Hukuman atas Kejujuran Ka’ab bin Malik Karena Tidak Ikut Perang

Ka’ab bin Malik

Pecihitam.org – Ka’ab bin Malik merupakan sahabat Rasulullah yang berasal dari madinah ia adalah kaum anshar. Salah satu kepiawaiannya adalah membuat syair, ia terkenal sebagai penyair yang handal pada zaman Rasulullah. Salah satu kisah yang masyhur tentang Ka ab bin Malik yaitu ketika ia tidak mengikuti perang Tabuk bersama Rasulullah.

Pecihitam.org, dapat Istiqomah melahirkan artikel-artikel keislaman dengan adanya jaringan penulis dan tim editor yang bisa menulis secara rutin. Kamu dapat berpartisipasi dalam Literasi Dakwah Islam ini dengan ikut menyebarkan artikel ini ke kanal-kanal sosial media kamu atau bahkan kamu bisa ikut Berdonasi.

DONASI SEKARANG

Ibnu Hisyam dalamnya kitab Sirah Nabawiyyah menceritakan bahwa perang ini adalah perang yang sulit karena cuaca yang kering, kondisi paceklik, serta lokasi peperangan yang jauh.

Ka’ab bin Malik merupakan salah satu sahabat yang tertinggal saat berangkat perang tabuk, ketika Rasulullah dan sahabat yang lain berangkat berperang, ia tengah mempersiapkan perbekalan yang hendak dibawa.

Ia pun gelisah karena keterlambatannya. Ia tahu salah satu dosa besar adalah mangkir dari perang membela agama islam, dan bukan disebabkan oleh alasan yang dipertanggungjawabkan.

Setelah perang selesai, Rasulullah baru menyadari bahwa Ka’ab bin Malik tidak mengikuti perang, beliau menanyakan kepada para sahabat, “kemanakah Ka’ab bin Malik?” kemudian sahabat dari Bani Salimah mengatakan “jangan-jangan Ka’ab ini mementingkan dirinya sendiri”.Namun perkataannya langsung dibantah oleh Muadz bin Jabal r.a “Perkataanmu buruk sekali! Tidak pantas kau katakan itu atas Ka’ab ”.

Baca Juga:  Dialog Kyai NU dan Seorang Pemuda Bercelana Cingkrang

Salah satu yang membuat resah Ka’ab adalah bagaimana bisa ia berkata jujur terhadap Rasulullah tentang keadaan yang menimpanya. Pernah ia berfikir untuk berbohong kepada Rasul, namun ia urungkan.

Setelah Rasulullah kembali ke Madinah, orang-orang yang tidak mengikuti perang berdatangan menemui beliau. Disebutkan kurang lebih delapan puluh orang. Beliau menerima alasan mereka dan menyerahkan urusan mereka kepada Allah.

Termasuk juga Ka’ab bin Malik yang juga menemui Rasulullah, dan mengatakan apa yang dialami dirinya. Ia mengatakan dengan sejujurnya tentang apa yang menghalanginya untuk menikuti perang.

“Sejujurnya Nabi, tidak ada yang menghalangi saya untuk mengikuti perang. Saya rela mendapat hukuman atas kesalahan yang telah saya perbuat. Daripada saya mendapat murka Allah atas alasan-alasan yang saya perbuat, lebih baik saya mendapat hukuman darimu, ya Rasul.”

Baca Juga:  Biografi Singkat Abdullah bin Abbas, Sepupu Nabi yang Ahli Hadits

Mendengar apa yang sampaikan Ka’ab, Rasulullah pun menerima pengakuannya. Sebelum memutuskan hukuman kepada Ka’ab, Rasulullah menunggu jawaban dari Allah. Kira-kira hukuman apa yang sesuai dengannya. Bukan hanya Ka’ab bin Malik, ternyata ada dua sahabat yang mengalami hal serupa dengannya.

Sebagai hukuman kepada Ka’ab dan dua sahabat lainnya, Rasulullah memerintahanlan agar para sahabat tidak mengajak mereka berbicara. Tentu ini merupakan hal yang berat yang dirasakan Ka’ab. Setelah empat puluh hari Rasulullah menambahkan bahwa Kaab bin Malik dan dua sahabat lainnya yang tidak ikut perang diminta untuk tidak mendekati istri-istri mereka.

Hingga ahirnya pada hari ke lima puluh Ka’ab melakukan qiyamul lail, lantas ia mengadukan masalah tersebut kepada Allah. Setelah itu terdengar suara yang memanggilnya. Ia terkejut terkejut. “Sungguh, ampunan Allah sudah tiba untuk kalian bertiga!” terang Rasulullah berseri-seri.

Baca Juga:  Kisah Aminah, Ibunda Rasulullah yang Jarang Kita Ketahui dan Ditulis Para Ulama

Kemudian Nabi menyebutkan tiga ayat surat At Taubah yaitu ayat 117 – 119 yang menjelaskan ampunan Allah terhadap Ka’ab. Ka’ab merasakan kebahagiaan yang luar biasa, menurut riwayat, selama kehidupannya baru kali ini ka’ab merasakan kebahagiaan yang luar biasa seperti ini.

Terkadang jujur memang bukanlah hal yang mudah namun hasil dari kejujuran adalah suatu hal yang membahagiakan. Berusahalah untuk menyampaikan kejujuran dalam apapun keadaan seperti yang telah dicontohkan oleh Ka’ab bin  Malik. Wallahua’lam.

Lukman Hakim Hidayat