Ingin Punya Ismail, Namun Lupa Menjadi Ibrahim (Sebuah Renungan)

Ingin Memiliki Ismail, Lupa Menjadi Ibrahim

Pecihitam.org – Perayaan Idul Adha selalu memunculkan dua tokoh hebat dalam sejarah Islam. Ibrahim dan Ismail, dua orang yang ditakdirkan menjadi ayah dan anak. Indah dalam melaksanakan kaidah agama, hingga namanya terus menerus diabadikan dalam tradisi umat Islam. Kebajikan yang ditanamkan keduanya akan abadi dalam perayaan-perayaan yang digelar.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ismail digambarkan sebagai sosok anak yang patuh dan rela melakukan apa saja sesuai perintah Tuhan. Tidak pernah mengeluh ataupun melaksanakan penolakan tentang apapun yang Tuhan gariskan. Bahkan ketika Tuhan menetapkan atas persembelihan dirinya, tidak luput kata persetujuan atas kemauan Tuhan. Lakunya senantiasa indah.

Ibrahim dan Ismail adalah simbol keluarga harmonis yang mengantarkan keduanya pada ketetapan Tuhan. Mereka selalu menetapkan segala tingkah lakunya atas perintah Tuhan. Bahkan ketika keduanya membangun Ka’bah didasari atas perintah Tuhan. Maka sudah barang tentu setiap orang tua menginginkan anak seperti Ismail. Sebuah kebanggan mempunyai buah hati yang selalu menurut untuk diajak pada ketaatan.

Bagaimanapun, prinsip-prinsip yang ada dalam diri Ismail membuat takjub semua orang. Sejak kecil ia sudah menerima cobaan, ditempatkan dalam sebuah tanah yang tandus nan gersang. Hampir tidak ada orang disana. Hanya ada angin dan beberapa hewan yang membersamai mereka dalam pelaksanaan perintah Tuhan. Ismail yang merasa kehausan terus menerus menangis sebagai tanda dirinya membutuhkan air.

Baca Juga:  Sumur Ji'ronah, Saksi Mukjizat Rasulullah Saat Hendak Diracum Kaum Musyrikin

Teriakannya begitu kencang, hingga membuat ibunya tidak tega. Dengan segera, sang ibu mencari air. Perjalannya begitu panjang, dan dilakukan berulang kali hingga mencapai angka tujuh. Ketabahan mereka semakin diuji dikala air tidak pula ditemukan meskipun usaha penuh telah dijalankan.

Allah yang tidak tega, segera memberikan pertolongan kepada keduanya. Dari hentakan kaki Ismail ke tanah, keluarlah air yang dinamakan zam-zam sebagai penyembuh kehausan.

Tuhan menyelamatkan mereka sebagai bukti kecintaanNya. Susah payah yang mereka hadapi, hanya sebagai ujian ketaatan tentang bagaimana kesetiaan mereka kepada Tuhannya.

Maka sekali lagi mereka telah membuktikan atas kepantasan mereka menjadi seorang hamba. Tidak pernah protes apalagi mengeluh atas setiap ujian yang Tuhan berikan.

Baca Juga:  Anda Berdoa, Tapi Tak Kunjung Terkabul? Mungkin Anda Termasuk Golongan Ini

Sudah barang tentu Ismail telah menjalani ribuan cobaan. Akan tetapi, dirinya selalu yakin dan percaya bahwa pertolongan Tuhan selalu ada. Oleh karenanya, menjadi idaman setiap keluarga untuk menjadikan anaknya seperti Ismail. Anak yang selalu sabar dan tangguh dalam setiap cobaan. Anak yang bisa menginspirasi banyak orang dengan perilaku dan pemikiran. Maka Ismail adalah sosok idaman orang tua.

Akan tetapi, ada sosok penting di balik kesuksesan Ismail menghadapi ribuan cobaan. Dialah Ibrahim yang menjadi kepala keluarga dari keluarga kecil itu. Ibrahim lah bersama istrinya yang membimbing serta mengajari Ismail tentang bagaimana bersikap dan mengamalkan nilai-nilai agama yang ada. Ibrahim lah tokoh dibalik ketangguhan yang dimiliki anaknya.

Maka sudah barang tentu, setiap orang tua harus merenungi. Ketika mereka menginginkan sesuatu, tentulah ada usaha keras dari mereka. Ketika mereka menginginkan anak yang soleh serta menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan, merekalah yang harusnya menjadi tembok tangguh akan pengajaran. Merekalah yang harusnya menjadi sumber ilmu dan keteladanan bagi anaknya.

Baca Juga:  Istilah Halal Bihalal Ternyata Hanya ada Di Indonesia Lho, Ini Sejarahnya

Pendidikan pertama dari seorang anak, ada pada diri orang tuanya. Sedikit banyak anak akan menyerap perilaku yang ada pada orang tuanya. Sudah barang tentu, kesalehan juga harus dilekatkan pada diri orang tua.

Sangat sulit menempatkan prinsip kesalehan jika orang tua masih keteteran dalam masalah pelaksanaan perintah agama. Oleh karenanya, yang harus dibangun terlebih dahulu adalah bagaimana menjadikan diri sebagai Ibrahim. Kemudian baru dibangun tata cara menjadikan anak sebagai Ismail.

Muhammad Nur Faizi