Cerita Rakyat Tentang Kyai Raden Santri, Pangeran Singasari

Cerita Rakyat Tentang Kyai Raden Santri, Pangeran Singasari

Pecihitam.Org – Cerita rakyat yang terdapat di makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) merupakan cerita lisan. Data cerita diperoleh dari Bapak Haji Usman yaitu orang yang telah diberi kepercayaan oleh warga Desa Gunungpring dan ditunjuk kepala desa sebagai informan.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sebagai pembanding diperoleh cerita dari tiga informan lain, yaitu Mbah Nyai Gus Jogo Rekso dari keluarga keturunan Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) sekaligus sesepuh masyarakat Desa Gunungpring, Bapak Chowaid mantan pengurus yayasan Kyai Raden Santri dan Bapak Darsono juru kunci pemakaman.

Adapun isi ceritanya adalah sebagai berikut, dahulu Desa Gunungpring merupakan tempat untuk menyebarkan agama Islam oleh kyai Raden Santri. Hal tersebut terjadi sekitar tahun 1613-1645 M. Beliau adalah keturunan dari raja-raja Brawijaya dengan sebuah gelar Pangeran Singasari.

Beliau adalah kakak dari sultan Agung. Dengan misinya untuk mengembangkan ajaran agama Islam, maka beliau meninggalkan diri dari kerajaan hingga akhirnya menetap di Desa Gunungpring, Pangeran Singasari dengan segala kejernihan batinnya mampu melihat jauh kedepan mengerti tentang segala sesuatu yang akan terjadi dengan menembus dimensi waktu ratusan sampai ribuan tahun lamanya, sehingga dianggap sebagai “waliyullah”.

Baca Juga:  Hikmah: Kisah Jenazah Waria yang Dirahmati Allah di Alam Kubur

Pangeran Singasari sebagai “waliyullah” mengemban misi yang sangat besar yaitu membebaskan rakyat dari segala kebodohan, bencana, sekaligus mengangkat derajat ke jenjang kehidupan yang lebih baik.

Dalam memperjuangkan kehidupan masyarakat sekitar Desa Gunungpring beliau mendapat dukungan dari para santrinya yang cukup banyak sehingga muncul adanya Desa Santren. Kearifan dan kebijaksanaan “waliyullah” Kyai Raden Santri menjadi keagungan banyak orang.

Meskipun beliau telah meninggal beratus-ratus tahun lamanya namun nilai-nilai kemuliyaannya masih dapat diketahui oleh banyak orang hingga sekarang. Hal tersebut lebih diperjelas dengan adanya seorang perempuan warga Desa Gunungpring yang pada suatu malam bermimpi mendapatkan ilham.

Dalam mimpinya ia menerima ilham yang berbentuk sebutir kelapa bercahaya jatuh didepan halaman rumahnya dekat kompleks makam Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari). Kejadian tersebut ternyata membawa keberuntungan, karena tidak lama kemudian perempuan tersebut diperistri oleh Gus Jogo Rekso. Gus Jogo Rekso adalah salah seorang wareng Beliau

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, perjalanan hidup Gus Jogo Rekso mencerminkan nilai-nilai keauliya’an dari Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari), hingga pada suwatu saat Gus Jogo Rekso mengalami proses “kewalen” dalam proses “kewalen” tersebut dia menghilang dari tempat tinggalnya selama berhari-hari dan tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya. Kabar hilangnya Gus Jogo Rekso sempat menjadi cerita yang tersebar dari telinga ke telinga seluruh penduduk.

Baca Juga:  Anggur Kecut Pemberian Petani Tua Kepada Rasulullah

Dengan penuh semangat gotong royong warga Desa Gunungpring mengadakan pencarian terhadap keberadaan Gus Jogo Rekso. Di tengah-tengah kesibukan warga Desa Gunungpring mencari keberadaannya, tiba-tiba Gus Jogo Rekso muncul, namun kemunculannya dalam keadaan berdiam diri atau bersemedi.

Dalam keadaan seperti itulah Gus Jogo Rekso dapat berkomunikasi dengan Kyai Raden Santri yang memberi petunjuk, bahwa nilai-nilai keauliya’an Beliau diwariskan kepada Gus Jogo Rekso.

Akhirnya dengan keauliya’an tersebut banyak orang datang untuk bertemu dengan Gus Jogo Rekso dan masyarakat menganggap bahwa makam Kyai Raden Santri merupakan tempat yang suci dan keramat.

Pada suatu hari ada orangorang yang bermaksud memugar dan memperbaikinya dengan memberikan cungkup tanpa sepengetahuan dan seizin Beliau lalu cungkup itu selalu melayang hingga ratusan meter, dan beberapa mengalami nasib yang sama yaitu terbang melayang jauh hingga ratusan meter. Karena adanya kejadian aneh tersebut yang bertubi-tubi masyarakat menjadi resah dan ketakutan.

Baca Juga:  Nasrudin Hoja dari Ulama Sakti hingga Tukang Hoak

Menurut cerita kejadian aneh tersebut timbul karena tindakan pemugaran yang dilakukan mempunyai maksud lain di dalam hatinya yang tidak sesuai dengan kehendak Pangeran Singasari, mereka menyimpan kepentingan untuk diri sendiri.

Kemudian Gus Jogo Rekso merenungkan apa yang bisa mereka perbuat untuk mengungkapkan keagungan dan keluhuran budi Kyai Raden Santri (Pangeran Singasari) melalui makam tersebut, maka dengan petunjuk Pangeran Singasari seluruh proses pemugaran diperkenankan untuk dilaksanakan oleh kerabat keluarga Gus Jogo Rekso serta tokoh masyarakat dan para ulama’ yang pada mulanya orang-orang tersebut sering berkunjung ke makam untuk maksud yang sama dengan masyarakat umum lainnya yaitu berziarah.

Mochamad Ari Irawan