Filsafat Timur Tengah Pada Masa Permulaan Peradaban Islam

Filsafat Timur Tengah Pada Masa Permulaan Peradaban Islam

Pecihitam.org – Kata filsafat berasal dari bahasa Yunani philein dan Sophia, yang secara literal bermakna “cinta kebijaksanaan”. Dari sudut pandang tertentu, filsafat merupakan sebuah analisis reflektif kritis atas apa yang kita pikirkan dan apa yang kita temui mengenai diri kita sendiri dan alam semesta.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Filsafat didasarkan pada usaha untuk memahami realitas kosmik secara rasional, berbeda dengan teologi atau kalam, yang lebih didasarkan pada pertimbangan wahyu yang bersifat supranatual.

Di wilayah Timur dan Barat, selama abad pertengahan, filsafat dianggap sebagai ‘pelayan agama’, dan metode filsafat digunakan untuk mempertegas keyakinan agama.

Dari segi sejarah, filsafat Yunani sudah dipelajari oleh orang-orang Timur Tengah seperti di Suriah dan Irak sejak awal abad ke-4 M. Berbagai pusat studi pun masih berdiri ketika umat Islam Arab menaklukkan Suriah dan Irak.

Para filsuf Kristen terkemuka di Timur Tengah yang menulis komentar dan risalah tentang karya-karya penting Yunani di antaranya adalah Severus Sebokht, Jacob of Edessa dan George, seorang uskup dari Arab.

Pada abad ke-7 M, pusat-pusat studi kebudayaan Yunani sudah berdiri di kota Harran dan Jundishapur. Mesir juga memiliki insitusi-insitusi pendidikan yang tertarik pada filsafat.

Tidak bisa dipungkiri bahwa sejak periode awal, bahkan mungkin sejak zamannya Alexander Agung, filsafat Yunani sudah dipelajari di sana. Di Alexandria, pemikiran Yunani bersinggungan dengan berbagai tradisi agama Timur, termasuk tradisi filsafat Yunani, filsafat Mesir, dan filsafat Kristiani.

Baca Juga:  Kuburan Al-Baqi Dihancurkan Salafi Wahabi Secara Barbar

Pemikiran Yunani sudah tidak lagi sama dengan bentuk ketika berada dalam puncak kejayaannya; melainkan, ia telah mengalami transformasi setelah berinteraksi dengan pemikiran budaya-budaya yang lain di Timur termasuk Islam.

Dengan tersebarnya agama Islam, khususnya pasca Nabi wafat, umat Islam mulai bersentuhan dengan peradaban yang beragam. Penaklukan Iran dan Mesir menjadi awal mula persinggungan umat Islam dengan kajian-kajian yang terinsiprasi oleh peradaban Yunani.

Pusat-pusat kajian yang sudah ada di sana juga memainkan peran penting dalam mentransmisikan tradisi filsafat Yunani dan tradisi ilmu kedokteran kepada umat Islam.

Para sarjana dari Harran dan para penganut Kristen Nestorian dari Jundishapur (pusat kajian Hellenistik) sangat berpengaruh di masa dinasti Abbasiyah. Mereka menjadi rujukan ilmu dan pengetahuan Yunani bagi bangsa Arab.

Mula-mula, ada dua cara yang digunakan dalam proses transmisi filsafat Yunani kepada muslim Arab waktu itu; yakni melalui penerjemahan karya-karya filsafat Yunani dan melalui penelitian-penelitian di bidang medis. Dua cara ini dilakukan secara bersama-sama pada masa kekuasaan dinasti Abbasiyah di Irak.

Tercatat, sejumlah karya filsafat telah diterjemahkan ke bahasa Suriah dan diajarkan di Suriah ketika umat Islam menaklukkan negara ini. Penaklukan Suriah ini ternyata tidak menghentikan aktivitas studi tentang pemikiran Yunani yang sudah berlangsung di sana, yang sebagian besar diajarkan oleh para sarjana Kristen.

Baca Juga:  Asal-Usul Pemikiran Rasional dan Filosofis dalam Islam

Baru setelah penaklukkan Suriah tersebut sejumlah karya filsafat, sains, dan ilmu medis yang sudah diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Suriah diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Arab sejak sejak abad delapan Masehi.

Para penakluk bangsa Arab-Islam itu terpesona oleh pemikiran Yunani sehingga banyak di antara mereka kemudian menggalakkan penerjemahan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab.

Hunain bin Ishaq (w. 260/873) adalah penulis pertama bidang filsafat dalam bahasa Arab, beliau merupakan penerjemah paling awal yang memulai transmisi karya-karya filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab.

Meskipun, teks-teks pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab bukanlah teks filsafat, melainkan teks-teks yang berkaitan dengan ilmu-ilmu praktis dan ilmu kedokteran, kimia, dan astrologi.

Hal ini kemudian membangkitan ketertarikan pada karya-karya lainnya seperti filsafat yang lebih bersifat teorotis dan spekulatif.

Melalui penerjemahaan inilah, para filsuf Arab mulai bermunculan pada abad ke-3 H. para khalifah Bani Abbasiyah pun juga terterik mempelajari karya-karya ini sehingga mereka memberikan dukungan finansial dan material kepada para penerjemah.

Baca Juga:  Orisinalitas Filsafat Islam (2): Modifikasi Ibnu Sina terhadap Filsafat Yunani

Filsuf muslim-Arab terkemuka pertama di antaranya al-Kindi (w. 260/873). Sejak zaman al-Kindi, filsafat Islam mulai menjelma menjadi sebuah fenomena kreatif yang bergerak tidak hanya pada level penerjemahan dan komentar, tetapi bahkan telah berkembang menjadi sebuah disiplin ilmu Islam yang berbeda.

Para filsuf muslim mencoba mengintegrasikan pemikiran Yunani ke dalam kerangka pemikiran Islam. Mereka terterik untuk mengharmonisasikan antara rasionalitas dengan iman religius.

Sementara para teologi berusaha mempertahankan kebenaran-kebenaran yang diwahyukan dalam al-Qur’an dan sunnah melalui bukti-bukti teologis, mereka yang mengambil jalur filsafat lebih memilih menggunakan rasionalitas secara eksklusif untuk mengurai masalah-masalah seputar akal manusia.

Mereka (para filsuf) memandang bahwa konsep Neoplatonisme (ajaran Plato) tentang alam semesta cocok dengan keyakinan-keyakinan dalam agama Islam, khususnya ajaran teologi Aristoteles dengan doktrin emanasinya.

Sekurang-kurangnya, ada dua model literature filsafat dalam Islam; komentar atas teks-teks filsafat Yunani dan karya kreatif-imajinatif bidang filsafat yang mandiri. Dalam mengorganisasikan menjadi karya ilmiah, kedua model ini tetap mengikuti metode-metode Yunani.

Rohmatul Izad

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *