Benarkah Makna Birrul Walidain Terbatas Hanya Berbakti pada Orang Tua Saja?

Benarkah Makna Birrul Walidain Terbatas Hanya Berbakti pada Orang Tua Saja?

PeciHitam.org Orang tua adalah pusaka yang harus dihormati, dijunjung tinggi dan harus menjadi panutan. Secara wajar, orang tua akan sepenuh hati menyayangi dan merawat anaknya dengan baik. hubungan atau relasi orang tua dan anak akan harmonis jika masing-masing mempunyai satu visi yang sama.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Perubahan masyarakat menjadi modern menjadikan realitas sosial yang beraneka ragam. Banyak orang tua yang lebih condong kepada karir pekerjaan daripada mengurusi masalah keluarga. Sisi negatif dan positif medernitas berjalan sejalan.

Diperlukan penyesuaian tata nilai dalam memahami relasi orang tua dan anak karena banyaknya realitas sosial yang tidak sesuai dengan semestinya.

Konsep Birrul Walidain, berbuat baik kepada orang tua adalah ajaran Islam yang bisa jadi mengalami pergeseran makna dan aplikasi dalam setiap tatanan budaya.

Tidak bijak kiranya menyamakan konsep Birrul Walidain di Negara Timur Tengah, Eropa dan Adat Ketimuran seperti Indonesia. Berikut penjelasan lengkap tentang Birrul Walidain.

Apa Itu Birrul Walidain?

Birrul Walidain bisa diartikan sebagai etika islam bagi anak kepada orang tuanya untuk menunjukan sikap berbakti dengan baik. Berbakti, menuruti keinginan orang tua, mentaati perintah adalah bentuk berbuat baik, ­al-Birru.

Perintah birrul Walidain dapat ditemukan dalam ayat Al-Qur’an sebagai berikut;

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالا فَخُورًا (٣٦

Artinya; “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (Qs. An-Nisaa’: 36)

Perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua dibarengkan dengan perintah meninggalkan syirik. Selain disamakan dengan perintah meninggalkan syirik, Birrul Walidain juga disetarakan dengan berbuat baik kepada kerabat dekat, orang Miskin dan tetangga.

Baca Juga:  Rahasia dan Alasan Rasulullah Menikahi Aisyah ra

Dimensi perintah untuk birrul walidain sangat erat dengan hubungan sosial, bermu’ammalah dengan baik kepada sesama. Dimensi kesempurnaan Islam terlihat dalam pengaturan relasi hubungan manusia dengan individu. Hubungan individu dengan komunitas sosial juga diatur dalam Islam yakni dalam hukum bermasyarakat.

Makna Birrul Walidain yang terumum yakni mematuhi perintah, berbuat baik dengan tidak menyakiti, tidak membantah apa keinginan orang tua. Setidaknya makna ini umum dipahami dalam budaya ketimuran, Nusantara. Karena kebaikan dalam pandangan setiap budaya berbeda satu sama lain.

Sebagaimana perbedaan nilai keindahan, etika dan kesopanan dalam setiap kultur kebudayaan memiliki ciri khas tersendiri. Orang Islam diwajibkan untuk mematuhi orang tua sepenuhnya, selama orang tua tidak menyuruh berbuat maksiat.

Maka ketika orang tua memerintahkan sesuatu yang sifatnya baik jangka pendek atau panjang, seorang anak wajib mengikuti perintah tersebut.

Dimensi Sosial Birrul Walidain

Perintah untuk mematuhi kepada kedua orang tua dalam Birrul Walidain memang sudah menjadi ajaran Islam yang melekat dalam budaya Nusantara.

Para penyebar agama Islam terdahulu menginternalisasikan nilai Islam dengan cara yang sangat halus. Salah satu nilai yang terinternalisasi dalam budaya Nusantara adalah Birrul Walidain.

Maka ketika agama Islam menjadi Agama mayoritas di Nusantara, nilai ajaran birrul walidain sudah seperti menjadi tradisi dan kebiasaan budaya Nusantara. Ajaran berbuat baik kepada orang tua akan berdampak baik kepada kebiasaan sikap atau Habit.

Dengan habit yang baik akan membawa Nilai sosial tersendiri. Oleh karenanya birrul walidain bisa dimaknai sebagai ajaran moralitas untuk menghargai jasa dan perjuangan ayah Ibu untuk membesarkan anak-anaknya.

Maka tidak ada balasan yang setimpal seorang anak selain dengan Birrul Walidain dalam berbagai bentuk yang berbeda. Allah SWT memerintahkan;

وَقَضَى رَبُّكَ أَلا تَعْبُدُوا إِلا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلاهُمَا فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلا كَرِيمًا (٢٣)وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (٢٤

Baca Juga:  Keutamaan Birrul Walidain: Ridha Allah Tergantung Ridha Orang Tua

Artinya; “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil” (Qs. Al-Israa 23-24)

Dalam Islam dijelaskan relasi sosial anak dan orang tua untuk berbbirrul Walidain. Islam sendiri melarang orang Islam untuk mengatakan sesuatu yang menyakiti kedua orang tua bahkan dari hal terkecil yaitu ‘mengabaikan’ perkataan orang tua.

Al-Qur’an membuat sebuah patokan perkataan “أُفٍّ” yang dimaknai oleh mufassir berbeda-beda. Beberapa terjemahan Al-Qur’an menuliskan makna ‘Janganlah kamu mengucapkan kata –Ah-’ kepada ayah Ibu. Beberapa terjemahan lainnya menuliskan makna ‘Janganlah kamu mengucapkan kata –Cih-‘ kepada ayah ibu.

Poin utama ayat tersebut adalah ‘Jangan sampai seorang anak mengucapkan kata-kata yang dapat menyinggung dan merendahkan harga diri orang tuanya’. Seorang anak harus menjaga perasaan orang tua sebagai seorang yang membesarkan sejak kecil.

Kaidah “فَلا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ” ‘Janganlah kamu mengucapkan –Ah/ Cih- kepada orang tua’ tidak dimaknai diperbolehkan mengucapkan kata yang lebih kasar daripada itu. Jika mengucapkan kata yang cenderung halus ‘Ah/ Cih’ saja tidak diperbolehkan maka Pastinya untuk kata yang lebih kasar terlarang atau Haram.

Kerangka Budaya dan Tradisi

Budaya dan tradisi manusia yang hidup disebuah wilayah tertentu akan berbeda-beda. Perbedaan budaya dan tradisi biasanya ditandai dengan tata nilai, keindahan, kepantasan, kesopanan dan lain-lain. Tata nilai berbeda menyebabkan pandangan terhadap Birrul Walidain juga berbeda dalam masing-masing komunitas sosial.

Sebagai contoh di Jawa, kepantasan seorang yang lebih muda untuk merunduk ketika lewat di depan orang yang lebih tua. Jika seorang pemuda lewat di depan orang tua dan memalingkan muka, bisa dipastikan akan menjadi cemoohan dan dicap sebagai ketidak-sopanan.

Baca Juga:  Ketika Kiai Hasyim Menolak Hadiah Bintang Kehormatan Ratu Wilhelmina

Tidak berdeda sikap ketidak-sopanan dalam budaya Nusantara memanggil orang lebih tua dengan nama asli orang tersebut. Memanggil nama orang tua dengan nama asli bukanlah sebuah kebaikan dalam alam pikir orang Nusantara.

Tidak halnya dengan budaya di Timur Tengah atau di Eropa jika memanggil orang lebih tua dengan nama Aslinya tidak akan dianggap ‘Tidak Sopan’. Karena memang tata nilai kesopanan antara timur dan barat berbeda.

Maka untuk memahami konsep Birrul Walidain dalam setiap tatanan Budaya dan Tradisi tidak sederhana. Setidaknya di Nusantara standar untuk berBirrul walidain yakni;

  1. Selalu memperhatikan kebutuhan orang tua yang sudah lemah.
  2. Mengunjungi orang tua secara berkala dan menanyakan kabar orang tua.
  3. Sungkem dalam Budaya Jawa merupakan bentuk penghormatan dan kesopanan. Biasanya dilakukan dalam momentum Idul Fitri.
  4. Tidak menyakiti dengan berkata kasar kepada orang tua.

Birrul Walidain yang diperintahkan dalam Islam merupakan bentuk refleksi jasa kedua orang tua kepada anaknya. Al-Qur’an memberi Ilustrasi dalam surat Luqman sebagai berikut;

وَوَصَّيْنَا الإنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (١٤

Artinya; “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Qs. Luqman: 14)

Kebaikan kepada kedua orang tua sebagai bentuk terima kasih kepada keduanya dan mematuhi perintah Allah SWT. Mereka berdualah yang merawat dan membentuk karakter kita.

Ash-Shawabu Minallah

Mochamad Ari Irawan