Surah Maryam Ayat 16-21; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an

Surah Maryam Ayat 16-21

Pecihitam.org – Kandungan Surah Maryam Ayat 16-21 ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya menceritakan kisah Maryam yang diterangkan dalam Al-Qur’an ketika Maryam ibunda Nabi Isa menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat yang berada di sebelah timur Baitul Makdis untuk mendapatkan ketenangan dalam beribadat kepada Allah. Maryam ingin melepaskan diri dari rutinitas kegiatan hidup sehari-hari.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Terjemahan dan Tafsir Al-Qur’an Surah Maryam Ayat 16-21

Surah Al-Maryam Ayat 16
وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ إِذِ انتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا

Terjemahan: Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Al Quran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,

Tafsir Jalalain: وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ (Dan ceritakanlah di dalam Kitab) yakni Alquran مَرْيَمَ (tentang Maryam) kisahnya إِذِ (yaitu ketika) انتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا (ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah Timur) Maryam mengasingkan diri di suatu tempat di sebelah Timur rumahnya.

Tafsir Ibnu Katsir: Ketika Allah telah menceritakan kisah Zakariya as, bahwa di saat kondisi masa tuanya dan kemandulan isterinya, dia diberi oleh Allah seorang anak yang pandai, suci dan berkah, Allah menyambung firman-Nya dengan kisah Maryam yang diberikan seorang putra, yaitu ‘Isa a.s. tanpa ayah. Karena, di antara kedua kisah tersebut memiliki kesesuaian dan kesamaan.

Untuk itu, cerita keduanya [yang terdapat di dalam Surat Ali Imran, surat ini dan Surat al-Anbiyaa’] diseiringkan karena kedekatan antara keduanya dalam pengertian, agar menunjukkan kepada hamba-hamba-Nya tentang kekuasaan dan keagungan kerajaan-Nya Berta Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Dia berfirman: وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ مَرْيَمَ (“Dan ceritakanlah [kisah] Maryam di dalam al-Qur’an.”) Yaitu’Maryam binti Imran, dari keturunan Dawud as. Beliau berada di antara keluarga suci dan baik pada kaum Bani Israil.

Sesungguhnya Allah menyebutkan kisah kelahiran beliau dari ibunya di surat Ali Imran. Sang ibu menadzarkannya sebagai Muharrarah, yaitu orang yang berkhidmat di masjid Baitul Maqdis. Di mana dahulu mereka bertaqarrub dengan cara demikian;

fataqabbalaHaa rabbuHaa biqabuulin hasaniw wa ambataHaa nabaatan hasanan (“Maka Rabbnya menerimanya [sebagai nadzar] dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik,”) (QS. Ali Imran: 37).

Beliau tumbuh di kalangan Bani Israil dengan terhormat. Beliau adalah salah seorang wanita ahli ibadah, yang tekun ibadah lagi terkenal dan beliau seorang gadis muda yang tidak bersuami. Beliau berada di dalam pemeliharaan suami saudaranya yaitu Zakariya, salah seorang Nabi dari Bani Israil serta pembesar yang dijadikan tempat bertanya dalam masalah agama.

Zakariya melihat bahwa Maryam memiliki karamah yang melimpah: kullamaa dakhala ‘alaiHaa zakariyyal mihraaba wajada ‘indaHaa rizqan qaala yaa maryamu annii laki Haadzaa qoolat Huwa min ‘indillaaHi innallaaHa yarzuqu may yasyaa-a bighairi hisaabin (“Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata:

‘Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh [makanan] ini?’ Maryam menjawab: ‘Makanan itu dari Allah.’ Sesungguhnya Allah memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.’” (QS. Ali `Imraan: 37)

Diceritakan bahwa Zakariya mendapati di sisi Maryam buah-buahan musim dingin di saat musim panas, dan menemukan buah-buahan musim panas di saat musim dingin. Sebagaimana telah dijelaskan di dalam surat Ali Imran yang lalu. Allah yang memiliki hikmah dan dalil yang nyata menciptakan hamba dan Rasul-Nya, Isa a.s salah seorang Rasul agung, Uulul Azmi yang lima.

Allah menerangkan: إِذِ انتَبَذَتْ مِنْ أَهْلِهَا مَكَانًا شَرْقِيًّا (“Ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur,”) yaitu mengasingkan dan menjauhkan diri dari mereka serta pergi ke arah timur masjid Baitul Maqdis. Mereka orang-orang Nasrani, menjadikan tempat lahirnya Isa sebagai kiblat.

Tafsir Kemenag: Allah memerintahkan Nabi Muhammad supaya menceritakan kisah Maryam yang diterangkan dalam Al-Qur’an ketika Maryam ibunda Nabi Isa menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat yang berada di sebelah timur Baitul Makdis untuk mendapatkan ketenangan dalam beribadat kepada Allah. Maryam ingin melepaskan diri dari rutinitas kegiatan hidup sehari-hari.

Baca Juga:  Surah Maryam Ayat 75; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Sehubungan dengan ayat ini, Ibnu Abbas berkata, “Di antara semua orang aku paling mengetahui tentang apa sebab kaum Nasrani menjadikan kiblat mereka ke arah Timur; yaitu sesuai dengan firman Allah bahwa Maryam menenangkan dan menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah Timur, lalu mereka menjadikan tempat kelahiran Nabi Isa a.s. itu sebagai kiblat.”

Surah Maryam Ayat 17
فَاتَّخَذَتْ مِن دُونِهِمْ حِجَابًا فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا

Terjemahan: maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna.

Tafsir Jalalain: فَاتَّخَذَتْ مِن دُونِهِمْ حِجَابًا (Maka ia mengadakan tabir yang menutupinya dari mereka) Maryam membuat tabir untuk melindungi dirinya sewaktu ia membuka penutup kepalanya, atau membuka pakaiannya atau menyucikan dirinya dari haid

فَأَرْسَلْنَا إِلَيْهَا رُوحَنَا (lalu Kami mengutus kepadanya roh Kami) yakni malaikat Jibril فَتَمَثَّلَ لَهَا (maka ia menjelma di hadapannya) sesudah Maryam memakai pakaiannya بَشَرًا سَوِيًّا (dalam bentuk manusia yang sempurna) manusia sesungguhnya.

Tafsir Ibnu Katsir: فَاتَّخَذَتْ مِن دُونِهِمْ حِجَابًا (“Maka ia mengadakan tabir [yang melindunginya] dari mereka,”) yaitu beliau menutup diri dari mereka, lalu Allah swt mengutus Jibril kepadanya; فَتَمَثَّلَ لَهَا بَشَرًا سَوِيًّا (“Maka ia menjelma di hadapannya sebagai manusia yang sempurna,”) yaitu dengan bentuk manusia sempurna.

Mujahid, adh-Dhahhak, Qatadah, Ibnu Juraij, Wahb bin Munabbih, dan as-Suddi berkata tentang firman Allah: fa arsalnaa ilaiHaa ruuhanaa (“Lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya”) yaitu Jibril as, inilah pendapat yang mereka katakan, dan ini pula zhahir maknanya dalam al-Qur’an di mana Dia berfirman dalam ayat yang lain:

“Dia dibawa turun oleh ar-Ruh al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (QS. Asy-Syu’araa’: 193-194)

Tafsir Kemenag: Maka Maryam membuat tabir (dinding) yang melindunginya dari pandangan keluarganya dan manusia lainnya. Kemudian Allah mengutus malaikat Jibril kepadanya dalam bentuk seorang laki-laki yang gagah dan rupawan untuk memberitahukan kepada Maryam bahwa ia akan melahirkan seorang putra tanpa ayah. Adapun hikmatnya kedatangan Jibril dalam bentuk manusia itu agar supaya tidak menimbulkan ketakutan pada diri Maryam.

Surah Maryam Ayat 18
قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّا

Terjemahan: قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّا (Maryam berkata, “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.”) kamu pasti dapat menahan diri daripadaku dengan bacaan Ta’awwudzku ini.

Tafsir Jalalain: وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ (Dan seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya) yaitu selalu berbuat baik kepada keduanya وَلَمْ يَكُن جَبَّارًا (dan bukanlah ia orang yang sombong) takabur عَصِيًّا (lagi bukan pula ia orang yang durhaka) terhadap Rabbnya.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّا (“Maryam berkata: ‘Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada [Rabb] Yang Mahapemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.’”) Yaitu, ketika Malaikat yang berbentuk manusia itu menampakkan diri, padahal Maryam berada sendiri di tempatnya dan ia pun memiliki hijab terhadap kaumnya, maka ia pun takut dan menduga bahwa Malaikat itu akan mengganggu dirinya.

قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّا (“Maryam berkata: ‘Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada [Rabb] Yang Mahapemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.’”) yaitu, jika Engkau takut kepada Allah sebagai peringatan kepada laki-laki itu tentang Allah. Inilah yang disyari’atkan dalam mempertahankan diri yaitu dengan cara yang ringan, yakni diingatkan pertama kali kepada Allah swt.

Ibnu Jarir, dari Ashim berkata: “Setelah menceritakan kisah Maryam, Abu Wa-il berkata: `Ia mengerti bahwa orang yang bertakwa itu adalah orang yang memiliki batas, di mana ia berkata, قَالَتْ إِنِّي أَعُوذُ بِالرَّحْمَنِ مِنكَ إِن كُنتَ تَقِيًّا (“Maryam berkata: ‘Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada [Rabb] Yang Mahapemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.

Baca Juga:  Surah Maryam Ayat 38-40; Terjemahan dan Tafsir Al-Qur'an

Tafsir Kemenag: Tatkala Maryam melihat ada seorang laki-laki di tempatnya yang terasing itu, beliau berlindung kepada Allah Ta`ala dari kejahatan yang mungkin timbul seraya berkata, “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah; jangan sekali-kali kamu mengganggu aku jika kamu bertakwa kepada-Nya, sebab setiap orang yang bertakwa itu selalu menjauhkan diri dari perbuatan maksiat.”

Surah Maryam Ayat 19
قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا

Terjemahan: Ia (jibril) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.

Tafsir Jalalain: قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا (Ia berkata, “Sesungguhnya aku ini adalah utusan Rabbmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci)” yang kelak menjadi nabi.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ (Ia [Jibril] berkata: ‘Sesungguhnya aku ini adalah satu utusan Rabbmu) yakni Malaikat itu berkata kepadanya sebagai jawaban dan guna menghilangkan perasaan yang telah ada pada diri Maryam yang takut terhadap dirinya: “Aku bukanlah orang seperti yang kamu duga. Akan tetapi aku hanyalah utusan Rabbmu.” yaitu Allah-lah yang mengutusku padamu.

Malaikat itu berkata: قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا (“Sesungguhnya aku ini adalah satu utusan Rabbmu untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci.”) Demikian qira-at Abu ‘Amr bin al-Alla’, salah seorang qari yang masyhur. Sedangkan Bari yang lain membaca:

لِأَهَبَ لَكِ غُلَامًا زَكِيًّا; kedua qira-at itu memiliki cara yang baik, dan makna yang benar. Keduanya mengandung konsekuensi yang lain.

Tafsir Kemenag: Untuk menenteramkan hati Maryam dan menghilangkan ke-curigaannya Malaikat Jibril berkata, “Sesungguhnya aku ini hanyalah utusan dari Tuhanmu untuk menyampaikan berita kepadamu akan lahir seorang anak laki-laki yang suci dari segala macam noda.”

Malaikat Jibril menyebutkan bahwa dia sendiri yang akan menyampaikan berita tentang anak laki-laki itu, karena ia diperintahkan oleh Allah Ta`ala untuk meniupkan roh ke dalam tubuh Maryam.

Surah Al-Maryam Ayat 20
قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا

Terjemahan: Maryam berkata: “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!”

Tafsir Jalalain: قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ (Maryam berkata, “Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedangkan tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku) yakni mengawiniku وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا (dan aku bukan pula seorang pezina!)” seorang pelacur.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَتْ أَنَّى يَكُونُ لِي غُلَامٌ (“Maryam berkata: ‘Bagaimana aku memiliki anak laki-laki.”) Maryam merasa heran dengan masalah ini. Dia berkata: “Bagaimana aku memiliki anak laki-laki,” artinya dengan cara apa anak laki-laki ini akan lahir dariku, sedangkan aku tidak memiliki suami dan aku tidak membayangkan sedikit pun untuk berbuat zina.

Untuk itu ia berkata: وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا (“Sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan pula seorang penzina.”) Al-baghyu adalah wanita penzina. Untuk itu, di dalam hadits terdapat larangan tentang upah dan komisi penzina.

Tafsir Kemenag: Maryam merasa sangat terkejut mendengar berita itu dan dengan nada keheranan ia berkata, “Bagaimana aku akan mendapat seorang anak laki-laki padahal belum pernah ada seorang laki-laki pun yang menyentuhku; dan aku bukan pula seorang pezina.”.

Surah Maryam Ayat 21
قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِّلنَّاسِ وَرَحْمَةً مِّنَّا وَكَانَ أَمْرًا مَّقْضِيًّا

Baca Juga:  Surah Yusuf Ayat 56-57; Terjemahan dan Tafsir Al Qur'an

Terjemahan: Jibril berkata: “Demikianlah”. Tuhanmu berfirman: “Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan”.

Tafsir Jalalain: قَالَ (Jibril berkata,) perkaranya memang كَذَلِكِ (“Demikianlah.”) yaitu akan diciptakan bagimu seorang anak laki-laki tanpa ayah قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ (Rabbmu berfirman, “Hal itu adalah mudah bagi-Ku) yaitu dengan cara Aku memerintahkan kepada malaikat Jibril supaya meniup dirimu, lalu karena itu kamu mengandung.

Mengingat kalimat yang telah disebutkan mengandung makna illat atau kausalita, maka kalimat berikutnya di’athafkan kepadanya, yaitu

وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِّلنَّاسِ (dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia) yang menunjukkan akan kekuasaan-Ku وَرَحْمَةً مِّنَّا (dan sebagai rahmat dari Kami) bagi orang-orang yang beriman kepadanya

وَكَانَ (dan hal itu adalah) penciptaan itu merupakan أَمْرًا مَّقْضِيًّا (suatu perkara yang sudah diputuskan)” di dalam ilmu-Ku, malaikat Jibril meniupkan nafasnya ke dalam baju kurung Maryam, seketika itu juga Maryam merasakan di dalam kandungannya terdapat seorang bayi.

Tafsir Ibnu Katsir: قَالَ كَذَلِكِ قَالَ رَبُّكِ هُوَ عَلَيَّ هَيِّنٌ (“Jibril berkata: ‘Demikianlah. Rabb-mu berfirman: Hal itu adalah mudah bagi-Ku.’”) Lalu Malaikat itu menjawab pertanyaan Maryam:

“Sesungguhnya Allah berfirman bahwa Dia akan menjadikan seorang anak laki-laki darimu. Sekalipun engkau tidak mempunyai suami dan tidak pernah berbuat zina. Karena Allah Mahakuasa atas apa yang dikehendaki-Nya.”

Untuk itu Dia berfirman: وَلِنَجْعَلَهُ آيَةً لِّلنَّاسِ (“Dan agar Kami dapat menjadikannya suatu tanda bagi manusia,”) yaitu petunjuk dan tanda bagi manusia tentang kekuasaan Pembuat dan Pencipta mereka, di mana hal tersebut merupakan salah satu bentuk cara menciptakan mereka.

Allah telah menciptakan nenek moyang mereka, yaitu Adam tanpa ayah dan ibu, Ia ciptakan Hawa dari laki-laki tanpa wanita, dan la ciptakan seluruh keturunannya dari laki-laki dan wanita, kecuali `Isa a.s. yang diciptakan dari wanita tanpa laki-laki.

Dengan demikian, lengkaplah empat bagian yang menunjukkan kesempurnaan kekuasaan-Nya dan keagungan wewenang-Nya. Tidak ada Ilah (yang berhak diibadahi) selain Allah dan tidak ada Rabb selain-Nya.

Firman-Nya: وَرَحْمَةً مِّنَّا (“Dan sebagai rahmat dari Kami,”) yaitu Kami jadikan anak laki-laki ini sebagai rahmat dari Allah swt yang Dia menjadikannya salah seorang Nabi yang menyerukan ibadah dan hanya mentauhidkan Allah semata.

Firman-Nya: وَكَانَ أَمْرًا مَّقْضِيًّا (“Dan hal itu suatu perkara yang sudah diputuskan”) Kemungkinan, kalimat ini adalah pelengkap pembicaraan Jibril kepada Maryam yang mengabarkan bahwa hal tersebut adalah perkara yang telah ditakdirkan dalam ilmu Allah, qadar dan kehendak-Nya. Kemungkinan lain, bahwa kalimat tersebut adalah berita dari Allah swt kepada Rasul-Nya, Muhammad saw.

Tafsir Kemenag: Jibril menjawab pertanyaan Maryam dengan mengatakan bahwa Maryam akan mendapat seorang anak laki-laki walaupun tidak bersuami ataupun tidak mengadakan hubungan dengan laki-laki; karena yang demikian itu adalah kehendak Allah Yang Mahakuasa dan yang demikian itu mudah bagi-Nya.

Allah menjadikan seorang putra dari Maryam itu agar menjadi bukti bagi manusia atas kekuasaan-Nya. Pemberian putra kepada Maryam sebagai rahmat dari Allah karena kelak anak laki-laki itu akan menjadi seorang Nabi yang menyeru kepada jalan kebahagiaan dunia dan akhirat. Dan itu adalah keputusan Allah yang tidak dapat dirubah lagi.”.

Shadaqallahul ‘adzhim. Alhamdulillah, kita telah pelajari bersama kandungan Surah Maryam Ayat 16-21 berdasarkan Tafsir Jalalain, Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Kemenag. Semoga menambah khazanah ilmu Al-Qur’an kita.

M Resky S