Al-Matsurat; Amalan dari Nabi, Faedahnya dan Hukum Mengamalkan Doa Bukan dari Nabi

Al-Ma'tsurat / Amalan-Amalan dari Nabi, Faedahnya dan Hukum Mengamalkan Doa Bukan dari Nabi

PeciHitam.org – Rasulullah SAW contoh sempurna dalam setiap derak langkah manusia. Setiap tindakan beliau menjadi Sunnah bagi kita semua. Sunnah-sunnah beliau sangat banyak mulai dari tentang Ibadah wajib, perilaku dengan keluarga dan istri-istri beliau dan bahkan sampai doa-doa harian. Doa-doa harian ini yang kita kenal dengan Al-Matsurat.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Al-Matsurat selalu dipanjatkan Nabi SAW pada waktu pagi dan petang, khususnya pada waktu setelah shalat Shubuh dan Maghrib. Doa ini juga dikenal dengan doa Pagi-Petang, karena waktu pengamalannya dilakukan Nabi SAW pada waktu tersebut.

Akan tetapi doa yang tidak bersumber kepada Nabi tidak boleh dipanjatkan. Sebagimana kita berdoa dengan redaksi sendiri atau menggunakan bahasa Ibu kita (bukan berbahasa Arab)

Bacaan Al-Matsurat dan Faedahnya

Penjelasan di atas menampilkan bahwa Nabi Muhammad SAW mengamalkan dan menganjurkan kita untuk berdoa. Berdoa dalam Islam merupakan sebuah keniscayaan, sebagaimana kita diperintahkan Allah SWT dalam ayat;

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (٦٠

“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina” (Qs. Al-Mu’min: 60)

Perintah Allah supaya manusia, meminta/ berdoa kepadaNya sebagai bukti ketaatan kita kepadaNya. Berdoa akan menjadikan Allah SWT Ridho dengan kita. Maka penting sekali kita berdoa memohon kepada Allah, dengan mencontoh Rasulullah SAW. Lafadz doa yang diamalakan Nabi Pagi-Petang adalah sebagai berikut;

Doa Mohon Perlindungan dari Syaitan dan Faedah-nya

اَعُوْذُ بِاللهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha  Mengetahui dari syaithan yang terkutuk.”

Faedah dari doa ini adalah menjaga kita dari gangguan syaitan yang terkutuk dengan berlindung kepada Allah SWT.

Doa dari Al-Fatihah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١)الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢)الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣)مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤)إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥)اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦)صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧

Baca Juga:  Bacaan dan Faedah Doa Kafaratul Majlis

Artinya: 1. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang 2. segala puji[2] bagi Allah, Tuhan semesta alam 3. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 4. yang menguasai di hari Pembalasan 5. hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan 6. Tunjukilah Kami jalan yang lurus 7. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

Doa dari 5 Ayat Pertama Surat Al-Baqarah

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

الم (١) ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (٢) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (٣) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (٤) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (٥)

Faedah dari 5 ayat pertama dari surat Al-Baqarah adalah menjaga manusia dari godaan syaitan. Jika dibaa pagi akan menjaga sampai sore, jika dibaca sore akan menjaga sampai pagi.

Doa dari Ayat Kursi dan 2 Ayat setelahnya

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ (٢٥٥) لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ (٢٥٦) اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (٢٥٧

Faedah dari membaca surat al-Baqarah 255-257, jika kita membaca waktu petang, Allah SWT menjaga kita dari gangguan Syaitan sampai pagi, jika kita membaca waktu pagi akan dijaga Allah sampai Petang.

3 Ayat terakhir dan Faedah-nya

لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (٢٨٤) آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (٢٨٥) لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ (٢٨٦

Baca Juga:  Doa dan Wirid Yang Sebaiknya Dilakukan Saat Terjadi Gempa.

Faedah dari 3 surat Al-Baqarah yang terakhir ini akan menjadikan orang membacanya terhindar dari sifat  musyrik dan munafik.

Doa tiga kali dari Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas

Barang siapa yang membaca 3 surat (Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas) dengan masing-masing bacaan 3 kali pada pagi dan petang, niscaya Allah mencukupkan segala kebutuhan kita.

Doa Pagi Hari/ Petang Hari

اَللَّهُمَّ بِكَ أَصْبَحْنَا، وَبِكَ أَمْسَيْنَا، وَبِكَ نَحْيَا، وَبِكَ نَمُوْتُ وَإِلَيْكَ النُّشُوْرُ (dibaca 1 kali, pagi-petang)

Artinya: “Ya Allah, dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu petang. Dengan rahmat dan pertolongan-Mu kami hidup dan dengan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua makhluk).”

Faedahnya jika kita membaca doa ini pagi dan petang, Allah akan menjaga kita dengan kekuasaanNya.

Pembolehan Doa (al-Matsurat) Bukan dari Rasulullah

Doa yang diriwayatkan dari Rasulullah dinamakan juga doa Ma’tsur (Al-Matsurat), yang bermakna bersambung dengan riwayat. Akan tetapi, kita juga BOLEH berdoa dengan menggunakan redaksi sendiri, misal dengan menggunakan bahasa Indonesia, Jawa, Batak, Sunda dan bahasa lainnya. Walaupun tidak ada riwayat ini, akan tetapi  Nabi tidak pernah MELARANGNYA.

Pembolehan doa dengan selain riwayat banyak ditulis oleh beberapa Ulama dalam mengomentari doa setiap basuhan dalam Wudlu. Imam Ghazali (pengarang Ihya’ Ulumudin) menerangkan doa-doa secara lengkap untuk setiap basuhan anggota tubuh terdapat dalam  Bidayatul Hidayah dan Ihya ‘Ulumiddin.

Imam Nawawi Ad-Damasyq menjelaskan bahwa:

وأما الدعاء على أعضاء الوضوء، فلم يجئ فيه شئ عن النبي صلى الله عليه وسلم وقد قال الفقهاء: يستحب فيه دعوات جاءت عن السلف، وزادوا ونقصوا فيها

Artinya; “Adapun doa membasuh anggota tubuh ketika berwudhu itu tidak terdapat sama sekali riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan para ahli fiqih telah mengatakan, ‘Disunnahkan ketika berwudhu mengucap doa-doa yang berasal dari orang-orang salaf, dan mereka menambah serta mengurangi lafaz-lafaz doa tersebut” (al-Adzkar).

Baca Juga:  Inilah Doa Pengusir Iblis yang Harus Kamu Baca Agar Terhindar dari Godaannya

Pendapay ini diamini oleh beberapa Ulama Kenamaan antara lain Imam Suyuthi dalam kitab Tuhfah al-Abrar bi Nukti al-Adzkar.

Dengan adanya komentar-komentar di atas, lantas bagaimana menyikapinya? Apakah doa-doa ini masih dapat diamalkan?

Doa-doa itu memang tak mungkin disandarkan kepada Nabi karena memang tidak ditemukan secara eksplisit dalam hadits. Namun, tak ditemukan dalam hadits bukan berarti terlarang. Sebab, pada dasarnya redaksi kalimat doa bersifat fleksibel alias tak terpaku pada susunan tertentu asalkan isinya positif.

Bila kita cermati secara seksama, lafal doa yang diajarkan al-Ghazali tersebut memiliki kedalaman makna tentang nasib manusia kelak di akhirat.   Dengan demikian, ini bukan soal boleh atau tidak boleh, melainkan masuk kepada pembahasan antara yang utama dan lebih utama.

Jika kita berdoa sesuai yang diucapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits shahihnya maka itu lebih utama, jika tidak mengetahui lafaz doa dan kita sangat perlu untuk berdoa, maka boleh-boleh saja berdoa semampu kita.

Budaya Doa Bersama dalam Majelis

Doa-doa dalam Al-Matsurat yang mendasarkan pada riwayat Nabi SAW, banyak diamalkan oleh para Ulama dan Umat Islam secara luas. Doa tersebut tidak hanya terbatas sebagaimana disebut di atas. Masih banyak sekali redaksi doa yang tidak tertulis karena keterbatan artikel.

Doa tersebut boleh diamalkan secara terpisah dan tidak harus selesai dalam membacanya. Jadi jika tidak bisa melakukan semuanya, jangan sampai tinggalkan semua. Bacaan-bacaan yang baik di ats kiranya kita bisa mengamalkan semampu kita, walaupun hanya sedikit.

Sebagaimana Budaya yang mendukung hal ini banyak kita jumpai di Nusantara. Ada yang bertajuk Tahlilan, Manaqiban, Kendurian, dan lain sebagainya. Akan tetapi budaya tersebut hampir pasti akan menggunakan model doa dalam Al-Matsurat.

Kita pasti mafhum dalam Tahlilan ada pembacaan Al-Ikhlas, al-Falaq, dan An-Naas masing-masing 3 kali. Pembacaan awal surat Al-Baqarah, Ayat Kursi dan 3 ayat terakhir dari Al-Baqarah (28-286), yang mana bacaan tersebut bersambung kepada nabi dalam Al-Matsurat.

Mochamad Ari Irawan