Mengenal Lebih Dekat Muhammad Izzat Darwazah; Penafsir al-Quran Kontemporer

Mengenal Lebih Dekat Muhammad Izzat Darwazah; Tokoh Penafsir al-Quran Kontemporer

Nama lengkapnya adalah Muhammad Izzat bin Abdul Hadi bin Darwis bin Ibrahim bin Hasan Darwazah. Beliau lahir pada sabtu, 11 Syawal 1305 H/ Juni 1887 di Kota Nablus, Palestina. M. Izzat Darwazah adalah salah seorang pejuang politik arab.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Beliau bukan hanya tokoh yang politik yang diam melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi disana, akan tetapi beliau ikut terjun langsung dalam pergerakan Arab untuk melawan penjajah.

Darwazah berarti Khiyatoh atau penjahit, kata Darwazah dalam nama belakang Muhammad Izzat adalah julukan yang identik dengan keluarganya, yakni kakeknya yang sebagian besar keluarganya mempunyai profesi penjahit.

Ayah beliau yakni Abdul Hadi adalah seorang pedagang kain di Nablus yang termasuk dalam keluarga menengah bermarga farihat.

Selain aktif dalam dunia pergerakan arab pada tahun 1906-1918, Darwazah juga pernah menjabat sebagai sekretaris departemen umum Beirut dan sekretaris Muktamar Syiria. Pada bidang pemerintahan, Darwazah pernah menduduki jabatan sebagai kepala sekolah Madrasah al-Najah al-Wathaniyah, dan kepala urusan wakaf Palestina pada tahun 1921-1937.

Kemudian pada akhir tahun 1937 ketika majelis Tinggi Islam dibubarkan dan Darwazah dituduh sebagai aktor dari pemberontakan rakyat Palestina oleh Inggris, maka sejak saat itu Darwazah tidak lagi menjabat sebagai aparat pemerintah.

Karena terlibat revolusi tersebut, akhirnya Darwazah ditahan. Beliau menghabiskan masa tahanannya di Mazzah selama 4 tahun, dan 1 tahun di Qal’ah Damaskus.

Selama hampir 5 tahun beliau dipenjara,beliau justru menggunakan waktu itu untuk menghafalkan al-Quran dan menuangkan gagasan-gagasan beliau. Terutama sejak beliau ditahan di Damaskus. Hingga akhirnya pada 1941-1945 setelah hijrah ke Turki karena persoalan politik baik yang ada di dalam maupun diluar negeri, beliau akhirnya memutuskan untuk memulai menulis buku-buku yang berhubungan dengan tafsir.

Baca Juga:  Profil Lengkap, Pendidikan dan Jejak Karir KH Ma'ruf Amin

Selain itu, beliau juga menulis seputar gerakan arab modern, Turki modern dan karya tentang faktor-faktor yang mendorong terjadinya perang dunia kedua. Dalam karyanya, yang paling menonjol dari diri beliau adalah sejarah dan tafsir.

Darwazah juga mengisahkan 4 karya intinya dalam pengantar tafsirnya. Pertama, ‘Ashr al-Nabi wa Bi’atuhu qabla al-Bi’tsah, kedua Sirah al-Rasul; Shuwar Muqtasabah min al-Quran, ketiga Dustur al-Quran fi Syu’un al-Hayah, dan terakhir al-Tafsir al-Hadis dengan pengantarnya Al-Quran al-Majid.

Dua disiplin keilmuan yang menjadi arah dan kecenderungan Darwazah bukan menjadi sesuatu yang terpisah, yakni tafsir dan sejarah. Keduanya menjadi disiplin yang menyatu, Darwazah juga mengkaji sejarah tidak seperti sejarawan pada umumnya yang hanya berkutat pada sumber-sumber sejarah murni, akan tetapi dengan menggunakan al-Quran sebagai tafsir terhadap sejarah kenabian. Merujuk pada al-Quran sebagai sumber primer dan menempatkan sumber-sumber sejarah sebagai sumber sekunder.

Darwazah menulis tafsir sesuai dengan sejarah turunnya al-Quran, dan jika mengkaji sejarah maka sesuai dengan tartib nuzuli. Dan disinilah akhirnya beliau memilih al-Quran tartib Nuzul dalam karyanya yang berjudul al-Tafsir al-Hadis.

Dalam menulis, Darwazah lebih dulu menulis sejarah baru kemudia tafsir, sehingga dia dijuluki sebagai sejarawan kemudian dijuluki sebagai mufassir. Adapun 3 kajian sejarahnya yang pertama dia sebut sebagai tafsir maudhu’i (fushul) karena mengkaji sejarah dalam perspektif al-Quran , sedangkan al-Tafsir al-Hadis nya menggunakan susunan al-Quran sesuai tartib Nuzuli (perspektif sejarah) yang dia sebut dengfan tafsir sempurna (kamilah) atau tafsir tajzi’i.

Karya-karya Muhammad Izzat Darwazah

Sebab ketekunan Darwazah, beliau akhirnya memiliki beberapa karya di berbagai bidang. Misalnya:

  1. Bidang biografi: Wufud al-Nu’man ‘ala Kusri Anwasyirwana (Beirut,1911)
  2. Bidang pemikiran Islam dan al-Quran: ‘Asr al-nabi wa bi’atuhu qabla al-Islam ( ditulis pada saat Darwazah berada di tahanan Mazzah, dan diterbitkan di damaskus pada 1946), dan lain sebagainya.
  3. Tentang palestina: Mas’at al-Falistin (Damaskus, 1960), Jihad al-falistin (1960), al-Juzur al-Qadimah li suluki wa akhlaqi wa ahdasi bani israil wa yahud wa Istithradan; Muzakarat wa Tasjilat Muhammad Izzat Darwazah; Ibrah min Tarikh falistin al-Qadim.
  4. Bidang sejarah: Mukhtasar Tarih al-Arab wa al-islam (Kairo, 1925), Durus al-Tarih al-Arabi (1932), dan lain sebagainya.
  5. Bidang nasionalisme: Hawla al-harakah al-Arabiyyah al-Hadisah (ditulis 1950-1952), Masyakil al-Alam al-Arabi (Damaskus, 1952), dan lain-lain.
  6. Karya terjemahan: Bawais al-Harb al-‘Alamiyyah al-Ula.

Pada saat tinggal di Bursa, Turki Darwazah memulai menulis kitab tafsirnya yang sekarang dikenal sebagai Tafsir al-Hadis. Yang mana sebelum menulis itu, beliau menuliskan sebuah karya dengan judul al-Quran al-Majid sebagai pengantar kitab tafsirnya.

Baca Juga:  Mengenal Lebih Dekat Sosok Sunan Kalijogo, Sang Wali Tanah Jawa

Kitab ini berisikan metodologi penafsiran yang ia gunakan dalam menafsirkan al-Quran. Darwazah meninggal pada tahun 1984 di Damaskus pada usia 96 tahun.

Beliau memiliki 3 orang puteri yang bernama Najah, Salma, dan Rudaina, serta seorang putera yang bernama Zuhair. Keempat orang anak ini adalah perolehan dari pernikahan beliau yang pertama dengan puteri pamannya yang bernama Fatimah binti Qasim Darwazah.

Pada tahun 1938, Fatimah meninggal di damaskus. Dan akhirnya menikah yang kedua dengan Laiqah binti Anis al-Tamimi pada tahun 1946. Dan pada pernikahan kedua ini tidak dikaruniai anak, Laiqah meninggal dunia pada tahun 1975 di Damaskus.

Referensi

  • Muhammad Syuhada, “Analisis Tentang Metode Dan Corak Penafsiran M. Izzat Darwazah Dalam Kitab al-Tafsir al-Hadis” (Skripsi, UIN Walisongo, 2017)
  •  Fadhilah Idzni Azyyati, “Tartib Al-Nuzul Dan Implikasinya Terhadap Penafsiran (Studi Kitab Tafsir al-Hadis Karya Izzat Darwazah” (Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah, 2018)
  • Aksin WIjaya, Sejarah Kenabian Dalam Perspektif Tafsir Nuzuli Muhammad Izzat Darwazah, Cetakan 1. (Bandung: Penerbit Mizan, 2016)
  • Imroati Karmillah, “Peranan Konteks Sosio-Historis dalam Penafsiran Muhammad Izzat Darwazah,” MAGHZA: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir 2, no. 1 (May 5, 2017)
Baca Juga:  Pengajian Gus Dur Dibubarkan, NU Justru Mendoakan Pemerintah

Ditulis dan Dikirimkan oleh: Firda Maya Syafrina

Redaksi