Orisinalitas Filsafat Islam (2): Modifikasi Ibnu Sina terhadap Filsafat Yunani

filsafat islam

Pecihitam.org Meskipun bersumber dari filsafat Yunani, namun modifikasi yang telah dilakukan para filsuf muslim, seperti Ibnu Sina, menghasilkan orisinalitas filsafat Islam.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Tidak dapat ditampik bahwa filsafat Islam tidaklah benar-benar lahir dari kebudayaan Islam. Ia bersumber dari filsafat Yunani yang dibuktikan oleh para filsuf muslim awal selaras dengan agama.

Akan tetapi, sebagaimana diurai pada tulisan sebelumnya tentang orisinilitas filsafat islam 1, sumber Yunani yang dipelajari para filsuf muslim awal dipersoalkan oleh Ibnu Rusyd yang berusaha keras mempertahankan kemurnian ajaran Aristoteles. Ia bahkan menyatakan para filsuf seperti al-Farabi dan Ibnu Sina telah mendistorsi filsafat Aristoteles dan mencampuraduknya dengan Neoplatonisme.

Akan tetapi, kritik Ibnu Rusyd tersebut dapat ditepis dengan argumen bahwa al-Farabi dan Ibnu Sina tidaklah bermaksud mencampuraduk gagasan Aristoteles dan Neoplatonisme. Sebenarnya kedua filsuf muslim awal itu menyerap sumber-sumber filsafat Aristoteles yang telah dimodifikasi oleh para komentator Yunani. Jadi, filsafat Aristoteles telah mengalami perubahan dan pengembangan sebelum jatuh ke tangan al-Farabi dan Ibnu Sina.

Yegane Shayegan, seorang peneliti para komentator Aristoteles, dalam artikelnya Transmisi Filsafat Yunani ke Dunia Islam, (dalam Nasr dan Leaman [ed.], [terj.], 2003: 108-126) mendedah bahwa transmisi filsafat Yunani tidaklah sekedar proses kontak geografis dan sosial, melainkan juga proses perubahan dan pengembangan teori-teori Aristoteles yang dilatarbelakangi suasana politik. Keterangan panjang tentang suasana politik dimaksud kiranya tidak relevan untuk tulisan ini.

Namun satu hal yang dapat disimpulkan, bahwa pemikiran Aristoteles yang masuk ke dalam dunia Islam merupakan hasil modifikasi para komentator Aristoteles yang berada di bawah tekanan pemerintah, seperti Ammonius yang mencoba memodifikasi pemikiran Aristoteles yang terpaksa meninggalkan pemikiran platonik karena dianggap tidak sesuai dengan doktrin-doktrin Gereja Romawi.

Di tengah suasana filsafat Yunani yang termodifikasi itulah filsuf-filsuf awal seperti al-Farabi dan Ibnu Sina mengembangkan ajaran Aristoteles dengan neoplatonisme, sehingga sebagian ahli menyebut kedua filsuf itu sebagai Aristotelian cum neoplatonis muslim. Dengan memadukan ajaran Aristoteles dan neoplatonisme, Ibnu Sina misalnya, sebagaimana para komentator Aristoteles lainnya, berhasil mengembangkan filsafat Islam yang orisinil, yang berbeda dengan filsafat Yunani yang semula menjadi sumbernya.

Baca Juga:  Filsafat Timur Tengah Pada Masa Permulaan Peradaban Islam

Salah satu tema filsafat Ibnu Sina yang memperlihatkan orisinalitas filsafat Islam adalah mengenai prima causa (Sebab Pertama) sebagai puncak rangkaian hukum kausalitas (sebab-akibat). Aristoteles menyatakan bahwa Sebab Pertama (Tuhan) adalah sesuatu yang menggerakkan benda-benda, namun ia sendiri tidak bergerak.

Menurut Ammonius dan Ibnu Sina, terdapat ketimpangan ontologis dalam pendapat Aristoteles ini. Jika Sebab Pertama tidak bergerak, bagaimana ia mendapatkan eksistensinya? Kritik ini juga dilontarkan Muhammad Iqbal dalam The Reconstruction of Religion Thought in Islam ([terj.], 2002: 44) , yakni bahwa logika sebab-akibat akan bermasalah jika berhenti di satu titik, sebab hukum tersebut mengandaikan rangakaian yang tak pernah berhenti.

Karena itu, bagi Ammonius dan Ibnu Sina, Sebab Pertama bukan sebab final, melainkan sebab efisien, karena tidak mungkin untuk menganggap Sebab Pertama merupakan prinsip gerak dan prinsip wujud sekaligus. Dengan demikian, konsepsi tentang imanensi dan transendensi Tuhan Ibnu Sina menjadi sesuatu yang baru, dibanding pemikiran Aristoteles yang mengondisikan Sebab Pertama hanya sebagai Wujud yang transenden (Yegane Shayegan dalam Nasr dan Leaman [ed.], [terj.], 2003: 114).

Transendensi Tuhan, sebagaimana pemikiran Aristoteles tentang posisi Sebab Pertama dalam rentetan penciptaan, menyiratkan tiadanya hubungan antara diri-Nya dengan makhluk-makhluk. Pendapat Aristoteles yang menyatakan tiadanya hubungan eksistensial antara Tuhan Yang Satu dengan yang banyak (makhluk) ini tidak dapat dipertahankan jika dikorelasikan dengan ajaran Islam.

Karena itu, para filsuf muslim memerlukan pemikiran lain yang dapat menjelaskan secara rasional hubungan tersebut, yang dalam hal ini adalah teori pemancaran (iluminasi) Neoplatonisme. Demikian ungkap Fazlur Rahman dalam artikelnya Ibnu Sina (dalam M.M. Sharif [terj.], 1996: 104). Berdasarkan inilah Ibnu Sina membangun teori penciptaan yang hirarkis, yaitu teori emanasi.

Baca Juga:  Perbedaan Filsafat Arab dan Filsafat Islam? Begini Penjelasannya

Di lain pihak, jika para filsuf semata-mata merujuk pada pemikiran Neo-Platonisme dalam persoalan wujud, maka mereka akan terjebak pada pandangan panteistik tentang dunia, dimana tidak ada pemisah antara Tuhan dengan makhluk dan dengan itu Tuhan menjadi antropomorfis. Tentu saja hal itu lagi-lagi tidak bersesuaian dengan ajaran Islam, sehingga para filsuf muslim tidak sama sekali meninggalkan pemikiran Aristoteles.

Dalam menjawab pertanyaan “bagaimana Sebab Pertama mendapatkan eksistensinya?”, Ibnu Sina menambahkan bagi filsafat Aristoteles suatu teori yang menunjukkan korelasi Islam-filsafat tentang esensi dan eksistensi Tuhan. Esensi berarti mengenai “apakah Tuhan itu?”, sedangkan eksistensi mengenai “kenyataan bahwa Ia ada”.

Tuhan itu Tunggal, sehingga Ia bukanlah dua unsur (esensi dan eksistensi) dalam satu wujud, melainkan satu unsur atomik dalam wujud yang tunggal. Hal ini berbeda dengan wujud selain-Nya yang menurut Aristoteles esensi tidak identik dengan eksistensinya, sebab sesuatu yang lain hanya mungkin dan diturunkan dari adanya Tuhan. Tuhan karena itu tidak sama dengan selain-Nya.

Prinsip ini berhubungan dengan konsepsi tentang bentuk (shurah) dan materi (maaddah). Bentuk suatu benda adalah kualitas-kualitas universal yang membentuk definisi benda, sehingga “apakah suatu benda itu?” dapat dilihat dengan menggambarkan benda itu, sementara materi adalah wujud nyata benda tersebut. Hanya saja, menurut Ibnu Sina, bentuk dan materi saja, sebagaimana Aristoteles, tidak dapat menjelaskan keberadaan suatu benda secara nyata.

Dalam Al-Syifa, Ibnu Sina menambahkan pernyataan Aristoteles di atas. Segala eksistensi yang tersusun juga tidak dapat disebabkan oleh bentuk dan materi saja, melainkan disebabkan oleh “sesuatu yang lain”, sebagaimana dikatakan Ibnu Sina secara eksplisit: “segala sesuatu kecuali yang Esa, yang esensi-Nya adalah Tunggal dan Maujud, memperoleh eksistensinya dari sesuatu yang lain…” (ibid: 104-107).

Baca Juga:  Menyusui Lebih dari Dua Tahun, Bagaimanakah Hukumnya?

Yang dimaksud “sesuatu yang lain”, menurut Ibnu Sina, adalah apa yang disebut dengan Akal Aktif, yaitu semacam elemen dari ketuhanan (terletak pada tingkat kesepuluh dalam teori emanasi) yang memberi bentuk-bentuk (wahib al-shuar). Akal Aktif adalah tempat penyimpanan semua bentuk, baik material maupun immaterial. Bentuk (shurah) dan materi (maaddah) sebagai unsur pembentuk keberadaan bergantung kepada Akal Aktif ini.

Karena Akal Aktif merupakan sumber bentuk setiap eksistensi, maka Tuhan disebut Ibnu Sina sebagai wajib al-wujud (wujud niscaya), sedangkan setiap makhluk disebut mumkin al-wujud (wujud yang mungkin). Jadi, bagaimana Sebab Pertama mendapatkan eksistensinya? Ya, karena Ia ada secara niscaya.

Demikianlah, Ibnu Sina memodifikasi filsafat Yunani agar dapat berkorelasi dengan Islam, sehingga dengan itu Filsafat Islam menjadi sesuatu yang benar-benar orisinil. Meskipun bersumber dari filsafat Yunani, namun modifikasi-modifikasi yang telah dilakukan para filsuf muslim menghasilkan orisinalitas filsafat Islam.

Sebagai catatan akhir, sungguh menarik klaim yang diutarakan Haidar Bagir dalam pengantar buku Pengantar Pemikiran Shadra yang dinisbatkan kepada Murtadha Muthahhari (2002). Ia menyatakan bahwa dengan mensintesakan seluruh aliran filsafat Islam ditambah dengan inkorporasi al-Quran dan Hadis, filsafat Islam sejati ada pada Filsafat Hikmah Mulla Shadra.

Yunizar Ramadhani