Hadits Shahih Al-Bukhari No. 67-68 – Kitab Ilmu

Pecihitam.org – Hadits Shahih Al-Bukhari No. 67-68 – Kitab Ilmu ini, menjelaskan beberapa nasihat kepada umatnya dalam berdakwah menyeru kepada Islam, yaitu hendaklah memberi kemudahan dan tidak menyulitkan dalam hal apapun. Berikutnya hendaklah selalu memberi kabar gembira baik itu untuk keuntungan duniawi maupun ukhrawi seperti balasan atau ganjaran syurga yang Allah swt janjikan bagi mereka yang beriman dan beramal shalih. Dan hendaklah tidak menakut-nakuti ketika berdakwah melainkan cukuplah sebagai peringatan semata.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Hadis berikutnya menjelaskan tentang nabi saw memilih waktu yang tepat untuk berdakwah kepada para sahabatnya. Keterangan hadist dikutip dan diterjemahkan dari Kitab Fathul Bari Jilid 1 Kitab Ilmu. Halaman 309-910.

Hadits Shahih Al-Bukhari No. 67

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو التَّيَّاحِ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا

Terjemahan: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basysyar] berkata, telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa’id] berkata, telah menceritakan kepada kami [Syu’bah] Telah menceritakan kepadaku [Abu At Tayyah] dari [Anas bin Malik] dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “permudahlah dan jangan persulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.”

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 621-622 – Kitab Adzan

Keterangan Hadis: Faidah penambahan kalimat وَلَا تُعَسِّرُوا adalah sebagai penegasan. Imam Nawawi berkata. “Jika hanya menggunakan kata يَسِّرُوا (berilah kemudahan), maka orang yang hanya memberikan kemudahan sekali dan sering mempersulit orang lain termasuk dalam hadits tersebut. Oleh karena itu, Rasulullah bersabda, وَلَا تُعَسِّرُوا (Janganlah mempersulit) dengan maksud untuk mengingatkan, bahwa memberikan kemudahan kepada orang lain harus selalu dilakukan dalam setiap situasi dan kondisi. Demikian pula dengan sabda Nabi, وَلَا تُنَفِّرُوا setelah kata وَبَشِّرُوا.

وَبَشِّرُوا (Dan berilah berita gembira). Dalam bab “Adab”, Imam Bukhari meriwayatkan dan Adam. dan Syu’bah dengan menggunakan lafazh وَسَكِّنُوا (berilah ketenangan) yang merupakan antonim (lawan kata) dan وَلَا تُنَفِّرُوا. Sebab kata السُّكُون (ketenangan) adalah lawan kata dari النُّفُور (meninggalkan), seperti halnya kata الْبِشَارَة (berita gembira) merupakan lawan dari kata النِّذَارَة (berita buruk). Akan tetapi karena menyampaikan kabar buruk pada awal sebuah pengajaran dapat menyebabkan orang tidak menghiraukan nasihat yang akan diberikan kepadanya, maka kata الْبِشَارَة (berita gembira) di sini diikuti dengan kata تنفير (meninggalkan).

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 220 – Kitab Wudhu

Adapun maksud dari hadis ini adalah:

1. Kita harus berlaku ramah kepada orang yang baru memeluk Islam dan tidak mempersulitnya.

2. Lemah lembut dalam melarang perbuatan maksiat agar dapat diterima dengan baik.

3. Menggunakan metode bertahap dalam mengajarkan suatu ilmu, karena segala sesuatu jika diawali dengan kemudahan, maka akan dapat memikat hati dan menambah rasa cinta. Berbeda halnya jika pengajaran itu dimulai dengan kesulitan. Wallahu A ‘lam.

Hadits Shahih Al-Bukhari No. 68

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ كَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُذَكِّرُ النَّاسَ فِي كُلِّ خَمِيسٍ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ لَوَدِدْتُ أَنَّكَ ذَكَّرْتَنَا كُلَّ يَوْمٍ قَالَ أَمَا إِنَّهُ يَمْنَعُنِي مِنْ ذَلِكَ أَنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُمِلَّكُمْ وَإِنِّي أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِهَا مَخَافَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 601 – Kitab Adzan

Keterangan Hadis: Abdullah dalam hadits ini adalah Abdullah bin Mas’ud, yang biasa dipanggil Abu Abdurrahman. Sedangkan laki-laki yang bertanya kepada Abdullah bin Mas’ud tidak diketahui dengan jelas, mungkin Yazid bin Mu’awiyah An-Nakha’i, sebagaimana disinyalir oleh Imam Bukhari pada akhir bab “Dakwah”.

لَوَدِدْت (Saya mengharap). Di sini huruf “lam” sebagai jawaban dari sumpah yang tidak disebutkan, jadi asal kalimat tersebut adalah وَاَللَّه لَوَدِدْت (Demi Allah, saya mengharap).

Mengenai matan hadits ini telah dijelaskan pada bab sebelumnya. Sanad hadits ini terdiri dari orang-orang Kufah, sedangkan dalam hadits Anas sebelumnya adalah orang-orang Bashrah.

M Resky S