Menganal Tafsir Al-Quran Pathok Nagari dari Plosokuning, Yogyakarta

Tafsir Al-Qur’an Pathok Nagari dari Plosokuning, Yogyakarta

Pecihitam.org – Kita ketahui bersama bahwa Indonesia merupakan negara yang mempunyai penduduk muslim terbesar di dunia. Selain menjadi negara mayoritas muslim, Indonesia juga mempunyai berbagai macam suku, ras, dan budaya.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hal inilah yang dulu mejadi satu pijakan para walisogo untuk membuat strategi alkulturasi budaya dengan agama yang menjadi salah satu strategi dakwah di Nusantara.

Selain budaya dan lokalitas tradisi yang beragam, ternyata banyak sekali tokoh-tokoh ulama Jawa yang menjadikan Al-Qur’an sebagai media dakwah.

Yakni dengan menafirkan Al-Qur’an dengan menggunakan bahasa lokal. Seperti Faid Al-Rahman (KH. Soleh Darat), Tafsir Bahasa Jawi (Muhammad Adnan), Al-Ibriz (KH. Bisri Musthofa) dan masih banyak lagi yang lainnya.

Di Yogyakarta, ada sebuah kitab tafsir yang di karang oleh KH. Aliy As’ad yang berjudul  Tafsir Al-Quran Pathok Nagari. Kitab ini di tulis oleh beliau sebagai salah satu rujukan dalam kajian rutin di Masjid Pathok Negara, Plosokuning, Yogyakrta.

KH Aliy As’ad, M.M lahir di kota Kudus, Jawa Tengah pada tanggal 16 Juli 1952 M. Ia lahir dari pasangan Aliy As’ad dan Siti Nikmah. Ia merupakan anak tunggal.

Sejak kecil beliau sudah merasakan pendidikan di pesantren. Pendidikan beliau bermula dari tahun 1964 dengan masuk di SDN Kudus. Bersamaan dengan masuknya beliau di SDN Kudus, pada tahun itu juga ia masuk di Pondok Pesantren Al-Qur’an dan menjadi santri disana hingga tahun 1969.

Baca Juga:  Dahsyatnya Kalimat Lailahaillallah Melebihi Timbangan Langit dan Bumi

Kemudian beliau melanjutkan ke sekolah tingkat menengah di PGN pada tahun 1970-1976. Kemudian beliau melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi tepatnya di fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 1976.

Sembari menuntut ilmu di IAIN Sunan Kalijaga, beliau juga menjadi santri di Pondok Pesantren “Al-Munawwir” Krapyak Yogyakarta, yang mana pada kala itu diasuh oleh KH Ali Maksum.

Selain menjadi seorang santri, KH. Aliy As’ad juga aktif di beberapa organisasi keagamaan. Seperti, GEJARSENA dan PMII, atau organisasi kemasyarakatan seperti IPNU, GP ANSOR, NU, PPP, PKB, MUI dan KNPI.

Penggerak roda organisasi sekaligus seorang santri yang tidak menurunkan semangat untuk menulis. Karya-karyanya cukup banyak baik dalam bentuk terjemah kitab maupun karya aslinya.

Seperti terjemah kitab  Syawāhid Alfiyyah Ibnu Aqīl (1973), Alfiyyah Ibnu Aqīl (1973), Fatḥ al-Mu’īn bi Syarḥi Qurratil ‘Ain (1974), Ta’līm Muta’allim (1974), Irsyād al-‘ibād (1976). Kemudian karya aslinya seperti Tafsir Al-Qur’an Pathok Nagari (2012-2014), Juz ‘Amma dan Maknanya (2011).

Latar belakang penulisan kitab Tafsir Al-Quran Pathok Nagari yaitu berawal dari adanya majlis pengajian ibu-ibu Nisa’ al-Qurra yang diselenggarakan setiap hari jum’at ba’da dzuhur di rumahnya daerah Ploso Kuning, Minomartani, Ngaglik, Sleman.

Baca Juga:  Mengenal Metodologi Tafsir Al-Quran di Nusantara

Kemudian Aliy As’ad mempunyai pemikiran untuk membuat kitab tafsir yang digunakan mengisi majlis tersebut.

Tidak hanya sebatas itu, tujuan utama dari pembuatan kitab tafsir Al-Qur’an Pathok Nagari ini adalah untuk menciptakan kitab tafsir Al-Qur’an yang bercorak kedaerahan untuk menunjukan identitas dari Yogyakarta, karena pada waktu itu daerah Solo sudah memiliki kitab tafsir sendiri.

Selain digunakan dalam majelis pengajian ibu-ibu Nisa’ al-Qurra, kitab ini juga digunakan untuk materi pengajian bapak-bapak di masjid Pathok Negara setiap hari jum’at malam.

Berikut ini contoh penafsiran KH. Aliy As’Ad dalam kitab tafsirnya ketika memaknai QS al-Baqarah (2) :18 :

صُمٌّIku wong-wong kang tuli Mereka seperti orang tuli
بُكْمٌwong kang padha bisu juga bisu
عُمْيٌwong kang padha wuta juga buta
فَهُمْmangka utawi wong iku mahu ya mereka itu
لاَ يَرْجِعُونَ.ora padha bisa bali sapa Alladziina. mereka tidak dapat kembali.

Jika kita perhatikan sekilas, bahwa KH. Aliy As’ad menafsirkan Al-Qur’an dengan  meggunakan bahasa Jawa Alus (Romo Inggil). Selain itu, ia memberikan terjemahan ke dalam bahwa Indonesia supaya mudah untuk di pahami oleh masyarakat luas.

Baca Juga:  Pengertian dan Metode Filsafat Hukum Islam

Hal tersebut menjadi salah satu kelebihan dalam kitab  tafsir ini. Selain itu, ada sedikit kekuarangan yaitu kitab ini hanya dapat di dapatkan di Masjid Pathok Negara.

Artinya kitab tafsir tersebut tidak dijual secara luas. Selain itu, kitab ini hanya dibukukan dalam bentuk Juz satu saja yang sudah sempurna. Yang lain masih dalam bentuk masuskrip.

Kitab tafsir Al-Quran Pathok Nagari bisa kita sebut sebagai kitab tafsir yang jarang bisa kita jumpai dan dikaji dimanapun kita berada karena kitab tersebut hanya bisa kita dapatkan di Masjid Pathok Nagari yang bertempat di Mlangi, dan Plosokuning.

Kitab Tafisr ini hanya bisa kaji ketika pengajian ibu-ibu dan bapak-bapak di Masjid tersebut sehingga selain jam’ah pengajian tidak bisa mempelajari kitab tafsir  Al-Qur’an Pathoh Nagari karya K.H Aly As’ad

M. Dani Habibi, M. Ag