Rasulullah Hadir dalam Maulidan? Ini Penjelasan Filosofisnya

Rasulullah Hadir dalam Maulidan

Pecihitam.org – Sepanjang bulan Rabi’ul Awwal ini kita akan lebih banyak mendengar atau bahkan mengikuti pembacaan maulid Nabi Muhammad Saw. Kaum muslim tradisional percaya bahwa dalam maulidan, khususnya saat prosesi qiyam atau ada pula yang menyebutnya asyraqal, Rasulullah hadir di tengah-tengah jama’ah. Benarkah Rasulullah hadir dalam maulidan? Bagaimana bentuk kehadirannya? Untuk ini kita perlu penjelasan filosofis.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Mengapa harus filsafat? Dalam tulisan “Filsafat sebagai Warisan Islam yang Mengagumkan” saya menyinggung bahwa salah satu motif kenapa para ilmuwan muslim klasik mengkaji filsafat kemudian mengembangkannya adalah perlunya instrumen rasional dan objektif dalam menjelaskan ajaran-ajaran agama Islam.

Masyarakat Arab-Islam zaman dulu mendapat tantangan dari banyak pihak, baik dari komunitas agama lain maupun dari kalangan muslim sendiri soal kebenaran ajaran Islam.

Ketika ajaran Islam dipertanyakan oleh penganut agama lain, tentu tidak mungkin menjelaskannya dengan menggunakan ayat-ayat al-Qur`an dan sunnah Nabi.

Begitu pula sulit tercapai kesepakatan dengan kelompok-kelompok Islam mengenai doktrin agama karena masing-masing berdalil pada sumber-sumber suci tersebut tapi penafsirannya berbeda-beda.

Argumen-argumen rasional dan objektif, karena itu, menjadi instrumen penting dalam menjelaskan ajaran Islam dan kepercayaan pada agama. Rasionalitas dan objektifitas itu adalah bagian dari ciri khas filsafat.

Jadi, tidak seperti tuduhan orang-orang yang pesimis terhadapnya, justru dalam khazanah intelektual Islam, filsafat berfungsi untuk membela agama.

Sebelum sampai pada jawaban pertanyaan di atas, kita bahas terlebih dahulu soal bagaimana sesuatu ada dan bagaimana kita dapat mengetahui adanya sesuatu itu dan bagaimana pengetahuan tentang keberadaan sesuatu dikatakan benar atau valid.

Baca Juga:  Berhentilah Saling Menghujat! Jangan Tunggu Allah Kirim Musuh Besar, Baru Kalian Mau Bersatu

Dalam filsafat, bahasan tentang ke-ada-an sesuatu disebut ontologi dan bahasan tentang bagaimana mengetahui ada-nya sesuatu disebut epistemologi atau teori pengetahuan.

Katakanlah kita berada di sebuah ruangan yang di dalamnya ada beberapa lampu. Saya menunjuk lampu-lampu itu dan bertanya: “apa itu?” Anda akan menjawab: “itu lampu.” Lalu saya bertanya lagi: “Bagaimana anda bisa tahu lampu itu ada?” tentunya ada jawab: “Karena saya melihatnya.”

Di sini dengan menggunakan indra penglihatan anda mengonfirmasi bahwa lampu itu ada. Jadi, ada-nya sesuatu dapat diketahui berdasarkan panca indra kita. Pengetahuan semacam ini disebut dengan pengetahuan indrawi.

Lalu saya bertanya lagi: “Berapa jumlah lampu yang ada di ruangan?” Dengan cepat dan pasti anda menjawab: “Ada empat!” Kemudian saya tanyakan: “Bagaimana anda tahu jumlah lampu di ruangan ada empat?” Anda mungkin menegaskan bahwa jumlah lampu ada empat karena anda menghitungnya, tapi apa sih “empat” itu? Benda macam apa “empat” itu? Di mana “empat” berada?

Yang pasti “empat” bukanlah benda fisik. Keberadaannya bukanlah hasil dari pengamatan indrawi. “Empat” adalah sebuah konsep dalam pikiran dan keberadaannya merupakan hasil dari aktivitas pikiran.

“Empat” ada tapi tidak terlihat oleh indra penglihatan. Sebagai suatu konsep ia ada dalam pikiran kita.

Sampai di sini kita dapat menyimpulkan bahwa sesuatu itu ada tidak mesti harus terserap oleh panca indra, tetapi sesuatu ada karena ia terpikirkan. Pengetahuan tentang “empat” adalah hasil dari aktivitas rasional kita, sehingga pengetahuan itu disebut dengan pengetahuan rasional.

Baca Juga:  KH Afifuddin Harisah: Rasulullah Membenci Chaos, Pelakunya dan Segala Bentuk Provokasi

Rasio atau akal manusia memang memiliki daya luar biasa. Dalam tulisan saya “Akal dalam Filsafat Islam” saya menjelaskan bahwa akal kita memiliki kemampuan untuk membuat sesuatu yang semula tidak ada menjadi ada.

Saat anda merindukan seseorang yang anda cintai, anda memikirkan dirinya. Anda memikirkan wajahnya, senyumnya, tawanya, tangisannya dan anda mengingat kembali kenangan-kenangan yang pernah terjadi bersama dirinya.

Lalu serpihan-serpihan kenangan yang tersimpan dalam imajinasi (dalam filsafat Islam disebut al-khayal) anda bangun kembali sebagai sebuah imajinasi utuh (al-mutkhayyilah). Pada saat inilah anda mampu membuat kekasih yang fisiknya nun jauh di sana menjadi ada atau hadir di samping anda.

Inilah yang terjadi dalam pikiran para jama’ah maulidan. Ketika rawi atau riwayat hidup Nabi Muhammad Saw dibacakan dan syair-syair pujian terhadap Sang Nabi dilantunkan, rasio atau akal mengumpulkan potongan-potongan informasi dari riwayat-riwayat dan syair-syair pujian itu serta pengetahuan-pengetahuan sebelumnya tentang sosok Nabi Muhammad, kemudian membangun imajinasi utuh bahwa Rasulullah hadir di sana.

Karena berdasarkan imajinasi bukan berarti kehadiran Rasulullah dalam maulidan tidak nyata atau sekedar khayalan kosong belaka. Imajinasi utuh tentang kehadiran Rasulullah terekam dalam memori (al-hafizhah), sehingga kehadiran Rasulullah itu nyata dalam pikiran, sama nyatanya dengan “empat” ketika anda menghitung jumlah lampu dalam ruangan, sama nyatanya dengan kehadiran kekasih yang anda imajinasikan duduk di samping anda.

Karena benda yang hadir dalam imajinasi itu nyata, maka filsafat Islam mengakui kebenaran pengetahuan berdasarkan imajinasi utuh. Suatu kehadiran memang tidak mesti harus terlihat oleh mata kepala atau terdengar oleh telinga atau teraba oleh sentuhan tangan kita.

Baca Juga:  Pengertian dan Metode Filsafat Hukum Islam

Hanya saja, rasio atau akal manusia juga memiliki kelemahan. Pikiran hanya memberi gambaran imajinatif tentang kehadiran nyata suatu benda non-fisik.

Rasio atau akal tidak dapat memberi kesan ruhaniyah. Ia hanya memberi gambaran tentang jumlah lampu dalam ruangan dan kehadiran non-fisik kekasih anda.

Tapi bagaimana rasanya berada di dalam ruangan yang diterangi oleh lampu-lampu yang gemerlap itu? Bagaimana rasanya ketika sang kekasih muncul secara imajinatif di hadapan kita? Bagaimana rasanya Rasulullah, sang pujaan hati, hadir di tengah-tengah kita?

Dengan demikian, rasio atau akal harus dilengkapi dengan rasa (dzauq) yang memberikan pengalaman ruhaniyah, pengalaman spiritual. Dzauq memberi pengalaman tentang betapa nyamannya berada di ruangan yang terang, betapa indahnya kerinduan pada sang kekasih dan betapa fantastisnya perasaan bertemu dengan Rasulullah. Pengetahuan berdasarkan dzauq ini disebut sebagai pengetahuan spiritual.

Jujur saja, meski percaya Rasulullah hadir dalam maulidan, saya belum pernah dan belum mampu merasakan perasaan spiritual semacam ini.

Yunizar Ramadhani

Leave a Reply

Your email address will not be published.