Buya Syakur; Intelektual Muslim Progresif dari Kampung

Buya Syakur, Intelektual Muslim Progresif dari Kampung

Pecihitam.org – Abdul Syakur Yasin, nama lengkapnya, ialah sosok kiai kampung yang jauh dari rupawan pemikir Islam kaliber nasional. Kaliber nasional dalam arti nama dan pemikirannya melintasi kepulauan di Indonesia. Air mukanya benar-benar cerminan wajah rakyat agraris di pantai utara pulau Jawa pada umumnya. Orang yang tak kenal betul bakal menyangka Buya Syakur bukanlah sosok pemikir jempolan. Dalam bahasa Cirebon-Indramayu wajahnya ialah wajah “wong tani”. Penampilannya cukup sederhana.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Nama Buya Syakur tidak semasyhur Gus Dur atau Cak Nur serta Mufassir Qurasih Shihab. Kendatipun begitu, pemikirannya boleh dikata sejajar dengan ketiga tokoh tersebut. Terutama gagasannya menyoal reinterpretasi atas teks-teks Islam. Baginya, Islam pada era sekarang oleh beberapa kalangan dimaknai secara sempit. Islam seolah sekadar agama yang mengurusi ritus ibadah dengan tanpa kepedulian sosial.

Buya Syakur lebih banyak mengedarkan gagasan keislaman melalui panggung-panggung ceramah, dari kampung ke kampung, dari kota ke kota. Pada mulanya ia kerap ditinggal audiens atau jamaah sebab isi ceramahnya tidak umum laiknya penceramah kampung yang sarat akan nuansa humor, bersenandung syair, atau membincang “pahala”.

Dalam ceramahnya, Buya Syakur bak tengah memberi materi kuliah kelas universitas tingkat tinggi. Sebab itu pada babak awal-awal, ceramahnya kurang diminati masyarakat kampung.

Baginya, ceramah yang isinya melulu soal surga dan neraka, soal “pahala” semata, adalah pembodohan masyarakat. Sebab itu, dalam satu ceramahnya, Buya Syakur berkata bahwa visi ceramahnya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka tidak heran jika konten ceramahnya lebih menekankan basis ilmiah ketimbang bernada persuasif agar masyarakat rajin ibadah dengan iming-iming pahala dan surga.

Baca Juga:  Biografi Singkat AGH Muhammad Rafi’i Yunus Maratan

Buya Syakur tidak risau dengan audiens yang sepi, jamaah yang meninggalkan tempat duduk, sebab isi ceramah yang terlampau ilmiah-rasional. Mungkin banyak komentar “membosankan” atas ceramahnya, tapi ia tidak berhenti untuk membeberkan gagasannya. Ia terus melaju, melakukan upaya dekonstruksi atas kejumudan berpikir kaum muslim di arus bawah, di perkampungan. Gagasan keislamannya sama sekali baru dan “fresh” serta kerap dicap kontroversi.

Ikhtiarnya mendongkrak kejumudan berpikir lambat laun mencapai titik temu. Masyarakat kampung yang memang kurang memperoleh pendidikan tinggi mulai membuka diri dan menerima gagasan-gagasannya. Terminologi seperti lema linguistik, hermeneutik, sosio-linguistik, psiko-linguistik, psikologi, antropologi, dan lain sebagainya sedikit demi sedikit diterima masyarakat kampung.

Hasil reinterpretasinya atas teks-teks Islam diterima sebagai gagasan yang lebih masuk akal ketimbang tafsir-tafsir yang berkembang pada umumnya.

Banyak sekali gagasan Buya Syakur sebagai hasil interpretasinya atas definisi atau pemahaman terhadap teks Islam yang beredar di khalayak muslim. Salah satu contoh adalah mengenai ke-ummy-an Rasulullah Saw. Sebagaimana dipahami kebanyakan umat Islam, ummy dimaknai dengan buta huruf atau tidak bisa membaca dan menulis. Ia memiliki interpretasi lain atas term ummy tersebut.

Baginya makna ummy bukan buta huruf atau tidak bisa baca-tulis. Sebab tidak mungkin ada seorang Rasul yang bodoh. Terlebih, menurutnya, Rasulullah Muhammad Saw adalah manusia paling cerdas di dunia dengan salah satu keistimewaannya bisa mencerap informasi dan mengingatnya tanpa pernah lupa seumur hidup.

Baca Juga:  Membangun Keluarga yang Sakinah Menurut KH Buya Syakur Yasin

Maka tidak elok mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang yang buta huruf, tidak bisa baca-tulis. Sehingga, menurut Buya, ummy bukanlah bermakna seperti apa yang umum dipahami kebanyakan muslim. Menurutnya, arti kata ummy adalah penduduk asli Arab.

Mengkonfirmasi pendapatnya, Buya Syakur menerakan beberapa dalil quranik, di antaranya ayat 75 surah ali imran;

وَمِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مَنْ إِن تَأْمَنْهُ بِقِنطَارٍ يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ وَمِنْهُم مَّنْ إِن تَأْمَنْهُ بِدِينَارٍ لَّا يُؤَدِّهِ إِلَيْكَ إِلَّا مَا دُمْتَ عَلَيْهِ قَائِمًا ۗ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا لَيْسَ عَلَيْنَا فِي الْأُمِّيِّينَ سَبِيلٌ وَيَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Kata al-umiyyin pada ayat itu, menurutnya, bukanlah bermakna buta huruf, tapi artinya ialah penduduk asli bangsa Arab. Sehingga makna bahwa Nabi al-ummy bukanlah Nabi yang buta huruf atau tidak bisa baca-tulis, melainkan Nabi seorang penduduk asli Arab. Tentu masih ada dalil-dalil lain yang menyokong interpretasinya itu.

Pemahaman seperti itu jelas sangat tidak biasa di kalangan muslim awam perkampungan. Dan itu disampaikan Buya dengan tanpa tendeng aling-aling. Ia selalu jujur mengungkapkan gagasannya, entah itu bertabrakan dengan tatanan pemahaman yang telah ada atau tidak. Ia berperangai inklusif, bisa menerima perbedaan pendapat.

Gagasan-gagasan Buya Syakur sama sekali tidak anti kritik. Esensi ceramah-ceramahnya lebih menekankan kepada seruan untuk berani berpikir dan mengkritisi bangunan pemahaman yang lama, skeptisism.

Watak gagasan dalam tiap ceramahnya tidak dogmatik dan doktrinal. Apa yang disampaikannya selalu menitikberatkan pada rasionalitas. Bahwa teks yang “apa adanya” didekati dengan rasio dan diolah serasional mungkin sehingga menjadi satu pehamanan yang tidak ngawang-ngawang, yakni masuk di akal.

Baca Juga:  Memahami Konsep Fana dari Sudut Pandang Buya Syakur

Selain menyebarkan gagasan-gagasannya melalui ceramah panggung atau seminar di perguruan tinggi, Buya Syakur juga mengurus pondok pesantren di kampungnya, yakni di Candangpinggan, Kertasemaya, Indramayu. Ada pula jadwal pengajian terbuka untuk umum setiap malam senin dengan kajian kitab Fathurrabbani Syaikh Abdul Qadir al-Jilany. Umumnya mereka yang mengaji adalah para ustadz kampung sekitaran wilayah Cirebon-Indramayu.

Sebetulnya tidak heran jika Buya Syakur disejajarkan dengan Gus Dur, Cak Nur dan Mufassir Quraish Shihab. Karir intelektualnya dimulai di bumi pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon asuhan KH. Amin Sepuh dan KH. M. Sanusi (lulus 1969); pada 1971 studi ke Baghdad Irak; pada 1971 menjadi ketua PPI Syiria; pada 1974 ketua PPI Libya; pada 1977 mendalami ilmu al-quran di Libya; pada 1979 menyelesaikan Sastra Arab di Libya.

Pada 1981 menyelesaikan Sastra Lingustik di Tunisia; pada 1985 menyelesaikan Ilmu Metodologi di London; dan pada 1991 pulang ke Indonesia. Pernah membentuk Forum Empati Club bersama Gus Dur, Quraish Shihab, Nurcholis Madjid, dan Alwi Shihab.

Wallahul muwaffiq.

Mutho AW

Leave a Reply

Your email address will not be published.