Hadits Shahih Al-Bukhari No. 72 – Kitab Ilmu

Pecihitam.org – Hadits Shahih Al-Bukhari No. 72 – Kitab Ilmu ini, menjelaskan nabi Musa as ketika beretemu dengan nabi Khidir as sebagaimana juga dikisahkan didalam al-Qur’an. Keterangan hadist dikutip dan diterjemahkan dari Kitab Fathul Bari Jilid 1 Kitab Ilmu. Halaman 320-323.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ غُرَيْرٍ الزُّهْرِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ صَالِحٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ حَدَّثَهُ أَنَّ عُبَيْدَ اللَّهِ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ أَخْبَرَهُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ تَمَارَى هُوَ وَالْحُرُّ بْنُ قَيْسِ بْنِ حِصْنٍ الْفَزَارِيُّ فِي صَاحِبِ مُوسَى قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ هُوَ خَضِرٌ فَمَرَّ بِهِمَا أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ فَدَعَاهُ ابْنُ عَبَّاسٍ فَقَالَ إِنِّي تَمَارَيْتُ أَنَا وَصَاحِبِي هَذَا فِي صَاحِبِ مُوسَى الَّذِي سَأَلَ مُوسَى السَّبِيلَ إِلَى لُقِيِّهِ هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ شَأْنَهُ قَالَ نَعَمْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بَيْنَمَا مُوسَى فِي مَلَإٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ جَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ هَلْ تَعْلَمُ أَحَدًا أَعْلَمَ مِنْكَ قَالَ مُوسَى لَا فَأَوْحَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى مُوسَى بَلَى عَبْدُنَا خَضِرٌ فَسَأَلَ مُوسَى السَّبِيلَ إِلَيْهِ فَجَعَلَ اللَّهُ لَهُ الْحُوتَ آيَةً وَقِيلَ لَهُ إِذَا فَقَدْتَ الْحُوتَ فَارْجِعْ فَإِنَّكَ سَتَلْقَاهُ وَكَانَ يَتَّبِعُ أَثَرَ الْحُوتِ فِي الْبَحْرِ فَقَالَ لِمُوسَى فَتَاهُ { أَرَأَيْتَ إِذْ أَوَيْنَا إِلَى الصَّخْرَةِ فَإِنِّي نَسِيتُ الْحُوتَ وَمَا أَنْسَانِيهِ إِلَّا الشَّيْطَانُ أَنْ أَذْكُرَهُ } { قَالَ ذَلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِي فَارْتَدَّا عَلَى آثَارِهِمَا قَصَصًا } فَوَجَدَا خَضِرًا فَكَانَ مِنْ شَأْنِهِمَا الَّذِي قَصَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي كِتَابِهِ

Terjemahan: Telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin Gharair Az Zuhri] berkata, Telah menceritakan kepada kami [Ya’qub bin Ibrahim] berkata, telah menceritakan [bapakku] kepadaku dari [Shalih] dari [Ibnu Syihab], dia menceritakan bahwa [‘Ubaidullah bin Abdullah] mengabarkan kepadanya dari [Ibnu ‘Abbas], bahwasanya dia dan Al Hurru bin Qais bin Hishin Al Fazari berdebat tentang sahabat Musa ‘Alaihis salam, Ibnu ‘Abbas berkata; dia adalah Khidlir ‘Alaihis salam. Tiba-tiba lewat Ubay bin Ka’b di depan keduanya, maka Ibnu ‘Abbas memanggilnya dan berkata: “Aku dan temanku ini berdebat tentang sahabat Musa ‘Alaihis salam, yang ditanya tentang jalan yang akhirnya mempertemukannya, apakah kamu pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan masalah ini?” [Ubay bin Ka’ab] menjawab: Ya, benar, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ketika Musa di tengah pembesar Bani Israil, datang seseorang yang bertanya: apakah kamu mengetahui ada orang yang lebih pandai darimu?” Berkata Musa ‘Alaihis salam: “Tidak”. Maka Allah Ta’ala mewahyukan kepada Musa ‘Alaihis salam: “Ada, yaitu hamba Kami bernama Hidlir.” Maka Musa ‘Alaihis Salam meminta jalan untuk bertemu dengannya. Allah menjadikan ikan bagi Musa sebagai tanda dan dikatakan kepadanya; “jika kamu kehilangan ikan tersebut kembalilah, nanti kamu akan berjumpa dengannya”. Maka Musa ‘Alaihis Salam mengikuti jejak ikan di lautan. Berkatalah murid Musa ‘Alaihis salam: “Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi? Sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidaklah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan”. Maka Musa ‘Alaihis Salam berkata:.”Itulah (tempat) yang kita cari”. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula. Maka akhirnya keduanya bertemu dengan Hidlir ‘Alaihis salam.” Begitulah kisah keduanya sebagaimana Allah ceritakan dalam Kitab-Nya.

Baca Juga:  Mengenal Hadis Qudsi; Karakteristik dan Ciri-cirinya

Keterangan Hadis: Bab ini berkaitan dengan anjuran untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi berbagai kesulitan dalam menuntut ilmu, karena sesuatu yang ditekuni akan selalu dibarengi dengan kesulitan. Nabi Musa ‘alaihi salam meskipun telah memiliki kedudukan yang tinggi, tetapi hal itu tidak menghalanginya untuk menuntut ilmu, bahkan beliau mengarungi lautan dan daratan hanya untuk belajar. Dari sini jelaslah korelasi antara bab ini dengan bab sebelumnya.

Dari judul bab di atas dapat diketahui bahwa nabi Musa mengarungi lautan untuk menemui nabi Khidhir. Tetapi hal ini mendatangkan kritikan, karena dalam riwayat Imam Bukhari dan perawiperawi lainnya disebutkan bahwa nabi Musa berjalan bersama nabi Khidhir di atas daratan, seperti disebutkan (Maka mereka berdua keluar dengan berjalan kaki). Sedangkan dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan (Hingga akhirnya mereka mendatangi sebuah batu besar).

Dari sini dapat dipahami, bahwa nabi Musa dan Khidhir menaiki perahu setelah mereka bertemu. Oleh karena itu, kata “ke nabi Khidhir ” maksudnya adalah menuju ke tempat peristirahatan nabi Khidhtr. Sebab nabi Musa menaiki perahu bukan karena keinginannya sendiri, akan tetapi beliau hanya mengikuti nabi Khidhir.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 8 - Kitab Iman

Ibnu Munir mensinyalir maksud الي الحضر ini dengan mengatakan bahwa kata-kata الي mengandung arti مع (dengan). Ibnu Ar-Rasyid mengatakan bahwa kemungkinan yang menjadi ketetapan bagi Bukhari adalah bahwasanya Musa pergi menuju lautan ketika Khidhir meminta hal tersebut. Saya katakan, sepertinya pendapat yang kuat menurut Bukhari adalah antara salah satu dan dua kemungkinan yang terdapat dalam perkataan Nabi, وكان يَتَّبِع أَثَر الْحُوت فِي الْبَحْر .

Maka wacana perkataan beliau ini mungkinan untuk Musa, dan mungkin juga untuk ikan. Kemungkinan pertama diperkuat oleh apa yang dikabarkan dari Abu Al Aliyah dan yang lain. dimana Abdu bin Humaid meriwayatkan dan Abu Al Aliyah. “Musa AS bertemu dengan Khidhir diantara pulau-pulau yang terdapat di lengah lautan”

Abu Al Aliyah juga mempunyai riwayat dari jalur Ar-Ruba’i bin Anas. Dia mengatakan, “Air terbelah akibat jalan yang ditempuh ikan sehingga kelihatan membentuk jalur yang terbuka, kemudian Musa mengikuti jejak ikan ini hingga dia menemukan Khidhir.” Maka hal ini menjelaskan, bahwa Musa telah mengarungi laut untuk menemui Khidhir. Memang sanad kedua hadits ini tidak sampai kepada Rasulullah, tetapi individu yang ada dalam sanad tersebut adalah orang-orang yang tsiqat (dapat dipercaya).

Al Hurr adalah seorang sahabat terkenal yang disebutkan oleh Ibnu As-Sakan dan Imam Bukhari dalam kisahnya bersama Umar yaitu, “Al Hurr adalah diantara orang-orang yang diajak Umar memeluk Islam karena kelebihannya. “

قَالَ اِبْن عَبَّاس هُوَ خَضِر (Ibnu Abbas berpendapat bahwa sahabat nabi Musa itu ialah Nabi Khidhir). Ini menjelaskan bahwa perawi hadits tidak menyebutkan perkataan Al Hurr bin Qais. dia juga tidak menyinggung sedikit pun tentang hal itu diantara jalur-jalur hadits ini.

Silang pendapat yang terjadi antara Ibnu Abbas dengan Al Hurr bin Qais tidak seperti yang terjadi antara Said bin Jubair dan Nuf Al Bakkali, karena perbedaan ini adalah tentang perihal sahabat Musa, apakah dia disebut Khidhir atau orang lain. Begitu juga dengan perihal nabi Musa, apakah dia Musa bin Imran yang diturunkan kitab Taurat kepadanya ataukah dia Musa Bin Misya.

Baca Juga:  Hadits Shahih Al-Bukhari No. 464 – Kitab Shalat

Penuturan Sa’id bin Jubair mengenai hadits ini dan Ibnu Abbas adalah lebih lengkap dan sempurna daripada penuturan Abdullah bin Abdillah bin Utbah. Kemudian akan dibahas mengenai nasab Khidhir, apakah dia seorang rasul, nabi atau seorang raja, dan apakah dia masih hidup atau sudah wafat.

جَاءَهُ رَجُلٌ (Tiba-tiba datang kepadanya seseorang), tidak diketahui namanya.

بَلَى عَبْدُنَا (Ada orang yang lebih pintar, yaitu hamba Kami), maksudnya dia lebih mengetahui dari pada Musa. Dalam riwayat Al-Kasymihani menggunakan kata y sehingga tidak menyatakan penafian, akan tetapi untuk memastikan bahwa ada orang yang lebih pintar dari Musa yaitu nabi Khidhir. Mengapa Ibnu Abbas meriwayatkan hadits ini dengan mengatakan عَبْدُنَا dan tidak mengatakan عَبْد اللَّه, hal itu disebabkan Ibnu Abbas meriwayatkan hadits ini dengan mengisahkannya dari Allah.

مَا كُنَّا نَبْغِ (Itulah yang kita kehendaki), atau kita cari karena lenyapnya ikan itu menunjukkan bahwa nabi Khidhir berada di tempat tersebut. Hadits ini mengisyaratkan kepada beberapa pelajaran penting, yaitu:

1. Berdebat dalam masalah ilmu dibolehkan jika tidak menyebabkan perpecahan.

2. Dianjurkan merujuk kepada ulama jika terjadi perselisihan.

3. Dibolehkan untuk mengamalkan isi hadits yang diriwayatkan oleh satu orang yang dapat dipercaya.

4. Dianjurkan untuk mengarungi lautan dalam mencari ilmu.

5. Diharuskan untuk membawa bekal dalam melakukan perjalanan menuntut ilmu.

6. Dianjurkan bersikap tawadhu’ (merendahkan diri) dalam setiap kondisi. Oleh karena itu, nabi Musa sangat antusias untuk menemui nabi Khidhir dan belajar kepadanya dengan maksud untuk memberi peringatan kepada kaumnya agar mereka berperilaku seperti dia dan bersikap tawadhu ‘.

M Resky S