Ukhuwah Islamiyah, Persaudaraan Sesama Islam yang Harus Selalu Dijaga (Bagian I)

Ukhuwah Islamiyah, Persaudaraan Sesama Islam yang Harus Selalu Dijaga

PECIHITAM.ORG – Bagaimana pandangan dan anjuran Islam terhadap untuk menjalin dan merawat ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama kaum muslimin? Akhir-akhir ini persaudaraan dan persatuan di kalangan umat Islam semakin tidak terkontrol.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Karena perebedaan, masing-masing pihak menonjolkan diri dan kelompok dan cenderung merendahkan orang dan kelompok lain. Mari kita lihat petunjuk Islam tentang cara kita bersikap terhadap sesama umat islam. Nabi saw bersabda dalam riwayat Imam Muslim

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا» وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ «بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ، دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ»


Artinya: Dari Abu Hurairah ra, dia berkata: Rasulullah saw bersabda: Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling marah dan saling memutuskan hubungan. Dan janganlah kalian menjual sesuatu yang telah dijual kepada orang lain. jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain. ia tidak menzaliminya dan mengabaikannya, itdak mendustakannya dan tidak menghinanya. Takwa itu di sini (beliau menunjuk ke dadanya tiga kali). Seorang muslim dikatakan buruk bila ida menghina saudaranya yang muslim, setiap muslim terhadap muslim yang lain (adalah) haram darah, harta dan kehormatannya (diganggu). (HR. Muslim)

Baca Juga:  Dampak Zona Covid 19, Ibadah Umat Islam dan Bulan Ramadhan 2020


Suku, warna kulit, organisasi, pilihan partai, mazhab, orang tua kita berbeda-beda, namun pada hakikatnya kita bersaudara satu dengan lainnya..apa sebabnya? Karena keyakinan, aqidah, agama kita sama yaitu Islam. Islamlah yang menyatukan kita dalam bingkai ukhuwah Islamiyah walaupun suku, warna kulit, organisasi, pilihan partai, mazhab, orang tua kita berbeda-beda.

Karena itu, sebagai pemeluk agama Islam harus ada kesadaran bahwa pada hakikatnya kita berbeda satu dengan lain, namun pada saat yang sama kitapun bersaudara karena masing-masing memeluk agama yang sama yaitu Islam.


Sepanjang sejarah persatuan di kalangan kaum muslimin selalu menjadi perhatian oleh para ulama, termasuk Rasulullah saw pun menjadikan persatuan itu adalah hal yang utama untuk dilakukan. Karena itu, ketika Nabi saw hijrah ke Madinah dan setelah tiba sana, hal yang pertama Nabi saw lakukan adalah selain membangun masjid beliau mempersatukan / mempersaudarakan kaum muslimin pada saat itu. Misalnya suku Aus dengan suku Khazraj dipersaudarakan yang sebelumnya selalu bertikai satu dengan lainnya.

Sepeninggal Rasulullah saw digantikan oleh Abu Bakar as-Shiddiq ra, lalu Umar bin Khattab ra. Pada masa kedua khalifah tersebut, persaudaraan di kalangan kaum muslimin sangat kuat. Baru sepeninggal dari keduanya, lalu digantikan oleh Utsman bin Affan ra sebagai khalifah ketiga.

Baca Juga:  Ukhuwah Islamiyah, Persaudaraan Sesama Islam yang Harus Selalu Dijaga (Bagian II)

Pada masa kekhalifahan Ustman bin Affan benih-benih perpecahan, pertikaian, permusuhan, perkelahian mulai muncul kembali. Bukankah Utsman bin Affan dibunuh saat ia sedang membaca al-Qur’an? Dan yang membunuhnya adalah orang yang memiliki keyakinan, aqidah, Nabi, Tuhan, al-Qur’an, kiblat sama dengan Utsman bin Affan ra.

Dalam lembaran sejarah tidak disebutkan secara pasti pembunuh Utsman bin Affan, namun pembunuhan terhadap beliau menunjukkan bahwa persatuan umat Islam pada masa khalifah ketiga mulai memudar.

Sepeninggalnya khalifah ketiga Utsman bin Affan ra, beliau digantikan oleh Ali bin Abi Thalib kw sebagai khalifah keempat. Paling tidak pada masa Ali bin Abi Thalib kw terjadi dua perang besar, yaitu:


Pertama, Perang Jamal

Perang antara pasukan Aisyah ra dengan Ali bin Abi Thalib kw. Aisyah ra adalah istri Rasulullah saw dan Ali bin Abi Thalib kw adalah menantu Rasulullah saw, keduanya memiliki hubungan kekeluargaan, hubungan aqidah dan keduanya adalah Madrasah Rasulullah saw, namun sepeninggal Rasulullah saw keduanya saling berperang satu dengan lainnya.

Menurut catatan sejarah, ribuan nyawa kaum muslimin melayang akibat perang tersebut. Siapa yang benar dan siapa yang salah dari keduanya? Siapa yang masuk surga dan masuk neraka? Biarlah Tuhan yang memutuskannya kelak.


Kedua, Perang Shiffin

Perang antara pasukan Ali bin Abi Thalib kw dengan pasukan Muawiyah bin Abi Sofyan. Antara Muawiyah dengan Ali masih memiliki hubungan keluarga, keduanya didikan langsung dari Rasulullah saw, keduanya pun dianggap secara pencatat wahyu Rasulullah saw, tetapi bayangkan sepeninggal Rasulullah saw keduanya saling berperang yang mengakibatkan ribuan nyawa kaum muslimin melayang.

Baca Juga:  Pentingnya Menjaga Ukhuwah Islamiyah, Begini Tahapannya

Sekali lagi, siapa yang benar dan siapa yang salah? Siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka?

Perang Jamal maupun perang Shiffin adalah perang yang terjadi dikalangan kaum muslimin itu sendiri, karena berbeda pilihan, mereka menempuh dengan jalur perang. Akal kita sulit menerima fakta sejarah tentang perang yang terjadi dikalangan kaum muslimin itu sendiri apalagi pelakunya adalah murid langsung Rasulullah saw, mereka adalah para sahabat Rasulullah saw yang menyaksikan langsung prilaku, sifat, akhlak Rasulullah saw.

Apakah Rasulullah saw tidak berhasil mendidik mereka tentang pentingnya persaudaraan dan persatuan di antara kaum muslimin atau ukhuwah Islamiyah?

Muhammad Tahir A.