Stay at Home, Berkhalwat di Tengah Wabah Corona

wabah corona

Pecihitam.org – Merebaknya virus Corona memaksa pemerintah mengeluarkan anjuran untuk berdiam diri dalam rumah (stay at home). Anjuran ini diterima oleh sebagian orang dengan melakukan berbagai aktifitas seperti bekerja, belajar, dan berbagai kegiatan lainnya dari dalam rumah. Sebagian yang lain tetap melakukan aktifitas seperti biasa karena sebuah keperluan yang mendesak.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Semua orang terus berdoa agar virus Corona cepat hilang dan semua kembali seperti sedia kala. Melakukan segala kativitas dari dalam rumah dan tidak keluar kecuali ada kepentingan yang mendesak. Kita dapat juga melakukan evaluasi diri serta mendekatkan diri pada sang ilahi dalam kesendirian kita. Pada saat sendiri lah kita bisa fokus untuk memuji, memohon ampun, serta berserah diri kepada Allah swt.

Kegiatan menyendiri atau yang sering dikenal dengan nama khalwat sudah dilakukan oleh orang-orang zaman dahulu. Sebelum mendapatkan wahyu, Nabi Muhammad melakukan khalwat di Gua Hira. Disana beliau memfokuskan diri pada Allah swt, melupakan segala hal yang bersifat keduniawian sehingga tujuan dari hidup bisa tercapai seutuhnya.

Baca Juga:  Sempat Reaktif Corona, Syifa Sembuh Usai Amalkan Shalawat Tibbil Qulub

Setelah lama berkhalwat, ada sosok putih tiba-tiba menghampiri beliau. Iqra’ kata sosok serba putih. Nabi menjawab saya adalah orang ummi, sosok itu mengulangi sampai ketiga kalinya. Akhirnya turunlah wahyu surat al alaq ayat satu sampai lima.

Apa yang dapat kita ambil dari proses khalwatnya Nabi?. Lihatlah diri kita sendiri, kemudian baca diri kita, sejauh mana kita melangkah menuju Tuhan. Bacalah diri kita, kita penuh dengan dosa dan sewaktu-waktu kita akan hancur ditimpa masa.

Kita sangat lemah, sedang Tuhan sangat pemurah, sudahkah kita meyakini sifat pemurah Tuhan?. Imam Suyuti menggambarkan bahwa manusia mempunyai sifat yang berkebalikan dengan sifat Tuhan. Maka manusia yang sadar kelemahannya dapat mengenal Tuhannya.

Tidak hanya Nabi Muhammad, praktik khalwat hampir dilakukan semua Nabi. Misalnya Nabi Yunus mendiamkan dirinya dalam perut ikan paus. Kemudian Nabi Musa yang berpuasa dan berdiam diri selama 30 hari agar bisa melihat dzatnya Allah.

Baca Juga:  Indonesia dan Peristiwa Berdarah Sebelum Khilafah Imam Mahdi

Begitu pula Nabi Ibrahim, melakukan pengasingan kepada istrinya di gurun pasir yang tidak ada satupun orang didalamnya. Semua itu semata-mata beliau lakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Nabi Khidir yang terkenal dengan ilmunya melakukan penyendirian untuk memusatkan dirinya kepada Allah. Tidak ada satu pun makhluk yang dapat menemukan dirinya kecuali atas izin dari Allah swt. Beliau tetap berkelana ke seluruh penjuru dunia, namun identitas yang beliau bawa tidak akan dikenali oleh siapapun. Dengan begitu, wujud khalwat Nabi Khidir akan sempurna.

Sebelum kemunculan para wali di Indonesia, praktek khalwat juga dilakukan oleh umat non muslim. Mereka menyebut proses khalwat dengan kegiatan bertapa. Dengan pertapaan ini, dia bisa memperoleh kesaktian baru yang dapat menjaga dirinya serta orang terdekatnya dari serangan musuh yang kapan saja bisa mengancam.

Sebelum melakukan pertapaan, biasanya didahului dengan puasa putih yaitu jenis puasa dengan mengkonsumsi makanan yang berwarna putih, biasanya berupa nasi dan air putih.

Baca Juga:  Di Tengah Wabah Corona, Pemerintah Turki Tutup Saluran Air Minum untuk Warga Suriah

Oleh karenanya proses khalwat berguna untuk melatih jiwa dan hati agar tetap fokus kepada Allah swt. Di tengah pandemik ini, marilah kita manfaatkan waktu kesendirian ini untuk berkhalwat. Kita tidak pernah tahu kapan ajal akan menjemput kita.

Maka memanfaatkan waktu sebaik mungkin yang menjadi kunci dari semuanya. Berusaha mendekatkan diri hingga nanti ketika ajal menjemput kita berada dalam keadaan siap dan menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhannya.

Muhammad Nur Faizi