Benarkah Asal Usul Islam Puritan Terinspirasi Oleh Wahabisme?

Benarkah Asal Usul Islam Puritan Terinspirasi Oleh Wahabisme?

Pecihitam.org- Islam puritan sering dianggap tidak mempertimbangkan proses asimilasi dan akulturasi adat dan kepercayaan setempat. Akibatnya, banyak kalangan yang berpandangan bahwa asal usul Islam puritan terinspirasi oleh Wahabisme yang sangat gencar melawan semua bentuk apresiasi terhadap adat dan tradisi lokal.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Dasar klaim dari gerakan Wahabi ini adalah bahwa agama sudah tidak benar dipahami oleh para pengikutnya sebagaimana pada masa Nabi saw., sehingga mereka merasa berkepentingan untuk menyerukan kembali kepada ortodoksi syariah yang akan memurnikan Islam sesuai kriteria al-Qur’an dan Sunnah.

Wahabisme ini sering merujuk kepada Muhammad ibn Abd al-Wahab sebagai pendirinya. Beberapa karakter yang menjadi platform dari gerakan ini antara lain:

  • Mereka cenderung melakukan interpretasi literal terhadap teksteks suci agama. Menolak pemahaman kontekstual atas teks agama, karena pemahaman seperti ini dianggap akan mereduksi kesucian agama.
  • Menolak pluralisme dan relativisme, karena menurutnya dua hal ini merupakan distorsi pemahaman terjadap ajaran agama.
  • Memonopoli kebenaran atas tafsir agama, cenderung menganggap dirinya sebagai pemegang otoritas penafsir agama yang paling absah, sehingga cenderung menganggap sesat kepada kelompok yang tidak sealiran dengan mereka.
Baca Juga:  Sejarah Wali Songo dan Proses Islamisasi Melalui Seni dan Budaya Nusantara

Puritanisme yang terjadi di Indonesia dalam kurun waktu 1803 hingga sekitar 1832 disinyalir salah satunya ditunjukkan oleh Tuanku Imam Bonjol yang memimpin gerakan Kaum Paderi.

Namun gerakan ini sejatinya tidak seperti Wahabi yang keras dan kaku, tetapi sudah mengalami kulturisasi dengan budaya lokal, sehingga mudah diterima masyarakat.

Idahram menuturkan bahwa selain gerakan Kaum Paderi, ada beberapa indikator lain yang menunjukkan bahwa puritanisme di Indonesia pada awal abad ke-19 tidak terkait secara langsung dengan paham Wahabi, tetapi kesamaan itu hanya sebatas spirit saja.

Adapun faktor yang melatarbelakangi mudahnya spirit pembaharuan Wahabi diterima oleh beberapa ulama Indonesia di antaranya adalah karena medan dakwah nusantara yang berhadapan langsung dengan ajaran animisme, dinamisme, dan pengaruh Hindu-Budha.

Faktor inilah yang menjadikan mereka mudah mengadopsi doktrin pemurnian tauhid, dengan harapan agar umat Islam Indonesia dapat lebih cermat dalam menjalankan ajaran Islam, sehingga tidak tercampur dengan budaya lokal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang murni.

Baca Juga:  Peranan Mr. Hempher Terhadap Gerakan Muhammad bin Abdul Wahab (Bag 12)

Di antara tokoh-tokoh yang sering dijadikan panutan bagi para puritan Indonesia ini antara lain: Ibn Baz, Shalih Ibn Utsaimin, Ibn Fauzan, Muhammad Nashiruddin al-Albani, ulama asal Albania yang tinggal di Yordania, Syaikh Rabi alMadkhali di Madinah, dan Syaikh Muqbil al-Wadi’i di Yaman.

Dengan adanya pembedaan antara Islam pribumi dan Islam puritan seakan menjadikan adanya dikotomi yang mengesankan pemisahan antara model-model Islam tersebut.

Islam seperti dikotak-kotakkan, bahkan sebagian kalangan menilai, jika hal ini diteruskan dapat memburukkan citra Islam di mata dunia, bahkan justru membahayakan eksistensi Islam itu sendiri yang separatis dan mudah diprovokasi dan dihancurkan oleh kelompok lain.

Sementara kalangan lainnya menilai bahwa dengan hadirnya Islam pribumi atau Islam Nusantara justru akan memperbaiki citra Islam di mata dunia. Islam tidaklah rentan dengan kekerasan dan terorisme.

Sejatinya, tidak ada yang salah dengan Islam puritan atau Islam Arab dalam mengekspresikan keberagamaan atau keislaman seseorang. Tetapi yang menjadi masalah adalah menggunakan ekspresi kearaban sebagai ekspresi tunggal dan dianggap paling absah dalam beragama.

Baca Juga:  Albani Bukan Ahli Hadis; Pahami Dulu Syarat Menjadi Muhadits Menurut Para Ulama!

Terlebih jika kemudian budaya yang ada dianggap sebagai sesuatu yang sesat, musyrik dan bid’ah. Seharusnya agama bisa hidup berdampingan dengan ekspresi budaya, bukan saling menafikan satu sama lain.

Sementara di sisi lain, pribumisasi Islam pun bukan tanpa bahaya. Akomodasi dan akulturasi suatu saat bisa menghasilkan suatu identitas yang karakter Islaminya bisa terkikis atau bahkan bisa dianggap sama sekali tidak Islami.

Untuk menyelamatkan karakter Islamnya, lembaga-lembaga Islam pribumi di luar sektor modern, seperti sistem pesantren tradisional, harus diidentifikasi dan digunakan dalam membangkitkan kembali komunitas muslim Indonesia.

Mochamad Ari Irawan