Macam-Macam Doa Buka Puasa dan Dasar Hukumnya dalam Hadits Nabi

doa buka puasa

Pecihitam.org – Ketika sedang menjalani ibadah puasa waktu yang paliong banyak ditunggu adalah berbuka puasa. Setelah adzan magrib berkumandang umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa biasanya akan membatalkan puasanya dengan makanan takjil. Nah, salah satu yang tidak boleh ketinggalan ketika berbuka puasa adalah dengan membaca doa buka puasa.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Sudah barang tentu dari umat Muslim hafal doa buka puasa. Apalagi doa buka puasa tersebut sering sekali setelah kumandang adzan magrib disiarkan di stasiun-stasiun TV. Namun, tahukah kamu bahwa doa buka puasa ternyata tidak hanya satu dan masih ada versi yang lain. Berikut pembahasan selengkapnya.

Puasa

Ibadah puasa merupakan ibadah yang diwajibkan kepada seluruh umat Muslim yang beriman untuk dilaksanakan di bulan Ramadhan. Amalan ini memiliki tujuan untuk membawa setiap muslim mencapai derajat taqwa dan menunjukkan kualitas keimanan. Sebagaimana firman Allah Swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Arrtinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Macam-macam Doa Buka Puasa

Terdapat beberapa versi doa buka puasa yang berasal dari hadits Rasulullah Saw, diantaranya aadlahh sebagai berikut.

Doa Buka Puasa Pertama

Ini adalah doa buka puasa pertama yang tentunya sering kita dengar dan kita baca serta pastinya sudah banyak yang hafal.

اَللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

“Allahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birohmatika yaa arhamar roohimiin”.

Artinya: “Ya Allah, untuk-Mu atau karena-Mu aku berpuasa, dengan-Mu aku beriman, dan atas rezeki-Mu aku berbuka, dengan rahmat-Mu, Ya Allah Tuhan Maha Pengasih”.

Doa buka puasa ini berasal dari hadits Nabi Saw yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim. Keterangannya dapat dilihat dalam Al-Iqna pada Hamisy Bujairimi alal Khatib karya Syekh M Khatib As-Syarbini juz II, halaman 385.

Baca Juga:  Doa Khataman Al-Quran Menurut Imam Nawawi Versi Lengkap

Doa Buka Puasa Kedua

Bacaan doa berbuka puasa yang kedua adalah sebagai berikut:

للَّهُمَّ لَكَ صُمْنَا وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْنَا، اَللَّهُمَّ تَقَبَّل مِنَّا، اِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيمُ

“Allahumma Laka Shumna wa ala Rizqika Aftharna, Allahumma Taqabbal Minna Innaka Antas Samiul ‘Alim”.

Artinya, “Ya Allah , untuk-Mu atau karena-Mu kami berpuasa, atas rezeki-Mu kami berbuka, maka terimalah (puasa) kami. Sesungguhnya, Engkau Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.” (HR. Ibnu Sunni dan lainnya).

Doa Buka Puasa Ketiga

Kemudian doa yang ketiga sebagai pengiring berbuka puasa adalah sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ إنِّي أَسْألُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ، أنْ تَغْفِرَ لِيْ

“Allahumma inni as-aluka bi rohmatikal latii wasi’at kulla syain an taghfirolii”.

Artinya, “Ya Allah, sungguh aku meminta kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang mencakup segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku.”

Doa Buka Puasa Keempat

Adapun doa berbuka puasa yang keempat sebagaimana berikut:

ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ

“Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah”.

Artinya: “Telah hilang rasa haus, telah basah urat-urat, dan telah pasti ganjaran, dengan kehendak Allah Ta’ala.” (HR.Abu Dawud, Daruquthni, Hakim, dan Nasa’i).

Kontroversi Doa Berbuka Puasa

Belakangan ini ada beberapa pihak yang mempersoalkan doa berbuka puasa yang sudah lama diamalkan oleh masyarakat. Menurut mereka, doa buka puasa “Allahumma laka shumtu wa bika âmantu wa ‘alâ rizqika afthartu,” yang umum dibaca masyarakat, berasal dari hadits yang dhaif.

Kemudian mereka menawarkan alternatif lafadz doa yang katanya berasal dari hadits yang lebih shahih riwayat Abu Dawud, yaitu “Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru, insya Allah.”

Lantas benarkah doa berbuka puasa yang selama ini diamalkan oleh masyarakatberasal dari hadits yang dhaif? Dan apakah benar doa buka puasa yang berasal dari hadits riwayat Imam Abu Dawuh kualitas haditsnya lebih shahih dibandingkan hadits yang diamalkan oleh masyarakat selama ini? Mari kita perhatikan keterangan berikut ini.

Sebelumnya mari kita lihat hadits lengkap riwayat Imam Abu Dawud sebagai berikut:

حدثنا عبد الله بن محمد بن يحيى أبو محمد حدثنا علي بن الحسن أخبرني الحسين بن واقد حدثنا مروان يعني ابن سالم المقفع قال رأيت ابن عمر يقبض على لحيته فيقطع ما زاد على الكف وقال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا أفطر قال ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله

Baca Juga:  Kumpulan Doa untuk Kaum yang Sedang Ambyar (Patah Hati)

Artinya, “Kami mendapat riwayat dari Abdullah bin Muhammad bin Yahya, yaitu Abu Muhammad, kami mendapat riwayat dari Ali bin Hasan, kami mendapat riwayat dari Husein bin Waqid, kami mendapat riwayat dari Marwan, yaitu Bin Salim Al-Muqaffa‘, ia berkata bahwa aku melihat Ibnu Umar menggenggam jenggotnya, lalu memangkas sisanya. Ia berkata, Rasulullah bila berbuka puasa membaca, ‘Dzahabaz zhama’u wabtallatil ‘urûqu wa tsabatal ajru, insyâ Allah’,” (HR Abu Dawud)

Kemudian kita lihat doa berbuka puasa yang kerap diamalkan masyarakat, yaitu “Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu,” ternyata ini bersumber dari riwayat Imam Bukhari dan Muslim. Sebagaimana keterangan Syekh M Khatib As-Syarbini berikut ini:

وأن يقول عقب فطره اللهم لك صمت وعلى رزقك أفطرت لانه صلى الله عليه وسلم كان يقول ذلك رواه الشيخان

Artinya, “(Mereka yang berpuasa) dianjurkan setelah berbuka membaca, ‘Allâhumma laka shumtu, wa ‘alâ rizqika afthartu.’ Pasalnya, Rasulullah Saw mengucapkan doa ini yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim,” (Lihat Syekh M Khatib As-Syarbini, Al-Iqna pada Hamisy Bujairimi alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H], juz II, halaman 385).

Kalau mau kita bandingkan dan dilihat tingkat kesahihannya, berdasarkan kesepakatan ulama ahli hadits doa riwayat Bukhari dan Muslim jelas lebih shahih dibandingkan sekadar riwayat Abu Dawud.

Dari sini sudah cukup jelas bahwa doa yang diamalkan masyarakat selama ini ada dasarnya dan sudah benar, selain itu juga di dukung oleh hadis yang shahih dan kuat. Lantas bagaimana dengan doa riwayat Abu Dawud?

Disebutkan Syekh Sulaiman Bujairimi dalam Hasyiyah al Bujairimi, karena sama-sama dari hadits Nabi dan diketahu pula perawinya, ulama dari Madzhab Syafi’i kemudian menggabungkan doa riwayat Imam Bukhari dan Muslim dengan doa riwayat Abu Dawud. Demikian berikut ini:

Baca Juga:  Subhanallah; Kalimat Tasbih dengan Banyak Keutamaan, Bagaimana Detailnya?

اللّهُمَّ لَكَ صُمْتُ( ويسن أن يزيد على ذلك وَبِكَ آمَنْتُ، وَبِكَ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ. ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ العُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شاءَ اللهُ. يا وَاسِعَ الفَضْلِ اِغْفِرْ لِي الحَمْدُ لِلهِ الَّذِي هَدَانِي فَصُمْتُ، وَرَزَقَنِي فَأَفْطَرْتُ.

(Allâhumma laka shumtu wa ‘alâ rizqika afthartu) dianjurkan menambahkan lafal, wa bika âmantu, wa bika wa ‘alaika tawakkaltu. Dzahabaz zhama’u, wabtallatil ‘urûqu, wa tsabatal ajru, insyâ Allah. Yâ wâsi‘al fadhli, ighfir lî. Alhamdulillâhil ladzî hadânî fa shumtu, wa razaqanî fa afthartu,”

Artinya, “Tuhanku, hanya untuk-Mu aku berpuasa. Dengan rezeki-Mu aku membatalkannya. Sebab dan kepada-Mu aku berpasrah. Dahaga telah pergi. Urat-urat telah basah. Dan insya Allah pahala sudah tetap. Wahai Zat Yang Luas Karunia, ampuni aku. Segala puji bagi Tuhan yang memberi petunjuk padaku, lalu aku berpuasa. Dan segala puji Tuhan yang memberiku rezeki, lalu aku membatalkannya.” (Lihat Syekh Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Bujairimi alal Khatib, [Beirut, Darul Fikr: 2006 M/1426-1427 H], juz II, halaman 385).

Dari penjelasan ini, akhirnya kita dapat menarik simpulan bahwa para ulama terdahulu sangat bijak dalam mengatasi perbedaan riwayat suatu hadits. Mereka menggabungkan dua doa dari riwayat yang berbeda tanpa menyalahkan, atau mengecilkan riwayat yang lain.

Doa dari gabungan dua hadits dengan riwayat ya ng berbeda ini kemudian disuguhkan kepada masyarakat dan diamalkan turun-temurun hingga kini. Doa ini dibaca setelah setelah mereka membatalkan puasanya.

Hemat kami sebaiknya kita tidak perlu membesar-besarkan perbedaan pendapat. Bukankah perbedaan itu sebuah rahmat? Tidak perlu menyalahkan doa berbuka puasa yang sudah umum masyarakat, terlebih amalan ini juga didukung oleh hadits yang lebih shahih.

Tirulah para ulama terdahulu dalam menyikapi perbedaan. Mereka sungguh bijak dalam mencari titik temu pada dua riwayat yang berbeda dan akhirnya lebih membawa kemaslahatan kepada umat. Wallahua’lam bishawab.

Arif Rahman Hakim
Sarung Batik