عليّ

“Sesungguhnya di antara kalian yang paling dekat dariku di hari kiamat adalah yang paling banyak bersalawat terhadapku.” (HR. Baihaqi)

Faisol Abdurrahman