Pengaruh Walisongo Terhadap Munculnya Tradisi-tradisi di Pulau Jawa

Pengaruh Walisongo Terhadap Munculnya Tradisi-tradisi di Pulau Jawa

Pecihitam.org – Kita ketahui bersama bahwa walisongo adalah seorang muballigh yang mempunyai jasa besar khususnya dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Cara berdakwah mereka yang dilakukan dengan cara yang arif dan bijaksana membuat ajaran yang mereka bawa cepat mendapat tempat di hati masyarakat tanah Jawa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Era Wali songo adalah era berakhirnya dominasi Hindu-Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa.

Kedatanggan para wali di tanah Jawa dimulai dari wilayah pesisir pulau Jawa. Kemudian beranjak pada pelabuhan-pelabuhan yang berada dipinggir pesisir. Hal tersebut menunjukan adanya percampuran masyarakat pendatang dengan masyarakat yang sudah lama tinggal dipulau Jawa.

Percampuran tersebut yang akhirnya menimbulkan banyak sekali faktor yang menjadikan tradisi Islam dapat dengan mudah di terima di masyarakat Jawa.

Selain itu, Adanya percampuran dengan para pedagang yang datang dari berbagai wilayah dan sosial budaya mereka, telah menyebabkan keragaman dan kemajemukan tersebut.

Baca Juga:  10 Asas Dakwah Walisongo dalam Menyebarkan Agama Islam di Indonesia

Pada masa awal kedatangan Islam di Indonesia, kondisi masyarakat yang bertempat tinggal di daerah pesisir atau kota pelabuhan tampak berkembang.

Pada umumnya, pola kehidupan mereka tampak cepat menerima perubahan dan perkembangan. Ini merupakan dinamika yang menyebabkan kehidupan masyarakat di daerah-daerah pesisir yang memiliki pelabuhan dapat menampakkan kemajuan dan perkembangannya.

Pola kehidupan yang terbuka untuk menerima kedatangan para pedagang dari mancanegara pada masa awal kedatangan Islam di Indonesia, merupakan faktor dominan yang menyebabkan kehidupan masyarakat di daerah pesisir tampak dinamis dan maju.

Tentunya hal ini dikarenakan adanya fenomena bahwa pada masa awal kedatangan Islam di Indonesia, perairan masih merupakan satu-satunya jalur perdagangan internasional.

Masyarakat daerah pesisir berada dalam dinamika kehidupan yang diwarnai dengan adanya aktivitas perdagangan dengan para pedagang mancanegara yang singgah di daerah tersebut.

Kedatangan para pedagang Muslim ke daerah tersebut turut menambah aktivitas perdagangan. Di samping melakukan aktivitas perdagangan, mereka juga melakukan aktivitas dakwah Islam.

Baca Juga:  Mengenal Strategi Dakwah Raden Noer Rahmat (Sunan Sendang Duwur)

Islam diyakini kebenarannya oleh mayoritas masyarakat Indonesia. Di Indonesia, Islam berkembang relatif cepat, meski menurut catatan para ahli sejarah, Islam berkembang dengan melalui salah satu jalan kebudayaan dan tradisi.

Kata tradisi memiliki pengertian suatu perilaku atau tindakan seseorang, kelompok maupun masyarakat yang sudah menjadi kebiasaan, diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya dan di-laksanakan secara berulang-ulang.

Oleh sebab itu, walisongo menggunakan jalan ini untuk menjadi salah satu jalan dakwah dengan harapan dimasa depan masih tetap bisa di budayakan. Seperti ziarah kubur, kliwonan, sekaten, suroan, selametan dan masih banyak yang lainya.

Beberapa tradisi yang ada di atas, adalah tradisi-tradisi peninggalan para walisongo yang hingga saat ini masih dapat kita rasakan di beberapa lingkungan masyarakat.

Selain itu, tradisi-tradisi tersebut selain mempunyai nilai-nilai kepercayaan, namun juga di dalam beberapa tradisi di atas ternyata dapat meningkatkan rasa emosional yang baik dalam bergaul, berkumpul dan juga menjalin persaudaraan umat Islam.

Dengan demikian, kita para pemuda/pemudi sudah sepantasnya untuk dapat meneruskan perjuangan para walisongo. Yaitu dengan cara menjalankan beberapa tradisi baik bersifat bersama-sama maupun dilakukan dengan sendirian.

Baca Juga:  Sunan Kalijaga Pernah Dilarang Berangkat Haji Ke Mekkah

Munculnya berbagai tradisi yang tidak ada dalam sumber baik dari Al-Quran maupun Al-Hadits tentu mengundang banyak pandangan dan persepsi.  Sehingga kita harus berhati-hati dalam melakukan dan menjalankan aktifitas tradisi tersbebut. Keterkecuali ketika melakukanya dengan di sertai sosok pemimpin ( Imam ) sperti selametan.

M. Dani Habibi, M. Ag